Home / Romansa / Holding On To You / 5. Cerita-Cerita

Share

5. Cerita-Cerita

Author: Yellowflies
last update Last Updated: 2021-06-05 05:41:18

Grazian dan Merona sampai di Bogor saat malam. Mereka menginap di salah satu hotel, sebelum kemudian pagi-pagi mereka check out. Tujuan mereka adalah salah satu pemakan di kawasan Bogor, di sinilah mereka sekarang. Di pemakan yang sepi tanpa sempat sarapan.

Merona terlahir kembar hanya saja kembaran Merona meninggal ketika lulus SMP dahulu. Namanya Pelangi, nama yang terukir di batu nisan tepat di sebelah makam kosong atas nama Merona Jingga. “Maaf ya karena aku udah buat kamu meninggal, sekarang rasa memang pantas kalau mama dan papa anggap aku sudah meninggal juga.”

Grazian yang duduk di sisi Merona nampak tidak peduli dengan apa yang Merona lakukan. Lelaki itu sibuk membalas pesan-pesan manis yang dikirimkan oleh para jajaran kekasihnya. Bagi Grazian itu rasanya sangat menyenangkan. Membuat gadis-gadis itu melambung lalu setelah bosan dia putuskan hubungan. Dua atau tiga hari, paling lama sebulan.

“Zian, aku lagi sedih kok kamu malah senyum-senyum gitu?” tanya Merona kesal akan tingkah lelaki itu.

“Apaan sih Roo, ganggu orang aja deh.” Grazian memasukkan ponselnya ke saku celana. Mata hitamnya menatap Merona. “Lagian ngapain sih kamu sedih-sedih begitu? Orang tua kamu juga enggak peduli kamu masih hidup. Buat apa ditangisin, mendingan sekarang kita cari sarapan. Aku lapar.”

“Kamu rese kalau lapar, Zian.”

“Nah, itu tahu.” Grazian menarik tangan Merona meminta gadis itu segera beranjak dari sana. “Kamu enggak butuh mereka. Kamu hanya butuh aku.”

Merona berjalan bersisian dengan Grazian, menatap tautan tangan mereka. “Tapi, aku tetap saja ingin dianggap anak sama orang tua aku sendiri. Dibuang menyakitkan Zian.”

“Ya dan aku tahu rasanya maka dari itu aku enggak akan merengek menangisi mereka yang enggak ingin aku ada.”

Sampai di mobil Grazian mempersilahkan Merona masuk. Tujuan mereka sekarang adalah mencari sarapan lalu kembali ke Jakarta. “Orang tua kita aneh ya? Punya anak dibuang, dianggap mati padahal di luar sana banyak para orang tua yang ingin punya anak.”

“Gak usah bahasa masalah itu Roo, aku jadi lapar banget nanti. Bisa-bisa kamu yang aku makan.”

Merona terkekeh mendengar penuturan Grazian dengan kesalnya. “Ya udah kalau gitu kita cari sarapan.”

Merona dianggap mati oleh keluarganya sendiri karena sudah menjadi penyebab kematian Pelangi. Hari itu mereka baru saja dinyatakan lulus Sekolah Menengah Pertama. Merona ingin ikut dengan teman-temannya untuk merayakan kelulusan mereka dengan turun ke jalan padahal orang tuanya melarang keras tapi, Merona merasa bahwa itu adalah momen yang tidak bisa diulang. Merona lalu memaksa Pelangi ikut serta tanpa tahu bahwa maut sudah menunggu mereka.

Menaiki pick up milik salah satu teman sekolahnya, Merona dan Pelangi ikut berdesakan di belakang. Sorak sorai riang terdengar berubah menjadi jeritan menyakitkan ketika mobil berisi bahan bakar menubruk mereka dari depan hingga berguling ke jurang, lalu terjadi ledakan. Cepat tanpa tahu siapa yang selamat dan terbakar. Merona sendiri terlempar jauh jatuh ke rerumputan. Samar-samar matanya menangkap kobaran api yang melahap pick up hitam yang dinaikinya.

Saat membuka mata tiga hari pasca kecelakaan itu Merona ditampar keras oleh ayahnya. Dituding menjadi penyebab kematian Pelangi. Merona terpukul karena kembarannya menjadi salah satu korban tak selamat, lebih terpukul lagi karena hanya dirinyalah satu-satunya yang selamat dari tabrakan maut itu. Pelangi yang menjadi kebanggan keluarga harus pergi terlalu cepat. Keluarga Merona tak siap akan hal itu.

Setetes air mata jatuh membasahi pipi Merona ketika ingatan itu muncul tepat saat mobil yang dinaikinya melintasi jalan yang menjadi saksi kecelakaan yang merenggut lebih dari dua puluh nyawa itu. Grazian melirik Merona, dia tahu benar setiap kali melewati jalan itu Merona pasti akan teringat kisah pilunya.

“Roo, bubur ayam mau enggak?” tanya Grazian.

“Boleh deh.” Balas Merona mengusap air matanya. Dia sedikit bergeser untuk bisa merangkul lengan Grazian dan menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu. “Sebentar aja, Zian.”

Grazian membiarkan Merona mengambil dirinya sesaat.

****

Grazian benar-benar brengsek tiada tanding, setelah mengantar Merona pulang lelaki itu langsung pergi untuk menemui salah satu pacarnya yang entah keberapa. Teman kencannya banyak tinggal pilih mau yang mana. Hari ini pilihan Grazian jatuh pada salah satu teman sekelas Merona yaitu si anak wakil menteri kesehatan—Erika. Duduk di salah satu kafe yang menyediakan aneka macam camilan dan juga kopi, mereka benar-benar terlihat serasi.

Rupa Grazian yang mendekati sempurna disandingkan dengan Erika yang mempunyai wajah pribumi. Manis nan lembut. Malu-malu setiap kali Grazian memandangnya. Bisa Grazian tebak kalau Erika adalah gadis yang belum pernah pacaran. Gelagatnya benar-benar lucu di mata Grazian. Tidak seperti kebanyakan gadis yang mendekatinya.

“Biar aku tebak kamu pasti belum pernah pacaran kan?” tanya Grazian dengan mata yang tajam memandang Erika.

Sambil menunduk malu gadis itu menggeleng. “Belum pernah. Selama ini aku hanya fokus ke pendidikan.”

“Terus kenapa sekarang ngajak aku pacaran?”

“Em… penasaran aja sama…..”

Byur!

Mata Erika membola kaget tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang Grazian untuk pertama kalinya disiram oleh mantan kekasihnya di muka umum dengan secangkir kopi yang dipesannya sendiri. Kini semua mata tertuju pada meja Grazian dan Erika, juga gadis yang baru semalam Grazian putuskan lewat pesan singkat.

“Brengsek ya kamu! putusin aku gitu aja ternyata kamu udah ada yang baru!”

Grazian terkekeh sambil mengambil tisu dari meja untuk mengelap wajahnya yang basah dan lengket. “Setiap menit juga selalu ada yang baru. Tahu kan peraturannya kalau jadi cewek gue. Eh? Lupa sekarangkan udah jadi mantan.”

See? Betapa brengseknya seorang Grazian.

“Aku salah apa sih? Perasaan selama ini aku kasih banyak hal buat kamu. Aku korbankan hal paling berharga buat kamu tapi, kamu?! kamu dengan kejam putusin aku gitu aja!”

Grazian mengangkat bahunya. “Gue enggak pernah paksa lo buat ngasih apapun ke gue. Lo sendiri yang suka rela, ingat?”

Benar memang bahwa Grazian tidak pernah memaksa lawan kencannya tapi, tetap saja tindakan Grazian di mata para perempuan adalah salah. “Aku harus bilang apa sama mama kalau kita putus?”

“Dih?! Emang itu masalah gue? bukan kali!”

“Tapi, aku udah terlanjur bilang kalau kamu mau menikahi aku!” teriak gadis itu frutasi di depan wajah Grazian.

“Gue enggak ada janjiin apapun ke lo atau ke pacar-pacar gue yang lainnya. kaliannya aja para cewek yang baper!”

Erika yang menyimak dengan baik itu jadi ragu-ragu untuk melanjutkan hubungannya dengan Grazian. Cara lelaki itu memperlakukan seorang perempuan jauh dari ekpektasi Erika. “Grazian kamu kok ngomongnya gitu?” tanya Erika kesal.

“Kenapa? Takut diperlakukan sama? Ya udah kita enggak usah pacaran. Cewek masih banyak. Bukan cuma kalian aja.” Kata Grazian lalu meninggalkan kafe begitu saja sambil bersiul tak peduli dengan tatapan beberapa orang.

Salah satu pengunjung berkomentar. “Orang ganteng bebas mau ngapain aja.”

Garazian tersenyum manis sambil mengedipkan mata pada sekumpulan gadis yang dilewatinya. Super duper brengsek tapi, kejadian hari ini benar-benar membuat Grazian kesal. Jaket kesayangannya harus kotor oleh kopi. Keluar dari kafe Grazian memilih kembali ke apartemennya. Dia butuh Merona untuk meredakan rasa kesal di hatinya.

Memacu motornya dengan cepat membelah jalanan ibu kota. Saat melewati sebuah warung yang biasa digunakan untuk tempat anak-anak motor, Grazian menghentikan motornya di sana. Menatap pada sekumpulan anak-anak muda berseragam sekolah menengah atas. Kehadiran Grazian disapa hangat oleh mereka.

“Bang, balap lagi kuy! Nanti malem anak-anak mau lawan Rondhe.” Tutur salah satu dari mereka.

“Terus kalian siapa yang turun?”

Lelaki kurus yang tadi mengajak Grazian bicara menunjuk seseorang di dalam warung yang tengah makan bakwan. “Si Genta, bang.”

Grazian tertawa. Lantang suaranya memanggil Genta. “Udah sembuh lo?!”

Genta keluar dengan cengiran khasnya. “Cuma ditusuk bang, bukan digorok.” Genta lalu memperhatikan penampilan Grazian. “Kenapa tuh baju? Kotor banget lo kayak habis nyemplung di got.”

“Tai lo! Malem gue pantau, kalau lo menang gue ajak ke sirkuit bulan depan.”

“Ada bayarannya enggak?” tanya Genta.”

“Ada lima puluh juta.”

“Yes! Gue pastiin malam ini menang.”

Grazian kembali menarik gas motornya dan melesat meninggalkan sekumpulan remaja yang pernah dia selamatkan saat mereka tawuran dua tahun yang lalu. Mereka melihat sendiri betapa hebatnya Grazian mengalahkan musuh-musuh mereka. Sejak saat itu mereka langsung saja menjadikan Grazian panutan. Kalau kata Merona ya wajar saja sebab mereka sesama kaum brengsek menjadikan Grazian sebagai panutan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Holding On To You   45. Pesan yang menghilang

    Malam menjelang subuh ketika Grazian tiba di ruang kerja pribadinya. Arbitrase saham The King berkedip di layar—jutaan dolar berpindah dalam detik—tapi pikirannya bukan pada uang, bukan pada kekuasaan.Merona dan Sagara.Nama yang seharusnya ia jauhkan dari hidupnya. Nama yang justru paling ingin ia lindungi.Jhon, tangan kanan yang paling dipercayainya, berdiri di sisi ruangan. Ia melihat ekspresi bosnya dan tahu — badai yang lebih besar akan datang.“Semua sudah diatur seperti perintahmu,” ujar Jhon pelan. “Keputusanmu sudah final?”Grazian menyandarkan tubuh di kursi, menarik napas panjang, lalu mengambil ponselnya.“Tidak,” gumamnya lirih. “Tapi aku tidak punya pilihan.”Ia mengetik pesan dengan gerakan jari yang pelan—terlalu pelan untuk ukuran pria yang biasa memerintah dunia kelam:> “Aku tidak bisa menemui kalian beberapa hari ke depan.Tunggu aku. Jangan datang ke kota. Jangan biarkan Sagara keluar setelah sekolah.Ini penting.”Ia menatap teks itu lama, seolah tiap huruf men

  • Holding On To You   44. Konfrontasi

    Hujan turun tajam malam itu, seolah berniat membelah atap gedung kaca The King. Kilat sesekali menyambar, memantul pada wajah Grazian yang berdiri di balkon, memandang Jakarta dari ketinggian seakan sedang mengukur seluruh hidupnya.Ia berpikir tentang kebebasan—dan betapa mustahilnya kata itu selama ia masih bernapas dalam lingkaran keluarga Danuwiratmadja.Suara pintu otomatis terbuka. “Dia sudah datang,” lapor Jhon, tangan kanan Grazian.Grazian tidak bergerak. Hanya asap rokok yang mengepul dari bibirnya. “Sendirian?”“Tidak. Dia datang dengan—”“—tiga orang bodyguard, semuanya bersenjata?” Grazian memotong datar.Jhon mengangguk. “Seolah dia lupa siapa bos sesungguhnya di gedung ini.”Grazian membuang rokok dalam hujan. “Tidak. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa ia masih merasa berhak atas hidupku.”Ia melangkah masuk. Setiap langkah berat, bukan karena takut… tapi karena rasa muak yang selama ini ia tahan.---Ruang rapat The King terasa seperti arena pembantaian yang sunyi. Lamp

  • Holding On To You   43. Darah dan Warisan

    Danuwiratmadja Rudolph terbaring di ranjang hitam berlapis satin.Di balik tubuh renta dan kulit keriput, masih tampak bayangan pria yang dulu menaklukkan benua dengan tangan besi.Aroma obat-obatan bercampur dengan parfum mahal menandai kenyataan pahit: sang raja sedang sekarat.Meski begitu, matanya tidak kehilangan cahaya kekuasaan. Ia tidak mau mati… sebelum memastikan perang terakhirnya selesai.Arman berdiri di sisi tempat tidur. “Dokter bilang kondisinya stabil malam ini, Tuan Muda.”Grazian tidak menjawab. Ia hanya memandang kakeknya, tidak dengan iba — tetapi dengan luka yang tidak pernah sembuh.“Akhirnya kau datang,” suara Rudolph serak, namun tetap mengandung perintah, bukan permohonan.“Aku datang karena ingin selesai,” jawab Grazian datar.“Bagus.” Rudolph tersenyum tipis. “Karena aku juga ingin selesai.”Ia menepuk ranjang, memberi isyarat agar cucunya duduk. Grazian tidak bergerak.“Baik,” Rudolph menghela napas ringan. “Kalau kau mau berdiri, berdirilah. Tapi dengarka

  • Holding On To You   42. Luka Lama, Peringatan Baru

    Pagi berikutnya, Grazian tetap datang ke rumah kecil itu.Bukan karena berani.Bukan karena mengabaikan ancaman kakeknya.Tapi karena ia tahu — jika ia mundur, maka semua ketakutan dan ancaman itu menang.Dan ia sudah terlalu lama hidup kalah.---Saat ia mengetuk pintu, Sagara langsung berlari menyambutnya — tanpa ragu, tanpa curiga, tanpa tahu dunia gelap apa yang sedang bergerak di belakang punggung mereka.“Om Zian! Aku bikin gambar! Iniiii!”Gambar dinosaurus berwarna biru yang mirip dengan gambar yang mereka buat bersama kemarin.Grazian merasakan hatinya meremas… dan sembuh… dalam waktu yang sama.Merona muncul dari dapur dengan wajah canggung — berusaha menyembunyikan betapa ia rindu pria itu datang.“Kamu beneran datang,” katanya pelan.“Aku janji,” jawab Grazian. “Aku nggak mau bikin Saga nunggu.”Tapi ketika ia bicara, tatapannya tidak pernah lepas dari Merona.Dan Merona tahu — itu janji yang ditujukan juga untuknya.Tak ada pelukan.Tak ada sentuhan.Tapi dekat sekali… sa

  • Holding On To You   41. Bara Yang Menantang Api

    Satu minggu sejak kedekatannya dengan Sagara dan Merona semakin tak terhindarkan, hidup Grazian berjalan seolah dua dunia sedang tarik menarik dirinya.beberapa hari yang lalu saat pagi hari ia ada di gedung kaca megah—rapat, laporan profit, transaksi gelap yang dibungkus rapi dalam istilah “investasi offshore” sekarang Grazian sudah sangat dekat dengan mimpi yaitu Merona dan Sagara, tapi untuk malam ini Grazian dipanggil pulang ke kediaman keluarga Danuwiratmadja. Rumah yang terasa seperti museum: megah, penuh simbol kekuasaan, dan dingin.Ia sudah terlatih untuk membekukan hati setiap kali memasuki tempat itu. Namun malam ini, ada firasat buruk yang sulit diabaikan.Saat memasuki ruang utama, kakeknya sudah duduk menunggunya.Danuwiratmadja Rudolph — pria tua dengan kekuasaan seperti bayangan yang tidak pernah pudar. Tatapannya tajam, bukan karena usia melemahkan… tapi karena kekuasaan menguatkan.“Duduk.”Grazian duduk tanpa kata. Tak ada sapaan keluarga — hanya perintah dan ketaat

  • Holding On To You   40. Takdir Datang Sendiri.

    Sejak percakapan malam itu, tidak ada kata cinta, tidak ada pengakuan eksplisit, tidak ada keputusan apa pun.Tapi sesuatu berubah.Tanpa disadari — tanpa disepakati — mereka mulai hidup dengan kesadaran satu sama lain.Merona tahu Grazian akan datang.Grazian tahu Merona tidak benar-benar ingin dia menjauh.Dan Sagara… seolah menjadi poros yang menyatukan tanpa ia mengerti apa pun.---Satu malam setelah Merona selesai shift sore di rumah sakit, Sagara demam ringan. Tidak parah, hanya tubuh lelah karena kelelahan bermain di sekolah.Namun yang membuat Merona panik bukan demam itu — melainkan satu kalimat:“Om Zyan bilang kalau aku sakit, Om bakal datang.”Merona menghela napas panjang. “Saga, Om Zyan tidak harus datang setiap kamu sakit.”“Tapi aku ingin dia datang.” Mata Sagara memerah, suara seraknya mengandung kekhawatiran yang hanya dimiliki anak kecil. “Kalau dia datang, aku cepat sembuh.”Dan kalimat itu — sederhana namun tajam — menggoyahkan Merona.Bagaimana mungkin ia memisa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status