Share

7. 500 Juta

last update publish date: 2026-08-04 16:48:16

Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya.

“Kamu…”

“Ikut saya.”

Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?!

“Om! Kamu ngikutin saya?!”

Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu.

“Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?”

Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi.

Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat.

“Kamu mau ke mana?”

Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.”

“Kamu cuma perlu datang ke sana, tanda tangan, dan tunggui mama kamu. Tidak ada waktu lagi …” Mata Wima melirik sekilas arah unit apartemen yang tadi akan Jeevi singgahi. “ … kalau harus menunggu sampai pria di sana klimaks,” lanjutnya, kembali menatap datar wanita putus asa itu.

Saking putus asanya, wanita itu sampai harus mendatangi mantan pacarnya lagi. Wima benar-benar tidak habis mengerti.

Namun yang lebih tidak habis mengerti adalah dirinya sendiri, yang malah menyusul wanita itu. Sial.

“Tapi—”

“Saya akan terima penawaran kamu,” potong Wima. Pria itu menarik napas panjang dan membuangnya. Entah dia berharap apa sampai ikut campur sejauh ini. “Biarkan ibumu menjalani operasi lebih dulu.”

Jeevi menelan ludah seraya menatap pria jangkung di hadapannya. Dia tidak mengenal sosok itu meskipun sering datang ke bar milik Lucas, tapi Jeevi yakin pria itu baik. Entahlah itu hanya instingnya saja.

Biar bagaimana pun, mana ada pria baik-baik yang mau membeli keperawanan seorang wanita?

Bagi Jeevi yang terpenting keselamatan sang ibu, maka dia menurut dan kembali ke rumah sakit untuk mengurus semuanya. Namun begitu dirinya selesai menandatangani persetujuan operasi sang ibu, pria yang menolongnya itu langsung pergi, dan hanya meninggalkan sebuah kartu nama.

“Besok malam, datang ke tempat saya.” Hanya itu ucapan terakhirnya.

Di atas kursi tunggu, Jeevi terus merapal doa. Berharap operasi mama berjalan dengan lancar. Beberapa bunyi notif dari ponsel Jeevi terdengar. Salah satunya pesan dari Satya.

~Satya~

Kenapa kamu belum datang juga? Kamu butuh uang enggak?

Jeevi berdecak dan mengabaikan tanpa berniat membalas. Dia membuka notif lain, dari mobil bankingnya.

Sejumlah uang dengan nominal melebihi biaya operasi masuk ke rekeningnya. Matanya membola seketika.

“500 juta?!”

Spontan Jeevi menutup mulut. Bola matanya bergerak liar mengawasi keadaan sekitar, untung tidak ada siapa pun. Sekali lagi dia menatap layar ponsel dan kembali menghitung nol di belakang angka lima.

Bisa saja cuma 50 juta dan dia salah menghitung nol. Namun beberapa kali menghitung, hasilnya tetap sama. Itu 500 juta, bukan 50 juta!

Dengan tangan gemetar, Jeevi mengambil kartu nama milik Wima. Jarinya menekan angka-angka mengikuti nomor yang tertera di bagian nomor ponsel kartu tersebut.

Dia tahu—Jeevi kembali menatap kartu kecil itu dan membaca nama pria itu—Wima Sagara. Dia tahu Wima Sagara bukan orang sembarangan—itu yang pernah Lucas bilang padanya. Tapi dia tidak berekspektasi malam ini akan berurusan dengan orang yang mungkin saja membahayakan dirinya. Terlebih ketika melihat nominal di rekeningnya.

Panggilannya terhubung, tapi di sana Wima tidak mengangkatnya. Di tengah rasa panik lantaran operasi darurat yang akan sang ibu jalani, dia kebingungan sendirian.

“Bodo amat. Biar ini gue urus nanti,” desah wanita itu saat panggilannya tidak kunjung dapat jawaban. Dia memutuskan berhenti menghubungi orang yang sudah membelinya itu.

Kepalanya menoleh ke pintu ganda berwarna putih yang tertutup rapat, lalu menarik napas panjang. “Yang penting sekarang, mama sudah ditangani.”

*

Rafli—asisten Wima— mengernyit ketika sang bos menyodorkan foto seorang gadis padanya.

“Siapa ini, Pak?” tanya aspri itu. Setahunya Wima tidak pernah tertarik pada wanita mana pun lagi setelah misi mengejar Kalla gagal. Dia menyahut foto tersebut dan keningnya makin berkerut dalam.

“Bukan siapa-siapa. Kamu selidiki latar belakangnya. Dan laporkan ke saya segera, paling lambat sore ini,” ucap Wima kalem.

Tidak ada tanda-tanda tertarik atau keinginan menggebu. Entah untuk apa sang bos memerintahkan ini.

Rafli sedang mengamati foto itu ketika Wima kembali bersuara.

“Dan berikan pendapatmu nanti apakah dia layak untuk saya nikahi.”

Rafli tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat itu. “Nikah, Pak?!”

Iris hitam teduh itu menatap sang asisten lalu mengangguk. “Kenapa kaget begitu? Bukannya kamu mau saya cepat nikah?”

“I-iya. Tapi ini—” sekali lagi Rafli memandangi potret di tangannya. “Ini bukan anak di bawah umur kan, Pak?”

“Kamu selidiki saja. Itu kan tugas kamu.”

“Ba-baik, Pak.”

Sambil terus memandangi potret di tangannya, Rafli keluar dari rongga antara kursi dan meja. Otaknya berputar keras, berusaha mengingat wajah yang jika dilihat-lihat tidak asing itu. Saking seriusnya menatap foto tersebut, dia tidak sadar jika pintu keluar sudah ada di depan mata. Hingga…

Suara benturan keras kepala yang menghantam daun pintu pun terdengar. Disusul suara pekikan kecil, yang sontak membuat Wima mengangkat wajah.

“Kalau jalan itu matanya dipake,” komentar Wima seraya menggeleng.

Asisten setianya itu meringis sambil mengusap dahinya yang berdenyut. “Jalan itu pake kaki, Pak,” balasnya sebelum menyelinap keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Tertarik mungkin iya, tapi kalo suka belum
goodnovel comment avatar
Anies
wah kak Wima kayaknya emang udah mulai tertarik sih ini walau belum sadar
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Hahahaha yoiyoi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   144. Gado-Gado

    “Rafli, kamu bis—”Jeevi menoleh ketika Wima menjeda kalimatnya. Dia mengikuti arah pandang pria itu. Tidak ada Rafli atau pun Brina di mini bar. “Mereka ke mana?” tanya Wima mengerutkan dahi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun beberapa detik lamanya, dia pun menghela napas. Melihat ekspresi suaminya, Jeevi mengernyit. “Kamu tahu mereka ke mana, Mas?” “Mungkin di ruangan sebelah.”“Ruang sebelah?” “Ruangan Rafli.” Wima beranjak ke meja dan menekan angka satu yang langsung menghubungkan ke ruang kerja Rafli. Tidak lama, suara Rafli terdengar dari mesin interkom.“Ya, Pak?” “Kamu ingat ini masih jam kerja, kan?”“Ya, saya tahu, Pak.”“Cepat ke ruangan saya.” Wima mematikan panggilan itu dengan cepat. Lantas kembali mendekati istrinya. “Brina sama Mas Rafli juga, Mas?” tanya Jeevi saat suaminya duduk di sebelahnya.“Yang hilang kan mereka berdua.”“Mereka masih berhubungan rupanya.” Jeevi mendesah. Menarik napas panjang. Dia bukan tidak mengizinkan. Kalau

  • Hello, Husband!   143. Ruang Kerja

    “Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun

  • Hello, Husband!   142. Foto Pernikahan

    Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan

  • Hello, Husband!   141. Era dan Yosi

    Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “

  • Hello, Husband!   140. Abegeh Tua Birahi

    “Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar

  • Hello, Husband!   139. Insting

    Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status