ANMELDENKael menggeliat, bergerak, saat merasakan ada pergerakan orang lain. Perlahan kelopak matanya terbuka. Meski pandangan masih buram, dia bisa tahu sosok di depannya itu Kalla. “Kakak?” Suara seraknya terdengar, anak itu terlihat tak sabar dan langsung bangun. “Kakak udah pulang?” tanya anak itu sambil mengucek mata. Di depannya Kalla tersenyum. “Iya, kakak udah pulang. Maaf ya, kamu udah nunggu lama.” “Kakak dari mana? Kakak kenapa nggak datang ke sekolah?” “Siapa bilang kakak nggak datang? Kakak datang kok. Kakak juga lihat kamu pentas.” Kalla membuka galeri ponsel lalu menunjukkan video saat Kael pentas. “Kamu hebat, Kael. Lukisan kamu juara.”“Jadi kakak datang?” Kael tersenyum ketika Kalla mengangguk. Rasa tidak diinginkan yang sempat merayap saat melihat kedekatan Kael dan Kiana pelan-pelan lenyap ketika Kael meloncat ke pelukannya. Hati Kalla menghangat memeluk anak itu erat-erat, dan mencium rambut Kael yang wangi shampo rasa apel. “Kamu udah makan?” tanya Kalla kemudian.
“Terus, Kallanya mana?” tanya Cade sembari berjalan hendak masuk rumah. Namun dari belakang, Reyga menarik kerah kemejanya. “Lo mau ke mana?” “Astaga, apaan sih, Kak. Lepasin gue. Gue cuma mau ketemu ibu.” “Ibu lagi sibuk.” Dengan kencang Reyga menarik mundur adiknya, sampai lelaki itu nyaris terjengkang. Cade mendengus kesal seraya membenarkan kerah kemejanya. “Bisa santai nggak sih?”Mata Reyga mendelik. “Nggak kalau sama Lo yang suka bacot sembarangan.” “Gue nggak bacot sembarangan. Apa yang gue bilang itu semua benar.”“Ya terus, Lo berhak gitu ngasih tau semuanya ke Kalla?” “Gue cuma mau melindungi Kalla. Dia temen gue.” “Bullshit.”Keributan dua kakak-beradik itu terdengar sampai ke dalam rumah. Ibu yang sedang beres-beres dapur kontan meninggalkan pekerjaannya, dan setengah berlari keluar rumah. Wanita paruh baya itu terkejut ketika melihat Reyga dan Cade tengah bersitegang. “Nak Reyga, Nak Cade?!” Dua kakak beradik yang tengah saling melotot menghentikan aksinya. Kedu
Begitu meeting selesai dan Reyga kembali ke kantornya, dia melihat Kael masih terjaga. Duduk di meja kerjanya tengah menekuri sebuah bricks. Dua bricks lain sudah terbentuk di depannya. Sementara di sofa penerima tamu, sekretarisnya duduk menggelosor di lantai dengan kepala jatuh ke meja. Molor. Reyga menarik napas panjang. Lalu berjalan mendekati putranya. “Kael, kenapa kamu nggak tidur siang?”“Aku nggak ngantuk, Pa,” sahut Kael dengan tatapan yang masih fokus ke mainan rakitan itu. Yang tidur lelap malah sekretarisnya. Reyga beralih menghampiri wanita itu. Alisnya terangkat sebelah, dan wajahnya terlihat jijik melihat sesuatu menetes dari ujung mulut Rachel, melewati pipi sebelum netes ke meja.Ujung sepatu Reyga mendorong pelan perempuan itu, sengaja mengetuk beberapa kali, membangunkan. Tapi ternyata tidur Rachel terlalu pulas. Sehingga Reyga kembali mendorong sepatu dengan keras. “Eham!” Lelaki itu berdeham keras. Dan perempuan itu refleks terbangun dengan badan yang langsu
Melipir ke Reyga dan Kael dulu yak. ===============Kael duduk menunduk di kursi panjang sambil mengayunkan kakinya yang menyilang. Bibirnya mencebik, mukanya tertekuk. Acara pekan seni sudah selesai setengah jam lalu. Lukisan Kael bahkan mendapat juara, tapi wajah gembiranya hanya bertahan sesaat saja lantaran selama jalannya pentas dia tidak melihat nanny-nya. Anak empat tahun itu menghela napas, lalu menoleh ke ruangan di belakangnya. Tempat sang papa dan Kiana sedang berdiskusi dengan Miss Principal. Kiana keluar lebih dulu dan menaikkan alis ketika melihat keponakannya itu bermuram durja. “Ada apa?” tanya Reyga mencolek bahu wanita itu. Kiana mengedikkan dagu ke arah Kael. “Anak kamu lagi galau.” Reyga menghela napas lantaran tahu penyebab putranya mengsedih begitu. “Kael ada apa? Kok nggak semangat gitu?” tanya Kiana, mendekati anak itu lalu berjongkok di depannya. Muka cemberut Kael terangkat. “Kakak Cantik nggak ke sini, nggak liat aku nyanyi.” “Ooh.” Kian manggut-man
Kalla kembali duduk sendiri setelah Wima pamit sebentar untuk menemani para koleganya. Namun sebelum masuk, lelaki itu berpesan pada Kalla agar tetap menunggunya. Dia berjanji akan mengantar Kalla pulang ke rumahnya. Gatra sendiri lebih memilih menemani tamu-tamu penting itu. Cari muka biar mendapat suntikan dana. “Sori, sudah membuatmu menunggu lama.” Kalla menoleh dan mendapati Wima Sagara kembali ke mejanya. Dia sempatkan melirik area indoor. Beberapa kolega Wima masih di sana tapi asisten lelaki itu yang mengurusnya. “Setelah ini apa kamu ada acara?” tanya pria itu sembari duduk di seberang Kalla. “Nggak ada, sih. Mungkin langsung pulang.” “Mau temani saya cari hadiah ulang tahun? Adik bungsu saya besok ultah, dan saya belum menyiapkan apa-apa. Mungkin kamu bisa membantu saya memilihkan kado spesial.” “Uhm, adik Kak Wima cewek apa cowok.” “Cewek dan dia masih remaja.”“Sweet seventeen?”“Yap.”Itu bukan ide buruk. Sekalian cuci mata. Jarang-jarang kan bisa menemani sultan b
Beberapa saat Kalla membiarkan Gatra menekuri ponsel. Sementara dirinya dengan santai makan kue. Wajah songong lelaki itu perlahan berubah. Alisnya berkerut, selaras dengan bibirnya. Mimiknya kini benar-benar serius menatap ponsel. "Kalla, ini beneran suami kamu?" tanya Gatra setelah beberapa saat. "Lo kan pernah melihat secara langsung mukanya pas di Bali. Sama enggak mukanya di situ?" Gatra meringis. "Emang dia beneran Reyga Abimanyu yang itu?" "Ya kali dia punya kembaran.""Kali aja kan cuma mirip.""Ya terserah Lo mau percaya atau enggak. Gue nggak punya kewajiban buat jelasin ke Lo. Nggak guna juga." Kalla mengedikkan bahu. Obrolan mereka terjeda ketika pelayan datang membawa pesanan Gatra. "Oke. Pesanan kita datang. Kamu harus coba nasi sapi lada hitam kafe ini." Dengan semangat Gatra meletakkan menu kebanggaan itu ke depan Kalla. Wanita itu akui plating-nya cantik. Dan tampilan sapi lada hitam di atas nasi putih terlihat menggiurkan. Wadahnya menggunakan mangkok keramik







