Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 195. Undangan Reuni

Share

195. Undangan Reuni

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-05-25 22:05:36
“Kayaknya kamu jadi idola baru para mahasiswa di sini,” sindir Reyga ketika Kalla sampai di depannya.

“Eh?” Secara spontan tatap Kalla melirik ke sekitar. Tepat ketika pandangannya jatuh ke rombongan cowok mahasiswa, dia tersenyum lantaran mendapati mereka tengah memperhatikannya. Dan …

“Sore, Bu…,” sapa mereka sopan sambil menundukkan kepala.

Kalla agak gelagapan melihat tingkah mereka, tapi tak urung wanita itu membalas sapaan mereka. “Sore.” Dia lantas bergerak duduk di sisi Reyga, dan m
Yuli F. Riyadi

Yuk yuk yuk.... Ramaikan....

| 5
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Dinaningtyas Apriy
be careful Thor so far, this is good story please don't ruin it into "tersanjung" wkwkwk
goodnovel comment avatar
Anies
bukanya udah meninggal??? laaah piye iki thor?
goodnovel comment avatar
Ivana Oktaviana
hahh seriusss itu? ada hubungan sama reuni kah? haduh haduh penasaran euyy
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   195. Undangan Reuni

    “Kayaknya kamu jadi idola baru para mahasiswa di sini,” sindir Reyga ketika Kalla sampai di depannya. “Eh?” Secara spontan tatap Kalla melirik ke sekitar. Tepat ketika pandangannya jatuh ke rombongan cowok mahasiswa, dia tersenyum lantaran mendapati mereka tengah memperhatikannya. Dan … “Sore, Bu…,” sapa mereka sopan sambil menundukkan kepala. Kalla agak gelagapan melihat tingkah mereka, tapi tak urung wanita itu membalas sapaan mereka. “Sore.” Dia lantas bergerak duduk di sisi Reyga, dan meringis seraya mengernyit. “Maksud kamu ini?” Dengan santai Reyga mengangguk sambil mengulum senyum. “Selama mereka masih sopan gibahin kamu aku bakal diem aja. Tapi kalau udah mengarah ke tindakan pelecehan, aku nggak akan tinggal diam.” Sambil menopang dagu, Kalla ikutan mengangguk. “Gimana hari pertama kamu mengajar?” tanya Reyga kemudian, tangannya meraih cangkir kopi dan menyeruputnya. “Cukup deg-degan. Berpuluh-puluh pasang mata menatapku di depan bikin aku hampir oleng.” “Ada yang

  • Hello, Nanny!   194. Dosen Baru

    “Mau aku antar?” tanya Reyga. Ini adalah hari pertama Kalla mengajar sebagai dosen pengganti di salah satu PTS, setelah serangkaian pendaftaran dan tes yang dia ikuti beberapa Minggu terakhir. “Nggak perlu. Kamu juga lagi sibuk.” Kalla memilih salah satu dasi, dan mengambilnya dengan senyum terulas. Dia menempelkan dasi itu ke dada Reyga untuk melihat kecocokan warna dengan kemeja yang lelaki itu pakai. “Cocok.”Dengan sigap, Reyga mengangkat tubuh Kalla, dan mendudukkannya ke meja supaya wanita itu bisa dengan mudah memasangkan dasi padanya. “Kalau gitu biar Kael berangkat bareng aku.”“Oke.” Kalla mulai fokus melingkarkan kain panjang itu ke kemeja suaminya. Menyimpulkan dengan tatapan serius dan hati-hati. Ekspresinya membuat Reyga terkekeh geli. “Emang sesulit itu?”“Hum, aku udah belajar sih. Harusnya berhasil.” Beberapa kali Kalla membuka simpul karena merasa tidak puas dengan hasilnya. Lalu ketika menemukan posisi yang pas dia tersenyum senang. Wanita itu menepuk bahu suaminy

  • Hello, Nanny!   193. Lebih Hot

    Hampir saja Reyga kalah jika dia tidak segera menahan istrinya agar segera berdiri. Tidak bisa. Dia tidak biasa pasrah. Meskipun rasanya luar biasa nikmat ketika dirinya dilingkupi bibir lembut itu, Reyga tidak rela jika permainan ini dengan cepat berakhir. Reyga membalik tubuh Kalla, menghadapkannya ke dinding. Menarik pinggul sang istri, dia melesakkan miliknya dari belakang. Kalla terkesiap merasakan dalamnya sentuhan Reyga. Desahannya kontan lolos bertubi-tubi ketika lelaki itu mulai menghujamnya tanpa ampun. Gerakannya yang kuat dan penuh tekanan itu membuat Kalla terus menjerit. Puas dengan posisi itu, Reyga membalik tubuh istrinya lagi. Kini mereka di posisi saling berhadapan. Dengan tak sabar Reyga meraup bibir basah Kalla, melumatnya dengan penuh gélora. Dari bibirnya ciuman itu turun ke leher. Di sana Reyga menggigit kuat-kuat hingga meninggalkan békas. Tidak cukup sampai di situ, tanpa peduli rintihan Kalla, pria itu kembali menggigit pundak serta bagian mulus kulit dadan

  • Hello, Nanny!   192. Check in

    Bukan hanya dirinya yang mendapat tekanan dari mama ternyata. Kalla menyimak bagaimana dulu Diyani menentang hubungan Ceci dengan Cade. Padahal Kalla pikir Ceci udah paling keren. Cantik, brilian, dan pebisnis andal. Namun ternyata itu belum cukup menarik hati mama mertuanya. “Mama itu susah-susah gampang. Tapi aku sih nggak peduli. Selama kami saling cinta, ya kami bakal tetep maju. Mau orang tua kami menentang, kami akan berjuang.” Tidak ada raut sedih. Justru Kalla melihat percaya diri luar biasa yang terpancar dari wanita itu. Bahkan melihat caranya menolak mama di acara window shopping saja tampak begitu berani. Aura perlawanannya begitu kuat. “Kamu wanita hebat. Kenapa mama bisa nggak setuju?” tanya Kalla agak bingung juga. Menurutnya Ceci itu sempurna. Wanita mata segaris itu tersenyum. “Jelas kan? Karena aku beda. Aku WNA, keturunan Tiongkok sementara mama dan papa keturunan jawa asli, dan juga usia aku dan Cade terpaut lumayan jauh. Terlebih mama pernah menganggap aku puny

  • Hello, Nanny!   191. Window shopping

    Banyak perbedaan yang harus Kalla terima setelah menjadi bagian dari keluarga Abimanyu. Meski kadang Kalla kewalahan sendiri mengimbanginya. Terlebih mengimbangi ibu mertuanya. Seperti sekarang. Semua menantu dikumpulkan di ruang tengah dengan interior mewah. Mama bilang mau window shopping. Window shopping di benak Kalla ya, jalan-jalan ke mall. Cuci mata, keluar dari satu gerai ke gerai lain. Namun, window shopping versi mertuanya beda. Hari ini jadwal perwakilan dari brand luar negeri favorit mama yang diundang ke rumah. Katanya mereka baru meluncurkan katalog baru. “Ceci kamu pilih apapun yang kamu suka. Sebagai kado kehamilan kamu dari mama.” Diyani menyerahkan katalog baru pada istri Cade. “Mama tau kamu bisa dan mampu beli barang mewah sendiri. Tapi kali ini izinkan mama kasih kado karena mama bahagia bakal dapat cucu dari kamu.”Dengan kalem, istri Cade tersenyum. “Oke, thank you, Mama.”Diyani beralih ke Kiana yang kandungannya sudah memasuki usia 7 bulan. “Kiana Sayang, k

  • Hello, Nanny!   190. Omongan Orang

    Selain syukuran walimahan nikahan, ibu menggunakan kesempatan itu untuk mengenalkan menantunya pada para tetangga, teman-temannya, juga para pelanggan setia. Dengan bangga perempuan paruh baya itu memamerkan sang mantu pada tamu yang hadir. “Kalla pinter banget cari suami. Ganteng, tinggi, kaya lagi,” celetuk salah seorang teman ibu, yang sekaligus pelanggan setia jahitan ibu. “Iya loh. Kemarin beneran nikahan di Prambanan ya? Pasti berkesan banget menikah di Candi udah mirip raja-raja jaman dulu.” Ibu jelas menyambut pujian demi pujian dengan senyum. Lalu ketika ada protes tentang kenapa mereka tidak diundang ke pesta pernikahan di Prambanan, ibu akan menjawabnya dengan santai. “Itu pestanya keluarga besan, Bu-ibu. Kalau sekarang kan syukuran saya pribadi buat anak saya. Lagi pula kalau ibu-ibu semua diundang ke sana, yakin pada mau datang? Jauh, dan pasti bakal merepotkan ibu semua nanti.” Namanya hidup di kampung tidak akan lepas dari gosip atau omongan orang. Meskipun banyak y

  • Hello, Nanny!   49. Mengindar

    Tidak ada komentar apapun dari Kalla meski saat ini perasaannya mulai terganggu. Wanita itu meminta Cade agar menurunkannya di Sudirman sebelum menyebrang ke Setia Budi. Ini masih pagi dan hatinya mendadak kacau gara-gara mendengar cerita Cade. Mood bekerja pun menurun drastis. Langkah Kalla tera

  • Hello, Nanny!   48. Info Tak Terduga

    “Nggak, bukan begitu.” Tatapan Cade masih fokus ke jalanan. “Bisa enggak kalau lo jaga jarak aja sama Kak Reyga?” Gimana? Kening Kalla mengerut. Tapi dia tidak langsung berkomentar meski benaknya ingin tahu alasan Cade mengatakan itu. Baiklah. Pertemuan awalnya dengan Reyga memang tidak menyenangk

  • Hello, Nanny!   47. Gila Cowok

    “Kenapa Lo nggak bilang kalau Papa Reyga secakep itu?!” Begitu Reyga pergi, Moya kehebohan. BerWow-Wow ria tidak ada hentinya sampai Kalla bosan mendengarnya. “Kan gue udah cerita kalau dia itu ganteng.”“Tapi gue nggak ekspek bakal seganteng ini. Bodynya, Kaaaal. Lengannya, Kaaaaal. Ya ampuuun.

  • Hello, Nanny!   46. Melamun

    Kalla cengar-cengir begitu keluar dari mobil. Di sisi kanan, Reyga juga ikut keluar. Sementara Kael memilih duduk tenang di atas car seat, tidak mau turun. Hampir pukul lima sore ketika mereka sampai di halaman rumah Kalla. “Besok mau berangkat sendiri atau dijemput Pak Sato?” tanya Reyga. Jejak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status