Home / Urban / Hestia / Chapter 10 - Window Shopping

Share

Chapter 10 - Window Shopping

Author: Dyara
last update publish date: 2026-02-21 18:56:50
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul tujuh malam. Patra tertidur di sofa kamar Archie, dengan posisi kepalanya dipangku Talia—yang bersandar di kepala sofa dengan mulut setengah terbuka. Sementara itu, Archie turun dari lantai atas dituntun Apollo.

Salah satu ibu Archie, Cassandra, yang menjemput segera mengambil tangan anaknya dari genggaman saudara istrinya.

Tanpa Apollo bisa menahan amarah yang selalu ia pendam, kali ini laki-laki itu menyeletuk, "Gue bukan pedo, Cas," seraya memand
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 103 – Copies of Our Minds

    Patra tidak menyangka dirinya benar-benar datang ke kantor pusat Intimate Beauty seminggu kemudian. Padahal saat Nero mengajaknya ikut rapat desain kemasan, ia sempat berpikir untuk menolak dan pura-pura sibuk. Namun, Odi yang terlalu antusias justru mendaftarkan nama Patra sebagai konsultan copywriting tambahan tanpa meminta izin lebih dulu.“Kalau nanti mereka butuh jasa agensi kita, lumayan,” ujar Odi pagi itu sambil menyodorkan kopi. Patra hanya mendesah panjang sebelum menerima gelas kertas tersebut. Semakin hari, ia merasa Odi memiliki bakat alami untuk menyeret orang lain ke situasi yang tidak mereka inginkan.Gedung Intimate Beauty terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. Banyak karyawan berlalu-lalang dengan tote bag berisi sampel produk baru. Di beberapa sudut bahkan terlihat meja-meja display yang dipenuhi sabun batang, body wash, dan rangkaian sampo yang belum resmi diluncurkan.Nero berjalan beberapa langkah di depan Patra. Sesekali laki-laki itu menyapa orang-orang ya

  • Hestia   Chapter 102 - Acts of Affection

    Masih berada di kamar mandi lantai dua Salon Hestia, Talia mulai menceritakan ada salah satu karyawan laki-laki yang hobi cross-dressing yang suka meminta tolong padanya untuk mengepang rambut. Rambut laki-laki itu bahkan lebih panjang dibandingkan milik Talia, menjuntai hampir menyentuh bagian belakang lututnya. Patra yang masih duduk di dalam bathub mengangkat alis sambil membilas busa di lengannya.“Dia divisi operasional juga?” tanya Patra penasaran. Air hangat yang mulai mendingin membuat tubuhnya sedikit menggigil. Namun, perhatian laki-laki itu sudah teralihkan sepenuhnya ke cerita Talia.Talia menggeleng pelan. Ia sedang membilas sisa sampo dari rambut Patra yang mengambang di permukaan air. “Marketing sama partnership. Duduknya deket sama tim yang sering rapat sama aku.”“Terus kenapa tiba-tiba cerita dia?”“Soalnya Stella bikin hidup dia susah.”Patra langsung diam. Nama itu lagi.Talia menghela napas panjang sambil memeras handuk kecil. “Setiap rapat partnership, Stella sel

  • Hestia   Chapter 101 - Hands That Forget

    Talia menggelar tikar lipat di lantai salon setelah seluruh lampu depan dimatikan. Hanya tersisa cahaya kuning hangat dari ruang staf yang memantul di kaca-kaca besar dan cermin yang berjajar sepanjang dinding. Di atas tikar itu, ia memasang dua kasur angin yang ukurannya nyaris membuat mereka harus tidur saling bersentuhan.Perempuan itu berdiri cukup lama sambil memandangi hasil kerjanya sendiri. Jarak antara dua bantal terasa terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Jarak itu juga terlalu jauh untuk disebut pasangan yang sedang belajar hidup bersama.“Tal!”Suara Patra menggema dari kamar mandi. Talia langsung menoleh dan mendapati pintu kamar mandi terbuka sedikit. Ujung rambut Patra yang basah bahkan sempat muncul dari balik celah pintu.“Apa?”“Tolong keramasin aku.”Talia berkedip beberapa kali. Permintaan itu terdengar begitu biasa dari mulut Patra akhir-akhir ini. Namun, setiap kali mendengarnya, tetap ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa gugup.“Aku masuk, ya?”“Masuk aj

  • Hestia   Chapter 100 - Love Heals, Love Doesn't Steal

    Patra sudah duduk hampir dua puluh menit di kafe dekat kantor Talia ketika barista memanggil nomor pesanannya. Hari itu mereka berencana mampir ke salon cabang tempat Jose dan Ifa bekerja karena Talia ingin mengecek rekap pekerjaan dua karyawannya. Setidaknya sebelum akhir bulan. Patra menunggu tunangannya selesai meeting, sambil membuka laptop dan mencoba merapikan proposal kelas storytelling yang baru saja ia bahas bersama Artemis.Bel pintu kafe berdenting pelan ketika seseorang masuk dan langsung menuju kasir. Patra tidak terlalu memperhatikan sampai suara perempuan itu terdengar memesan kopi dengan nada yang familiar. Patra mendongak dan mendapati Stella berdiri beberapa meter darinya dengan pakaian kantor yang masih rapi.Stella juga melihatnya. “Eh, Kak Patra,” sapanya sambil tersenyum tipis dan membawa kopinya ke meja Patra tanpa benar-benar meminta izin. Patra menutup laptopnya dan membalas senyum sopan. “Lagi nunggu Talia?”“Iya,” jawab Patra singkat. “Katanya bentar lag

  • Hestia   Chapter 99 - Another Attraction

    Patra hampir menolak ajakan Artemis ketika pesan itu masuk menjelang siang. Hari itu jadwalnya cukup padat karena dua editor sedang meminta revisi naskah dan satu klien baru ingin melakukan konsultasi dadakan mengenai konsep buku memoir bisnisnya. Namun, kalimat terakhir yang dikirim Artemis berhasil membuat rasa penasaran Patra menang. "Ada tiga orang yang mungkin bisa bantu bisnis lo berkembang." Karena itulah, dua jam kemudian Patra sudah duduk di sebuah restoran kecil yang menempel pada kompleks studio tempat Artemis biasa bekerja. Tangannya sibuk membolak-balik menu, sementara Artemis duduk di depannya dengan ekspresi puas seperti seseorang yang sedang menyembunyikan kejutan. "Gue benci ekspresi muka lo." Artemis tertawa kecil. "Padahal gue belum ngomong apa-apa." "Itu masalahnya." Artemis baru akan membalas ketika tiga orang lain menghampiri meja mereka. Seorang perempuan berhijab dengan kacamata bulat, seorang perempuan berambut pendek sebahu, dan seorang lagi yang membaw

  • Hestia   Chapter 98 - Don't Go to A Way You Don't Belong

    Patra sudah tahu Talia akan pulang lebih malam dari biasanya. Sejak pagi, tunangannya itu beberapa kali mengeluhkan jadwal monitoring karyawan baru Intimate Beauty yang mendadak padat karena beberapa divisi sedang melakukan evaluasi triwulanan. Karena itu, ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam dan kursi di sebelah meja makan masih kosong, Patra tidak terlalu khawatir.Ia justru sibuk di depan laptop. Dua naskah berbeda memenuhi layar monitor dan tablet kerjanya secara bersamaan. Satu novel remaja karya teman SMA Odi, sedangkan satu lagi buku nonfiksi tentang ketahanan pangan lokal yang sedang disusun untuk program CSR sebuah perusahaan besar.Patra jauh lebih menikmati mengerjakan proyek kedua. Bukan karena topiknya lebih menarik, melainkan karena prosesnya terasa hidup. Banyak wawancara, banyak studi lapangan, dan banyak cerita tentang orang-orang yang berusaha bertahan dengan sumber daya yang terbatas.Ponselnya bergetar di samping keyboard. Sebuah notifikasi Instagram muncul da

  • Hestia   Chapter 97 - Kiss Me and I Might--

    Patra datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan Talia. Ia memilih duduk di bangku panjang dekat pintu masuk restoran sambil sesekali mengecek jam di ponselnya. Di luar gedung, lampu-lampu kota mulai menyala dan memantul di kaca jendela seperti kumpulan bintang yang tersesat ke p

  • Hestia   Chapter 96 - Shirt That I Know is Hers

    Talia baru selesai sarapan ketika ponselnya bergetar untuk kesekian kali. Perempuan itu mendesah panjang sambil berdiri dari kursi makan, lalu menunjuk layar ponselnya ke arah Patra. “Kalau ada yang chat di grup kantor, tolong jawab dulu, ya. Aku mandi lima menit.”Patra mengangguk santai. Ia sudah

  • Hestia   Chapter 95 - Sweeter Date

    Sabtu pagi itu Patra mematikan alarm sebelum bunyinya sempat mengganggu Talia. Ia menoleh ke sisi kasur dan mendapati tunangannya masih tertidur miring membelakanginya. Cahaya matahari yang masuk dari celah gorden membuat ujung rambut Talia terlihat lebih cokelat dari biasanya.Patra tersenyum kec

  • Hestia   Chapter 94 - New Romantics

    Patra mulai menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Talia De Rucci. Perempuan itu selalu terlihat sibuk, bahkan ketika sedang diam.Hari itu pun sama.Talia mengajaknya bekerja dari kafe yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kantor barunya. Bedanya, kali ini Patra datang lebih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status