LOGINHis hands were firm but careful as they slid down my sides, his lips brushing against mine in a way that left me breathless. “Are you sure about this?” he murmured, his forehead resting against mine, grey eyes searching for any sign of hesitation. I nodded, my fingers curling into the leather of his jacket. “I’m sure. I need this. I need you.” His jaw clenched, a muscle ticking there as if he were trying to hold himself back. “You don’t just need me, Aurora. You have me. You’ve had me for a long fucking time.” I swallowed hard, my heart hammering at his words. “Then show me.” *** Aurora, daughter of a powerful Alpha, thought she was living her perfect love story with Nathan, her destined mate and the future Alpha of a neighboring pack. But on prom night, her world shatters when she finds Nathan with another woman, revealing their entire relationship was a lie. Heartbroken and betrayed, Aurora flees, only to find solace in the arms of Noxon, Nathan's twin brother, where they had a night of passion before Noxon disappeared, leaving Aurora more broken. Six years later, a family tragedy pulls her back into the chaos she escaped. Old enemies, forbidden love, and hidden truths resurface, threatening not just Aurora's fragile peace but also the future of her son, whose extraordinary abilities mark him as a target in a deadly power struggle. As tensions rise, Aurora must decide: will she fight for her son and her pack, or walk away forever?
View MoreGera melangkah masuk ke dalam apartmen pacarnya, Adit. Langkah Gera terhenti ketika mendengar suara seorang wanita . Semakin lama menjadi begitu nyaring di telinga Gera. Gera segera menggeleng, berusaha menepis pikiran negatifnya. 'Ah, tidak mungkin ini Adit. Tapi siapa itu?' Batin Gera berkecamuk.
"Adit!" Semakin dekat menuju kamar Adit, suara itu semakin terdengar jelas.
Wajah Gera memucat mendengar suara menjijikkan itu. Namun rasa jijiknya berhasil dikalahkan oleh egonya yang ingin mengetahui siapa yang menyebut nama Adit dibarengi pekikan itu.
"Kau sangat hebat, Adit." Ujar si wanita. Air mata sudah membendung di pelupuk mata Gera. Yang ia takutkan terjadi. Hatinya semakin terpancing untuk melihat siapa wanita itu, yang baru saja memuji Adit, kekasihnya.
Dengan pelan ia melangkah. "Lalu, lebih memuaskan siapa, aku atau wanita sok polos itu?" Tanya si wanita, membuat langkah Gera terhenti lagi.
"Jelas kau lebih seribu kali. Boro-boro melayaniku, dia sibuk dengan hidupnya yang sok suci itu. Gera tidak ada apa-apanya dibanding kau, Andin!" Gera semakin terluka ketika mendengar itu adalah suara Adit. Terlebih lagi Adit merendahkannya. Pipi Gera kini sudah basah.
Suara mereka terdengar semakin besar sekarang. Gera merasa telinganya begitu sakit mendengar percakapan mereka yang tiada henti.
Terlebih, wanita yang kini bersama dengan kekasihnya adalah teman baiknya sendiri. Andin. Orang tempatnya berbagi cerita. Gera tidak percaya dengan semua ini.
Dengan pelan Gera membuka pintu kamar itu. "Adit!" Gera berteriak histeris ketika melihat apa yang ada di depannya sekarang.
Andin yang menindih Adit dengan liarnya. Dan Adit, ia terlihat begitu menikmatinya. Ironis sekali.
"Ge-Gera! Bagaimana bisa?" Tanya Adit terkejut. Ia langsung beranjak memakai bathrobenya.
"Bisa. Jadi ini alasan kamu nggak bisa hadir? Hebat!" Ujar Gera dengan suara terputus-putus akibat tangisnya yang hebat.
"Aku bisa jelasin, Ge!" Kata Adit berusaha membujuk Gera.
"Stop! Kamu diam disana! Mau jelasin apalagi? Jelasin aku yang nggak bisa puasin batin kamu? Atau mau jelasin kalau wanita itu lebih baik seribu kali dari aku? Nggak perlu, Adit!" Sergah Gera dengan emosi yang membuncah.
"Dan kamu Andin, aku nggak akan pernah nyangka apa yang kamu lakuin sekarang. Kamu bilang aku sok polos? Kamu lebih dari hewan!" Teriak Gera menunjuk Andin. Konyolnya, Andin hanya menatap Gera datar. Tanpa rasa bersalah.
"Ge, apa yang kamu lihat-"
"Sangat luar biasa!" Potong Gera.
Dengan hati yang sudah pecah, Gera berlari keluar dari kamar kotor itu dan....
Gera membanting pintu apartmen Adit dengan sangat keras. Sambil menghapus air matanya ia berlari kemanapun kakinya membawanya.
***
"Dasar laki-laki kurang ajar! Aku akan buat kamu nyesel, Adit!" Teriak Gera di tepi pantai yang sepi. Ia menangis sejadi-jadinya.
Gera terduduk diatas pasir putih yang membentang luas. Sambil menghapus sisa-sisa air mata yang mulai mengering di pipinya, ia mengeluarkan sumpah serapah.
"Ngapain nangis, Ger? Dia aja nggak peduliin kamu." Gera menertawakan dirinya sendiri. Masih dengan kebaya yang melekat sempurna di tubuh indahnya.
Gera mengambil kaca dari tas kecilnya. Melihat pantulan dirinya di cermin. Make up yang tadinya sangat sempurna di wajah cantiknya, kini sudah luntur. Abstrak.
***
Sudah jam delapan malam. Gera segera membersihkan diri setelah kembali ke rumah kecilnya. Membersihkan matanya dari sisa-sisa kesedihan.
Gera keluar setelah selesai mandi, hanya menggunakan kemben dari handuknya. Namun sesuatu mengejutkannya.
"Hai, Gera!"
Adit tersenyum licik sambil menghirup rokok di tangannya. Gera refleks menutupi bagian tubuhnya yang terlihat, walaupun itu percuma.
"Adit! Ka-kamu ngapain datang kesini? Cepat keluar dan jangan pernah menemuiku lagi!" Bentak Gera.
Adit berjalan mendekatinya. Pelan, namun langkahnya pasti. "Jangan ditutup , aku suka melihatnya." Sekarang Adit sudah di depan Gera.
"Dan jangan pura-pura polos. Aku yakin, kau sama seperti temanmu. Murahan!" Gera benar-benar tak terima. Hatinya begitu sakit.
"Kau sama sekali tidak memiliki hak untuk berkata seperti itu!" Geram Gera tanpa takut. Ia ingin sekali berlari menuju kamarnya, namun tidak ada jalan keluar karena Adit sudah memblokade tubuhnya.
Adit menyeringai licik. "Ah benarkah? Boleh kubuktikan sendiri?" Bisik Adit membuat Gera meremang.
Gera mendorong tubuh Adit keras hingga terjungkal. "Sadarlah Adit! Kau tidak waras! Dan aku bodoh, tidak menyadari semua ini sebelumnya." Tutur Gera emosi.
"Kau memang bodoh, Gera!" Teriak Adit lalu tertawa sendiri. Aroma aneh menguar disekitar ruangan. Sudah jelas, ia dalam kondisi mabuk sekarang.
"Dan aku tidak akan pergi darimu sebelum aku bisa mencicipi hal yang membuatku menginginkanmu setiap waktu." Adit lagi-lagi mendekati Gera. Air mata sudah membasahi gundukan kenyal dikedua sisi wajahnya.
"Pergi kau!" Teriak Gera.
Semakin Gera memberontak, membuat Adit semakin gencar dan liar mencari celah untuk menyentuh tubuh Gera.
Gera sudah lemas dan tidak memiliki tenaga untuk melawan lagi. Alhasil, ketika Gera lengah sedikit, Adit langsung membuka paksa bathrobe yang Gera pakai.
"Tolong, jangan lakukan itu, Adit!" Gera berteriak memohon.
"Menangislah, akan kuanggap itu permintaan darimu, Gera." Tutur Adit dengan seringai nakalnya.
Gera mundur dan menutupi tubuhnya sebisa mungkin. "Tolong, pergilah!" Tangis Gera tertahan karena rasa takutnya.
Adit kembali mendekati Gera dengan senyuman iblisnya. Perlahan ia mulai membuka ikat pinggangnya, membuat Gera terbelalak. Ia sangat tidak menyangka Adit akan seburuk ini.
"Malam ini semua akan terbukti, kau suci atau tidak. Dasar bodoh!" Maki Adit semakin mendekati Gera.
Kini kemeja Adit sudah terbuka. Hanya tersisa celana saja. Gera semakin kalap dan bingung harus bagaimana. Mau menghindar, sudah tidak ada jalan.
"Menjauhlah Adit! Jangan menjadi laki-laki tak berperasaan! Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mahkotaku!" Gera histeris melihat Adit yang sudah begitu dekat dengannya.
"Cobalah!" Tantang Adit.
Mata indah yang dulu Gera sukai, kini berubah menakutkan. Tangan Adit sudah menjalar kemana-mana.
"Pergi!" Sekali lagi Gera mendorong Adit hingga terjungkal. Mengingat ia sedang mabuk, lumayan memudahkan untuk melawannya.
Ekspresi Adit kini berubah geram. Tatapan nyalangnya menusuk mata Gera. " Beraninya kau melawanku. Rasakan apa yang akan aku lakukan sekarang!" Adit sudah sangat emosi karena Gera terus saja memberontak.
"Wanita murahan!" Maki Adit setelah menampar pipi kanan Gera. Gera merasa seperti tertusuk paku besar.
"Murahan! Kotor! Tidak akan kuampuni kau!" Dua kali Adit menendang tubuh Gera. Membuat si empunya meringis.
"Stop! Kumohon hentikan, Adit!" Gera terus saja memohon dengan sisa tenaganya.
Tubuhnya sudah lemas. Ia pasrah. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk melawan. Mungkin malam ini kesuciannya harus ia relakan.
Pintu terbuka. Seseorang mendobrak paksa pintu rumah Gera. Membuat Adit yang kini hanya mengenakan kolor menjadi semakin meradang.
Pikiran Gera berkecamuk. Ia sangat bersyukur. Namun siapa pria yang hendak menolongnya itu?
Aurora POV6 YEARS LATER. I I stared numbly as they lowered my father's casket into the ground. The crowd's tears and wailing felt far away, like I was watching everything through thick glass. They spoke of his leadership, his strength, his dedication to the pack-empty words that meant nothing now.Her call had come three days ago, her voice breaking as she told me Dad had suffered a heart attack. "He asked for you," she'd said. "In his final moments, he asked for you." The words should have shattered me, but I felt nothing. Six years of silence had turned whatever love remained into something cold and hard.I shifted uncomfortably in my black dress, the weight of stares burning into my back. The prodigal daughter returned at last.Some of them whispered behind their hands; no doubt I could hear them.“She doesn’t even look upset.”“Six years and she doesn't care.”“Alpha Richard did everything for her, and this is how she repays him?”If only they knew what it was like to be cast ou
Aurora POV"I'm pregnant..." I trailed off, standing in front of my whole family. The room was dead silent. My mother's teacup hit the saucer, its noise loud within the tight air. The living room seemed too small, too narrow with five pairs of eyes staring at me in surprise-each one differently."Aurora, please, sit down," my mother finally said, motioning to the space beside her on the sofa. "We have to discuss this rationally."I shook my head. I wouldn't sit down. If I sat down, if I let them close in on me, I might lose my nerve."How long have you known?" Dmitry, my oldest brother, asked. His voice was soft, but I could see the clench of his jaw."Three weeks," I admitted, fidgeting with my sweater's hem. "I wanted to be sure before…""Three weeks," my father repeated slowly. His Alpha energy filled the room, making it hard to breathe. "And you're telling us now because?""Because I needed time to think. To figure out what I wanted to do."Maxim snorted from his position by the
MATURED CONTENT 18+Aurora POV Back at my place, we barely made it inside before Noxon had me pressed against the wall. His hands were firm but careful as they slid down my sides, his lips brushing against mine in a way that left me breathless. Are you sure about this?" he whispered, his forehead against mine, grey eyes searching for any sign of hesitation.I nodded, my fingers curling into the leather of his jacket. "I'm sure. I need this. I need you.His jaw clenched, a muscle ticking there as if he were trying to hold himself back. “You don’t just need me, Aurora. You have me. You’ve had me for a long fucking time.” I swallowed hard, my heart hammering at his words. “Then show me.” That was all it took. His lips crashed against mine, and I could feel the weight of his restraint slipping away. The kiss was deep, raw, filled with everything unspoken between us. He pulled back an inch, his thumb brushing over my swollen lips. "Tell me something," he said, his voice low and grav
Aurora POV"So what did my stupid brother do?" Noxon asked, passing me another glass of chocolate milkshake. Sandy's place was quite great. The place was quite a cozy diner with checkered floors, red vinyl booths, and a jukebox humming softly in the corner. It gave a 90's vibe and somehow they serve the best milkshake and apple pie. I'm practically thinking of living here.I've had three glasses already, but somehow the sugar was helping. "Found him fucking Rebecca Stone." I stirred the whipped cream into the shake. "In Mr. Wilson's classroom.""Shit." Noxon's jaw tightened, those grey eyes darkening. "Want me to kill him? Because I've been looking for an excuse since we were eight."I couldn't help but laugh, even though it came out a bit hollow. "And here I thought you were trying to cheer me up.""Who says I can't do both?" He leaned back, that dangerous smirk playing on his lips. The sleeve of his leather jacket rode up, revealing more intricate tattoos on his thick veiny arm. "
Aurora POV“You already look good,” Alicia, my best friend, said tapping her feet impatiently on the floor. “Can we begin moving?” She added, draping herself on the door. I smirked at her through the mirror, applying another layer of mascara onto my lashes. "A few minutes wouldn’t kill you," I tea






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews