Home / Urban / Hestia / Chapter 74 - People Watching

Share

Chapter 74 - People Watching

Author: Dyara
last update publish date: 2026-05-19 22:56:16

Patra membuka pintu unit perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun. Lampu apartemen sudah mati semua, menyisakan cahaya kota dari balik tirai tipis yang memantul samar di lantai.

Tubuhnya terasa berat. Bukan cuma karena lembap hujan yang menempel di jaket dan rambutnya, tetapi karena dadanya seperti dipenuhi sesuatu yang mengeras sejak Apollo mencengkeram kerah bajunya siang tadi.

Talia sudah tidur ketika Patra masuk kamar. Perempuan itu membelakanginya, tubuhnya tenggelam setengah d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 74 - People Watching

    Patra membuka pintu unit perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi apa pun. Lampu apartemen sudah mati semua, menyisakan cahaya kota dari balik tirai tipis yang memantul samar di lantai. Tubuhnya terasa berat. Bukan cuma karena lembap hujan yang menempel di jaket dan rambutnya, tetapi karena dadanya seperti dipenuhi sesuatu yang mengeras sejak Apollo mencengkeram kerah bajunya siang tadi. Talia sudah tidur ketika Patra masuk kamar. Perempuan itu membelakanginya, tubuhnya tenggelam setengah di balik selimut abu-abu muda yang selalu dipakai kalau hujan turun. Patra mengganti pakaian dengan gerakan kecil-kecil. Ia lalu menyelusup masuk ke balik selimut, hati-hati agar kasur tidak terlalu berguncang dan membangunkan Talia. Namun, begitu punggungnya menyentuh kasur, napas Patra langsung terasa pendek. Kepalanya mendadak dipenuhi bayangan tangan Apollo yang dulu menahan pergelangan tangannya terlalu kuat. Suara Apollo siang tadi kembali menggema. Lo sengaja nikahin sepupu sendiri biar

  • Hestia   Chapter 73 - Confrontation

    Patra seharusnya sudah pulang satu jam lalu. Namun revisi naskah klien yang mendadak berubah total membuat dirinya tertahan di kafe kecil dekat kantor sampai malam turun bersama gerimis tipis Jakarta.Laptopnya masih menyala ketika kursi di depannya ditarik seseorang tanpa izin.Patra langsung membeku.Apollo duduk santai sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Jaket hitamnya sedikit basah terkena hujan, sedangkan tatapannya terlihat jauh lebih kacau dibanding terakhir kali mereka bertemu di rumah Charissa.“Kaget?” tanya Apollo sambil tersenyum tipis.Jantung Patra langsung berdetak terlalu cepat. Akan tetapi, ia berusaha menjaga wajahnya tetap datar meskipun jemarinya mulai dingin di atas keyboard laptop.“Lo ngapain ke sini?” tanya Patra pelan.Apollo tertawa kecil. “Nemuin adik gue nggak boleh?”Patra hampir muntah mendengar sebutan itu.Ia buru-buru menutup laptopnya sebelum suara getaran di dadanya semakin terdengar jelas. Kafe mulai sepi karena jam pulang kantor sudah lewat, menyis

  • Hestia   Chapter 72 - Pure Envious

    Patra jarang pulang malam ke rumah Charissa sejak bertunangan dengan Talia. Biasanya ia hanya mampir sebentar untuk mengambil dokumen kerja, pakaian lama, atau sekadar memastikan ibunya masih mau makan dengan benar setelah sibuk seharian.Namun, malam itu berbeda.Talia ikut bersamanya. Bahkan perempuan itu masih menggenggam ujung lengan jaket Patra ketika mereka berjalan memasuki halaman rumah keluarga Baxter yang terlalu sunyi untuk ukuran akhir pekan.“Aku nervous,” gumam Talia pelan.Patra menoleh sebentar sambil terkekeh kecil. “Harusnya aku yang ngomong begitu.”Lampu ruang makan sudah menyala terang ketika mereka masuk. Aroma sup ayam dan bawang putih langsung menyambut dari arah dapur.Charissa muncul sambil membawa mangkuk besar. Wajah perempuan itu tampak sedikit lelah, tetapi matanya langsung melembut melihat Talia dan Patra datang bersamaan.“Kalian akhirnya dateng juga,” sambut Charissa. “Mama kira jadi makan di luar.”Patra buru-buru mengambil mangkuk dari tangan ibunya.

  • Hestia   Chapter 71 - Sweet Nothing is Still Something

    Minggu pagi di kamar Talia berjalan lambat. Tidak ada alarm yang berbunyi terlalu keras, tidak ada suara orang bertengkar dari lantai bawah rumah De Rucci, bahkan matahari yang masuk dari sela gorden terasa malu-malu.Patra terbangun lebih dulu lagi. Bedanya, kali ini ia tidak langsung panik oleh isi kepalanya sendiri.Talia masih tidur membelakanginya dengan rambut sedikit berantakan di bantal. Kaos oversized perempuan itu terangkat sedikit di bagian pinggang, memperlihatkan kulit pucat yang membuat Patra reflek menahan napas.Namun, ia tidak menyentuhnya.Bukan karena takut. Bukan juga karena tidak mau. Patra hanya sedang belajar menikmati fakta bahwa dirinya tidak harus melakukan apa pun terhadap tubuh seseorang hanya karena diberi izin.Hal kecil itu terdengar sederhana, tetapi bagi Patra rasanya seperti belajar berjalan ulang.Ia akhirnya bangkit pelan dari kasur. Baru saja kedua kakinya menapak lantai, suara serak Talia terdengar dari belakang. “Kamu mau ke mana?”Patra menoleh

  • Hestia   Chapter 70 - You're Engaged to Human, Not Evil

    Patra terbangun sebelum subuh. Langit di luar jendela kamar Talia masih gelap kebiruan, tetapi tubuhnya sudah terlalu sadar untuk kembali tidur.Ia bisa merasakan hangat kulit Talia yang menempel di lengannya dari balik selimut tipis. Hangat yang tenang. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa-apa.Talia masih tidur menyamping menghadap dirinya. Napas perempuan itu pelan, teratur, dan sesekali mengenai ujung dagu Patra.Patra menelan ludah.Ia tidak berani bergerak terlalu banyak. Bukan karena takut membangunkan Talia, melainkan karena tubuhnya sendiri mulai mengingat terlalu banyak hal.Kulit memang aneh. Tubuh manusia bisa lupa suara, lupa wajah, lupa urutan kejadian, tetapi kulit menyimpan semuanya seperti arsip rahasia.Patra perlahan menurunkan pandangan ke tangan Talia yang tertidur di dekat dadanya. Jemari perempuan itu sedikit melengkung, seolah bahkan dalam tidur pun Talia masih ragu menyentuh orang lain terlalu erat.Malam tadi Talia memberi izin.Kalimat itu terus terngiang

  • Hestia   Chapter 69 - Moving Skins

    Hari pertama pertunangan mereka justru terasa lebih sunyi dibanding hari lamaran. Tidak ada keluarga besar, tidak ada ucapan selamat yang terus berdatangan, dan tidak ada Boris yang sengaja memotret candid mereka diam-diam lalu mengirimkannya ke grup keluarga.Hanya ada Sabtu pagi yang lambat di kamar Talia.Patra datang membawa tote bag berisi pakaian ganti, laptop kerja, charger, dan sikat gigi baru yang tadi dibelinya di minimarket dekat apartemen. Talia sempat tertawa kecil melihat isi tas tunangannya yang terlalu rapi seperti orang mau pindahan dadakan.“Kamu nervous banget, ya?” goda Talia sambil membuka pintu kamar lebih lebar.Patra menggaruk tengkuknya malu. “Aku takut salah.”Talia tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik tas Patra masuk ke kamar sebelum menutup pintu perlahan.Hari itu mereka memang sepakat latihan menghabiskan waktu bersama. Dari Sabtu pagi sampai Minggu pagi. Sesederhana makan bersama, bekerja berdampingan, atau tidur di kasur yang sama tanpa perlu buru-

  • Hestia   Chapter 34 - Love Thru Trust

    “Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere

  • Hestia   Chapter 6 - Twenty Minutes of Torture

    Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun

  • Hestia   Chapter 8 - Heart to Heart

    Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah. Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu

  • Hestia   Chapter 7 - Uninvited Guest

    Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status