تسجيل الدخولSuasana di meja mereka tidak benar-benar pulih setelah percakapan tadi. Odi kembali menatap layar laptopnya, Nero meminum kopi yang mulai dingin, sementara Patra berkali-kali menghapus lalu mengetik ulang balasan email yang sama. Jari-jarinya bergerak, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di depan monitor. Nero akhirnya menutup tabletnya lebih dulu. Ia memasukkan pulpen ke dalam tas selempangnya, lalu berdiri tanpa banyak suara. "Gue ngerokok bentar," pamitnya singkat sebelum berjalan menuju tangga menuju rooftop. Patra mengikuti sosok Nero dengan pandangan kosong. Ia ingin memanggilnya, tetapi tenggorokannya terasa mengering. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia sadar beberapa kalimat yang keluar dari mulutnya tadi terdengar jauh lebih kejam daripada yang ia maksudkan. Odi mengembuskan napas panjang sambil menutup laptopnya. "Pat," panggilnya pelan. Patra menoleh tanpa tenaga. "Nyusul sana." Patra mengerutkan dahi. "Buat apa?" "Karena jelas dia lagi nahan sakit h
Pagi itu Patra dan Odi kembali memilih bekerja dari kafe kecil di seberang kantor baru Talia. Suasana jauh lebih tenang dibanding biasanya karena sebagian besar pelanggan masih sibuk dengan rapat daring masing-masing. Patra sibuk membalas email klien ghostwriting, sedangkan Odi sedang menyusun materi promosi kelas storytelling pertama agensi mereka. "Kopi dua, ya, Kak!" terdengar suara yang sudah mulai dikenali Patra. Billy berdiri di depan meja kasir sambil mengangkat empat gelas kosong yang digenggam di sela-sela jemarinya. Begitu melihat Patra, matanya langsung berbinar seperti baru bertemu sekutu seperjuangan. Ia buru-buru menghampiri meja mereka sambil menunjuk ke arah gedung Intimate Beauty. "Kak Patra!" Patra mengangkat wajah dari laptopnya. "Halo." Billy menarik kursi kosong tanpa sungkan. "Gue tadi hampir kalah cepet sama Stella!" Odi langsung berhenti mengetik. "Hah?" Billy menggeleng keras sambil memukul pahanya sendiri pelan. "Gue udah hafal polanya sekarang. Begitu
Billy sebenarnya sudah menahan diri selama hampir dua minggu. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa mungkin ia hanya terlalu sensitif terhadap kelakuan Stella. Namun, semakin lama diamati, semakin sulit baginya menganggap semua itu kebetulan. Apalagi setelah ia menyadari Stella selalu punya alasan untuk berada dekat Talia. Bahkan saat pekerjaan mereka tidak berhubungan sekalipun, perempuan itu tetap bisa muncul dengan kopi, camilan, atau pertanyaan yang sebenarnya bisa dikirim lewat pesan singkat. Billy sampai hafal jadwal kemunculan Stella lebih baik dibanding jadwal meetingnya sendiri. Hari itu kantor Intimate Beauty sedang lebih lengang dari biasanya. Sebagian besar tim sedang mengikuti presentasi daring dengan beberapa mitra kampanye baru. Sementara Billy kembali ke area loker untuk mengambil tas yang tertinggal sebelum pulang. Langkahnya terhenti begitu melihat seseorang berdiri di depan loker Talia. Stella. Awalnya Billy mengira perempuan itu hanya sedang mencari barang.
Patra sebenarnya hanya berniat datang sebentar ke kos Odi sore itu. Ia membawa dua kaleng cola dingin dan beberapa catatan revisi untuk kelas storytelling pertama agensi mereka. Namun, begitu melihat Nero duduk di lantai ruang tamu sambil memegang gelas kopi dengan ekspresi kusut, Patra langsung tahu ada sesuatu yang terjadi. "Ada apa?" tanya Patra sambil menaruh tasnya di dekat sofa. Nero mengangkat kepala perlahan. "Gue baru ketemu temen kerjanya Talia." Odi yang sedang membuka laptop langsung menyeringai. "Wah, ini pasti menarik." Patra ikut duduk di karpet. Ia membuka kaleng colanya tanpa banyak komentar. Setelah beberapa minggu terakhir, ia belajar kalau Nero hanya akan bercerita kalau memang sudah siap bercerita. Nero menghela napas panjang. "Namanya Billy." Patra mengernyit. "Billy?" "Iya." "Laki-laki?" Nero mengangguk. Odi mengangkat sebelah alis. "Terus?" Nero menatap langit-langit kamar selama beberapa detik sebelum mulai menjelaskan. Menurut cerita Nero, Billy
Rumah Artemis selalu terasa lebih hidup ketika Archie ada di dalamnya. Siang itu suara kartun anak-anak bercampur bunyi balok lego yang saling bertabrakan memenuhi ruang keluarga. Talia dan Cassandra duduk di karpet menemani Archie menyusun menara warna-warni yang berkali-kali roboh lalu dibangun kembali. Patra mengintip sebentar dari ambang pintu sebelum beranjak ke belakang rumah. Ia menemukan Artemis sedang jongkok di depan gudang kecil yang pintunya terbuka lebar. Debu beterbangan tipis setiap kali laki-laki itu mengangkat kotak atau map tua dari rak-rak besi. "Lo pindahan?" tanya Patra sambil menyandarkan tubuh ke kusen pintu. Artemis mendengus pelan tanpa menoleh. "Kalau pindahan, harusnya gue buang barang. Ini gue malah nyortir sampah emosional." Patra terkekeh dan masuk membantu. Aroma lembap kertas tua langsung memenuhi hidungnya. Di lantai berserakan album foto, map dokumen, serta beberapa kotak karton yang sudah menguning dimakan usia. Artemis sedang membersihkan salah
Chapter 104 — What Do You Call Home? Sabtu pagi itu, Talia dan Patra berangkat lebih awal dibanding biasanya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika mereka sudah duduk berdampingan di atas motor, membawa dua botol minum dan map berisi catatan rumah-rumah kontrakan yang ingin mereka lihat. Sebelum keluar rumah, Patra sempat memotret hampir seluruh sudut hunian vertikal milik Talia. Ia juga membuka folder lama berisi foto-foto apartemen yang sudah lama ia tinggalkan dan menyusun keduanya dalam satu kolase sederhana. “Aku pengin rumah kita nanti ada campuran dua-duanya,” ujar Patra sambil menunjukkan layar ponselnya. “Nggak harus mewah, tapi ada bagian yang ngingetin aku sama kamu.” Talia memperhatikan kolase itu cukup lama. Lalu ia mengangguk pelan sambil menyimpan ponsel Patra ke tas kecilnya agar tidak jatuh selama perjalanan. Daerah pertama yang mereka datangi berada di Petojo Utara. Rumahnya cukup besar, bahkan dari luar saja Patra sudah bisa melihat halaman depan yang mam
Patra jarang pulang malam ke rumah Charissa sejak bertunangan dengan Talia. Biasanya ia hanya mampir sebentar untuk mengambil dokumen kerja, pakaian lama, atau sekadar memastikan ibunya masih mau makan dengan benar setelah sibuk seharian.Namun, malam itu berbeda.Talia ikut bersamanya. Bahkan pere
Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh i
Patra terbangun sebelum subuh. Langit di luar jendela kamar Talia masih gelap kebiruan, tetapi tubuhnya sudah terlalu sadar untuk kembali tidur.Ia bisa merasakan hangat kulit Talia yang menempel di lengannya dari balik selimut tipis. Hangat yang tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa-apa.
Hari pertama pertunangan mereka justru terasa lebih sunyi dibanding hari lamaran. Tidak ada keluarga besar, tidak ada ucapan selamat yang terus berdatangan, dan tidak ada Boris yang sengaja memotret candid mereka diam-diam lalu mengirimkannya ke grup keluarga.Hanya ada Sabtu pagi yang lambat di ka







