LOGINRachael seemingly has it all; a perfect marriage, an intelligent daughter, a good career and a supportive husband. Her life became a center of envy but that didn't last long enough when she caught her husband cheating on with her secretary. Instead of her yelling at them, she kept silent and left the room. Feeling betrayed, she swore to divorce him but couldn't, so she exact revenge on them. She used her silence to sharpen her revenge blade. As she embarked on her revenge journey, she found herself drawn to her husband's brother. Their forbidden ignites a fire that could destroy everything Rachael had worked hard for.
View More“Jadilah istriku, maka kamu akan bisa menemukan jawaban semua misteri yang kamu hadapi selama ini bersamaku!”
Wanita muda berdiri mematung dan sebenarnya dalam lubuk hatinya ia setengah kesal. Bagaimana bisa pada akhirnya harus menikah dengan pemuda yang baru saja dikenal dalam sehari?
Tangannya terkepal kuat ingin menampar pipi lembut pemuda tampan itu. Namun, tangan lembut wanita cantik ini tidak tega menampar pemuda itu, karena di sisi lain, merasa kasihan padanya.
Lamaran paksaan itu sudah berlangsung hampir lima menit, tapi wanita muda ini tentunya tidak akan mudah memberikan jawaban yang dapat memengaruhi hidupnya di masa depan.
‘Haruskah aku menjadi istrinya supaya hidupku bisa terbebas dari semua ancaman yang kuhadapi selama ini?’
*****
Seminggu lalu…
Eleanor menghampiri sebuah toko buku setelah membaca sebuah artikel sedang trending di media sosial. Toko buku yang penuh misteri bagi semua orang dan bahkan sangat istimewa. Karena toko buku itu bukanlah toko buku biasa yang membuat rasa penasarannya sangat tinggi seketika membaca sebuah artikel toko buku di internet.
Tampak dari luar terlihat seperti toko buku biasa. Namun, jika dilihat dari segi interior, toko buku itu terlihat seperti perpustakaan yang biasanya ada di film fantasi berbau sihir.
Eleanor membelalakan mata memandang keindahan toko buku ini terasa seperti di dalam dunia mimpi. Dengan langkah anggun menelusuri toko buku itu meraba buku-buku yang dipajang dan tersusun rapi sesuai abjad.
Ada satu buku yang membuat Eleanor ingin langsung membacanya. Langkah kaki indah itu langsung terhenti. Netra hitam itu bersinar memandang sebuah buku entah kenapa baginya sangat menarik, meski belum membaca isinya sama sekali.
Tangan kanannya tanpa berpikir panjang mengambil buku itu dan langsung membuka halaman buku satu per satu. Anehnya semua buku di sini terlihat tidak disegel apa pun, sehingga setiap pengunjung yang ingin membaca buku favorit mereka bisa membaca leluasa di tempat ini.
Semakin lama semakin candu membaca buku ini berjudul “My Perfect Stranger”. Namun, dibalik rasa candu, dahinya berkerut dalam sekejap. Entah kenapa alur cerita buku ini terlihat sama persis dengan kehidupannya selama ini. Namanya pun juga sama seperti nama aslinya dan juga semua orang terdekatnya sehingga menambah kerutan di dahi.
‘Bagaimana penulisnya tahu tentang kehidupanku? Apakah dia seorang penguntit? Tidak! Tidak mungkin penguntit yang selama ini mengincarku. Kalau beneran penguntit, apa alasan dia menulis kisah kehidupanku dalam buku ini?’
Eleanor menggeleng cepat mencoba membangunkan lamunannya sambil melanjutkan mengamati isi buku ini.
Hingga pada akhirnya, kosong. Ternyata buku ini masih belum selesai ditulis penulisnya. Lebih anehnya lagi. Nama penulis tidak tertera di buku ini. Tidak hanya buku ini. Semua buku di toko buku ini tidak tertera nama penulis atau nama penerbit. Hanya tertera judul buku dan cover buku yang sengaja dibuat terlihat menarik.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Eleanor tersentak hingga punggung lentiknya hampir menabrak rak buku di belakangnya. Sosok wanita paruh baya berpenampilan elegan menghampirinya. Netra Eleanor terfokus pada penampilan wanita itu yang sangat menarik perhatiannya karena terlihat seperti seorang penjaga perpustakaan di dunia sihir dari ujung kepala hingga kaki.
Wanita paruh baya itu menundukkan kepala hormat. “Maafkan saya sempat mengejutkan Anda tadi.”
Dengan lincah Eleanor merapikan penampilannya kembali terlihat seperti wanita profesional dalam kondisi masih menggenggam buku misterius itu erat. “Tidak apa-apa. Tadi saya hanya sempat melamun.”
“Anda menyukai buku itu?”
Eleanor kembali terfokus pada buku aneh yang mencatat kisah kehidupannya selama ini. Kepalanya sudah pusing dan sudah menyiapkan banyak pertanyaan. Mungkin baginya bisa menghabiskan waktu hampir satu jam hanya untuk mewawancarai sang pemilik toko buku.
“Omong-omong, saya adalah pemilik toko buku “Magical”. Jika ada pertanyaan apa pun dari Anda, tentunya saya bisa menjelaskannya pada Anda sampai Anda paham.”
Hampir saja tertawa lepas. Eleanor tidak ingin berbasa-basi lagi, harus tahu apa maksud isi buku misterius ini. Apakah sungguh penguntit yang mengincarnya selama ini adalah penulisnya? Atau hanya sebuah kebetulan?
“Memangnya buku ini sebenarnya buku apa? Kenapa kisah di buku ini terlihat sama seperti kehidupanku selama ini?”
Wanita paruh baya itu tertawa lepas seraya menggeleng pelan. Reaksi Eleanor semakin tampak bingung. Jika sang pemilik toko buku bisa tertawa santai seperti ini, berarti buku misterius yang digenggamnya saat ini bukan buku biasa.
“Siapa penulis buku ini? Kenapa buku ini belum ditulis sampai selesai tapi sudah dirilis?”
“Akhirnya Anda datang mengunjungi toko buku ini setelah saya menunggu lama.”
Tatapan Eleanor langsung melotot dan menelan saliva berat. Langsung membuang pikirannya jauh-jauh. Mustahil langsung berasumsi pemilik toko buku merupakan seorang penguntit yang mengincarnya selama ini.
“Eleanor Winter, selamat akhirnya Anda berhasil membaca buku kisah kehidupan Anda sendiri.”
“Kisah … saya?”
“Bisa dikatakan, hanya Anda yang bisa membuka segel buku itu.”
“Tunggu sebentar! Tadi saat saya ingin membaca buku ini tidak ada segel apa pun.”
Wanita paruh baya itu melangkah mendekati Eleanor dan menampakkan senyuman lebar. “Semua buku di sini hanya bisa dibuka oleh sang pemilik. Tentu saja segelnya tidak bisa dilihat kasat mata. Karena kalian hanya manusia biasa.”
Eleanor memegang kepalanya dengan lemas. “Jadi, bisa disimpulkan buku ini bukan novel biasa. Lalu, kenapa masih banyak halaman kosong? Sebenarnya siapa sih penulisnya?”
Wanita paruh baya itu menggeleng santai sambil mengibaskan jari telunjuknya. “Anda salah. Justru penulis buku ini adalah Anda sendiri, Eleanor Winter.”
Eleanor perlahan memijit pelipisnya terasa sakit. Merasa dirinya sedang bermimpi atau efek kelelahan bekerja jadi mudah berhalusinasi. Bagaimana bisa dirinya adalah seorang penulis kisahnya sendiri sedangkan pekerjaannya adalah seorang model? Bahkan bisa dikatakan hobinya bukan menulis cerita melainkan membaca cerita.
Tidak ingin berpikir terlalu lama juga, akhirnya memutuskan membuka mulutnya lagi setelah terkunci rapat hampir dua menit. “Saya … penulisnya? Bagaimana bisa?”
“Karena semua buku di sini adalah buku tentang kisah kehidupan manusia.”
“Kisah kehidupan manusia? Tapi, di sini bukan kehidupan sihir. Bagaimana bisa ada buku ajaib mencatat kehidupan manusia secara otomatis?”
Wanita paruh baya itu menepuk pundak Eleanor pelan. “Anda pasti sering mendengar, setiap pergantian tahun, maka semua orang akan menciptakan lembaran baru lebih baik lagi dari tahun-tahun yang telah mereka lewati. Seperti itulah gambarannya. Kejadian penting dalam hidup manusia secara otomatis tercatat dalam semua buku di toko buku ini.”
Eleanor hanya merasa dirinya semakin tidak waras mendengar semua omong kosong ini. Bermondar-mandir dengan panik sambil mempererat memegang buku misterius.
Wanita itu tersenyum tipis. “Saya tahu Anda tidak memercayai semua omong kosong ini. Tapi ada satu hal yang harus Anda ketahui.”
“Apa itu? Jangan membuat saya semakin tidak waras setelah mendengar semua omong kosong Anda dari tadi!”
“Halaman kosong itu akan menceritakan kisah kehidupan Anda setelah menikah dengan seseorang yang Anda cintai.”
Eleanor berdecak pasrah. Apalagi mendengar perkataan berkaitan dengan pernikahan membuat suasana hatinya semakin buruk. Usianya sangat cocok untuk menikah, tetapi hingga sekarang masih belum berpacaran. Mungkin buku itu tetap kosong sampai menua karena sepanjang hidupnya tidak tertarik berkencan dengan siapa pun.
“Bagaimana kalau seandainya saya tidak menikah dalam waktu dekat ini? Apakah buku ini akan tetap kosong?”
“Anda akan menikah dengan pemuda itu.”
Eleanor membulatkan mata. “Saya menikah dengan siapa? Bagaimana Anda bisa tahu saya akan menikah? Bahkan selama ini saya belum pernah berkencan dengan siapa pun. Sebenarnya Anda siapa?”
Wanita paruh baya itu menutup buku, mendekatkan bibir merah tua menuju daun telinga Eleanor. “Nanti Anda pasti akan tahu. Yang pastinya, pemuda itu memiliki nasib seperti Anda. Hanya dia yang bisa menyembuhkan luka Anda selama ini dan Anda harus menyembuhkan lukanya juga.”
“Pemuda itu siapa? Apakah seseorang yang saya kenal selama ini?”
“Anda harus mencari jawaban Anda sendiri. Karena saya tidak berhak ikut campur kehidupan manusia.”
TICK!
Eleanor terbangun dalam mobil sedannya. Bola matanya terbelalak seketika memandang sekelilingnya berada di lahan parkir taman kota. Mustahil! Bagaimana bisa tiba-tiba berada di dalam mobil dan posisinya bukan di depan toko buku? Dalam benaknya penuh dengan pertanyaan. Apakah tadi itu hanya sebuah mimpi aneh?
‘Apa yang sebenarnya terjadi?’
Eleanor menggeleng cepat sambil menepuk pipi menyadarkan lamunan aneh. Lalu, melajukan mobil sedannya menuju sebuah hotel. Awalnya ingin pulang, baru teringat seketika ada alarm pengingat di ponselnya bahwa ada satu agenda yang masih harus dilakukannya sebelum pulang. Harus mampir ke hotel untuk merayakan hari Valentine bersama dua teman dekatnya sejak duduk di bangku SMA.
*****
Beberapa menit kemudian, Eleanor langsung melangkah cepat memasuki restoran tempat pertemuan itu menemui teman terdekatnya. Sosok teman terdekat yang paling bisa diandalkan sejak duduk di bangku SMA dan juga sebagai penghiburnya setiap kali mengalami masalah.
Sosok wanita berwajah manis, tetapi karena keterlambatan temannya membuat wajahnya cemberut dan berkacak pinggang menyambut kedatangan temannya. “Kamu dari mana saja sih!”
“Maaf, aku habis dari to—”
Baru ingat. Eleanor juga bingung apa yang terjadi pada dirinya tadi. Tentu saja tidak mungkin mengatakan habis dari sebuah toko buku aneh. Nantinya akan dianggap wanita tidak waras.
“Aku habis sesi pemotretan tadi. Memang sedikit lama karena sempat ada kendala.” Terpaksa Eleanor harus membohongi temannya.
“Memang kamu dasar sok sibuk sejak terkenal! Ya sudahlah, lupakan saja! Karena suasana hatiku hari ini lagi baik.”
“Kamu dapat jackpot?” Eleanor menyenggol lengan temannya pelan.
Sontak sosok pria muda merupakan teman terdekat Eleanor menampakkan diri, lalu merangkul pundak sang kekasih tepat di depan mata Eleanor.
“Kalian … beneran pacaran?” Eleanor masih tidak memercayai semua ini hingga matanya terbelalak kaget.
Pria itu mengangguk. “Iya, benar.”
“Bagaimana bisa? Sejak kapan? Kok aku tidak tahu? Kamu harus jelaskan semua ini, Jessica!” Eleanor sengaja menggoyangkan tubuh Jessica merengek seperti anak kecil.
“Itulah kamu. Kamu tidak pernah peduli dengan kehidupanku dan selalu fokus dengan kehidupanmu sendiri. Kamu selalu pulang malam dan setiap hari libur selalu menolak jalan-jalan bersamaku!” Telinga Eleanor kepanasan mendengar omelan Jessica panjang lebar.
“Sudahlah, kamu jangan memarahinya lagi. Yang penting kamu punya aku sekarang.” Pria itu mengelus kepala Jessica.
Dalam lubuk hati Eleanor, sebenarnya sangat iri dengan kedua temannya. Dulu sering bertengkar karena masalah kecil, sekarang bisa saling bermanja. Sedangkan dirinya hidup sendirian tanpa didampingi siapa pun.
“Sebenarnya kami berpacaran sejak dua bulan yang lalu. Maaf kalau kami merahasiakan darimu.” Jessica menatap tajam pada Eleanor. “Sedangkan kamu sungguh tidak merahasiakan apa pun dari kami, ‘kan?”
“Rahasia apaan sih? Aku tidak main rahasia seperti kalian!”
“Kamu itu cantik dan cerdas. Mustahil kamu belum berpacaran dengan siapa pun,” tukas Jessica langsung pada intinya.
*****
Setelah makan malam, Eleanor menikmati minuman alkohol sendirian di bar dalam hotel mewah, meskipun sudah diperingatkan asistennya.
Sebenarnya Eleanor ingin melampiaskan kekesalannya di hari Valentine menyebalkan ini. Semua orang terus mendesaknya berpacaran, apalagi mendengar omong kosong pemilik toko buku itu mengenai pernikahannya telah dekat. Namun dalam benaknya, menjalin hubungan dengan seseorang tidak akan semudah orang bayangkan. Begitulah nasibnya yang selalu fokus dengan dirinya sendiri. Ada yang mudah bertengkar karena masalah kecil sampai putus hubungan, Eleanor tidak mau memiliki hubungan seperti itu.
Tangan kanannya memutar gelas kaca digenggamnya searah jarum jam. Setengah hatinya, masih penasaran pendamping hidupnya akan seperti apa. Apakah sungguh mencintainya atau mempermainkannya? Karena di dunia ini banyak sekali pria mempermainkan wanitanya hanya demi kesenangan hidup. Itulah alasan Eleanor sangat selektif memilih pasangan hidup dan tidak mudah memercayai siapa pun.
“Bolehkah aku bergabung minum bersamamu?” Suara pemuda terdengar sexy berhasil membangunkan lamunan sang model sedang galau.
Rachael's POV“ Camilla is pregnant with Keaton's child” I told Grace as we sat together in my office the next day.Grace grimaced. “ This isn't a joke is this? Because It's not funny” Grace said with seriousness in her voice.I exhaled, closing the file in my front.“ I'm telling the truth. Keaton is expecting a baby with her soon?” I managed to convince Grace and I saw how her face suddenly transformed with pain.“ What are you saying, Rachael? Who is Camilla that's pregnant for your husband and how did that happen?” Grace raised a curious gaze at me. I hesitated before I answered weakly. “ The Camilla we both know. My secretary, Grace”This revelation shocked Grace, causing her to spring up from the chair.“ Are you serious? How? When?” Grace didn't believe me. Those were the exact questions I asked myself when I found out.‘How?’ ‘When?’I palmed my face, tears welled up in my eyes. “ I'm confused as you are, Grace. Keaton has been cheating with Grace behind closed doors and h
Rachael's POVKeaton blatantly refused to sign the divorce papers I handed him with it. His reason was because he didn't want to drag the family name into mud.The Worthington were no nonsense people. They were very strict, pious and always had good recommendations from other families.Well, I guess Keaton didn't want to be the first to pollute the family name.His younger brother, Alec has a history of being strict and disciplined already so Keaton thinks he may be labelled the black sheep. Instead of divorcing me and experiencing a backlash from his family, he decided to torture me emotionally with his secret affairs.Keaton has been pretending to love me until I caught him with Camilla some days ago.Since then, our hatred for each other has ignited and since he refused signing the divorce papers, I decided to stay for our son, Holden, while secretly planning his downfall. After work that day, I couldn't stop thinking about my brother-in-law.He has a mysterious figure and a
Alec's POVAt exactly 11: 15 AM, I left the company, heading straight to T&H law firm where I had an appointment booked with the lawyer that would be handling my company's new project case and the challenging issues we have at hand.Edwardo, my trusted personal assistant, had gone with me to the lawyer’s office but when we arrived at T&H Law firm, he settled in the car, waiting for my return.A lady with sharp blue eyes beckoned me to follow her . We walked inside the elevator before we emerged through the hallway lined with numbered doors.She led me to room 0042 and knocked on the door. A particular female voice struck from inside, bidding us to come in.“ Rose, here is Mr Alec Worthington, Mrs Rachael’s supposed client” The first lady introduced.The other woman, a young beautiful woman, gave me a sharp gaze and smiled. She's the secretary I guess.“You’re welcome sir, please sit” She said very politely and warmly, but I didn't care. She pointed to a couch for me and I sat.I w
Rachael’s POVThe next day at work, I saw a lot of colleagues gnawing at me with too many questions racing through their minds as if they knew my marriage was at the verge of wreckage.Bearing the pain of my broken heart, I put on a masked smile just to ensure they didn't notice anything.But it seems like they know something already.“ Is everything alright, Rachael? Your face looks pale and gloomy” Hana Grace, my colleague who had spotted me earlier rushed to me.I forced another fake smile as we continued walking together to the office.“ I'm fine, Grace. I didn't get enough sleep last night, that's all” I said, increasing my pace.Without replying a word, Grace locked gaze with me, measuring my speed.”You can't fake it, girl. I see it all. Just spill it out” Grace replied, her voice lacing with concern and urgency.I ignored Grace until we arrived at the elevator leading to my office.“ It just happened… to me” I wanted to lie but didn't even know the right words to use.“ Huh


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.