Home / Urban / Hestia / Chapter 59 - Trust is Forged

Share

Chapter 59 - Trust is Forged

Author: Dyara
last update publish date: 2026-04-29 20:51:00

Senyum Patra sulit luntur ketika pikirannya melayang ke momen terbarunya—momen yang tidak akan ia lupakan, bersama Talia. Perempuan itu yang biasanya cuma memandang datar, atau tersenyum menenangkan setiap ‘membantu’ gairah Patra, ternyata juga bisa terkejut.

Patra sendiri tidak menyangka ia berani berpose sedemikian putus asanya demi perhatian Talia. ‘Pacar sendiri ini!’ Patra mencibir sisi dirinya yang sok malu setiap mengingat keberaniannya di sela kegiatan menonton mereka.

“Kenapa, nih?
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 65 - The Body Keeps Score

    Patra menatap Nero yang berada di dalam lemari bajunya, cukup lama. Sampai si tamu kebingungan dengan sikap Patra. “Tutup aja,” ucap Nero sambil menyingkirkan tangan Patra yang masih memegang daun pintu lemari ragu. “Sana, pacar lo udah nungguin.”Ketika lemarinya tertutup, Patra berbalik keluar kamar. Ia sempat menoleh sebentar ke Nero yang tetap diam di dalam lemari. Sebelum akhirnya kembali ke lorong menuju meja makan dekat dapur. Baru saja Patra berpikir, haruskah ia membuat bibirnya belepotan sarapan agar Talia tidak curiga, suara ketukan pintu terdengar. Tiga kali. Pelan, tetapi cukup membuat bahu Patra refleks menegang. Di belakangnya, Nero masih bersembunyi di dalam lemari pakaian dengan napas yang bahkan tidak terdengar.“Pat?” suara Talia terdengar dari luar. “Aku masuk, ya?”Patra buru-buru mengusap wajahnya sendiri. Telapak tangannya dingin. Ia melirik sekilas ke arah kamar sebelum membuka pintu flat miliknya sedikit lebih lebar.Talia berdiri sambil membawa tote bag kai

  • Hestia   Chapter 64 - Borrowed Warmth

    Begitu pintu flat tertutup, Patra terkesiap karena Nero langsung menyerbu bibirnya. Melahapnya rakus sampai tuan rumah harus menginjak punggung kaki tamunya. “Gue lagi sakit…!” bentak Patra. Lantas buru-buru mengatupkan mulutnya. ‘Shannon udah … pergi, kan?’ Nero terdiam beberapa detik. Napasnya masih berat, wajahnya terlalu dekat sampai Patra bisa mencium aroma kopi basi dan sabun mandi dari tubuh laki-laki itu.“Gue kangen. Maaf kalau gue lancang ngasih tau lo, kayak begini,” ucap Nero singkat. Tangannya turun dari rahang Patra, tapi tidak sepenuhnya menjauh.Patra mengusap bibirnya kasar. “Lo apaan, sih?”Nero menyandarkan punggung ke pintu kamar Patra yang terbuka, lalu tertawa kecil tanpa rasa bersalah. Menghadap Patra yang duduk kembali melanjutkan sarapannya. “Seberapa sering Shannon curhat kayak tadi sama lo?”Patra memicingkan mata. Kepalanya berdenyut lebih sakit dari tadi pagi. Tubuhnya menggigil bukan karena marah, tetapi karena demam yang dari tadi ia paksa abaikan.Flat

  • Hestia   Chapter 63 - Longing for Language

    Tepat dua hari setelah meninggalkan Nero malam itu, sekaligus usai menuntaskan konfrontasinya pada Athen—Patra demam. Padahal ia sudah bangun dari subuh. Lebih tepatnya pukul dua dini hari. Ketika bersusah payah menenggelamkan otaknya ke alam bawah sadar, Patra tetap terbangun di jam empat. Isi kepala Patra seperti diaduk-aduk bak bubur saat kedua kakinya baru menjejak lantai kamar. Walaupun kedua mata Patra terpejam erat, lalu ia buka—terus dilakukan beberapa kali, sisa sakit masih berdenyut di bagian ubun-ubun dan tempurung belakang. Kedua ibu jari Talia beberapa kali tergelincir ketika mengetikkan pesan di grup whatsapp divisinya. ‘Lho? Kok minta izin, Pak?’ balas Jamal salah satu anak PR di bawah bimbingannya. ‘Kan, biasanya bapak yang kasih izin ke kita wkakka’ sambut bubble chat Bertha. Sisa anggota dalam, group chat itu mendoakannya agar segera sembuh sebelum rapat bulanan dan presentasi daftar klien baru.Setelah mengetik ‘terima kasih untuk pengertiannya’ ke group chat, i

  • Hestia   Chapter 62 - Why Do We Need Kids?

    “Apa lo punya rencana bikin anak sama Talia, Kak?” tanya laki-laki yang sudah membiarkan telunjuknya menari—dengan gerakan spiral di atas lengan Patra. Patra yang masih dalam keadaan polos di balik selimut, bersama tubuh laki-laki tadi, mengernyitkan dahi. Permintaannya untuk tidur sebentar setelah pergulatan panas mereka tidak dihiraukan. Ia justru dijatuhi pertanyaan yang sebenarnya … hanya boleh diketahui Talia dan dirinya. “Kenapa lo pingin tau?” Patra balik bertanya. Hatinya merapal doa agar kedua matanya segera berat, dan tertidur di tengah Nero menjawabnya. Gerakan jemari Nero berhenti, Bukannya menuntaskan dahaga penasaran Patra, tangan Nero satunya lagi menelusup dari cikut ke belakang kepala kekasih mantannya. Tidak lupa bibir Nero yang langsung mencuri kesempatan mengendus ceruk leher Patra. “Gue juga nggak tau, Kak, kenapa nanya begituan, hmh…!” erang Nero di sela kesibukannya membubuhkan kecupan kupu-kupu di dagu, jakun, hidung, pipi, lalu kedua kelopak mata Patra. P

  • Hestia   Chapter 61 - Marriage of Convenience

    Keesokan siang sesudah jam dua belas, Patra belum sempat makan siang. Pria itu memang sengaja. Patra sudah memutuskan akan memberi asupan energi ke cacing di perutnya—bukan di kantin mall dekat kantor, maupun kafe. Tempat sandwich toast milik kakak perempuan Odi. Tanpa sepengetahuan teman kantornya, begitu juga saat Nero bertanya—Patra hanya memberitahu ingin bertemu klien di sebuah restoran. Patra perlu waktu dan ruang privat untuk memojokkan Athena yang selalu tiba-tiba muncul di dekatnya. Sesudah memesan toast dan segelas lemon tea, Patra duduk sambil mengetuk-ngetukkan salah satu kakinya ke lantai. Tidak sabar menunggu Athena datang. Sang kasir tadi bilang pemilik tempatnya bekerja masih membasuh diri, “Bos emang langganan bangun siang, mohon ditunggu, ya, Kak!” Selama menunggu, ibu jari Patra bolak-balik membaca pesannya bersama Talia, dan Nero. Pria itu baru menyadari, Nero lebih sering bersikap penasaran dengan aktivitasnya sehari-hari. Berbanding jauh dengan Talia, ketika

  • Hestia   Chapter 60 - Athena, Again

    Patra melempar tatapan judes sebelum akhirnya merangsek masuk ke dalam kamar Nero. “Kan, lo bikin diri sendiri jadi jomblo, udah bener tanggepin aja cewek-cowok yang suka sama lo.” Suara pintu berdebum di belakang Patra. Tidak ada suara langkah mendekat, tetapi tangan yang menelusup dari leher ke bibir Patra. Begitu Patra menoleh, kedua manik matanya langsung tertumbuk ke bibir Nero yang berada tepat di depannya. ‘Kapan terakhir kali gue … ciuman…?’ Jiwa Patra seakan melayang saat Nero memajukan wajah dan bibirnya meraup ranum pucat Patra. Mendengar napas tamunya yang tersengal tanpa melepas tautan mereka—Nero memberanikan diri mengusap puncak kepala dan menggelitik telinga Patra. Keduanya membiarkan pucuk hidung mereka bergesekan sampai organ lain merasakan hal serupa. Saat itu pagutan mereka terlepas. Patra mengais oksigen rakus, sedangkan kedua mata Nero sudah berkabut oleh gairah yang membuncah. Baru saja kedua bibir mereka bertemu lagi, ponsel di saku celana Patra bergetar.

  • Hestia   Chapter 34 - Love Thru Trust

    “Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere

  • Hestia   Chapter 6 - Twenty Minutes of Torture

    Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun

  • Hestia   Chapter 8 - Heart to Heart

    Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah. Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu

  • Hestia   Chapter 7 - Uninvited Guest

    Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status