LOGINSelama lima tahun pernikahan mereka, Isla Grace hanya dianggap sebagai istri saat mereka berada di ranjang. Di luar itu, Leonard Ashford tetap dingin dan menjaga jarak. Hatinya masih terbelenggu kenangan tentang mantan kekasihnya yang telah meninggal. Namun, ketika Isla mengalami kecelakaan dan tak seorang pun peduli padanya, Isla akhirnya sadar bahwa semua pengorbanannya selama ini sia-sia. Isla memutuskan untuk mencari kebahagiaannya sendiri dan mengejar impiannya menjadi penyanyi. Namun, saat meminta cerai, Leonard menolak melepaskannya. Semakin Isla berusaha menjauh, semakin Leonard kehilangan kendali dan terobsesi untuk mendapatkannya kembali.
View More“Dasar pria brengsek! Bukannya mengurus istrinya yang baru mengalami kecelakaan, dia malah bersenang-senang dengan wanita lain!”
Aku hanya tersenyum getir mendengar luapan amarah sahabatku. Namun, memang begitulah kenyataannya. Alih-alih menjagaku di rumah sakit, dia bahkan tidak mau mengangkat teleponku. Namaku Isla Grace. Saat berusia delapan belas tahun, ayahku menikahkanku dengan Leonard Ashford karena dia tidak mampu melunasi utang-utangnya. Saat itu, Leonard tidak menolak pernikahan kami, tetapi dia juga tidak mengizinkanku mengungkapkan status kami sebagai suami istri. Hanya Aria dan keluargaku yang tahu bahwa aku adalah istri Leonard Ashford. Selama lima tahun, aku berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Namun, tak pernah sekalipun aku mendapat pengakuan. Leonard hanya mau menatap mataku dan berbicara denganku saat kami berada di ranjang yang sama. Begitu hasratnya terpuaskan, aku kembali diperlakukan seperti orang asing. “Sialan, aku benar-benar kesal! Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan mau diperlakukan seperti ini. Semakin kamu sabar, semakin mereka menganggapmu bisa diperlakukan sesuka hati!” gerutu Aria dengan wajah kesal. “Apa lagi yang bisa kulakukan? Ayahku masih bergantung pada bantuan keluarga Ashford untuk menjalankan bisnisnya. Lagi pula, Leonard dan Serra hanya berteman. Leonard sudah menghabiskan seluruh cintanya untuk mantan kekasihnya yang meninggal itu,” jawabku pelan. “Hubungan Serra dengan Leonard itu tidak penting. Tapi, setelah semua pengorbananmu, apa yang kamu dapatkan? Orang tuamu tahu kamu dirawat di rumah sakit, tetapi mereka malah memilih merayakan ulang tahun adikmu di luar negeri tanpamu. Sadarlah, Isla! Mereka hanya memanfaatkanmu!” bentak Aria penuh emosi. Air mataku seketika menggenang, lalu jatuh membasahi pipi. Melihatnya, ekspresi Aria pun berubah sedih. “Maaf, Isla. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Tapi, aku tidak ingin kamu terus hidup menderita. Kamu pantas bahagia. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini!” katanya dengan suara lebih lembut. “Aku menangis karena baru menyadari betapa bodohnya diriku selama lima tahun terakhir. Aku membuang-buang waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Bahkan, aku sampai lupa siapa diriku sebenarnya,” jawabku, akhirnya mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam. “Baguslah kalau kamu mulai menyadarinya. Ayo, bangkit! Jadilah Isla yang kukenal dulu. Isla yang selalu ceria, percaya diri, dan bersinar!” ujar Aria dengan senyum lebar. Mungkin karena terlalu terbiasa mengalah demi orang lain, aku sampai tidak tahu lagi apa tujuan hidupku. “Kalau kamu berada di posisiku, apa yang akan kamu lakukan? Aku cuma lulusan SMA,” tanyaku putus asa. Memikirkannya membuatku kembali sedih. Dahulu, aku adalah murid berprestasi dengan nilai yang selalu bagus. Namun, orang tuaku justru menikahkanku, hingga hidupku berakhir seperti sekarang—tanpa kepercayaan diri. Aria langsung memegang kedua bahuku, menatapku dengan penuh kasih sayang. “Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan. Kamu punya suara yang indah dan wajah yang cantik. Takdirmu bukan menjadi karyawan biasa, melainkan penyanyi terkenal!” “Benarkah aku bisa melakukannya? Apa tidak terlambat bagiku untuk mengejar impian?” tanyaku ragu. “Usiamu baru dua puluh tiga tahun. Jalan kita masih panjang. Apa kamu lupa kalau aku bekerja di perusahaan hiburan? Aku kenal baik dengan bosku. Dia adik dari teman dekat ayahku. Aku bisa meminta bantuannya, dan aku akan menjadi manajermu. Percayalah padaku, Isla!” ujar Aria sungguh-sungguh. Aku sudah lelah hidup tanpa harga diri. Karena itu, aku langsung mengangguk. “Ya ampun, Isla! Aku senang sekali!” Aria menjerit kegirangan sambil memelukku erat. Untungnya, kecelakaanku tidak terlalu parah. Aku hanya mengalami gegar otak ringan. Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang. “Kalau kondisimu sudah membaik, jangan lupa hubungi aku. Aku akan mengenalkanmu kepada bosku!” kata Aria saat kami tiba di rumah suamiku. “Iya, terima kasih banyak, Aria.” “Kita ini sahabat. Dulu, saat aku sedang kesulitan, kamu selalu ada untuk membantuku. Dan ingat, jangan mau ditindas lagi. Lawan mereka!” seru Aria. Aku mengangguk sambil tersenyum haru. Aku sungguh beruntung memiliki sahabat sebaik Aria. Setelah mobil Aria pergi, aku langsung masuk ke rumah. Keluarga suamiku sedang berkumpul di ruang tamu, termasuk Leonard. “Kamu cuma pergi mengunjungi orang tuamu selama sehari. Ibu kira kamu tidak akan kembali ke rumah ini lagi,” sindir ibu mertuaku. “Sudahlah, jangan memarahi Isla. Sebentar lagi waktunya makan malam. Biarkan Isla memasak dulu,” sela Anna, istri kakak laki-laki Leonard. “Aku tidak bisa memasak. Aku baru saja keluar dari rumah sakit,” jawabku tenang. “Apa? Kamu baru pulang dari rumah sakit?” seru mereka terkejut, kecuali suamiku yang sama sekali tidak bereaksi. “Iya, aku tertabrak mobil tepat setelah turun dari bus. Akhirnya, aku tidak jadi pergi ke rumah orang tuaku,” jawabku jujur. “Bagaimana keadaanmu? Kenapa kamu tidak memberi tahu kami?” tanya ayah mertuaku dengan khawatir. “Aku hanya mengalami gegar otak ringan. Selebihnya, aku baik-baik saja,” jawabku. “Aku hanya punya nomor Leonard. Saat kuhubungi, dia tidak mengangkat teleponku,” tambahku, mencoba menjelaskan. Semua orang terdiam. Di rumah ini, hanya ayah mertuaku yang masih memiliki rasa kemanusiaan—atau setidaknya menganggapku sebagai bagian dari keluarga. “Kalau kamu baik-baik saja, berarti masih bisa memasak, kan? Ibu ingin makan sup iga sapi,” sahut ibu mertuaku. Aku meringis. Sungguh menyedihkan. Namun, aku teringat perkataan Aria bahwa aku harus berani membela diri saat diperlakukan semena-mena. “Aku bukan satu-satunya menantu perempuan di rumah ini. Selama lima tahun, aku yang memasak dan melayani kalian. Mulai sekarang, giliran Anna!” balasku tegas. “Apa? Aku? Aku tidak bisa!” tolak Anna mentah-mentah. “Waktu pertama kali datang ke rumah ini, usiaku baru delapan belas tahun. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi, Ibu mertua mengajariku. Jadi, besok Ibu bisa mengajari Anna!” jawabku sambil menatap Anna tajam. “Di rumah ini ada pelayan. Kenapa harus mempermasalahkan hal seperti ini?” sela Dante. Aku hanya menghela napas, merasa iri kepada Anna yang selalu dibela suaminya. Andai Leonard seperti kakaknya, aku tidak akan terus-menerus ditindas di rumah ini. “Aku ingin istirahat,” kataku, lalu segera beranjak pergi. Sesampainya di kamar, aku langsung mandi. Rasanya tidak nyaman karena sudah dua hari tidak keramas. Setelah selesai mandi dan mengeringkan rambut, aku berbaring di tempat tidur. Baru beberapa menit memejamkan mata, aku merasakan sebuah kecupan di bibirku. Mataku langsung terbuka. Leonard sedang menindih tubuhku. Secara refleks, aku mendorongnya menjauh. “Leonard, aku masih sakit!” Leonard tampak terkejut. Ini pertama kalinya aku berani menolaknya, bahkan meninggikan suara di hadapannya. “Kenapa sikapmu aneh sekali hari ini?” protes Leonard. “Aku baru menyadari sesuatu. Selama lima tahun ini, aku benar-benar bodoh.” “Apa maksudmu?” “Selama lima tahun, setiap kali aku membutuhkanmu, kamu tidak pernah ada untukku. Sudahlah, semua itu tidak penting lagi. Aku ingin tidur.” Aku membalikkan badan, membelakanginya. Leonard tetap diam. Seperti biasa, dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku.Ayah terus meneleponku. Karena kesal, akhirnya aku memilih mematikan ponsel.Ayah hanya mengingatku saat membutuhkan sesuatu. Kenyataan itu terasa menyakitkan untuk kuterima.Saat tiba di rumah, aku terkejut melihat mobil ayah terparkir di sana.Begitu masuk, orang tuaku yang sedang duduk di ruang tamu langsung menghampiriku.“Isla Grace, kami dengar kamu mengalami kecelakaan. Bagaimana keadaanmu?” tanya ibu.“Hanya gegar otak ringan,” jawabku datar.“Tapi sekarang kamu sudah membaik, kan?” sela ibu.“Hmm. Kenapa kalian datang?” tanyaku balik.“Isla Grace, Liam sedang merintis bisnis, tapi kami kekurangan modal. Bagaimana kalau kamu meminta suamimu bekerja sama dengannya?” bisik ayah.Selalu begini. Demi Liam, mereka tidak segan-segan merendahkanku di hadapan keluarga Ashford.“Maaf, Ayah. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini, kita sudah bersikap seperti parasit,” tolakku.“Apa maksudmu menyebut kita parasit? Kamu istrinya! Sudah menjadi kewajiban suamimu untuk membantu keluargamu
Keesokan harinya, saat terbangun, pinggangku terasa seperti akan patah. Tadi malam aku menangis dan memintanya berhenti, tetapi Leonard benar-benar mengerikan saat sedang marah.Aku merasa seperti kelinci yang dilahap habis oleh serigala kelaparan. Namun, ada satu hal yang berbeda. Tadi malam, dia menyebut namaku.Biasanya, dia justru memanggil nama Ariel, mantan kekasihnya.Saat menoleh ke samping, kulihat suamiku sudah tidak ada di tempat tidur. Namun, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Leonard sedang mandi.Kartu hitam yang kutolak tadi malam tergeletak di nakas di samping tempat tidur.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aria meneleponku.“Halo.”[Halo, kenapa dari tadi teleponku tidak kamu angkat?]“Maaf, aku baru bangun. Ponselku dalam mode senyap.”[Baru bangun jam segini?]“Tadi malam aku bertengkar dengan Leonard, lalu dia menyiksaku sepanjang malam.”[Sialan! Ayo kita lakukan visum, lalu laporkan ke rumah sakit!]“Eh, bukan penyiksaan seperti itu maksudku. Tapi penyi
Dominic adalah pria yang menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Dia tahu bagaimana mengimbangi sifatku yang pemalu.Audisi berjalan lancar. Dominic bahkan semakin puas setelah mengetahui bahwa aku bisa menulis lagu sendiri.“Penampilanmu benar-benar mengesankan, Isla. Aku yakin kamu akan menjadi penyanyi terkenal!” puji Dominic setelah audisi selesai.“Terima kasih, Bos.”“Mulai besok, kamu resmi bergabung dengan agensi ini. Aria akan mengurus proses pendaftarannya. Kamu hanya perlu fokus berlatih dan membangun kepercayaan diri. Selebihnya, biarkan Aria yang membimbingmu!”“Baik, Bos Dominic.”“Kalau begitu, kalian boleh pulang sekarang. Aku juga harus pergi ke kantor,” kata Dominic.Sebelum kami pergi, Dominic sempat berbicara dengan Aria.Aku samar-samar mendengar dia mengatakan bahwa aku masih perlu menjalani beberapa perawatan kecantikan. Bagaimanapun, seorang penyanyi harus terlihat sempurna di depan kamera.Karena itulah, setelah meninggalkan rumah Dominic, aku tidak bertan
Biasanya, aku selalu bangun paling pagi. Aku akan menyiapkan pakaian kerja suamiku, lalu memasak sarapan untuk semua orang.Namun, kali ini aku tidak akan melakukannya. Tidak adil rasanya mereka bisa tidur nyenyak dan bangun dengan sarapan yang sudah tersedia, sementara aku harus bersusah payah melakukan semuanya. Belum lagi, mereka sama sekali tidak menghargai pengorbananku.Mereka bahkan selalu mengkritik masakanku. Aku juga tidak berniat membangunkan Leonard. Aku tidak peduli lagi kalau dia terlambat berangkat kerja.Selama ini, aku bahkan tidak pernah menerima uang bulanan karena semua keuangan dipegang oleh ibu mertuaku.Kalau dipikir-pikir, aku memang bodoh. Aku tak lebih dari seorang pembantu sekaligus pelacur gratis. Memikirkannya saja membuatku muak.Tak lama kemudian, Leonard bangun dan bergegas mandi.Setelah selesai, dia membangunkanku dengan cara yang cukup menyebalkan.“Isla Grace, mana seragam kerjaku?”“Memangnya kamu tidak bisa mengambilnya sendiri? Aku masih sakit,”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.