Se connecterScarlett Voss bersyukur diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya, meski harus menjalani kehidupan wanita lain. Ia bertekad mengubah takdir tragis pemilik tubuh ini dan hidup dengan tenang. Namun semua rencananya hancur ketika pria yang seharusnya tak pernah mencintai wanita itu justru mulai mengejarnya.
Voir plusIni sudah hari ketiga sejak ia terbangun di atas ranjang sebuah rumah sakit pinggiran kota yang berbau karbol menyengat.
Bagi Scarlett Voss, yang kini menempati raga asing ini, kesempatan kedua untuk kembali menghirup napas adalah keajaiban besar. Ia tidak peduli siapa pemilik tubuh ini sebelumnya, atau seberapa tragis penderitaan wanita bernama Evelyn Ashford, tubuh yang ia tempati ini, hingga jiwanya menyerah pada takdir.
Fokus utamanya saat ini sangat sederhana: ia akan bertahan hidup, merawat raga baru ini, dan tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya lagi.
Perlahan, ia menegakkan punggungnya yang kaku. Tubuh ini masih terasa sangat ringkih dan rahimnya terkadang masih menyisakan rasa nyeri pasca melahirkan beberapa hari lalu. Ia melangkah dengan hati-hati menuju jendela, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel tipis murahan. Tatapannya sedingin es menembus kaca, mengamati pemandangan kota asing yang kini menjadi panggung baru bagi kelanjutan hidupnya. Kota metropolitan yang sibuk ini bukan lagi milik Evelyn si gadis naif yang hanya bisa meratap.
Yang tersisa di kamar ini sekarang hanyalah satu jiwa baru yang tangguh.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan. Mendengar itu, sudut bibirnya yang pucat membentuk seulas senyuman tipis penuh ejekan. Tiga kali ketukan dengan jeda yang sama persis. Sungguh sebuah simetris yang mekanis dan memuakkan.
"Ayah dan Ibu datang. Evelyn, kau di dalam?" Itu adalah suara Vanessa, saudari angkat dari pemilik tubuh ini.
Ia tidak lantas menoleh. Selama tiga hari mengunci diri, dia sudah mempelajari banyak hal dari sisa-sisa ingatan raga ini. Evelyn yang lama selalu menganggap kebiasaan mengetuk pintu tiga kali di depan umum itu sebagai tindakan yang manis dan sopan. Tapi baginya yang terbiasa membaca intensi busuk manusia, ketukan itu justru pertanda dari seorang sosiopat yang terlalu terobsesi dengan pencitraaan diri di depan publik.
Pintu terbuka. Ia membalikkan tubuhnya dengan sangat lambat ketika Edward dan Sophia Ashford melangkah masuk, diikuti oleh Vanessa yang berjalan anggun di belakang mereka. Wajah sepasang orang tua kandung Evelyn itu terlihat begitu rumit—ada campuran antara gengsi yang terluka, rasa malu, dan rasa jengah. Dari jarak sedekat ini, ia tidak melihat ada secuil pun rasa bersalah atau kekhawatiran tulus. Sepasang suami istri terpandang itu seolah-olah sedang mencari cara paling bersih untuk membuang sebuah 'sampah' tanpa mencoreng nama baik keluarga.
Edward Ashford berdehem pelan. "Evelyn."
Wanita di dekat jendela itu tidak menyahut, hanya menatap dengan pandangan datar yang tidak terbaca.
"Kami sudah menyiapkan sebuah rumah yang layak di kota Green Hollow untukmu," lanjut Edward dengan nada suara bariton yang memerintah.
'Langsung pada intinya, huh? Dia bahkan tidak basa-basi menanyakan apakah tubuh putrinya masih sakit?' Ia hampir saja tertawa lepas di dalam hatinya. Sungguh luar biasa dinginnya keluarga kandung ini.
Sophia Ashford maju selangkah, jemarinya menggenggam erat tali tas Hermes kulit buaya miliknya, seolah takut atmosfer kamar rumah sakit yang kumuh ini akan mengotori barang mewahnya. "Udara di sana bagus untuk proses pemulihan fisikmu, Evelyn. Kami janji akan mengirimkan sejumlah uang ke rekening pribadimu setiap bulan, jadi kau tidak perlu khawatir."
Ia masih bergeming, hanya ingin melihat sejauh mana sandiwara memuakkan ini akan terus bergulir.Melihat sasarannya hanya diam, Vanessa segera mengambil alih panggung. Wanita muda itu menundukkan wajahnya, meremas ujung blusnya dengan ekspresi penuh kesedihan palsu. "Kak… tolong jangan salah paham. Ayah dan Ibu melakukan ini karena takut kalau pihak media di ibu kota akan terus mengejarmu dan mencari tahu lebih dalam tentang kejadian malam kelam itu..."Ia menatap lurus ke arah Vanessa, memindai setiap guratan palsu di wajah sang adik angkat. Berdasarkan pecahan ingatan raga ini, Evelyn Ashford memang sedang menjadi pusat perhatian di kalangan elite. Tapi sayangnya, dia terkenal sebagai wanita murahan yang cacat moral—seorang jalang yang melahirkan anak haram tanpa pernah tahu siapa identitas pria yang menidurinya malam itu. Sebuah rencana penjebakan yang disusun dengan sangat rapi dan kejam oleh Vanessa.Ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah Edward, mengabaikan total air mata buaya Vanessa. "Lalu, setelah itu apa?"Edward mengernyitkan dahi, merasa tidak nyaman dengan respons dingin putrinya. Biasanya, Evelyn akan langsung menangis bersimpuh memohon agar tidak dibuang. "Lalu apa maksudmu?""Bukankah kalian sudah merencanakan pengusiran berkedok pemulihan ini sejak dua hari yang lalu?" tanyanya dengan nada suara yang teramat santai.Sophia tampak terkesiap, merasa tersinggung mendengar kelancangan tersebut. "Evelyn… kau berani marah pada kami atas keputusan terbaik ini?"Ia mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. “Marah? Tidak sama sekali—aku hanya tidak peduli dengan apa pun yang ingin kalian lakukan padaku.”Vanessa membelalakkan matanya, sementara Edward dan Sophia menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Mereka seolah-olah sedang melihat sesosok orang asing kejam yang sedang memakai kulit anak mereka."Dengar baik-baik, Tuan dan Nyonya Ashford." Ia melangkah dengan keanggunan alami lalu menyandarkan tubuh ringkihnya ke punggung kursi kayu. Caranya duduk dan melipat kaki memancarkan aura otoritas yang sangat masif dan dominan. "Aku tidak menginginkan rumah yang kalian tawarkan, aku tidak butuh uang receh bulanan kalian, dan aku juga sama sekali tidak sudi menerima belas kasihan busuk dari tempat ini."Suaranya tidak meninggi, namun getaran dingin di setiap untaian katanya sanggup membuat ruangan rawat itu seketika sunyi senyap dan mencekam.Vanessa diam-diam menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan intuisi liciknya membunyikan alarm bahaya. Sifat penakut dan tatapan mata Evelyn yang selalu memohon ampunan telah menguap tanpa bekas. Wanita di hadapannya saat ini benar-benar makhluk yang berbeda.Sementara itu, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Di dalam labirin kepalanya yang rumit, sebuah memori lama berupa barisan nomor rahasia mencuat ke permukaan dengan jelas. Dua belas digit angka acak yang terenkripsi menuju rekening offshore pribadinya yang menampung kekayaan tanpa batas dari kehidupannya yang dulu. Aset raksasa yang tidak akan pernah bisa dilacak oleh siapa pun.Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seulas seringai kemenangan yang tipis namun mematikan. Dengan modal finansial luar biasa besar ini, ia akan membangun kerajaannya sendiri dari nol.Edward Ashford yang merasa otoritasnya diinjak-injak ingin sekali memaki, namun ego bisnisnya segera menahan kalimat itu di tenggorokan. Setelah dipikir menggunakan logika keuntungan, tidak ada ruginya mengabulkan permintaan ini. Sangat menguntungkan bagi reputasi perusahaannya jika mereka memutus semua hubungan darah dengan Evelyn saat ini juga agar aib keluarga terkubur selamanya.Edward tidak tahu, bahwa keputusan hari ini adalah awal dari penyesalan terbesar yang akan menghancurkan hidupnya di masa depan.Ethan menurut tanpa adanya protes atau banyak bicara lagi. Ia segera berdiri dari lantai yang dingin lalu berjalan mendekati posisi Evelyn. Namun baru berjalan dua langkah, mata tajam Evelyn menangkap sesuatu yang mengganjal. Lutut celana olahraga yang dikenakan Ethan tampak sobek sedikit, dan kulit di bawahnya terlihat memerah memar. Mungkin itu adalah efek benturan saat tubuh kecilnya didorong paksa jatuh ke kubangan lumpur oleh Liam tadi. Seketika itu juga, tatapan mata Evelyn langsung berubah menjadi jauh lebih dingin dan menusuk daripada sebelumnya. Dan kali ini, bahkan para guru di belakangnya bisa merasakan bulu kuduk mereka merinding hingga saling berbisik ketakutan, ‘Celaka... Nona Ashford benar-benar marah besar kali ini…’ Sepanjang perjalanan menuju ke ruang kesehatan sekolah, tidak ada satupun orang yang berani membuka suara untuk berbicara. Ethan berjalan dengan tenang tepat di samping Evelyn, sementara jajaran guru mengikuti langkah mereka dari belakang dengan tubuh
Di sisi lain, Ethan sedang duduk sendirian di dalam ruangan toilet yang sempit, beralaskan lantai marmer yang dingin, dalam keadaan pintu luar yang terkunci rapat. Seragam putihnya masih dipenuhi oleh noda lumpur coklat yang mengering. Awalnya, bocah kecil itu sempat mencoba membuka pintu dengan memutar knopnya beberapa kali, tetapi tidak berhasil. Ethan terus mencoba lagi dengan sabar, dan hasilnya tetap saja sama. Hingga pada akhirnya, si kecil itu pun menyerah untuk melakukan usaha yang sia-sia, lalu memilih untuk duduk diam di sudut ruangan. Mungkin, jika situasi menyeramkan seperti ini dialami oleh anak-anak seusianya yang lain, keadaan tersebut akan langsung memicu rasa ketakutan yang besar hingga membuat mereka menangis, panik, atau berteriak histeris meminta pertolongan. Tapi Ethan tidak melakukan semua itu. Ia hanya duduk memeluk kedua lututnya sendiri dalam diam yang pekat. Kondisinya tampak sangat tenang, bertolak belakang dengan isi kepalanya yang saat ini terasa
Evelyn menyandarkan tubuh pada sandaran kursinya sambil membuka kembali laporan yang entah sudah kesekian kalinya tertumpuk di atas meja kerja. Selain itu, masih ada jajaran dokumen penting yang menunggu tanda tangannya, serta beberapa proposal kerjasama investor makro yang harus segera ia periksa. Namun, entah kenapa, deretan huruf dan angka di atas kertas itu terasa sangat sulit masuk ke dalam kepalanya.Evelyn menghela napas pelan. Tatapannya beralih ke jendela kaca besar di belakang meja, menatap cuaca di luar sana yang terlihat sangat cerah. Suasana Arden Hall Institute tampak tenang dan normal seperti biasanya, tetapi dadanya mendadak terasa sedikit sesak dan tidak nyaman."Aneh..." Evelyn menekan pelipisnya yang mulai berdenyut.Sebagai wanita yang kini raga Evelyn-nya diisi oleh jiwa tangguh seorang Scarlett Voss, ia tahu betul bahwa seumur hidupnya, naluri seorang Scarlett Voss tidak pernah salah. Jika ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya, biasanya memang sedang ada
Hening sesaat menyelimuti ruangan kerja bernuansa elegan itu. Kalimat terakhir Alexander tentang bagaimana dirinya memperlakukan Ethan membuat Evelyn sedikit terdiam, karena ia tahu maksudnya. Selama ini, semua orang di lingkungan elite memperlakukan Ethan Starling bagaikan sebuah masalah besar yang harus diperbaiki, seperti harus meredam bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Namun Evelyn tidak pernah berpikir demikian. Baginya, Ethan hanyalah seorang anak yang sulit, dan kebetulan ia—sebagai pemilik jiwa Scarlett Voss yang tangguh—pernah jauh lebih rumit dan sulit daripada sekadar bocah berusia enam tahun. "Kau tahu, Tuan Sterling," Evelyn menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya dengan santai, "dulu aku juga sangat tidak suka berinteraksi dengan yang namanya manusia." Alexander menolehkan kepalanya. Untuk pertama kalinya hari itu, Evelyn membiarkan secuil dari kepribadian aslinya terlihat di permukaan. "Dunia ini sudah terlalu penuh oleh orang-orang yang menyebalkan,"


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.