His Regret: Dear Ex-wife, I Surrender

His Regret: Dear Ex-wife, I Surrender

last updateLast Updated : 2026-08-23
By:  Sunflowergirl_Ongoing
Language: English
goodnovel4goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
250Chapters
1.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kira was slapped with divorce paper after the three years marriage contract was over because his childhood sweetheart was back. She had always loved him since she was a very young maiden after he saved her life, but he doesn't acknowledge her nor does he recognise her from the past. After their marriage, even when she knew that he doesn't love her, she thought his feelings for her will change after she pour out all her love to him. But all her love was like a filthy rag to him—scorned and dismissed. Heartbroken with tears, Kira reluctantly signed the divorce paper and left that same night with a man that came to pick her up in a limited edition Lamborghini. At that moment, she promised herself that she'll pay him back for his wrongdoings and he'll have no choice but to come crawling back for forgiveness. Read to find out how Kira took over as the heiress of her family's multi-billion dollar company and compete with her ex-husband in the business world. Watch as she makes him pay!

View More

Chapter 1

Chapter 1

Seharusnya hari ini Shanum sedang memilih warna lipstik untuk akad.

Seharusnya, setelah ini ada kata ‘sah’ menggema kepalanya. Namun, realita justru menamparnya dengan cara yang paling menyakitkan.

“Kita putus.”

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Elzio. Singkat, tanpa beban, seolah waktu tiga tahun yang mereka habiskan tidak lebih dari sekadar kontrak bulanan.

“M–maksud kamu?” Mata Shanum berkaca-kaca, menahan badai di dadanya.

“Nesya hamil dan aku harus tanggung jawab.”

Dunia Shanum runtuh seketika. Nesya adalah sahabatnya sendiri. Pengkhianatan ganda itu membuat telapak tangan Shanum mengepal hingga kukunya memutih.

Banyak pertanyaan terus bergumul di benaknya. Bagaimana bisa?

“Makanya kamu tuh gak usah sok suci. Buktinya Nesya mau ‘main’ sama aku dan sekarang hamil anakku.”

Ucapan Elzio dari sebulan lalu kembali terngiang, menusuk tanpa ampun.

Gila! Benar-benar gila!

Shanum tidak ingat sejak kapan gelas ketiga itu habis.

Atau keempat.

Yang ia tahu, kepalanya terasa ringan—terlalu ringan untuk perempuan yang sebulan lalu kehilangan tunangan, sahabat, dan masa depan sekaligus.

Saat ia hendak pulang dari bar untuk meluapkan emosi dan tangisnya, nama bosnya terpampang di layar ponselnya.

Ngapain juga sang bos mengganggunya malam ini?

“Ya, Pak? Ada apa?” ujarnya seraya berdeham setelah ponsel menempel pada daun telinga. Namun, matanya masih mengerjap kecil. Menyadarkan dirinya sebelum sadar suaranya tak terdengar. Berpacu dengan musik di belakangnya.

“Belum pulang?” sahut pria itu di seberang telepon.

“Belum, Pak,” jawab Shanum singkat. Lalu, dengan sedikit jeda, ia menambahkan, “Ada apa ya, Pak, hubungi malam-malam begini? Setahu saya, kerjaan saya sudah selesai.”

Beberapa detik hening. Lalu, terdengar helaan napas singkat dari seberang.

Shanum mengernyit samar. Pipi hangatnya ia tepuk pelan, berusaha tetap sadar. Ucapannya barusan … aman, ‘kan? Tidak akan membuat bosnya murka, ‘kan?

“Tolong ambilkan flashdisk hitam di laci meja saya,” ujar sang bos akhirnya. Nadanya tegas, khas dirinya. “Antarkan ke Cafe Delonix. Setengah jam dari sekarang.”

Lalu telepon itu diputuskan sepihak.

Bosnya— agak gila ya?

Menyuruh sesuka hati tanpa peduli ini jam berapa!

Namun mau tak mau, ia menuruti sambil memegang kepalanya yang sudah berat.

Perjalanan ke kantor terasa sangat aneh.

Lampu jalan memanjang seperti garis-garis cair. Lift naik terlalu lambat, atau mungkin kepalanya yang terlalu cepat berputar.

Shanum bersandar di dinding, memejamkan mata sesaat.

Satu bulan lalu dia perempuan waras.

Sekarang? Dia memenuhi perintah bos di tengah malam dengan sisa alkohol di darahnya.

“Keren,” gumamnya lirih sambil terkekeh sendiri. “Hidup aku keren banget.”

Pintu lift terbuka.

Kantor lantai atas sunyi. Terlalu sunyi sampai langkah sepatunya sendiri terdengar memalukan.

Shanum membuka pintu ruang kerja Michael dengan kartu akses, lalu menutupnya pelan—seolah ruangan itu bisa marah kalau dibanting.

“Oke. Fokus. Flashdisk hitam. Laci meja.”

Dia mendekat, membuka laci satu per satu. Isinya rapi. Terlalu rapi untuk pria yang, entah kenapa, selalu membuatnya gugup bahkan sebelum ia mabuk.

“Flashdisk … flashdisk …,” gumamnya, matanya menyipit, kepalanya miring sedikit.

Dan di laci terakhir, “Aha … ketemu! Ini yang kucari!”

Shanum menarik flashdisk hitam itu, lalu menghela napas kecil. Selesai. Harusnya selesai.

Namun saat ia berdiri dan berbalik—

Langkahnya terhenti.

Di belakang kursi kerja Michael, di lantai berlapis karpet gelap itu, ada sesuatu yang … tidak seharusnya ada.

Shanum mengerjap.

“… hah?”

Dia melangkah mendekat, sedikit sempoyongan, lalu menunduk.

Celana dalam.

Abu-abu. Bahan kelihatan mahal. Dan—Shanum menelan ludah—

Besar.

Bukan besar biasa di bagian depannya, tapi ….

Besar yang bikin kepalanya mendadak kosong.

Otaknya haus pelarian, mulai merancang skenario yang tidak masuk akal.

Ia menggeleng kecil, mengenyahkan pikiran liarnya terhadap bosnya.

Buru-buru, Shanum menarik flashdisk lalu diselipkan ke tas kecilnya. Namun, tangannya berhenti saat melihat kain abu-abu itu masih ada di genggamannya.

Wajah Shanum terasa terbakar. Bayangan Michael yang selama ini hanya ia lihat sebagai atasan yang otoriter, kini berubah menjadi sosok predator yang memenuhi fantasinya.

Tiga tahun bersama kekasihnya, Shanum bahkan tidak pernah membayangkan hal seekstrim ini. Namun, pengkhianatan Elzio seolah memutus urat malu dan kewarasannya dalam semalam.

Shanum bergegas keluar dari ruangan CEO. Efek alkohol yang tadi sempat ia coba tekan, kini justru terasa semakin menguasai sarafnya.

Dengan napas yang sedikit memburu, ia berjalan sempoyongan. Sisa-sisa pening di kepalanya membuat jarak yang dekat itu terasa sangat jauh, membuatnya terus menggerutu.

Sampai di sana, Shanum melangkah masuk dengan sisa tenaga yang ada. Matanya yang sayu berpendar, mencari meja nomor 3 yang diucapkan bosnya.

“Nah, itu dia!” tunjuknya saat menemukan sosok bosnya.

Michael sedang meeting dengan kolega saat Shanum mendaratkan tubuhnya di sofa empuk, terlihat cukup kasar.

Ia duduk dengan posisi yang agak doyong. Dengan gerakan yang agak ceroboh, Shanum merogoh tasnya, meletakkan flashdisk di atas meja kayu.

“Ini flashdisk-nya, Pak!”

Michael yang sedang tertawa sambil menikmati minuman dengan koleganya, terhenti sejenak saat melihat kedatangan sang sekretaris yang tampak kurang professional.

Aura dominannya sangat kentara. Saat ia mencium bau alkohol dari mulut Shanum, ia menegur lirih, “Kamu— mabuk?”

“Dikit, Pak! Hanya 3 gelas whisky!” Shanum mengangguk tipis. Dia mengakui mabuk tiga gelas, tapi dia menunjukkan 5 jari.

“Kamu ini! Bisa-bisanya mabuk!”

Desisan lirih yang keluar dari bibir bosnya membuat dia grogi. Apalagi, paha mereka kini saling bersentuhan, membuatnya resah, gelisah dan membuatnya sangat tidak nyaman.

Setelah meeting selesai, Michael membawa Shanum keluar menuju parkiran. Dia agak kesal lantaran sekretarisnya yang tak pernah mabuk, kini justru menenggak alkohol yang cukup banyak.

Rasa penasaran menghantui benak Michael. Apa yang terjadi dengannya?

Sampai di parkiran, kondisi Shanum makin teler. Gadis itu menempel pada Michael, membuatnya risih.

“Pulang aja sana, kayaknya kamu gak baik-baik aja,” ucap Michael setelah melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Shanum.

“Hm.” Shanum mengangguk patuh. Baru juga lima langkah, ia nyaris terjatuh.

Michael berdecak pelan, lalu menghampirinya, “Ceroboh!”

Takut sekretarisnya melakukan tindakan impulsif, ia bawa Shanum menuju ke mobilnya. Begitu ia meletakkannya, Shanum justru menariknya dan tubuh mereka berbenturan.

“Aw! Sakit, Pak!” rintih Shanum sambil memegang dahinya yang baru saja bertubrukan dengan dada bidang sang bos.

Di sisi lain, Michael tidak menanggapi rintihan itu. Ia justru tertegun kaku.

Saat Shanum kehilangan keseimbangan, isi tote bag miliknya tercecer di karpet mobil. Di antara tumpukan barang yang berhamburan itu, samar-samar Michael melihat pemandangan yang mustahil.

Bukannya marah, Michael justru penasaran.

Lalu, Michael dekatkan wajahnya ke telinga Shanum yang masih mematung, berbisik dengan suara rendah, menggetarkan jiwa lawan bicaranya.

“Kamu—sejak kapan senakal ini?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Dizzy Daisy
Dizzy Daisy
Highly recommend ...
2026-06-12 18:17:25
1
0
oyebamijiruth005
oyebamijiruth005
love this!
2026-06-09 19:43:44
2
0
250 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status