FAZER LOGINWho was I to resist the temptation of a star hockey captain who wanted my body… and my cooking? For two years, I was Marco Marten’s secret lover. A midnight craving he satisfied behind locked doors. I gave him every piece of my soul in the dark, while he gave me nothing but his silence in the light. While he was still warm from my bed, he was busy planning the wedding of the century with the woman who had already stolen my past. To him, I was just a reasonable convenience. To me, he was my entire world. But I am done being the shadow. "We’re done, Marco. I’m getting married, too." His grip tightened on my wrist, his eyes darkening with a dangerous, suffocating possessiveness. "You? Married? Who allowed it?" He thinks he can keep me as his secret while he stands at the altar with her. He’s wrong.
Ver mais"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.“What’s the meaning of this?” I stared at the official hologram in my hand, one eyebrow raised. My brain, which had just been completely consumed by divorce drama, suddenly glitch-ed.Jonah leaned back in his chair, folded his arms across his chest, and smiled casually. “That’s my last gift. How about it? You like it, right?”“Huh?” I snorted, staring at him as if he’d just grown a second head. “I’m signing our divorce agreement. Why are you offering me a Marriage Registration Certificate as a gift? What a joke—”“That’s for you and Marco Marten.”The words slipped out, cutting off my protests with surgical precision.I don’t know how long passed after that. What was clear was that a long, absolute silence engulfed the entire room. Not a sound could be heard, not even the hum of the air conditioner. I could only stand still, staring straight into Jonah’s gray eyes. He wasn’t being sarcastic. His gaze was incredibly calm and… serious.“For me and Marco?” I repeated softly, my voice al
"Yeah. A skinny, dirty, flea-ridden stray cat. I found it when I was in elementary school. I sneaked it into the house through the window and hid it in the corner under my bed."I could feel the cold tiles of my old bedroom creeping up to the soles of my feet now. That little gray cat... its ribs clearly protruding from its wet skin. Until the end of its life, I never even gave it a name because my little brain was too afraid to bond.“I gave him leftovers from the kitchen, and he ate them greedily. Maybe he couldn’t remember the last time he’d had a full stomach, so he’d swallow anything.”“But then, was it the fifth or sixth day? Just when I was feeling so proud and planning to give him a bath after school…” I swallowed, my throat feeling like it was stuffed with sand. “His body was stiff. His eyes were open, staring blankly from under my bed.”Jonah paused, his shoulders tensing.“Years later, I learn that kittens shouldn’t drink lactose-containing cow’s milk. Their digestive syste
My bedroom door swung open, shattering the silence that had been filled only by the ticking of the clock. Jonah stepped in.“Look what I brought. You’re going to love it!” he exclaimed. He held out a bright red box with a carelessly tied gold ribbon.I leaned back against the pile of pillows, my arms folded across my chest. Seeing Jonah smile so wide that his eyes narrowed, just like a five-year-old who had just won a toy at a fair, sent a strange, amusing sensation to the pit of my stomach. Truly, this man’s good looks sometimes contradicted his demeanor.“What is it?” Jonah pulled up a chair and sat beside my bed. His large hands were now busy pulling at the ends of the gold ribbon, untying the knot, and then opening the lid of the red box. Whatever was in there, Jonah must have brought it with a singular goal: to make me smile. And honestly, this wasn't the first time he'd brought a gift. Last time, he'd given me an antique piece of jewelry that probably paid off half of my par
Have I ever had anyone to care for me when I was sick?The answer is no. In my entire life, I have almost no memory of being cared for. Because since childhood, my survival instincts have always screamed at me not to get sick. I knew my place and value in that house very well. If I got sick, I would only be an extra burden, bothering people, provoking their annoyance, and ultimately, I would have to endure the pain alone in a corner. I grew up with the narrow mindset that everyone in this world faces their pain alone.Eventually, I became friends with Mira in my first year of high school.When the girl contracted dengue fever, her parents, who were already divorced, willingly lowered their egos to take turns caring for her in the hospital.Watching Mira's family's sweet interaction at that time, my stomach felt as if it had been doused with boiling water. Jealousy so intense it made me nauseous. And perhaps because my immune system reacted to that damn stress, for the first time in
How many more layers of deceit could I stack on top of the fragile truth?I stared at the woman sitting beside me, watching the warm living room light catch the edge of her sapphire ring as she gently held my icy hands. There was a pure, unadulterated tenderness in her grip, the kind I was so used
The phone wouldn’t stop ringing. It drilled into my skull, over and over, dragging me out of sleep with a spike of irritation. I groaned, eyes still shut, blindly groping for the source of the noise.My head felt like it had been stuffed with wet cement, heavy and pounding, and my throat, oh God, d
The scent of cinnamon and scorched coffee beans in this cramped warehouse turned cloying, coating the back of my throat like dust. The fluorescent lights above us hummed low, casting sharp shadows on Marco's hardened face."The hospital."The word hung between us. Does he know? Does he know about t
I gritted my teeth so hard my jaw burned. He always had a way of leaving me speechless, didn't he?I stepped forward, trying to push his chest out of my way, but Marco didn't budge. Instead, he closed the distance, pressing our knees together. He lowered his head, staring at me from so close that h


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
avaliações