Accueil / Romansa / I Hate My CEO / Bab 8 Tindakan yang Menyisakan Rasa Bersalah

Share

Bab 8 Tindakan yang Menyisakan Rasa Bersalah

Auteur: Fajar
last update Dernière mise à jour: 2025-09-07 06:25:55

Di perjalanan menuju halte, Lily berjalan terburu-buru sambil menenteng tas kecilnya. Sesampainya di pinggir jalan, ia melihat bus yang biasanya ia naiki sudah berhenti di halte seberang. Lampu lalu lintas sedang merah, dan arus kendaraan tidak terlalu ramai. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menyebrang.

Namun tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan.

“Astaga!” Lily terperanjat, buru-buru menghindar. Tubuhnya oleng dan ia pun terjatuh ke aspal, lututnya tergores hingga berdarah tipis.

Mobil itu berhenti mendadak. Dari dalam turun seorang pria berpenampilan rapi, wajahnya terlihat sedikit panik.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya sambil berjongkok di depan Lily.

Dengan cepat Lily berdiri, menepuk rok pendeknya yang kotor karena aspal.

“Maaf, Anda nggak bisa lihat kalau lampu merah, hah?!” serunya kesal.

Pria itu tersenyum tipis, menggaruk tengkuknya.

“Maaf, Mbak... saya nggak terlalu fokus tadi.”

“Untung saya sempat menghindar. Kalau nggak, sudah habis saya.” Lily mendengus, lalu buru-buru menoleh ke arah busnya.

Tepat saat itu, sopir bus menutup pintu dan mulai melaju.

“Pak, tungguuu!” teriak Lily panik sambil melambaikan tangan. Tapi bus itu terus berjalan menjauh.

“Aduh! Tuh kan, gara-gara Anda saya jadi ketinggalan bus!” Lily menunjuk pria itu dengan wajah jengkel. “Pokoknya tanggung jawab. Antar saya ke tempat kerja sekarang juga!”

Pria itu sempat menatap lutut Lily yang berdarah. Wajahnya berubah serius.

“Santai aja, Mbak. Saya bakal nganterin Mbak sampai ke tempat kerja dengan selamat.”

Lily melipat tangan di dada, mendengus.

“Ya udah, ayo. Nanti keburu saya terlambat.”

Pria itu mengangguk lalu menoleh ke arah mobilnya.

“Sikahkan masuk mbak.” katanya sambil membuka pintu penumpang.

Dengan malas, Lily masuk ke dalam mobil, masih dengan wajah cemberut.

Di dalam mobil, suasana hening hanya diisi suara mesin dan lalu lintas yang ramai. Lily duduk sambil sedikit meringis, tangannya menekan lutut yang lecet. Sesekali ia menghembuskan napas pelan menahan perih.

Saat mobil berhenti di lampu merah, pria di sampingnya sempat melirik. Tatapannya tertuju pada wajah Lily yang menahan sakit, lalu turun ke arah luka di lututnya.

Lily menyadari tatapan itu. Dalam hatinya ia bergumam,

“Napa nih orang natap-natap gue terus?”

Lily langsung menoleh ke arahnya, tatapannya ketus.

“Udah, Anda fokus aja sama jalan. Takutnya nanti malah memakan korban lagi.”

Pria itu sedikit tersentak, buru-buru mengalihkan pandangan ke depan, kedua tangannya kembali menggenggam setir dengan erat.

Beberapa menit berlalu dalam diam. Lalu, tiba-tiba pria itu membuka suara, mencoba mencairkan suasana.

“Mbak kerja di mana?” tanyanya dengan nada hati-hati.

Lily menoleh sekilas, lalu menjawab singkat dengan nada dingin.

“Bukan urusan anda.”

Mendengar itu, pria tersebut langsung terkekeh. Matanya melebar, meski ia cepat-cepat menguasai ekspresinya kembali. Ia terdiam, tidak melanjutkan pertanyaan apapun.

Lily sedikit heran melihat reaksinya, namun ia memilih tidak peduli. Ia bersandar ke kursi mobil, menatap jendela, sementara pikirannya sudah dipenuhi kecemasan akan keterlambatannya di kantor.

Sesampainya di sebuah gang, mobil itu berhenti. Lily segera membuka pintu, melangkah keluar dengan wajah terburu-buru.

“Terima kasih,” katanya singkat tanpa menoleh, lalu berjalan cepat menuju lobi.

Pria itu hanya menatap dari balik kemudi, matanya mengikuti sosok Lily yang semakin menjauh. Ada gurat penasaran di wajahnya sebelum akhirnya ia pergi.

Begitu sampai di main hall, Lily langsung disambut oleh Martha, sekretaris yang sudah menunggu dengan ekspresi cemas.

“Maaf Bu saya terlam.…” Ujar Lily.

Ucapan Lily terpotong ketika tiba-tiba Fajar muncul dari arah lift dengan wajah tegang, sorot matanya seperti menahan amarah.

“Pak Fajar, ini biar saya saja yang urus masalah Lily—” ucap Martha, berusaha menenangkan keadaan.

Namun Fajar mengangkat tangannya, memotong dengan suara tegas.

“Lihat saya!!”

Lily terdiam, perlahan menatap Fajar. Wajahnya pucat, matanya masih menyisakan kelelahan dari kejadian pagi tadi.

Dengan nada marah, Fajar melanjutkan,

“Kalau kamu gak niat kerja, keluar kamu dari sini!”

Lily menghela napas, lalu membalas dengan suara bergetar namun penuh keberanian.

“Maaf, Pak. Ada baiknya Bapak menanyakan dulu apa alasan saya telat.”

Kata-kata itu membuat Fajar terdiam sejenak, keningnya sedikit berkerut.

Lily melanjutkan, suaranya mulai melemah, matanya berkaca-kaca.

“Setiap pekerja di sini punya perasaan, Pak. Mohon maaf kalau saya terlihat tidak profesional.”

"Saya bukan tidak niat, Pak. Tapi saya pikir pemimpin seharusnya mendengar sebelum menghakimi. Hari ini saya terlambat, iya. Tapi saya tidak duduk santai-santai di rumah. Saya justru berusaha sekuat tenaga untuk tetap datang meski ada kejadian tak terduga."

Suasana lobi mendadak hening. Karyawan yang tadinya berlalu lalang perlahan menoleh ke arah mereka.

"Kalau Pak Fajar merasa saya layak dipecat karena ini, silakan. Saya terima. Saya hanya seorang cleaning service, bukan siapa-siapa. Tapi saya datang bukan untuk main-main. Saya butuh pekerjaan ini."

Air matanya jatuh satu per satu, membasahi pipinya. Dengan suara lirih, ia menambahkan,

“Saya siap dipecat kapan saja… Saya permisi.”

Lily pun berbalik, melangkah pergi. Martha hanya bisa terdiam, bingung harus berbuat apa.

Ia hendak berjalan melewati Fajar. Tapi saat itu, mata Fajar menatap ke arah kaki Lily yang berlumuran darah dan kotor karena luka terbuka. Sepatu ketsnya pun tampak robek sedikit.

Ekspresi Fajar perlahan berubah. Hatinya seperti tersentak. Ada rasa bersalah muncul—ia terlalu cepat menghakimi.

Lily berjalan menuju ruang loker dengan langkah berat, menyeka air matanya yang masih tersisa. Sesampainya di sana, ia membuka loker dan mulai memasukkan tas serta beberapa barang pribadinya.

Saat ia mengangkat sedikit rok kerjanya untuk menata posisi barang, lututnya yang terluka terlihat jelas.

Kebetulan, Gita — rekan kerjanya — baru saja datang dan melihat hal itu. Ia langsung menghampiri dengan wajah cemas.

“Lily… itu di lututmu kenapa? Kok berdarah begitu?” tanya Gita khawatir.

Lily refleks menutup roknya kembali sambil memaksakan senyum.

“Gak apa-apa kok, Kak… cuma luka kecil."

Gita mengernyit, jelas tidak percaya dengan jawaban itu.

“Kok sampai berdarah begitu? Kamu jangan bohong deh. Ini pasti bukan hal sepele, ya kan?”

Lily menghela napas pelan, masih berusaha menahan rasa sakitnya.

“Serius, Kak, aku baik-baik aja. Nanti juga sembuh sendiri.”

Namun tatapan Gita tetap penuh rasa curiga sekaligus iba. Ia tahu Lily tipe orang yang selalu menutupi masalahnya, dan luka di lutut itu jelas bukan sekadar “kecil”.

Siang itu, setelah selesai membersihkan beberapa ruangan, Lily sedang menata perlengkapan kebersihan ketika Martha menghampirinya.

“Lily, tolong buatin kopi untuk tamu yang ada di ruangan Pak Fajar, ya.”

Lily mengangguk singkat. “Baik, Bu.”

Tak lama kemudian, ia menyiapkan dua cangkir kopi lalu berjalan menuju ruangan Fajar. Dengan hati-hati, ia mengetuk pintu. Dari dalam terdengar suara Fajar, tegas namun tenang.

“Masuk.”

Lily membuka pintu perlahan, membawa nampan berisi kopi. Di dalam ruangan, Fajar sedang berbicara dengan seorang pria berpakaian rapi, tampak berwibawa. Namun saat pria itu menoleh, mata Lily langsung membesar kaget.

Pria itu pun terkejut.

“Loh… kamu kerja di sini?” katanya sambil menunjuk Lily.

Lily tercekat, masih tak percaya dengan pertemuan yang begitu cepat.

Fajar yang menyadari kejanggalan itu langsung menoleh bergantian.

“Kalian saling kenal?” tanyanya curiga.

Pria itu tersenyum tipis lalu menjawab santai.

“Iya, tadi pagi gue gak sengaja hampir nabrak dia. Untung aja gak apa-apa.”

Mendengar itu, Fajar terdiam sesaat. Hatinya langsung terasa berat, rasa bersalah menyelip begitu dalam. Ia teringat bagaimana tadi pagi ia menghakimi Lily tanpa mau tahu alasan keterlambatannya.

Sementara itu, Lily hanya menaruh kopi di meja, mencoba menjaga sikap profesional meskipun dadanya terasa sesak.

Pria itu kemudian berdiri, meraih tangan Lily untuk menjabat.

“Kenalin, nama gue Rafael.”

Awalnya Lily ragu, pandangannya berganti antara tangan Rafael dan tatapan Fajar yang terasa menusuk. Namun karena sadar pria ini adalah rekan bicara CEO-nya, ia pun terpaksa menjabat tangannya.

“…Lily.” ucapnya singkat.

Rafael tersenyum.

“Kamu cantik-cantik, masa cuma jadi cleaning service?”

Kalimat itu membuat Lily terdiam, wajahnya menegang. Tanpa banyak bicara, ia menarik tangannya perlahan.

“Kalau begitu saya permisi, Pak.” katanya sopan lalu segera keluar dari ruangan itu.

Fajar mengikuti kepergian Lily dengan pandangan tajam, sementara dalam hatinya muncul rasa bersalah pada Lily karena sikapnya sendiri tadi pagi.

Setelah Lily keluar, suasana ruangan mendadak hening. Rafael bersandar santai di kursinya sambil menatap pintu yang baru saja ditutup.

“Bro, masa cewek secantik dia jadi cleaning service? Sayang banget, kan.” ucap Rafael sambil terkekeh kecil, seolah tak merasa ada yang salah dengan kata-katanya.

Fajar langsung menoleh tajam, wajahnya dingin.

“Bukan urusan lu.” jawabnya singkat, dengan nada datar namun penuh tekanan.

Rafael mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah.

“Santai aja, bro. Gue cuma ngomong apa adanya. Gue aja kaget lihat dia di sini. Kayak bukan tempatnya aja.”

Fajar menghela napas panjang, lalu menatap Rafael dengan sorot mata serius.

“Lu di sini buat urusan kerja, bukan buat ngurusin orang gue. Jadi kalau lu kesini cuma buat komentar nggak penting, mending kita sudahi pembicaraan ini.”

Rafael terdiam sejenak, lalu tersenyum miring.

“Oke, oke. Gue ngerti. Ternyata lu peduli juga, ya.” katanya dengan nada menggoda.

Fajar tidak menjawab, hanya menatap Rafael dingin. Tangannya mengepal di atas meja, menahan emosi yang nyaris meledak. Dalam hati, ia semakin menyadari kalau ucapannya tadi pagi pada Lily adalah sebuah kesalahan besar.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status