MasukDahulu terasa indah, tak ingin lupakan... Bermesraan selalu jadi satu kenangan manis... Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh... Yang biarkan semua ini permainkanku, berulang-ulang kali.Mencoba bertahan sekuat hati, layaknya karang yang dihempas sang ombak. Jalani hidup dalam buai belaka, serahkan cinta tulus di dalam takdir..."Kenapa lagu seperti itu yang kau putar saat aku di sini?" omel Xavier pada anak buah Evelyn yang menjadi sopirnya hari ini.Xavier berada di dalam mobil yang sedang melaju menuju mansion utama keluarga Sterling. Ia ingin melihat Xander yang sudah beberapa hari ini tidak ditemuinya."Maaf, Bos. Aku akan mematikannya sekarang," jawab anak buah Evelyn yang seketika merasa bersalah."Hei, bodoh. Siapa yang menyuruhmu mematikannya? Aku bertanya padamu, kenapa kau memainkan lagu seperti itu?" tegur Xavier dengan kalimatnya yang pedas."Maksud Bos, alasanku memutar lagu ini?" tanya anak buah Evelyn memastikan. Wajahnya sudah pucat pasi, tak berani menatap spion
Alexander telah mencampurkan obat perangsang dosis tinggi ke dalam seloki anggur yang dihabiskannya sebelum Evelyn tiba di penthouse.Lalu, kenapa Alexander tidak menunjukkan reaksi liar dan tak terkontrol seperti yang Evelyn bayangkan? Jawabannya hanya satu: cinta.Alexander sangat mencintai Evelyn. Kesakitan dan rasa panas yang membakar pembuluh darahnya ia tahan dengan susah payah. Apalagi setelah mendengar penolakan Evelyn sebelumnya, kekecewaan berat sempat menghantam dadanya. Namun, Alexander sudah memperhitungkan segala risiko atas pilihannya.Janjinya untuk tidak menyentuh Evelyn secara paksa—padahal seluruh sel di tubuhnya berteriak menuntut penyatuan—tetap dipegangnya teguh. Walau saat itu tubuhnya sudah berada di ambang batas menahan gairah memuncak yang tak berdaya diluapkannya.Di sampingnya, Evelyn berjuang keras menyelamatkan pria itu. Paham bahwa Alexander terlalu lemah untuk merespons, Evelyn membuang seluruh rasa malunya dan mengambil alih kendali.Woman on top menja
Evelyn terperangah. Tangannya refleks membekap mulutnya sendiri, seakan tak memercayai pendengarannya."A-Alexander... kau!" bisik Evelyn terbata."Kau marah? Atau malah senang, Sayang?" tanya Alexander tenang. "Tapi apa pun tanggapanmu, semua sudah terlambat. Semuanya berjalan sesuai rencanaku. Terima kasih, Evelyn.""Apa kau tidak punya malu melakukan hal sepicik ini padaku, Alexander?! Apa kau memang sudah benar-benar gila?!" bentak Evelyn, napasnya memburu menahan gelombang panas yang mulai membakar pembuluh darahnya. "Ke mana akal sehatmu? Bagaimana bisa kau menjebakku seperti ini? Ahh..."Evelyn menyerah dan merebahkan tubuhnya yang bergetar hebat ke atas ranjang. Di sudut matanya, bulir air mata lolos dan mengalir menembus pelipis.Alexander mendekat, mengusap lelehan air mata itu dengan lembut menggunakan jemarinya."Jangan menangis. Bukan air mata seperti ini yang ingin kulihat malam ini, Sayang," bujuk Alexander penuh k
Sementara itu, kehangatan terpancar di rumah megah keluarga Sterling. Rumah besar yang selama bertahun-tahun sepi tanpa celoteh anak-anak—karena sering ditinggal pergi pemiliknya—malam ini mendadak penuh dengan gelak tawa.Sepasang suami istri berusia senja tengah duduk berdampingan di sofa, memperhatikan kedua cucu mereka, Ethan dan Xander, yang sedang asyik bermain gim konsol sambil tertawa lepas."Apa kau ingat, Sayang? Sudah berapa lama rumah ini tidak dipenuhi suara anak kecil?" tanya Nyonya Victoria pada suaminya dengan mata berkaca-kaca."Terakhir kali waktu Alexander dan Julian masih kecil, sebelum Julian dikirim orang tuanya ke sekolah kedokteran di Inggris," bisik Tuan Richard Sterling lirih, air mata menetes mengaliri pipinya yang berkerut. "Demi Tuhan... aku sangat merindukan masa-masa saat mereka masih kecil, saat mereka tertawa dan menangis bebas di rumah ini."Nyonya Victoria merengkuh lengan suaminya, merapatkan tubuh untuk saling menguatkan. Bayangan masa lalu mendada
"Jadi, apa boleh aku mengambil kesimpulannya sekarang? Apa kau akan menerima semua keputusanku untuk hubungan kita?" tanya Alexander, matanya menatap lurus menembus manik mata Evelyn."Tergantung apa yang kau putuskan, Alexander," jawab Evelyn pelan namun tegas. "Aku tidak bisa menuruti keinginanmu yang kuanggap tidak masuk akal. Dan kalau yang kau inginkan adalah kita kembali bersama seperti dulu... aku rasa itu tidak mungkin.""Kenapa tidak?" pangkas Alexander cepat, suaranya naik satu oktav. "Kau tahu betapa aku berharap kita bisa memperbaiki segalanya. Kita bisa memulai kembali hubungan ini dari awal bersama Xander.""Aku telah mengikat sumpah pada Xavier. Sumpah itu tidak bisa kucabut begitu saja," potong Evelyn, matanya mulai menampakkan kesakitan. "Xavier sudah banyak berkorban untuk hidupku dan juga anakmu. Kalau bukan karena pertolongan Xavier saat aku pendarahan hebat melahirkan Xander dulu, mungkin kau tidak akan pernah melihatku maupun Xander hidup di dunia ini."Evelyn me
"Apa terasa sakit? Jangan lakukan hal bodoh lagi setelah ini," ucap Evelyn tenang usai selesai membersihkan dan membebat ulang luka di tangan Alexander. Evelyn hendak beranjak berdiri, namun tangannya mendadak ditahan dari belakang oleh Alexander. "Jangan mencoba menghindar lagi, Evelyn. Aku bisa gila dan melakukan apa pun yang kumau saat ini," peringat Alexander dengan tatapan dalam, menahan gerakan wanita itu agar tidak lagi mengulur waktu. Evelyn akhirnya kembali duduk. Saat ini mereka berhadapan secara intim, saling menatap iris mata masing-masing yang menyimpan riak emosi membendung. "Apa yang ingin kau dengar begitu penting? Bukankah kau sudah tahu siapa Xander dan hubungan di antara kalian? Lalu apa lagi, Alexander?" tanya Evelyn tenang. "Semuanya. Alasanmu meninggalkanku yang masih kuanggap ganjil, serta kenyataan yang kau tutupi tentang Xander dariku," jawab Alexander te







