Home / Urban / Hestia / Chapter 71 - Sweet Nothing is Still Something

Share

Chapter 71 - Sweet Nothing is Still Something

Author: Dyara
last update publish date: 2026-05-14 13:19:57

Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.

Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh isi kepalanya sendiri.

Talia masih tidur membelakanginya dengan rambut sedikit berantakan di bantal. Kaos oversized perempuan itu terangkat sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan kulit pucat yang m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 72 - Pure Envious

    Patra jarang pulang malam ke rumah Charissa sejak bertunangan dengan Talia. Biasanya ia hanya mampir sebentar untuk mengambil dokumen kerja, pakaian lama, atau sekadar memastikan ibunya masih mau makan dengan benar setelah sibuk seharian.Namun, malam itu berbeda.Talia ikut bersamanya. Bahkan perempuan itu masih menggenggam ujung lengan jaket Patra ketika mereka berjalan memasuki halaman rumah keluarga Baxter yang terlalu sunyi untuk ukuran akhir pekan.“Aku nervous,” gumam Talia pelan.Patra menoleh sebentar sambil terkekeh kecil. “Harusnya aku yang ngomong begitu.”Lampu ruang makan sudah menyala terang ketika mereka masuk. Aroma sup ayam dan bawang putih langsung menyambut dari arah dapur.Charissa muncul sambil membawa mangkuk besar. Wajah perempuan itu tampak sedikit lelah, tetapi matanya langsung melembut melihat Talia dan Patra datang bersamaan.“Kalian akhirnya dateng juga,” sambut Charissa. “Mama kira jadi makan di luar.”Patra buru-buru mengambil mangkuk dari tangan ibunya.

  • Hestia   Chapter 71 - Sweet Nothing is Still Something

    Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh isi kepalanya sendiri.Talia masih tidur membelakanginya dengan rambut sedikit berantakan di bantal. Kaos oversized perempuan itu terangkat sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan kulit pucat yang membuat Patra reflek menahan napas.Namun, ia tidak menyentuhnya.Bukan karena takut. Bukan juga karena tidak mau. Patra hanya sedang belajar menikmati fakta bahwa dirinya tidak harus melakukan apa pun terhadap tubuh seseorang hanya karena diberi izin.Hal kecil itu terdengar sederhana, tetapi bagi Patra rasanya seperti belajar berjalan ulang.Ia akhirnya bangkit pelan dari kasur. Baru saja kedua kakinya menapak lantai, suara serak Talia terdengar dari belakang. “Kamu mau ke mana?”Patra menoleh

  • Hestia   Chapter 70 - You're Engaged to Human, Not Evil

    Patra terbangun sebelum subuh. Langit di luar jendela kamar Talia masih gelap kebiruan, tetapi tubuhnya sudah terlalu sadar untuk kembali tidur.Ia bisa merasakan hangat kulit Talia yang menempel di lengannya dari balik selimut tipis. Hangat yang tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa-apa.Talia masih tidur menyamping menghadap dirinya. Napas perempuan itu pelan, teratur, dan sesekali mengenai ujung dagu Patra.Patra menelan ludah.Ia tidak berani bergerak terlalu banyak. Bukan karena takut membangunkan Talia, melainkan karena tubuhnya sendiri mulai mengingat terlalu banyak hal.Kulit memang aneh. Tubuh manusia bisa lupa suara, lupa wajah, lupa urutan kejadian, tetapi kulit menyimpan semuanya seperti arsip rahasia.Patra perlahan menurunkan pandangan ke tangan Talia yang tertidur di dekat dadanya. Jemari perempuan itu sedikit melengkung, seolah bahkan dalam tidur pun Talia masih ragu menyentuh orang lain terlalu erat.Malam tadi Talia memberi izin.Kalimat itu terus terngiang

  • Hestia   Chapter 69 - Moving Skins

    Hari pertama pertunangan mereka justru terasa lebih sunyi dibanding hari lamaran. Tidak ada keluarga besar, tidak ada ucapan selamat yang terus berdatangan, dan tidak ada Boris yang sengaja memotret candid mereka diam-diam lalu mengirimkannya ke grup keluarga.Hanya ada Sabtu pagi yang lambat di kamar Talia.Patra datang membawa tote bag berisi pakaian ganti, laptop kerja, charger, dan sikat gigi baru yang tadi dibelinya di minimarket dekat apartemen. Talia sempat tertawa kecil melihat isi tas tunangannya yang terlalu rapi seperti orang mau pindahan dadakan.“Kamu nervous banget, ya?” goda Talia sambil membuka pintu kamar lebih lebar.Patra menggaruk tengkuknya malu. “Aku takut salah.”Talia tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik tas Patra masuk ke kamar sebelum menutup pintu perlahan.Hari itu mereka memang sepakat latihan menghabiskan waktu bersama. Dari Sabtu pagi sampai Minggu pagi. Sesederhana makan bersama, bekerja berdampingan, atau tidur di kasur yang sama tanpa perlu buru-

  • Hestia   Chapter 68 - Engagement Day

    Lamaran Patra dan Talia berlangsung jauh lebih sederhana dibanding bayangan keluarga De Rucci pada umumnya. Tidak ada ballroom hotel, tidak ada dekorasi bunga berlebihan, dan tidak ada tamu yang datang demi menjaga relasi bisnis.Acara itu diadakan di rumah Gerald dan Janette. Tepatnya di halaman belakang yang disulap jadi ruang makan semi-outdoor dengan meja panjang, lampu gantung kecil, dan bunga putih yang dirangkai seadanya oleh Cassandra serta Tashi sejak pagi.Patra datang bersama kedua orang tuanya hampir tiga puluh menit lebih awal. Charissa tampak lebih gugup dibanding anaknya sendiri, sedangkan Charles beberapa kali membenarkan posisi jam tangan dan kerah kemejanya seperti hendak menghadiri wawancara kerja.“Kita bukan mau sidang negara, Pa,” bisik Patra pelan.Charles melirik putranya. “Kamu nggak pernah jadi menantu keluarga besar, sih.”Patra hendak membalas, tetapi suara langkah sepatu hak tinggi menghentikannya. Janette muncul dari arah dapur sambil tersenyum tipis dan

  • Hestia   Chapter 67 - What Makes A Marriage

    Patra tidak langsung menjawab permintaan Nero malam itu. Ia hanya berdiri di ambang pintu flatnya, memandangi laki-laki yang tampak lebih kecil dari biasanya—bukan secara tubuh, melainkan cara Nero menundukkan kepala seperti seseorang yang kehabisan tempat pulang.Akhirnya Patra bergeser memberi jalan.“Cuma semalam,” ucapnya pelan.Nero mengangguk tanpa banyak bicara. Sepasang matanya masih sembap, dan untuk pertama kalinya Patra tidak melihat kesan menantang di sana.Yang ada hanya lelah.Malam itu mereka tidak melakukan apa-apa. Tidak ada ciuman, tidak ada sentuhan yang menuntut balasan.Nero hanya mandi, meminjam kaus lama Patra, lalu tertidur di sofa dengan tubuh meringkuk seperti anak kecil yang takut jatuh dari tempat tidur.Patra memandanginya cukup lama dari ambang kamar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diinginkan. Ia merasa dibutuhkan.Pagi harinya, Nero pergi sebelum Talia datang menjemput Patra. Hanya meninggalkan satu gelas kopi setengah habis dan pesan singkat

  • Hestia   Chapter 34 - Love Thru Trust

    “Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere

  • Hestia   Chapter 6 - Twenty Minutes of Torture

    Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun

  • Hestia   Chapter 8 - Heart to Heart

    Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah. Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu

  • Hestia   Chapter 7 - Uninvited Guest

    Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status