Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 25. Nggak Ingin Bertemu

Share

25. Nggak Ingin Bertemu

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-26 22:22:13
Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis.

“Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar.

Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap. Moya yang paling punya pertanyaan besar bersuara lebih dulu.

“Jadi bener itu?” tanya dia lebih terkontrol.

Alih-alih langsung jawab, Kalla malah mengerutkan bibir. Tapi ekspresi wanita itu cukup mem
Yuli F. Riyadi

Puasa, tumbang, kerjaan banyak. Maaf ya belum bisa memenuhi keinginan kalian up 2 bab.

| 17
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Laily Rahmi
kok semenarik ini yaa...
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
1 bab klo panjang jg oke sih kak...dih dida satu ini mendadak insomnia...knape???ketagihan y sm kalla...kawinin jgn cm digrepe"... anak orang itu!!!!
goodnovel comment avatar
Anies
eeh.. ya ampun kayaknya emang udah mulai ada sesuatu sih ini
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   195. Undangan Reuni

    “Kayaknya kamu jadi idola baru para mahasiswa di sini,” sindir Reyga ketika Kalla sampai di depannya. “Eh?” Secara spontan tatap Kalla melirik ke sekitar. Tepat ketika pandangannya jatuh ke rombongan cowok mahasiswa, dia tersenyum lantaran mendapati mereka tengah memperhatikannya. Dan … “Sore, Bu…,” sapa mereka sopan sambil menundukkan kepala. Kalla agak gelagapan melihat tingkah mereka, tapi tak urung wanita itu membalas sapaan mereka. “Sore.” Dia lantas bergerak duduk di sisi Reyga, dan meringis seraya mengernyit. “Maksud kamu ini?” Dengan santai Reyga mengangguk sambil mengulum senyum. “Selama mereka masih sopan gibahin kamu aku bakal diem aja. Tapi kalau udah mengarah ke tindakan pelecehan, aku nggak akan tinggal diam.” Sambil menopang dagu, Kalla ikutan mengangguk. “Gimana hari pertama kamu mengajar?” tanya Reyga kemudian, tangannya meraih cangkir kopi dan menyeruputnya. “Cukup deg-degan. Berpuluh-puluh pasang mata menatapku di depan bikin aku hampir oleng.” “Ada yang

  • Hello, Nanny!   194. Dosen Baru

    “Mau aku antar?” tanya Reyga. Ini adalah hari pertama Kalla mengajar sebagai dosen pengganti di salah satu PTS, setelah serangkaian pendaftaran dan tes yang dia ikuti beberapa Minggu terakhir. “Nggak perlu. Kamu juga lagi sibuk.” Kalla memilih salah satu dasi, dan mengambilnya dengan senyum terulas. Dia menempelkan dasi itu ke dada Reyga untuk melihat kecocokan warna dengan kemeja yang lelaki itu pakai. “Cocok.”Dengan sigap, Reyga mengangkat tubuh Kalla, dan mendudukkannya ke meja supaya wanita itu bisa dengan mudah memasangkan dasi padanya. “Kalau gitu biar Kael berangkat bareng aku.”“Oke.” Kalla mulai fokus melingkarkan kain panjang itu ke kemeja suaminya. Menyimpulkan dengan tatapan serius dan hati-hati. Ekspresinya membuat Reyga terkekeh geli. “Emang sesulit itu?”“Hum, aku udah belajar sih. Harusnya berhasil.” Beberapa kali Kalla membuka simpul karena merasa tidak puas dengan hasilnya. Lalu ketika menemukan posisi yang pas dia tersenyum senang. Wanita itu menepuk bahu suaminy

  • Hello, Nanny!   193. Lebih Hot

    Hampir saja Reyga kalah jika dia tidak segera menahan istrinya agar segera berdiri. Tidak bisa. Dia tidak biasa pasrah. Meskipun rasanya luar biasa nikmat ketika dirinya dilingkupi bibir lembut itu, Reyga tidak rela jika permainan ini dengan cepat berakhir. Reyga membalik tubuh Kalla, menghadapkannya ke dinding. Menarik pinggul sang istri, dia melesakkan miliknya dari belakang. Kalla terkesiap merasakan dalamnya sentuhan Reyga. Desahannya kontan lolos bertubi-tubi ketika lelaki itu mulai menghujamnya tanpa ampun. Gerakannya yang kuat dan penuh tekanan itu membuat Kalla terus menjerit. Puas dengan posisi itu, Reyga membalik tubuh istrinya lagi. Kini mereka di posisi saling berhadapan. Dengan tak sabar Reyga meraup bibir basah Kalla, melumatnya dengan penuh gélora. Dari bibirnya ciuman itu turun ke leher. Di sana Reyga menggigit kuat-kuat hingga meninggalkan békas. Tidak cukup sampai di situ, tanpa peduli rintihan Kalla, pria itu kembali menggigit pundak serta bagian mulus kulit dadan

  • Hello, Nanny!   192. Check in

    Bukan hanya dirinya yang mendapat tekanan dari mama ternyata. Kalla menyimak bagaimana dulu Diyani menentang hubungan Ceci dengan Cade. Padahal Kalla pikir Ceci udah paling keren. Cantik, brilian, dan pebisnis andal. Namun ternyata itu belum cukup menarik hati mama mertuanya. “Mama itu susah-susah gampang. Tapi aku sih nggak peduli. Selama kami saling cinta, ya kami bakal tetep maju. Mau orang tua kami menentang, kami akan berjuang.” Tidak ada raut sedih. Justru Kalla melihat percaya diri luar biasa yang terpancar dari wanita itu. Bahkan melihat caranya menolak mama di acara window shopping saja tampak begitu berani. Aura perlawanannya begitu kuat. “Kamu wanita hebat. Kenapa mama bisa nggak setuju?” tanya Kalla agak bingung juga. Menurutnya Ceci itu sempurna. Wanita mata segaris itu tersenyum. “Jelas kan? Karena aku beda. Aku WNA, keturunan Tiongkok sementara mama dan papa keturunan jawa asli, dan juga usia aku dan Cade terpaut lumayan jauh. Terlebih mama pernah menganggap aku puny

  • Hello, Nanny!   191. Window shopping

    Banyak perbedaan yang harus Kalla terima setelah menjadi bagian dari keluarga Abimanyu. Meski kadang Kalla kewalahan sendiri mengimbanginya. Terlebih mengimbangi ibu mertuanya. Seperti sekarang. Semua menantu dikumpulkan di ruang tengah dengan interior mewah. Mama bilang mau window shopping. Window shopping di benak Kalla ya, jalan-jalan ke mall. Cuci mata, keluar dari satu gerai ke gerai lain. Namun, window shopping versi mertuanya beda. Hari ini jadwal perwakilan dari brand luar negeri favorit mama yang diundang ke rumah. Katanya mereka baru meluncurkan katalog baru. “Ceci kamu pilih apapun yang kamu suka. Sebagai kado kehamilan kamu dari mama.” Diyani menyerahkan katalog baru pada istri Cade. “Mama tau kamu bisa dan mampu beli barang mewah sendiri. Tapi kali ini izinkan mama kasih kado karena mama bahagia bakal dapat cucu dari kamu.”Dengan kalem, istri Cade tersenyum. “Oke, thank you, Mama.”Diyani beralih ke Kiana yang kandungannya sudah memasuki usia 7 bulan. “Kiana Sayang, k

  • Hello, Nanny!   190. Omongan Orang

    Selain syukuran walimahan nikahan, ibu menggunakan kesempatan itu untuk mengenalkan menantunya pada para tetangga, teman-temannya, juga para pelanggan setia. Dengan bangga perempuan paruh baya itu memamerkan sang mantu pada tamu yang hadir. “Kalla pinter banget cari suami. Ganteng, tinggi, kaya lagi,” celetuk salah seorang teman ibu, yang sekaligus pelanggan setia jahitan ibu. “Iya loh. Kemarin beneran nikahan di Prambanan ya? Pasti berkesan banget menikah di Candi udah mirip raja-raja jaman dulu.” Ibu jelas menyambut pujian demi pujian dengan senyum. Lalu ketika ada protes tentang kenapa mereka tidak diundang ke pesta pernikahan di Prambanan, ibu akan menjawabnya dengan santai. “Itu pestanya keluarga besan, Bu-ibu. Kalau sekarang kan syukuran saya pribadi buat anak saya. Lagi pula kalau ibu-ibu semua diundang ke sana, yakin pada mau datang? Jauh, dan pasti bakal merepotkan ibu semua nanti.” Namanya hidup di kampung tidak akan lepas dari gosip atau omongan orang. Meskipun banyak y

  • Hello, Nanny!   60. Gatra dan Wima

    Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saa

  • Hello, Nanny!   58. Masa Lalu

    Kalla terbangun ketika bunyi ponsel terdengar nyaring. Mulutnya berdecak kesal, tapi matanya masih merapat. Tangannya terjulur, mencari-cari benda yang memekakkan telinga. Kalau tidak ingat benda pipih itu harganya jutaan, mungkin Kalla sudah melemparnya ke tong sampah karena sudah sukses membangunk

  • Hello, Nanny!   57. Abnormal

    Suasana meeting terasa mencekam. Meski suhu ruangan disetel paling rendah, tapi tak mencegah bulir-bulir peluh meluncur dari para perwakilan departemen yang mengikuti rapat. Pasalnya dari awal datang penghuni paling ujung meja rapat mengeluarkan aura tidak menyenangkan. Satu per satu tiap pimpinan

  • Hello, Nanny!   55. Bukan Jodoh

    Pukul tujuh malam Kalla menutup buku cerita. Hanya beberapa menit membaca, Kael langsung tertidur. Efek tidak tidur siang, anak itu kelelahan dan cepat mengantuk. Begitu Kiana pulang, Kael merengek minta makan. Satu jam kemudian sudah mengajak Kalla baca cerita. Perlahan Kalla keluar dari kamar. K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status