Home / Urban / Hestia / Chapter 58 - Fear of Being Seen

Share

Chapter 58 - Fear of Being Seen

Author: Dyara
last update publish date: 2026-04-28 12:50:54

Tiga minggu berlalu, sejak Boris kedatangan keluarga besar di rumah vertikal yang ia kelola. Boris sibuk membuka cabang lainnya di wilayah-wilayah dekat spot perkantoran, ditemani Tashi dan Cherry beserta babysitternya.

Patra dan tamu-tamu lain pun memiliki kesempatan untuk menjenguk keluarga mereka di rumah vertikal itu, lebih lama. Kerinduan tidak kenal batas waktu. Sama seperti Patra yang sudah datang ke kamar Talia di rumah baru pacarnya sejak Sabtu pagi.

Kini hari sudah bergulir ke Mingg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 101 - Hands That Forget

    Talia menggelar tikar lipat di lantai salon setelah seluruh lampu depan dimatikan. Hanya tersisa cahaya kuning hangat dari ruang staf yang memantul di kaca-kaca besar dan cermin yang berjajar sepanjang dinding. Di atas tikar itu, ia memasang dua kasur angin yang ukurannya nyaris membuat mereka harus tidur saling bersentuhan.Perempuan itu berdiri cukup lama sambil memandangi hasil kerjanya sendiri. Jarak antara dua bantal terasa terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Jarak itu juga terlalu jauh untuk disebut pasangan yang sedang belajar hidup bersama.“Tal!”Suara Patra menggema dari kamar mandi. Talia langsung menoleh dan mendapati pintu kamar mandi terbuka sedikit. Ujung rambut Patra yang basah bahkan sempat muncul dari balik celah pintu.“Apa?”“Tolong keramasin aku.”Talia berkedip beberapa kali. Permintaan itu terdengar begitu biasa dari mulut Patra akhir-akhir ini. Namun, setiap kali mendengarnya, tetap ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa gugup.“Aku masuk, ya?”“Masuk aj

  • Hestia   Chapter 100 - Love Heals, Love Doesn't Steal

    Patra sudah duduk hampir dua puluh menit di kafe dekat kantor Talia ketika barista memanggil nomor pesanannya. Hari itu mereka berencana mampir ke salon cabang tempat Jose dan Ifa bekerja karena Talia ingin mengecek rekap pekerjaan dua karyawannya. Setidaknya sebelum akhir bulan. Patra menunggu tunangannya selesai meeting, sambil membuka laptop dan mencoba merapikan proposal kelas storytelling yang baru saja ia bahas bersama Artemis.Bel pintu kafe berdenting pelan ketika seseorang masuk dan langsung menuju kasir. Patra tidak terlalu memperhatikan sampai suara perempuan itu terdengar memesan kopi dengan nada yang familiar. Patra mendongak dan mendapati Stella berdiri beberapa meter darinya dengan pakaian kantor yang masih rapi.Stella juga melihatnya. “Eh, Kak Patra,” sapanya sambil tersenyum tipis dan membawa kopinya ke meja Patra tanpa benar-benar meminta izin. Patra menutup laptopnya dan membalas senyum sopan. “Lagi nunggu Talia?”“Iya,” jawab Patra singkat. “Katanya bentar lag

  • Hestia   Chapter 99 - Another Attraction

    Patra hampir menolak ajakan Artemis ketika pesan itu masuk menjelang siang. Hari itu jadwalnya cukup padat karena dua editor sedang meminta revisi naskah dan satu klien baru ingin melakukan konsultasi dadakan mengenai konsep buku memoir bisnisnya. Namun, kalimat terakhir yang dikirim Artemis berhasil membuat rasa penasaran Patra menang. "Ada tiga orang yang mungkin bisa bantu bisnis lo berkembang." Karena itulah, dua jam kemudian Patra sudah duduk di sebuah restoran kecil yang menempel pada kompleks studio tempat Artemis biasa bekerja. Tangannya sibuk membolak-balik menu, sementara Artemis duduk di depannya dengan ekspresi puas seperti seseorang yang sedang menyembunyikan kejutan. "Gue benci ekspresi muka lo." Artemis tertawa kecil. "Padahal gue belum ngomong apa-apa." "Itu masalahnya." Artemis baru akan membalas ketika tiga orang lain menghampiri meja mereka. Seorang perempuan berhijab dengan kacamata bulat, seorang perempuan berambut pendek sebahu, dan seorang lagi yang membaw

  • Hestia   Chapter 98 - Don't Go to A Way You Don't Belong

    Patra sudah tahu Talia akan pulang lebih malam dari biasanya. Sejak pagi, tunangannya itu beberapa kali mengeluhkan jadwal monitoring karyawan baru Intimate Beauty yang mendadak padat karena beberapa divisi sedang melakukan evaluasi triwulanan. Karena itu, ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam dan kursi di sebelah meja makan masih kosong, Patra tidak terlalu khawatir.Ia justru sibuk di depan laptop. Dua naskah berbeda memenuhi layar monitor dan tablet kerjanya secara bersamaan. Satu novel remaja karya teman SMA Odi, sedangkan satu lagi buku nonfiksi tentang ketahanan pangan lokal yang sedang disusun untuk program CSR sebuah perusahaan besar.Patra jauh lebih menikmati mengerjakan proyek kedua. Bukan karena topiknya lebih menarik, melainkan karena prosesnya terasa hidup. Banyak wawancara, banyak studi lapangan, dan banyak cerita tentang orang-orang yang berusaha bertahan dengan sumber daya yang terbatas.Ponselnya bergetar di samping keyboard. Sebuah notifikasi Instagram muncul da

  • Hestia   Chapter 97 - Kiss Me and I Might--

    Patra datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan Talia. Ia memilih duduk di bangku panjang dekat pintu masuk restoran sambil sesekali mengecek jam di ponselnya. Di luar gedung, lampu-lampu kota mulai menyala dan memantul di kaca jendela seperti kumpulan bintang yang tersesat ke permukaan bumi. Ia sebenarnya tidak keberatan menunggu. Sejak keluar dari kantor lama dan mulai mengembangkan agensi bersama Odi secara penuh, waktu terasa bergerak dengan ritme yang berbeda. Namun, menunggu Talia selalu menjadi jenis kesabaran yang paling mudah ia jalani. Pintu restoran terbuka dan suara tawa beberapa orang terdengar dari dalam. Patra mengangkat kepala tepat ketika sekelompok karyawan Intimate Beauty keluar satu per satu. Ia mengenali beberapa wajah yang pernah dilihat saat menghadiri acara kantor Talia. Lalu ia melihat Stella. Perempuan itu berjalan berdampingan dengan Talia sambil terus mengobrol. Sesekali Stella tertawa dan menyentuh lengan Talia saat bercerita sesuat

  • Hestia   Chapter 96 - Shirt That I Know is Hers

    Talia baru selesai sarapan ketika ponselnya bergetar untuk kesekian kali. Perempuan itu mendesah panjang sambil berdiri dari kursi makan, lalu menunjuk layar ponselnya ke arah Patra. “Kalau ada yang chat di grup kantor, tolong jawab dulu, ya. Aku mandi lima menit.”Patra mengangguk santai. Ia sudah cukup sering membantu Talia membalas pesan-pesan teknis yang sifatnya administratif. Terutama kalau pagi-pagi seperti ini dan Talia sedang terburu-buru mengejar jam masuk kantor.Begitu pintu kamar mandi tertutup, ponsel Talia kembali bergetar. Patra mengambilnya dan membuka grup kerja yang tadi muncul di notifikasi. Beberapa staf menanyakan jadwal rapat mingguan dan kebutuhan materi kampanye berikutnya.Dengan cekatan Patra mengetik balasan sesuai arahan yang biasa diberikan Talia. Jarinya bergerak cepat sampai sebuah notifikasi baru muncul di bagian atas layar.Stella.Patra sebenarnya tidak berniat membuka percakapan pribadi siapa pun. Namun isi preview pesannya muncul begitu saja sebelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status