MasukMatanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya.
“Kamu…” “Ikut saya.” Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?! “Om! Kamu ngikutin saya?!” Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu. “Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?” Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi. Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat. “Kamu mau ke mana?” Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.” “Kamu cuma perlu datang ke sana, tanda tangan, dan tunggui mama kamu. Tidak ada waktu lagi …” Mata Wima melirik sekilas arah unit apartemen yang tadi akan Jeevi singgahi. “ … kalau harus menunggu sampai pria di sana klimaks,” lanjutnya, kembali menatap datar wanita putus asa itu. Saking putus asanya, wanita itu sampai harus mendatangi mantan pacarnya lagi. Wima benar-benar tidak habis mengerti. Namun yang lebih tidak habis mengerti adalah dirinya sendiri, yang malah menyusul wanita itu. Sial. “Tapi—” “Saya akan terima penawaran kamu,” potong Wima. Pria itu menarik napas panjang dan membuangnya. Entah dia berharap apa sampai ikut campur sejauh ini. “Biarkan ibumu menjalani operasi lebih dulu.” Jeevi menelan ludah seraya menatap pria jangkung di hadapannya. Dia tidak mengenal sosok itu meskipun sering datang ke bar milik Lucas, tapi Jeevi yakin pria itu baik. Entahlah itu hanya instingnya saja. Biar bagaimana pun, mana ada pria baik-baik yang mau membeli keperawanan seorang wanita? Bagi Jeevi yang terpenting keselamatan sang ibu, maka dia menurut dan kembali ke rumah sakit untuk mengurus semuanya. Namun begitu dirinya selesai menandatangani persetujuan operasi sang ibu, pria yang menolongnya itu langsung pergi, dan hanya meninggalkan sebuah kartu nama. “Besok malam, datang ke tempat saya.” Hanya itu ucapan terakhirnya. Di atas kursi tunggu, Jeevi terus merapal doa. Berharap operasi mama berjalan dengan lancar. Beberapa bunyi notif dari ponsel Jeevi terdengar. Salah satunya pesan dari Satya. ~Satya~ Kenapa kamu belum datang juga? Kamu butuh uang enggak? Jeevi berdecak dan mengabaikan tanpa berniat membalas. Dia membuka notif lain, dari mobil bankingnya. Sejumlah uang dengan nominal melebihi biaya operasi masuk ke rekeningnya. Matanya membola seketika. “500 juta?!” Spontan Jeevi menutup mulut. Bola matanya bergerak liar mengawasi keadaan sekitar, untung tidak ada siapa pun. Sekali lagi dia menatap layar ponsel dan kembali menghitung nol di belakang angka lima. Bisa saja cuma 50 juta dan dia salah menghitung nol. Namun beberapa kali menghitung, hasilnya tetap sama. Itu 500 juta, bukan 50 juta! Dengan tangan gemetar, Jeevi mengambil kartu nama milik Wima. Jarinya menekan angka-angka mengikuti nomor yang tertera di bagian nomor ponsel kartu tersebut. Dia tahu—Jeevi kembali menatap kartu kecil itu dan membaca nama pria itu—Wima Sagara. Dia tahu Wima Sagara bukan orang sembarangan—itu yang pernah Lucas bilang padanya. Tapi dia tidak berekspektasi malam ini akan berurusan dengan orang yang mungkin saja membahayakan dirinya. Terlebih ketika melihat nominal di rekeningnya. Panggilannya terhubung, tapi di sana Wima tidak mengangkatnya. Di tengah rasa panik lantaran operasi darurat yang akan sang ibu jalani, dia kebingungan sendirian. “Bodo amat. Biar ini gue urus nanti,” desah wanita itu saat panggilannya tidak kunjung dapat jawaban. Dia memutuskan berhenti menghubungi orang yang sudah membelinya itu. Kepalanya menoleh ke pintu ganda berwarna putih yang tertutup rapat, lalu menarik napas panjang. “Yang penting sekarang, mama sudah ditangani.” * Rafli—asisten Wima— mengernyit ketika sang bos menyodorkan foto seorang gadis padanya. “Siapa ini, Pak?” tanya aspri itu. Setahunya Wima tidak pernah tertarik pada wanita mana pun lagi setelah misi mengejar Kalla gagal. Dia menyahut foto tersebut dan keningnya makin berkerut dalam. “Bukan siapa-siapa. Kamu selidiki latar belakangnya. Dan laporkan ke saya segera, paling lambat sore ini,” ucap Wima kalem. Tidak ada tanda-tanda tertarik atau keinginan menggebu. Entah untuk apa sang bos memerintahkan ini. Rafli sedang mengamati foto itu ketika Wima kembali bersuara. “Dan berikan pendapatmu nanti apakah dia layak untuk saya nikahi.” Rafli tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat itu. “Nikah, Pak?!” Iris hitam teduh itu menatap sang asisten lalu mengangguk. “Kenapa kaget begitu? Bukannya kamu mau saya cepat nikah?” “I-iya. Tapi ini—” sekali lagi Rafli memandangi potret di tangannya. “Ini bukan anak di bawah umur kan, Pak?” “Kamu selidiki saja. Itu kan tugas kamu.” “Ba-baik, Pak.” Sambil terus memandangi potret di tangannya, Rafli keluar dari rongga antara kursi dan meja. Otaknya berputar keras, berusaha mengingat wajah yang jika dilihat-lihat tidak asing itu. Saking seriusnya menatap foto tersebut, dia tidak sadar jika pintu keluar sudah ada di depan mata. Hingga… Suara benturan keras kepala yang menghantam daun pintu pun terdengar. Disusul suara pekikan kecil, yang sontak membuat Wima mengangkat wajah. “Kalau jalan itu matanya dipake,” komentar Wima seraya menggeleng. Asisten setianya itu meringis sambil mengusap dahinya yang berdenyut. “Jalan itu pake kaki, Pak,” balasnya sebelum menyelinap keluar.Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya. “Kamu…”“Ikut saya.”Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?! “Om! Kamu ngikutin saya?!”Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu. “Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?” Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi. Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat. “Kamu mau ke mana?”Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.”“Kamu cuma perlu d
Waktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan. Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu. “Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—” Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya. “Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga di
Wima akhirnya menemukan gadis itu. Ah, lagi-lagi dia lupa Jeevi bukan gadis, tapi wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis. Wima menemukan wanita itu di taman samping tempat parkir karyawan. Jeevi tengah berjongkok, sambil mencoret-coret tanah, persis anak kecil. Awalnya Wima ingin langsung menegur, tapi saat mendengar isakan kecil, dia mengurungkan niat. Dalam cahaya remang lampu taman, Wima pelan-pelan mendekat. Makin dekat dia bisa melihat bahu Jeevi bergetar. Tangannya baru akan terulur ketika tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan—“Harrgg!”Wima terlonjak kaget melihat muka mengenaskan wanita itu. Dia spontan mengusap dada, menenangkan debaran jantungnya. Wajah Jeevi bersimbah air mata. Matanya pun bengkak. Hidungnya merah. Rambutnya yang dicepol berantakan seperti habis diterjang badai. Dia masih terisak ketika berdiri. Dengan kaos yang dipakai, Jeevi mengelap wajah dan ingusnya. Membuat Wima di depannya menatap ngeri. “Kamu oke?” tanya Wima menjaga jarak. Jangan
Malamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama. Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur. “Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.”Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima.“Solusi kepalamu!” Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa. “Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!”“Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.”“Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!”Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya. Eh? Satya?Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sediki
“Om! Kenapa nggak pake baju!” Jeevi berteriak seraya menutup wajahnya dengan dua telapak tangan. “Jangan macam-macam!” serunya lagi. Tidak peduli kegusaran gadis itu, Wima mengulurkan tangan, mengacungkan lima lembar uang pecahan seratus ribu. “Ambil f*e kamu, terus pulang,” katanya dengan ekspresi tenang. Tidak terpengaruh dengan teriakan Jeevi sama sekali. Mengintip di sela-sela jarinya yang terbuka, mata Jeevi langsung ijo melihat lembaran berwarna pink melambai-lambai. Secepat kilat dia merebut lembaran itu dari tangan Wima dengan tampang sumringah. Lima ratus ribu! Ini sih bukan dua kali lipat, tapi lima kali lipat! “Ini semua buat saya, Om?” “Emang ada lagi selain kamu?” “Wah! Teng kyu banget, Om!” Dia mengipas-ngipas uang itu. “Lain kali kalo mabok lagi biar saya aja deh yang anter pulang.” “Nggak ada lain kali. Sudah sana pulang!” “Sekali lagi tararengkyu, Om Ganteng!” Jeevi bergerak mundur seraya membungkuk hingga pantatnya mencium dinding lift. “Jangan lupa
“Om, Om, bangun! Bangun, Om!”Cempreng dan agak kasar. Apa tidak bisa membangunkan orang dengan cara lembut? Wima tidak peduli dan cuma menggeliat malas. “Ahelah, Om. Ini udah sampe! Kamu tidur apa mati sih, Om?” Hampir saja Wima mendengus di tidurnya mendengar omongan sembarangan gadis itu. Tidak heran Lucas bilang bocah itu merepotkan. Wima tetap bergeming. Selain malas gerak, dia juga ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan. Wima mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama pintu sebelahnya terbuka. Dia bisa merasakan kehadiran gadis pendek itu. “Gini nih kalau nganterin orang mabok. Repotin,” gerutu Jeevi menatap sebal lelaki berjas itu. “Om, udah sampe apartemen nih. Bangun dong! Saya mau kerja lagi. Nggak cuma ngurusin orang mabok doang.”Lagi-lagi bibir Wima berkedut mendengar Jeevi tampak gusar. Dia merasakan Jeevi mendekat padanya, melepas seatbelt. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di pipinya. “Om, bangun dong. Tidurnya jangan di sini. Ntar dibegal l







