登入Ompreng embegeh mau ngapain lagi coba 😶
Wima menghela napas panjang setelah misinya berhasil. Dia bangga pada istrinya yang dengan cepat bisa berdamai dengan keadaan. Yang paling bahagia Danendra Priyadi, karena akhirnya bisa mempertemukan dua putra-putrinya. Dan mereka bisa saling menerima. Kunjungan kali ini sesuai harapan Wima. Setidaknya selain dirinya, Jeevi masih memiliki saudara yang mungkin bisa menjadi pendukungnya kelak. “Kamu nggak mau tinggal di Indonesia, Kak?” tanya Jeevi pada Jenan. Setelah kunjungan papa selesai, Wima memutuskan tidak langsung pulang. Mereka bertiga berkunjung ke salah satu restoran yang ada di pusat kota untuk sekedar berbincang. Jeevi yang notabene sudah akrab dengan Jenan pun kembali mulai terbiasa, meskipun ada embel-embel baru saat memanggil pria itu. “Ada rencana. Selain urusan ini, aku juga sebenarnya sedang mencari lokasi yang tepat untuk membuka bisnis F&B di sini.”“F&B memang lagi marak di sini. Konsepnya juga macam-macam,” sahut Wima. Dia bahkan memproduksi makanan instan ata
Papa menunduk. Tidak bisa menjawab. Seolah apa yang Jeevi katakan adalah hal benar. Rasa sakit itu mendadak terasa perih. “Maafin, Papa, Nak. Maaf. Mungkin saat ini mama kamu benci banget sama papa. Saat itu mama kamu terus memaksa papa untuk menceraikan mamanya Jenan. Tapi, Jenan juga butuh papa. Papa nggak bisa seegois itu ninggalin mereka. Jadi, papa terpaksa bohong sama mama kalau kami sudah bercerai.” “Dan tanpa sepengetahuan aku sama mama, papa sering nemuin mereka kan?” “Tidak sering. Karena mereka tinggal di luar negeri. Mereka bahkan baru kembali saat papa terkena kasus ini. Dan yaah, akhirnya mama tau kalau papa tidak pernah menceraikan Livia.” Menghalau air mata yang terus mendesak keluar, Jeevi menarik napas dalam-dalam. Di sampingnya dua tangan Wima memegangi bahu wanita itu agar tidak limbung. “Pa, sejak papa di sini. Kami sangat menderita. Ditambah keadaan mama sekarang ini. Aku terpaksa putus kuliah dan memilih bekerja. Aku harus mencari biaya pengobatan mama
Wima membuka telapak tangan, meminta Jeevi untuk menggenggamnya. Dia tahu saat ini istrinya itu sedang gelisah. Sepanjang terbang dari Jakarta menuju Bandung menggunakan heli, Jeevi bahkan terus memasang wajah tegang. Dan saat ini keduanya sudah mendarat di salah satu helipad yang ada di wilayah Bandung yang dekat dengan lokasi sang papa tinggal. Dalam hati Jeevi berharap jalanan Bandung macet sehingga ketika sampai jam besuk papa sudah habis. Oh ya ampun! Baru kali ini Jeevi tidak semangat bertemu papa. "Yang ke sana cuma kita kan, Mas?" tanya Jeevi memastikan . "Uuhm, aku nggak yakin. Mungkin Jenan ada juga." Wima meremas tangan Jeevi saat perempuan itu menarik napas. "Sudah aku bilang semua akan baik-baik saja kan?" "Iya, tapi—" Tangan Wima lainnya menyentuh dada Jeevi menenangkan. "Belajar berlapang dada oleh apapun yang akan papa katakan nanti." Pria itu tersenyum. Sama sekali tidak gelisah. Wima seperti menjadi kekuatan Jeevi agar kakinya bisa menapak tanah dengan bai
“Rafli, kamu bis—” Jeevi menoleh ketika Wima menjeda kalimatnya. Dia mengikuti arah pandang pria itu. Tidak ada Rafli atau pun Brina di mini bar. “Mereka ke mana?” tanya Wima mengerutkan dahi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun beberapa detik lamanya, dia pun menghela napas. Melihat ekspresi suaminya, Jeevi mengernyit. “Kamu tahu mereka ke mana, Mas?” “Mungkin di ruangan sebelah.” “Ruang sebelah?” “Ruangan Rafli.” Wima beranjak ke meja dan menekan angka satu yang langsung menghubungkan ke ruang kerja Rafli. Tidak lama, suara Rafli terdengar dari mesin interkom. “Ya, Pak?” “Kamu ingat ini masih jam kerja, kan?” “Ya, saya tahu, Pak.” “Cepat ke ruangan saya.” Wima mematikan panggilan itu dengan cepat. Lantas kembali mendekati istrinya. “Brina sama Mas Rafli juga, Mas?” tanya Jeevi saat suaminya duduk di sebelahnya. “Yang hilang kan mereka berdua.” “Mereka masih berhubungan rupanya.” Jeevi mendesah. Menarik napas panjang. Dia bukan tidak mengiz
“Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun
Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan







