Share

HANA - Bab 2

last update Last Updated: 2021-08-27 01:12:43

Siang ini Hana berencana untuk makan siang bersama Dara. Mereka juga akan membicarakan beberapa masalah tentang tinggal serumah. Ya, memag Hana dan Dara kini sudah tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan kecil sejak sebulan yang lalu.

Hana yang terlalu kesal dengan sikap kakaknya yang Over protektif akhirnya mempunyai ide untuk tinggal hanya berdua dengan Dara di sebuah rumah atau apartemen kecil yang bisa disewakan di dekat kantor mereka. Sedangkan Dara entah karena alasan apa dia sangat menyetujui ide hana Tersebut.

Awalnya Revan dan orang tua Hana sangat melarang keras, tapi karena Hana merengek dan membujuk kedua orang tuanya Akhirya orang tuanya mengijinkannya, lagi pula Hana kan tidak sendiri, dia bersama Dara, pikir orang tuanya kala itu. Sedangkan Revan tidak bisa melarang Hana lagi karena sejak kedatangan lelaki itu, hubungannya dengan Hana menjadi dingin.

Ya, Mike pernah datang kerumah Hana, dan itu mendapat penolakan keras dari kakaknya, Revan. Itu yang membuat Hana kini sangat benci dengan kakaknya tersebut. Hana bahkan ingin meminta bantuan Dara untuk menyelidiki masa lalu Revan yang membuat Revan berubah menjadi lelaki dingin dan super menyebalkan seperti saat ini.

Saat mereka berjalan menuju kantin kantor mereka, tiba-tiba seorang satpam memberhentikan Hana.

“Mbak Rihana, ya?” tanya satpam tersebut.

“Iya, ada apa ya pak?”

“Ada titipan buat mbak.” kata satpam tersebut sambil memeberikan sebuah bingkisan dan juga setangkai mawar merah.

“Dari siapa ini, Pak?”

“Orannya masih di luar, Mbak, di dalam mobil. Itu.” kata satpam tersebut sambil menunjuk sebuah mobil sedan yang kaca penupangnya sudah di buka dan menampilkan sosok tampan di dalamnya.

“Mike, astaga.” kata Hana dengan sedikit tak percaya. Mike memang selalu memberikan kejutan-kejutan kecil untuknya dan itu membuat Hana semakin meleleh, namun mengirim bekal makan siang seperti ini baru di lakukan Mike hari ini.

Mike hanya melambaikan tangan sambil tersenyum, tak lama dia memberikan kode dengan tangannya seperti orang yang sedang ingin menelepon. Dan benar saja, tak berapa lama ponsel Hana berbunyi dengan Call ID ‘My Brown Eyesyang tak lain adalah nomer Mike.

“Hai.” Hana mengangkat teleponnya dengan sedikit gugup.

“Siang Sayang, habiskan makanannya, ya..”

“Kamu tidak perlu melakukan ini Mike.”

“Masih akan ada banyak  kejutan untukmu,  Sayang.” kata Mike dengan tatapan membaranya, walau di dalam mobil, Hana cukup bisa melihat ekspresi wajah Mike. “Aku merindukanmu.”

“Aku juga Mike.” jawab Hana cepat.

“Nanti kujemput sepulang kerja, Oke?”

“Tidak Mike, kamu tahu bukan jika aku berangkat dan pulang dengan Dara. Aku tidak enak dengannya.” tolak Hana yang kini sudah melirik Dara yang masih berdiri di sebelahnya.

“Dara, akan mengerti sayang.”

“Kamu sudah meminta izin padanya terlebih dahulu?” tanya Hana sedikit curiga. Dan itu di jawab Mike dengan tawanya. Sedangkan Dara tersenyum sambil mengangguk di sebelahnya. “Astaga Mike, kamu curang.”

“Aku tidak peduli, kamu membuatku rindu dan tidak bisa menahan diri.”

“Terus saja merayu, Mike.” kata Hana yang kini wajahnya sudah merah seperti tomat.

“Aku tidak merayumu sayang, ini nyata. Baiklah, sepertinya aku harus segera kembali ke kantor. Jam lima kujemput, oke? kutunggu di parkiran.”

“Iya.” Hana tersenyum malu-malu.

“I Love You, Sweety.”

“I Love You  too.”  Dan teleponpun ditutup. dengan perasaan bahagia dan berbunga-bunga Hana kembali menuju kantin dengan bekal makan siang pemberian Mike. Sedangkan Dara mengikutinya sambil menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika temannya berubah menjadi seperti orang gila hanya krena cinta.

***

Sore ini Hana pulang dengan penuh semangat karena dia tahu jika ada seorang pangeran yang sedang menjemputnya.

“Kamu benar-benar tidak apa-apa pulang sendiri, Dara?”

“Tentu saja, aku bukan anak kecil, Hana.”

“Baiklah. Aku berterimakasih sekali padamu Dara, aku tidak tahu jika tidak ada dirimu mungkin saat ini aku masih tidak bisa keluar dari genggaman keluargaku yang Over protektif.”

Dara tersenyum. “Tidak masalah, asal kamu dapat menjaga dirimu baik-baik.” jawab Dara kemudian. “Baiklah, sepertinya kita harus segera keluar, pangeranmu pasti sudah menunggu.”

Hana mengangguk dan keluar dari ruangannya penuh dengan raut bahagia. Saat keluar dari kantor, dia sudah melihat Mike berdiri menunggunya di sebelah mobilnya. Astaga, dia tampan. pikir Hana saat itu.

Mike lalu membukakan pintu mobilnya untuk Hana. Hana masuk disusul dengan Mike di sebelahnya. Sebelum memasang sabuk pengaman, Mike terlebih dahulu mengecup singkat bibir Hana, membuat Hana sedikit terkejut dengan kelakuan Mike.

“I Miss you, Sweety.” kata Mike dengan senyumannya. Sedangkan Hana hanya bisa memerah dan sedikit gugup dengan tingkah Mike. “Ready?” Tanya Mike sesaat sebelum mereka berangkat. Hana hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian Mike mulai mengemudikan mobilnya.

***

Hana benar-benar terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Mike. Malam ini mereka sedang berada di atas atap apartemen Mike dengan meja yang sudah dihias dan juga beberapa makanan diatasnya.

“Apa ini Mike?” tanya Hana masih dengan raut terkejutnya.

“Apa kamu lupa dengan hari ini?”  Hana mencoba untuk mengingat-ingat namun dirinya sama skali tidak mengingat hari apa ini. “Ini peringatan 100 hari pertemuan kita, Hana.”

Dan Hana benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Mike. peringatan 100 hari? Bahkan Hana sendiri saja tidak ingat hari apa mereka bertemu dulu.

“Kamu berlebihan Mike.”

“Tidak, Sayang.” kata Mike sambil tersenyum. “Duduklah sayang, aku memiliki sesuatu yang special untukmu.” kata Mike yang kali ini sudah mempersilahkan Hana duduk.

“Apa itu?”

Lalu tanpa disangka, Mike duduk berlutut di hadapan Hana. “Hana, mungkin ini terlalu cepat, tapi sungguh, aku tidak bisa sedikitpun berpaling darimu.” Kali ini Mike mengambil sesuatu di saku jasnya. “Hana. Will you marry Me?”

Dan Hana terpaku melihat Mike mengeluarkan kotak beludru berwarna biru tua dengan sebuah cincin di dalamnya bersamaan dengan kata-kata lamaran Mike. Benarkah ini nyata? benarkah Mike melakukan ini semua untuknya? Melamarnya?

*** 

“Mike, ini terlalu cepat.” jawab hana lirih.

“Aku tidak peduli Hana, yang kutahu aku mencintaimu, aku bahkan ingin bersamamu saat itu juga ketika kita baru pertama kali bertemu, ini bukan tentang waktu, Hana, ini tentang perasaan.”

Dan tanpa pikir panjang lagi Hana mengangguk menerimanya. Tuhan, Hana benar-benar gila, lelaki ini baru dikenalnya tak lebih dari tiga bulan yang lalu, tapi hari ini sudah melamarnnya dan ia menerimanya? Dia benar-benar gila.

Tanpa banyak kata lagi Mike menyambar bibir Hana yang masih sedikit ternganga dengan lamarannya. Ciuman panas yang intens membuat keduanya saling terbakar oleh sesuatu yang disebut dengan gairah.

Dengan terengah-engah Hana melepaskan ciumannya lalu berkata. “Bagaimana dengan Mas Revan?”

Singkat cerita, satu bulan yang lalu Mike nekat menjemput Hana untuk makan malam bersamanya. Kala itu Mike memperkenalkan diri pada kedua orang tua Hana yang terlihat antusias dengan kedatangannya. Namun tidak dengan kakak Hana, Revan. Revan menatap Mike seolah-olah Mike memiliki tujuan buruk untuk adiknya. Belum lagi reputasi Mike di dunia bisnis yang terkenal dengan pengusaha berdarah dingin. Itu sebabnya Revan tidak pernah mau berkerja sama dengan perusahaan Mike, nyatanya saat itu adiknya malah terjerumus dengan pesona dari seorang Mike Handerson.

Malam itu….

“Darimana kamu mengenalnya, Hana?” tanya Revan ketika Mike sudah pergi.

“Mas Revan tidak perlu tahu.”

“Aku harus tahu Hana, orang seperti Mike itu berbahaya, mana mungkin kamu bisa dengan mudah mendapatkannya.”

“Dia mencintaiku, dan aku mencintainya, Mas, apa itu belum cukup?”

“Banyak orang yang dengan mudah mengatakan cinta, nyatanya mereka tidak tahu apa artinya dan berakhir dengan mengenaskan.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mas Revan, tapi satu hal yang perlu Mas Revan tahu, tidak semua kisah cinta berakhir dengan tragis seperti yang Mas Revan katakan.”

Revan diam membatu. Meresapi kata-kata adiknya tersebut. “Matanya mengingatkanku dengan seseorang, Hana, kumohon, jauhi dia.”

“Tidak Mas. Aku mencintainya, aku akan memperjuangkannya.”

“Hana!” Saat ini Revan sudah diatas puncak Emosinya hingga dia berani membentak adik kesayangannya tersebut.

“Aku pergi.” Lalu Hanapun pergi tidak menghiraukan kata-kata Revan yang terdengar sedikit aneh untuknya.

***

“Aku akan membuatnya untuk menyetujui hubungan kita.” kata Mike sungguh-sungguh.

“Apa Maksudmu, Mike?” Hana sedikit tidak mengerti dengan perkataan Mike.

Mike bukannya menjawab malah kini menggendong tubuh mungil Hana masuk kembali kedalam apartemennya dan membaringkan Hana di atas ranjangnya.

“A- apa yang akan kamu lakukan, Mike?” Hana sedikit takut dengan perubahan sikap Mike.

“Sayang, kita akan membuat kakakmu mengerti jika kita tidak bisa di pisahkan. Kita akan membuat kakakmu mau tidak mau merestui hubungan kita.”

“Dengan cara?”

“Aku akan membuatmu hamil.”

Hana terperanjat dengan ide gila yang diberikan Mike. “Tidak Mike, itu akan menykiti perasaan orang tuaku, mereka tidak pernah mendidikku menjadi wanita seperti itu.”

“Aku akan tanggung jawab Hana, ini hanyalah cara supaya mereka mau menyetujuiku.”

“Apa kau yakin? Apa tidak ada cara lain?”

Mike lalu duduk di pinggiran ranjang dan mengusap lembut pipi Hana. “Hanya itu cara satu-satunya sayang. Kamu percaya padaku, kan?”

Sejenak Hana sedikit ragu, namun keraguan itu sirna sudah ketika Mike mulai mencumbunya sedikit demi sedikit, lalu gairah itupun muncul dari dalam tubuh Hana. Hana juga menginginkannya. Hana tak pernah berfikir bisa berhubungan sejauh ini dengan lelaki, dan itu tidak membuat Hana takut mengingat sang lelaki itu adalah lelaki yang amat sangat dicintainya.

***

Jam dua dini hari Hana terbangun karena perut yang keroncongan. Belum lagi tubuhnya yang seakan remuk karena pergulatan panasya dengan Mike beberapa jam yang lalu. Mike? mengingat nama itu Hana sontak mengalihkan pandangannya ke sebelahnya, tapi kosong. Tak ada Mike disana. Kemana dia? Apa Mike meninggalkannya setelah apa yang tadi mereka lakukan? Mengingat itu Hana mengangis terisak-isak.

“Mike.” lirihnya masih dengan menangis.

Hana sontak menyelimuti tubuh polosnya hanya dengan selimut tebal di kamar Mike, berlari menuju ke kamar mandi sambil memanggil nama Mike, siapa tahu saja Mike masih di dalam rumah ini. Nyatanya tidak ada, Hana mencari dimana-mana dan Mike tidak ada. Namun ketika keluar, pandangannya tertuju pada sosok yang sedang sibuk di dapur. Sosok tinggi tegap yang membelakanginya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama saja. Hana langsung berlari menuju sosok tersebut dan memeluknya dari belakang.

“Mike.” panggil Hana dengan berlinang air mata.

Mike menegang seketika saat Hana tiba-tiba memeluknya. Tanpa sadar Mike sudah menggenggam tangan mungil Hana, tangan yang bisa dengan mudahnya dia remukkan saking mungilnya. Pelukannya seperti pelukan seorang yang rapuh. Suaranya lembut, dan tangisannya membuat Mike meremang.

‘Degggg.’

Perasaan apa ini?

Mike segera menepisnya. Mike lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk Hana. “Ada apa, Sayang?”

“Aku, aku takut kamu meninggalkanku Mike, setelah apa yang sudah kita lalui tadi.”

Mike kembali menegang saat mendengar kata-kata Hana. Tapi Mike mencoba untuk mengendalikan suasana, mengendalikan perasaannya.

“Tentu tidak sayang, aku tidak akan meninggalkanmu.”

Hana mendongak melihat wajah tampan Mike. “Kenapa kmau sudah bangun?”

“Tadi Dara meneleponmu. Aku mengangkatnya dan aku bilang jika kamu akan menginap di sini malam ini.”

“Ya Tuhan, Dara, aku bahkan lupa dengannya.”

Mike lalu tersenyum. “Tenang sayang, aku sudah memberi tahu keadaanmu, dia tidak akan khawatir.”

“Lalu apa yang kamu lakukan sekarang?”

“Aku lapar, aku memasak untuk kita, kamu lapar juga, kan?”

Hana Mengangguk. “Tapi Mike, bukankah masih ada makan malam kita di atap tadi.”

Mike lalu tertawa. “Semuanya hancur, Sayang, tadi hujan. Makanya sekarang aku memasak kembali untukmu.”

“Ahhhh, sayang sekali, padahal  tadi terlihat sangat enak.”

“Bukankah makaanan pembuka kita lebih enak?” Mike mulai menggodanya.

“Mike!” teriak hana sambil memukul lengan Mike. Lalu  keduanya sama-sama tertawa.

***

Saat ini Hana sedang menbantu Mike mencuci peralatan dapur Mike setelah makan bersama. Hana kini sedang mengenakan T-shirt kebesaran milik Mike sedangkan Mike sendiri masih terlihat santai dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana piyama.

“Mike, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?” tanya hana tiba-tiba.

“Ya, apapun itu, Sayang.” jawab Mike tanpa memandag ke arah Hana.

“Mike, apa kamu tidak ingin mengenalkanku kepada orang tuamu?”

Pertanyaan Hana tersebut sontak membuat Mike diam membatu. Hana yang melihatnya merasa sedikit tidak enak dengan pertanyaannya tadi.

“Maaf Mike, aku tidak bermaksud, Uum.... Lupakan saja.” kata Hana kemudian.

“Hana, aku tidak memiliki keluarga di sini.” Hana menatap Mike dengan tatapan tanda tanyanya. “Orang tuaku ada di luar negeri, aku disini tinggal bersama dengan adikku. Dan dia sudah meninggal tiga tahun yang lalu.” kata Mike mulai bercerita.

Hana menutup mulutnya tak percaya. “Astaga Mike, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk-”

“Tidak Hana, cepat atau lambat kamu pasti tau.”

“Kalau boleh tahu, kenapa-”

“Bunuh diri.” Mike memotong pertanyaan Hana. “Thalita, adikku meninggal karena bunuh diri.” Lalu tanpa sadar Mike mulai memeluk Hana. “Kamu tahu Hana, itu membuatku sangat sakit dan tepukul.” Mike mulai menangis dalam pelukan Hana.

Astaga, Hana bahkan ikut menangis dengan Mike, dia tidak menyangka jika Mike memiliki kesedihan sedalam ini.

“Dia meninggalkanku, Hana, dia meninggalkanku  karena patah hati.” Mike terlihat seperti orang yang sedang terguncang jiwanya.

“Tenang Mike, aku di sini bersamamu. Kamu masih memiliki aku.”

Dan ketika Mike mendengar perkataan Hana, Mike seperti disadarkan oleh sesuatu. Dilepaskannya pelukannya pada Hana itu secara tiba-tiba, membuat Hana sedikit terkejut dengan perubahan sikap Mike.

“Aku pergi dulu.” kata Mike yang kini masuk kedalam kamar. Sial! seharusnya dirinya tak terbawa oleh suasana kepada wanita itu. Seharusnya dirinya tidak boleh memperlihatkan sisi lemahnya terhadap wanita itu. Ingat Mike, dia hanya mangsamu. Kau tidak boleh memperlakukannya lebih. pikir Mike dalam hati.

Sedangkan Hana hanya ternganga melihat kepergian Mike, ada apa dengan lelaki itu? Ahh mungkin Mike sedang kacau karena teringat dengan adiknya. Harusnya ia tadi tidak bertanya jauh tentang kehidupan Mike. Pikir Hana kemudian.

***

Mike Berdiri di depan sebuah makam yang bertuliskan Thalita Handerson. Makam adiknya. Ingin menangis tapi air matanya sudah habis tiga tahun yang lalu ketika mendapati adik kesayangannya itu meninggal secara mengenaskan di dalam kamar mandinya.

Lita, baginya adalah gadis ceria, agresif, polos, dan sangat cantik. Adik kesayangannya. Tapi semuanya seakan direnggut begitu saja oleh satu kata yaitu cinta.

Cintanya kepada seorang lelaki membuat matanya seakan-akan buta, membuatnya memilih mati dari pada harus bertahan hidup karena patah hati. Lelaki itu lelaki bajingan, karena dengan mudahnya dia mencampakan adiknya yang sedang berbadan dua, membuat adiknya depresi berkepanjangan hingga membuatnya memilih bunuh diri daripada bertahan tanpa cinta.

Lelaki itu adalah Revan, kakak dari kekasihnya saat ini.

“Sayang, aku sudah melakukan sejauh ini. Kamu tahu, dia sangat memujaku.” Mike mulai berkata-kata di depan makam Lita.

“Aku bersumpah padamu, akan membuat lelaki bajingan itu bertekuk lutut meminta pengampunan dariku.”

“Aku bersumpah padamu jika lelaki itu akan membayar dengan setimpal dan akan merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini.”

“Lita. Beri aku kekuatan supaya aku tetap fokus pada tujuanku.”

Mike mulai duduk berlutut didepan nisan Lita. “Apa kamu tahu, dia, dia mirip sepertimu.” Mike menelan ludahnya dengan susah payah. “Kuharap, kuharap aku tidak ikut terjerumus dalam permainan ini.”

Mike lalu mengecup batu nisan Lita. “Aku menyayangimu, Sayang, bantu aku menyelesaikan semuanya dengan baik.” kata Mike, lalu pergi meninggalkan makam Lita.

-TBC-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hurt Love (Bahasa Indonesia)   DARA - Bab 21

    -Dara-Aku duduk di atas kursi roda dengan lemahnya sambil menatap pemandangan taman rumah sakit yang indah, Mas Revan di sebelahku. Dia masih setia menggenggam tanganku, mengecupnya sesekali, mengirimkan gelenyar aneh yang merayapi sekujur tubuhku. Dia mengajakku berbicara, bercerita, tapi aku masih sama, tak menghiraukannya.Aku hanya takut, takut jika aku kembali menunjukkan rasa cintaku padanya, itu membuatnya mengabaikanku, membuatku tak terlihat di matanya, membuatnya tak merasa kehilangaanku.Setelah beberapa kata yang kuucapkan tadi pagi, aku tak berkata-kata lagi. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan tubuhku sendiri, aku tidak ingin dia meninggalkanku, aku hanya ingin dia merasa kehilanganku.“Dara, bicaralah lagi, kumohon.” pintanya yang kali ini sudah berjongkok di hadapanku.“Apa kamu tahu, aku benar-benar takut kehilanganmu, bicaralah lagi sayang.” katanya lagi. Sungguh, aku tidak dapat melihatnya sedih seperti sekarang ini. Aku lalu memandang wajahnya, mendaratkan

  • Hurt Love (Bahasa Indonesia)   DARA - Bab 20

    Aku mengetuk pintu apartemen Manda dengan sedikit lebih keras. Pintu masih belum di buka, lalu aku kembali mengetuknya lebih keras lagi. Tak lama pintu di buka mendapati sosok Manda yang sedikit terkejut dengan kedatanganku.“Revan, ada apa?” tanyanya kemudian.Tanpa banyak bicara aku menerobos masuk ke dalam apartemennya. berhenti di ruang tamu dan menunggu Manda hingga dia berdiri di hadapanku. “Ada apa Rev?” tanyanya setelah sampai di hadapanku.Aku lantas melempar foto-foto pemberiaan Mike itu ke hadapannya. “Jelaskan itu Manda.” Dan aku melihat wajahnya pucat pasi saat memandangi foto-foto tersebut. Foto editan itu milik Manda, mungkin dia memang sengaja membuatku meninggalkan Lita dengan foto-foto tersebut.“Aku, aku...”“Aku benar-benar tidak menyangka jika kamu akan melakukan hal selicik itu untuk menyingkirkan Lita dari hidupku.”“Aku tidak menyingkirkan dia, kamu yang mencampakannya.”“Aku mencampakannya karenamu!” Teriakku padanya. “Karena ulah sialanmu.” Aku kembali berte

  • Hurt Love (Bahasa Indonesia)   DARA - Bab 19

    -Revan-Penyesalan...Kata itu lagi. Tak cukupkah aku menyesal karena kepergian Lita? kenapa dengan bodohnya aku melakukan hal yang sama terhadap Dara? aku menyia-nyiakannya selama ini hingga saat dia sekarat seperti ini aku baru menyesalinya.Semua ini kesalahanku, aku tahu itu. Lebih dari seminggu yang lalu aku terkejut saat mendapati Manda penuh dengan darah diantara kedua kakinya. Aku melihat wajah kesakitan Manda dan juga wajah pucat dari Dara.Aku membawanya ke rumah sakit. Dokter berkata jika Amanda keguguran. Aku tahu yang lebih shock atas kabar tersebut bukan Manda, tapi Dara. Manda mungkin akan sedang, sedangkan Dara tidak, karena memang sejak awal bukannya dia ingin menggugurkan bayi itu? sedangkan Dara, dia menganggap dirinyalah yang seharusnya bertanggug jawab atas kehilangaan bayi Manda, perasaan bersalah itu tentu saja masih ada hingga kini.Sesungguhnya aku ingin membantu Dara melewati semuanya, mengatakan jika semuanya baik-baik saja, mengatakan jika itu bukan salahn

  • Hurt Love (Bahasa Indonesia)   DARA - Bab 18

    Sebelum ke makam Lita, kami menyempatkan diri untuk membeli karangan bungan untuk Lita. Tapi ketika sampai di depan sebuah toko bunga dekat pemakaman tersebut, aku melihat Mas Revan yang baru saja keluar dari toko bunga tersebut.Sedang apa dia di sini? Apa dia masih mengunjungi Lita hingga kini? dan pertanyaanku itu terjawab ketika aku melihatnya menyusuri jalan setapak menuju ke sebuah makam. Makam Lita. Dia terlihat duduk di sana, aku tidak tahu apa yang di ucapkannya. Tapi yang kulihat dari sini ada raut kesedihan di sana. Masih ada luka di hatinya, aku tahu itu. Tanpa sadar aku menangis lagi.“Dara, kamu tidak apa-apa? kupikir tidak seharusnya kita ke sini.” kata Hana menyadarkanku.“Ada baiknya kita ke sini Hana, setidaknya aku tahu di mana posisiku di hati Mas Revan.” lirihku.“Apa maksudmu?”“Apa kamu tidak melihatnya? Dia terlihat begitu terluka.”“Dara. siapapun akan terlihat terluka saat berada di hadapan makam orang yang di cintainya, setidaknya saat ini Mas Revan bahagia

  • Hurt Love (Bahasa Indonesia)   DARA - Bab 17

    -Dara-Aku meremas tanganku yang basah karena keringat. Takut bercampur aduk menjadi satu dengan rasa khawatir dan juga bersalah. Ya tuhan, semoga Manda dan bayinya bisa selamat, jika terjadi sesuatu dengan mereka, aku tak akan memaafkan diriku sendiri.Aku melihat Mas Revan yang berjalan bolak-balik terlihat khawatir. Ya, tentu saja, dia temannya. Sejak tadi dia sama sekali tidak memperhatikan aku, tidak menanyakan keadaanku. Astaga, bagaimana jika dia marah terhadapku? Tanpa sadar air mataku jatuh begitu saja. Aku merasa sendiri. Aku terisak hingga tak menyadari seseorang sudah duduk di sebelahku.“Hei, kamu kenapa?” tanya Mas Revan yang saat ini sudah duduk di sebelahku sambil meremas bahuku. Aku hanya menggelengkan kepalaku masih dengan air mata yang tak berhenti menetes. Mas Revan lalu memelukku. “Maafkan aku, aku sudah membuatmu takut.” katanya sambil mengusap lembut rambutku.“Aku takut terjadi sesuatu dengannya, Mas.”“Dia akan baik-baik saja.” Mas Revan mencoba menenangkank

  • Hurt Love (Bahasa Indonesia)   DARA - Bab 16

    Kami pulang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku hanya sedikit meliriknya dari ekor mataku jika dia beberapa kali melihat ke arahku seakan-akan ingin mengajakku berbicara, tapi niat itu di urungkannya.Kami akhirnya sampai di rumah, aku masuk ke dalam kamar dan langsung melemparkan diri di atas ranjang, meringkuk di ujung ranjang dan membelakanginya.“Kita belum selesai Dara, jangan tidur dulu.”“Aku lelah.”“Aku tahu bukan itu yang terjadi padamu.” Aku merasakan dia berjalan mendekatiku. Lalu duduk berlutut tepat di hadapnku. “Aku hanya ingin tahu, apa yang terjdi denganmu?”“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu? Apa yang terjadi di antara kalian?”“Dara, Amanda hanya teman untukku, tidaklLebih, dia hanya sahabat Lita, itu saja, dan aku hanya memberi simpati atas keadaannya saat ini.”Ohh ya tentu saja, semua ini pasti ada hubungannya dengan Lita, dia masih mencintai kekasihnya tersebut. “Jika aku melarangmu menemuinya, apa kamu akan melakukannya, Mas?”“Kenapa kamu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status