Home / Romansa / Hello, Nanny! / 60. Gatra dan Wima

Share

60. Gatra dan Wima

last update publish date: 2026-03-19 23:37:56

Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue.

Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel.

"Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saat.

"Lo kan pernah melihat secara langsung mukanya pas di Bali. Sama enggak mukanya di situ?"

Gatra meringis. "Emang dia beneran Reyga Abimanyu yang itu?"

"Ya kali dia punya kembaran."

"Kali aja kan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Null_null
Kalla terima aja tawaran wima , biar kebohongan mu gak lanjut , kasian ibu , sekalian deh nguji si reyga wkwk
goodnovel comment avatar
Anita Ratna
Biar Rey ngerasain panas jg kayak Kalla liat dia sm Kiana ...
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Biar tahu rasa haha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   240. Undangan Eksklusif

    Kafe yang berada di sekitar kampus itu tidak terlalu luas. Beberapa mahasiswa, Kalla tahu bekerja paruh waktu di sana. Dengar-dengar pemilik kafe itu juga alumni kampus ini, yang sengaja membuka kafe supaya bisa membantu mahasiswa yang ingin mencari part time. Kalla memesan kopi butterscotch dan Wima kopi hitam tanpa gula. Heran sekali, kenapa kebanyakan laki-laki suka minum kopi tanpa gula sih? “Pantesan hidup kamu gitu-gitu aja. Selera ngopinya jadul banget,” cibir Kalla. “Heh, apa ada yang salah dari kopi hitam? Asal kamu tau ya, ini tuh tahta tertinggi pecinta kopi .” Wima tak terima, dan melirik kopi yang Kalla pesan. “Kalau yang kamu minum itu, bukan kopi namanya. Tapi cairan susu dan gula.”“Jangan ngejek kopiku ya, ini tuh bisa bikin mood meningkat seharian.” Kalla tak mau kalah. “Kopi item gitu. Surem!”Dengan gemas Wima menyentil dahi Kalla. Membuat wanita itu terpekik seraya mengusap dahinya. Pria itu tersenyum. Hal-hal seperti ini yang kadang dia rindukan dari wanita i

  • Hello, Nanny!   239. Berhenti di Kamu

    Tangan Kalla meremas kain bantal, sesekali kepalanya menoleh ke belakang, menyaksikan bagaimana Reyga memacu dirinya. Cepat dan penuh penekanan di setiap hujaman. Entah kenapa obrolan tentang liburan malah berakhir dirinya yang kini kena bantai di atas ranjang. “This is the real honeymoon, Baby,” bisik Reyga sembari menarik tubuh sang istri agar menempel padanya. Sementara pinggulnya terus bergerak dengan ritme cepat, sesekali melambat. “Jadi, kita nggak perlu ke mana-mana?” sahut Kalla sebelum melempar kepalanya ke belakang, bersandar pada bahu Reyga lantaran pria itu meremas dadanya, sekaligus menggesekkan jarinya di area bawah sana. “Jadi dong. Di sana kamu bisa lebih puas, Sayang.” Tiga stimulasi yang Reyga berikan sekaligus membuatnya tak mampu bertahan. Kalla melenguh, sekujur tubuhnya menegang, dalam dekapan Reyga dia menuntaskan hasratnya. “Lemes aku, Rey,” keluh wanita itu, ambruk dalam posisi tengkurap. Di atasnya, Reyga terus menciumi punggungnya. “Aku belum apa-apa

  • Hello, Nanny!   238. Nomor Dua

    “Kenapa kamu mau membujuk dia?”“Siapa tahu saja ini pertemuan terakhir mereka.”Reyga menghela napas panjang sambil terus mengawasi Ninda dan Kael dari kejauhan. Kael menolak menemui wanita itu. Namun berkat bujukan Kalla, anak itu mau menemuinya. “Mama mengawasi kamu dari sini, Nak.” Kata-kata itu yang membuat Kael akhirnya mengangguk. Di dekat pohon ketapang yang berdiri kokoh di depan gedung pengadilan, Kael menemui Ninda. Anak itu terlihat diam saja saat Ninda memeluknya, bahkan saat wajahnya disentuh Kael tidak menolak. Sesuatu yang sangat jarang terjadi karena Kael bukan jenis anak yang mudah disentuh. Jika dia sampai membiarkan orang lain menyentuhnya, artinya dia merasa nyaman dan suka dengan orang tersebut. “Kayaknya kecemasan kita nggak beralasan,” ucap Kalla ketika melihat Kael duduk tenang, tampak tengah mendengar Ninda berbicara. Entah apa yang sedang wanita itu ceritakan. “Mungkin dia benar-benar sayang sama Kael.”“Mungkin.” Reyga mengedikkan bahu. “Dia tahu kita

  • Hello, Nanny!   237. Terakhir Kali

    “Benar-benar tidak bisa diselamatkan!” “Arogan, dan tidak tau diri!”“Sok paling hebat lagi.”“Gue yakin sih, John udah diuleg sama bapaknya. Dijadiin perkedel.”“Perkedel mah enak. Dicacah-cacah terus dilempar jadi makanan anjing dia.”Tawa ketiga bersaudara itu lantas menggelegar puas di setiap sudut ruang kerja pribadi milik Raven. Sekretaris Raven kemudian masuk menyajikan tiga es kelapa muda sekaligus buah-buahnya. Request langsung dari Cade yang tiba-tiba ingin es kelapa muda setelah puas membuat bapak sama anak Foster tidak mampu berbuat apa-apa. “Ini es kelapa muda banget? Yang hamil Lo, apa bini Lo sih?” tanya Reyga heran, tapi tangannya menarik es kelapa itu juga. Dan langsung menyeruputnya. Rasa dingin dan segar kontan membasahi tenggorokannya yang kering. “Bini gue-lah, tapi kan gue sebagai bapaknya bisa ngidam juga,” sahut Cade asal, langsung menyesap air kelapa dingin itu banyak-banyak. “Teori dari mana tuh?”“Dari leluhur!” “Berisik kalian!” tegur Raven. Dia tengah

  • Hello, Nanny!   236. Permintaan Maaf Foster

    Tiga orang pria yang sudah lebih dulu hadir di ruang meeting kompak berdiri ketika pintu dibuka dari luar. Tiga orang itu dari Foster Grup. Pria tua dengan kumis lebat dan bertubuh tambun, Bernald–Presiden Foster Grup. Pria matang dengan jambang yang mengelilingi rahangnya, John—Dirut Foster, serta pria bertubuh tegap, Rocky–asisten pribadi Bernald. Mereka menyambut kedatangan empat pria yang satu per satu memasuki ruang meeting. Raven yang pertama masuk, pria bermata coklat itu tersenyum miring selagi berjalan memimpin. Di belakang Raven, papanya, Reyhan. Lanjut Cade, dan terakhir Reyga—yang berusaha menunjukkan wajah tenang, kendati sebenarnya ingin meninju muka John Foster. “Maaf, sudah membuat semuanya menunggu lama,” ucap Raven basa-basi. Dia duduk tepat berhadapan dengan asisten Bernald. Di sisinya ada Reyhan, yang berhadapan langsung dengan Bernald. Lalu Reyga, yang berseberangan dengan John. Baru Cade, yang memilih duduk paling ujung. “Oh, tidak apa-apa, Pak Raven. Kami bel

  • Hello, Nanny!   235. Isi Daya (2)

    Sembari menunggu Reyga selesai mandi, Kalla memangku laptop, duduk bersandar di kepala ranjang, memelototi pekerjaan. Jarinya bergerak aktif menulis sesuatu. Sesekali diam, scrolling, dan kembali mengetik papan kibor. Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan sosok suaminya yang hanya mengenakan celana pendek. Selagi Reyga mendekat, Kalla menyingkirkan laptop dari pangkuannya. Dia menggeser duduk, lalu meraih handuk yang Reyga angsurkan padanya. Seperti sudah otomatis, Reyga duduk di atas karpet membelakangi Kalla yang sudah bergeser duduk di tepi ranjang. Wanita itu mulai mengeringkan rambut suaminya dengan handuk tadi. “Kamu pake sampoku ya?” tanya Kalla mencium aroma yang keluar dari rambut suaminya. “Hu–um. Pengen nyoba sekali-kali.” Kalla berdecih sesaat, lalu tersenyum sambil terus mengeringkan rambut lelaki itu. “Kamu tadi ketemu Kak Raven?” tanya wanita itu memulai obrolan ringan. “Iya, sama Cade juga. Bahas soal sidang dan lain-lain.” Gerakan Kalla m

  • Hello, Nanny!   12. Es Krim

    Sebenarnya Reyga ingin memecat Kalla sejak kejadian seminggu lalu di apartemen. Mana ada majikan kalah ribut sama bawahan? Harga dirinya sedikit terusik dengan tingkah tengil pengasuh Kael itu. Tapi melihat betapa Kael sangat akrab dengan wanita itu, Reyga mengurungkan niatnya. Terlebih ada perubah

  • Hello, Nanny!   11. Dada Kecil

    Bagaimana Reyga tidak mendidih ketika kembali ke apartemen dan melihat kekacauan di sana? Begitu membuka pintu dia langsung disuguhi pemandangan yang 'menakjubkan'. Bungkus camilan berserakan di atas meja, sofa dan juga karpet. Belum gelas bekas minum yang mengembun sehingga membentuk lingkaran tip

  • Hello, Nanny!   65. Macaroni schotel

    Kael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu samb

  • Hello, Nanny!   69. Rambut Baru

    Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status