Home / Romansa / Hello, Nanny! / 25. Nggak Ingin Bertemu

Share

25. Nggak Ingin Bertemu

last update publish date: 2026-02-26 22:22:13
Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis.

“Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar.

Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap. Moya yang paling punya pertanyaan besar bersuara lebih dulu.

“Jadi bener itu?” tanya dia lebih terkontrol.

Alih-alih langsung jawab, Kalla malah mengerutkan bibir. Tapi ekspresi wanita itu cukup mem
Yuli F. Riyadi

Puasa, tumbang, kerjaan banyak. Maaf ya belum bisa memenuhi keinginan kalian up 2 bab.

| 12
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
1 bab klo panjang jg oke sih kak...dih dida satu ini mendadak insomnia...knape???ketagihan y sm kalla...kawinin jgn cm digrepe"... anak orang itu!!!!
goodnovel comment avatar
Anies
eeh.. ya ampun kayaknya emang udah mulai ada sesuatu sih ini
goodnovel comment avatar
Riana Rahayu
love kalla
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   107. Keputusan Sepihak

    Sebuah tangan menyelip dari belakang membuat Kalla yang sedang mengambil cake tersentak. Hampir saja cake itu jatuh. Saat menoleh dia menemukan Rey yang tersenyum padanya. “Kamu suka hidangan syukurannya?” tanya lelaki itu. “Suka,” sahut Kalla datar lalu beranjak mengambil garpu kecil. “Mau aku ambilkan juga?” tanyanya sebelum pergi dari dessert booth. “Enggak. Aku udah kenyang. Kael memberiku banyak makanan. Aku temani kamu makan itu aja.” Reyga mengiringi langkah Kalla menuju sebuah kursi sembari sesekali membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya. “Acaranya sampe jam berapa?” tanya Kalla sesat setelah dia duduk. “Mungkin setelah aku ngomong sesuatu di depan semua selesai.”Ya. Reyga bintang utama di syukuran ini. Kalla harus lebih bersabar sebentar lagi. “Nggak apa-apa, kan?” Kalla hanya mengangguk. Bertahan sebentar lagi sepertinya bukan masalah. Dia hanya perlu menghindari sumber keresahan hatinya. “Kamu tadi dari mana aja?” tanya Kalla, ingin memancing kejujuran le

  • Hello, Nanny!   106. All You Can Eat

    Napas lega berembus pelan ketika Kalla berhasil keluar dari toilet dengan perut kosong. Sejak dirinya belum turun dari mobil, perutnya mendadak mules. Efek rasa gugup campur takut membuat bakteri di dalam usus bergejolak. Dia membuka pintu sambil mengusap perut. Kakinya melangkah ringan keluar, siap menghadapi kenyataan. Nggak siap-siap amat sih. Kalau boleh pilih, mending pulang daripada bergabung dengan pestanya orang kaya. Tidak ada tanjidor, atau ondel-ondel, mana seru. Langkah Kalla baru akan berbelok ke arah pesta ketika telinganya tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang yang menyebut nama Reyga. Tidak bermaksud nguping, tapi Kalla memelankan ayunan kakinya. “Tapi Reyga ke sini sama pacarnya.” Kalla menelan ludah, dan total berhenti berjalan untuk mendengarkan saat dirinya ikut terseret dalam percakapan itu.“Kan baru pacar, Pa. Memangnya papa rela punya menantu perempuan biasa-biasa aja? Sementara Reyga, putra kebanggan kita itu adalah pria hebat.” “Aku nggak suka

  • Hello, Nanny!   105. The Baby Inside

    “Jadi ini wanita yang bikin Kael lengket selain Kiana?” Candra anak sulung keluarga itu tersenyum. “Halo, saya Candra,” ucapnya memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan. Dia penasaran dengan wanita yang sudah membuat mama dan Reyga ribut lagi. Dengan canggung Kalla menjabat tangan Candra. “Saya Kalla. Salam kenal.” Dia melirik wanita di sisi Candra, dan mengucapkan hal sama. Wanita itu mengenalkan diri bernama Violin yang dalam keadaan hamil terlihat makin terpancang kecantikannya. “Jangan terlalu formal. Kita mau jadi keluarga. Eh, bener nggak sih, Rey?” Sebuah pancingan Candra lemparkan. Dia menahan senyum sambil memperhatikan keduanya. Kalla memang cantik, selera Reyga sekali. Tapi sayangnya belum memuaskan hati sang mama. Dan bapak satu anak yang jadi sasaran cuma menyugar rambutnya. “Doakan saja sukses.” “Kak Violin duduk aja,” sela Kalla yang melihat istri Candra seperti kepayahan berdiri. Dia segera mengambilkan sebuah kursi. “Terima kasih,” ucap Violin. Seraya ber

  • Hello, Nanny!   104. Syukuran

    Banyak security dan juga pengatur jalan ketika mobil Reyga memasuki sebuah kawasan perumahan elite. Beberapa kendaraan harus melalui pemeriksaan di pos masuk, tapi Reyga pengecualian. Di samping lelaki itu Kalla agak bingung dengan situasi kawasan ini. “Biasa begini atau cuma malam ini?” tanya Kalla sembari memperhatikan keadaan boulevard di depannya. Dia sedikit menghela napas, baru memasuki gerbangnya saja sudah bikin dirinya terintimidasi. “Cuma malam ini.” Mercy hitam itu melaju dengan kecepatan sedang melewati jalanan asri yang banyak dihiasi pohon-pohon palm yang berjejer rapi dan juga tanaman hias. Hingga keduanya sampai ke tempat yang agak ramai. Banyak mobil terparkir di sisi jalan. Lalu sesekali Kalla melihat orang-orang berpakaian rapi keluar dari mobil tersebut. “Ada hajatan ya?” tanya Kalla, di kampung kalau ada hajatan orang terpandang atau pejabat, biasanya begini. Ramai mobil parkir. Reyga terkekeh. “Syukuran kecil-kecilan kata Mama. Karena Ganesha selamat.

  • Hello, Nanny!   103. Malam di Canggu

    Meskipun tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Cecilia, tapi Reyga pikir kepergiannya ke Bali Kalla tidak perlu tahu. Dia tidak ingin terlalu membebani wanita itu. Yang terpenting saat ini, masalahnya selesai berkat bantuan Cecilia dan dia bisa kembali berkumpul dengan orang-orang terkasihnya. Dari bandara keduanya langsung mampir ke restoran pizza. Perayaan kecil-kecilan dengan resto pilihan Kael. “Aku akan lanjutkan rencana kita,” ucap Reyga di sela kegiatan seru mereka makan pizza. Kalla yang tidak sedang memikirkan apapun agak bengong mendengar itu. “Rencana apa?” “Rencana mengunjungi rumah mama papa, Sayang.” Oh iya. Kalla hampir melupakan itu. Daripada waktu itu, dia sekarang jauh lebih siap. Dia percaya apapun yang akan terjadi nanti di sana, Reyga selalu di sisinya. “Oke,” sahutnya tersenyum, lalu memberi Kael satu gigitan, sebelum dia menggigitnya sendiri. “Aku juga dong.” Reyga mencondongkan badan, membuka mulut, minta disuapi juga. Ketika Kalla akan mengambil poton

  • Hello, Nanny!   102. Kedatangan Domestik

    “Gue bilang juga apa! Akhirnya bisul pecah juga kan.” “Kok bisul sih?” “Ya anggap aja gitu. Kak Wima kan ngempet perasaannya ke lo. Sekarang udah plong dia.”“Dia plong, gue tremor.” Kalla menggelosor di atas meja, sementara Moya ngakak mendengar itu. Kalau jadi Kalla, Moya sih bakal bersyukur banget ditaksir dua cowok tajir. Cinderella wanna be banget hidup sobatnya yang satu ini. Bikin iri dengki. Yang satu laki paket hemat. Hemat karena sudah ada satu buntut yang artinya Kalla tidak perlu memikirkan soal pertanyaan kapan punya anak? Satunya lagi laki paket komplit. Pria matang, karismatik, dan juga tidak kalah tajir dari si duda. Moya mengempaskan tubuhnya ke kasur empuk kamar Kalla. “Enak banget sih hidup lo bisa disukai laki macam mereka,” desahnya, menatap langit-langit kamar. “Enak dari mananya, Dodol. Pusing iya. Duh, ngapain sih Wima pake confess ke gue, kan gue jadi nggak enak. Canggung juga kalau ketemu lagi ntar.”“Ahelah! Emang kalian Abegeh kemarin sore kayak gitu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status