Compartilhar

8. Brina

last update Data de publicação: 2026-08-05 11:12:13

Mata Jeevi terasa berat dan perih. Tapi dia sama sekali tidak bisa terlelap. Menjelang subuh dia mencoba tidur, tapi sebentar-sebentar mimpi buruk tentang mama membuatnya kembali terjaga. Dirinya yakin saat ini pasti wajahnya sudah seperti zombie.

Mama belum sadarkan diri, masih berada di ruang observasi pasca operasi. Ketika matahari mulai merayap naik, Jeevi memutuskan ke kantin rumah sakit. Dia butuh asupan kafein supaya matanya bisa terus terjaga minimal sampai mama siuman.

“Jeev!”

Panggilan itu segera mengalihkan perhatian wanita dengan cepol asal-asalan itu. Dari tempatnya duduk, Jeevi melihat Brina—sahabatnya—mendekat dengan langkah gegas. Ah, wanita itu pasti sengaja berangkat pagi demi datang ke rumah sakit.

“Kenapa lo ke sini?” tanya Jeevi begitu wanita yang seusia dengannya itu sampai di depan mejanya.

Brina menarik kursi tepat di seberang Jeevi. Lalu duduk di sana. “Gue nggak tenang pas baca chat lo. Tante Iren gimana?”

“Mama masih belum sadar. Ah, gue jadi merasa bersalah udah bikin lo cemas. Tapi serius, semalam operasi mama berjalan lancar. Jadi gue nggak apa-apa.”

Wanita berbulu mata lentik di depan Jeevi itu mengerutkan kening. Lalu telunjuknya memutar, memindai wajah layu Jeevi. “Muka lo kacau gini masih bilang nggak apa-apa? Kenapa sih semalam lo nggak telpon gue, gue kan bisa langsung datang ke sini. Seenggaknya lo nggak sendirian nemenin Tante.”

“Nggaklah, lo juga pasti capek kan?”

Dalam hati Brina membenarkan. Semalam tidurnya seperti orang mati. Begitu nempel bantal langsung melayang. Dan dia baru bangun ketika mendengar suara alarm dari ponselnya. Tapi melihat kondisi sahabatnya seperti ini, dia malah merasa bersalah.

“Habis ini lo istirahat aja. Mumpung Tante Iren belum bangun. Ntar balik kerja gue ke sini lagi. Terus ini… “ Brina merenggut gelas kopi yang belum Jeevi sentuh. “Lo nggak boleh minum kopi sepagi ini. Kebiasaan banget sih.”

Jeevi hendak protes, tapi kalah cepat dengan gerakan Brina yang langsung berdiri dan membuang minuman berkafein itu ke tong sampah. Dia hanya bisa mendesah pasrah saat sahabatnya itu mengganti kopinya dengan teh hangat dan sepotong roti.

“Atau hari ini gue cuti aja, buat gantian jagain Tante.”

Sontak saja Jeevi terperanjat. “Eh, jangan. Kerjaan lo juga penting. Gue beneran nggak apa-apa.”

“Makanya kalau dibilangin tuh jangan ngeyel. Lo jangan sampai ikut sakit juga. Jadi harus bisa jaga kesehatan dan jaga diri.”

Mendadak Jeevi tertegun mendengar kata terakhir Brina. Sepertinya setelah malam ini dia tidak akan bisa menjaga diri lagi.

Ah, mengingat tentang nanti malam, mendadak perasaan gugup menyerang. Dia memang sudah cukup dewasa, tapi melakukan adegan dewasa satu kali pun belum pernah. Jangankan gituan, cipokan saja cuma sekedar nempel.

Kunyahan Jeevi melambat, dia lantas menatap Brina yang meskipun seumuran, pengalaman dalam urusan percintaan sudah sangat veteran.

“Bri…” panggilnya pelan.

“Hmm.”

Jeevi menelan ludah sebelum melempar pertanyaan yang mungkin saja bikin sahabatnya itu salah paham.

“Rasanya lepas perawan tuh kayak apa sih?”

Nyaris saja Bri menyemburkan teh yang sedang dia minum. Namun sel otaknya secara refleks menyuruh menelan minuman itu dengan cepat hingga tak sengaja terdorong sedikit ke saluran pernafasan. Akibatnya, Bri terbatuk hebat.

Jeevi yang terkejut segera berdiri dan menggapai punggung wanita itu. Pelan dia menepuk punggung itu. “Hati-hati dong, Bri kalau minum.”

Setelah beberapa saat, dan dirinya merasa lega, mata Bri memelotot ke arah Jeevi. “Pertanyaan lo yang bikin gue tersedak, Anjir. Kenapa sih nanya gituan segala?”

Jeevi nyengir. Dia tidak mungkin menjelaskan apa yang terjadi. Baginya itu aib yang akan dia jaga sampai mati.

“Gue kan cuma pengen tau.”

“Nggak enak,” tebas Brina seraya menyambar cangkir tehnya. Jeevi baru akan membuka mulut ketika, Brina lebih dulu mengeluarkan suara lagi. “Jangan sekali-kali lo lepas buat cowok lo itu. Cinta boleh, bodoh jangan,” tegasnya sekali lagi.

Wajah Jeevi memberengut. ‘Kayak yang Lo masih virgin aja.”

“Justru itu! Karena gue udah nggak virgin, gue nasehatin Lo supaya nggak nyesel kek gue. Lepas segel gegara cinta. Cih, makan tuh cinta!”

Tapi, semalam nyaris saja Jeevi melakukannya dengan Satya. Bukan karena cinta, tapi karena uang.

“Gue udah putus dari Satya.”

“Hah?! Kapan? Kok lo nggak bilang?”

“Baru kok, semalam sih tepatnya. Dia bilang mau dijodohin, tapi masih pengen tetep jalan sama gue. Ya gue ogahlah. Jadi gue minta putus aja.”

“Hm, kelaguan emang yah tuh laki!”

Jeevi agak terperanjat ketika emosi Brina meledak. Bahkan wanita itu smmenggebrak meja. Beruntung suasana kantin masih sepi. Hanya beberapa perawat yang tampak ada di sana. Jadi, mereka tidak terlalu mendapat perhatian.

“Sok keren banget!”

Jeevi meringis sambil menggaruk kepala yang tak gatal. “Emang dia keren kan?”

“Sok kaya!”

“Kan dia emang kaya.”

“Tapi kelakuan kek Dajjal. Bagus deh lo putusin tuh laki. Dari awal gue emang udah nggak suka sama modelannya. Agak nggak setuju lo pacaran sama dia. Enak aja mau jadiin lo selingkuhan, Lo kan pacarnya.”

“Sabar, Bri, sabar.”

Kalau dibiarin, Brina bakal terus merepet. Biasanya di situasi begini, Jeevi akan ikut semangat merepet. Tapi pagi ini dia lagi tidak punya tenaga. Jangankan merepet, napas saja rasanya sulit.

“Ngeselin banget, bikin gue pengen balikin meja.”

Melihat emosi Brina yang belum reda malah membuat Jeevi terkekeh. Dia seperti sedang bercermin. Mungkin ini yang membuat hubungan persahabatan mereka langgeng, meskipun diterpa badai topan puting beliung.

Kelakuannya dengan Brina … benar-benar sebelas dua belas.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bener kan? Wkwk
goodnovel comment avatar
Anies
emang paling klop karo punya sahabat modelan gini, satu frekuensi
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Hello, Husband!   247. Penjagaan Ketat

    “Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap

  • Hello, Husband!   246. Testpack

    “A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du

  • Hello, Husband!   245. Perubahan Aneh

    “Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan

  • Hello, Husband!   244. Bisa Jagain Istri Nggak?!

    BRAAKK! Bunyi pintu dibuka dari luar dengan kasar mengejutkan semua yang ada di ruang ranap itu. Semua kepala menoleh dan melihat Satya muncul dengan napas terengah. Lelaki itu menatap ke arah Jeevi yang duduk di atas bed dan terkesiap cemas. “Jeevi!” Langkahnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengabaikan semua yang ada di sana, dia hendak menggapai Jeevi. Namun sebelum itu terjadi, lengan panjang Wima lebih dulu mencekalnya, dengan menarik kerah belakang lelaki itu. Kaki Satya auto kesulitan bergerak dan dua tangannya menggapai-gapai udara. “Jeevi, Jeevi, Jeevi!” “Kamu mau apa?” tanya Wima masih menarik kerah belakang ponakannya itu. “Aku mau lihat keadaan Jeevi, Om. Lepasin!” “Cukup lihat dari jauh.” Wima menarik mundur Satya hingga lelaki itu berjarak dari tempat istrinya. Dua alis Satya mengerut. Dia menatap kesal omnya itu. “Aku denger kabar kalau Jeevi diculik. Om gimana sih jadi suami? Bisa jagain istri nggak? Kalau nggak bisa, lepasin aja. Masih ada yang mau jagai

  • Hello, Husband!   243. Sup Penambah Stamina

    Willa mendorong pintu ganda berwarna putih diikuti Bunda di belakangnya. Keduanya berniat menjenguk Jeevi yang masih belum pulang dari rumah sakit pasca insiden Jenan. Sebenarnya sudah sejak kemarin Bunda mengajak Willa untuk menengok menantunya itu. Semarah-marahnya wanita itu pada Jeevi, dia khawatir juga. “Lah kosong? Ke mana mereka?” Willa celingungkan mendapati kamar rawat inap VVIP itu tidak ada penghuni. Jangankan Wima, Jeevi pun tidak ada di tempat. “Mungkin mereka lagi—” Dua ibu dan anak itu kontan terpegun saat mendengar suara cekikikan dari arah kamar mandi. Bukan cekikikan horor, tapi cekikan manja. “Ih, Mas! Jangan mainin itu, geli tau!” Willa terperanjat mendengar suara itu. Suara yang dia tahu betul milik kakak iparnya. Sementara Bunda di tempatnya mematung, agak kaget juga mendengar kalimat seperti itu bisa telontar— “Enak kan diginiin?” Suara berat yang menimpali lagi-lagi membuat Willa dan Bunda terkejut. Keduanya mengerjap bersamaan. “Iya, tapi jangan la

  • Hello, Husband!   242. Wanita Dewasa

    Yang merasa sangat bersalah atas peristiwa itu adalah Danendra Priyadi. Mantan menteri itu mendatangi rumah sakit, mengunjungi putrinya di tengah kesibukan atas kekacauan yang putranya buat. Dirinya merasa gagal segagal-gagalnya. Danendra sama sekali tidak mengira putranya bisa masuk dalam jaringan bisnis obat-obatan terlarang. Tidak heran selama kurang lebih lima tahun belakangan aset putranya itu meningkat drastis. Seharusnya Danendra tidak percaya begitu saja saat Jenan memamerkan deretan usaha F & B yang katanya naik pesat. Usaha itu memang ada, dan awalnya juga menjadi pekerjaan utama lelaki itu sebelum relasi membawa Jenan ke bisnis berbahaya itu. “Harusnya papa memang tetap melarang Jenan bertemu kamu. Semua ini salah papa, Nak. Bahkan ketika papa nggak di sisi kamu, papa masih saja berbuat kesalahan. Papa bingung dan nggak tau cara memperbaiki ini semua.” Di depan Jeevi, pria berambut keperakan itu menangis. Menciumi tangan putrinya sambil terus mendengungkan kata maaf.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status