Accueil / Romansa / I Hate My CEO / Bab 7 Pertolongan yang Tak Dianggap

Share

Bab 7 Pertolongan yang Tak Dianggap

Auteur: Fajar
last update Dernière mise à jour: 2025-09-07 06:21:54

Di pantry, Lily mulai menyiapkan pesanan kopi satu per satu. Air panas mengepul, aroma kopi memenuhi ruangan. Tangannya sibuk menuang bubuk kopi ke cangkir, sementara catatan pesanan tergeletak di meja kecil.

Keringat mulai membasahi pelipisnya. Punggungnya pegal setelah seharian membersihkan ruangan, kini ditambah pekerjaan ekstra membuat kopi untuk karyawan lembur.

Dengan suara lirih, Lily bergumam, “Capek-capek kuliah… eh malah disuruh bikin kopi. Buat apa gue kuliah? Buat apa gue sarjana?” gerutunya dengan nada getir.

Tangannya tetap bergerak, tapi dalam hatinya seperti ada luka yang menganga. Bayangan perjuangannya kuliah, begadang demi tugas, dan mimpinya yang sempat tinggi, kini terasa seperti diremehkan.

Setelah menyelesaikan semua pesanan kopi dan memberikannya pada karyawan yang lembur, Lily akhirnya bisa pulang. Ia berjalan menuju halte kecil di depan gedung, menunggu kendaraan umum lewat. Namun, sudah hampir sepuluh menit berdiri, tak ada satu pun angkot maupun bus yang melintas.

Lily menghela napas panjang, menatap sekitar yang mulai sepi. Lampu jalan menerangi trotoar, udara malam berhembus dingin. Saat itu matanya menangkap sosok yang familiar—Fajar. Pria itu baru saja keluar dari gedung kantor, terlihat hendak menuju mobil hitam mewah yang terparkir di sisi jalan.

Namun, sebelum masuk ke mobil, Fajar tiba-tiba jongkok. Lily menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas. Ternyata, ia sedang mengelus seekor kucing hitam kecil yang duduk manis di dekat ban mobil.

Tanpa sadar, senyum kecil muncul di wajah Lily. “Ternyata dia juga bisa lembut ya sama kucing…” batinnya, sedikit terkejut karena melihat sisi lain dari sosok CEO dingin itu.

Tapi tiba-tiba—BRUKK!

Seseorang muncul dari arah belakang dan memukul Fajar dengan kayu panjang.

Refleks, Lily berteriak panik,

“Pak Fajar!!”

Tubuh Fajar terhuyung ke belakang setelah pukulan kedua mendarat di bahunya. Ia sempat melawan, namun serangan kayu itu membuatnya jatuh tersungkur di aspal. Pria misterius itu mengangkat kayu lagi, siap menghantam kepala Fajar.

Namun sebelum sempat, BRUKK!

Sebuah tendangan keras menghantam tubuh pria itu dari samping. Tendangan itu begitu kuat hingga membuatnya terpental dan menabrak pintu mobil Fajar.

Lily berdiri dengan napas memburu, wajahnya serius—jauh berbeda dari biasanya. Pria itu mengerang kesakitan, lalu buru-buru bangkit dengan tertatih dan melarikan diri ke arah gang gelap.

Lily segera meraih ponselnya dari saku rok, menekan nomor darurat dengan jari gemetar.

“Halo, polisi, tolong—”

Namun sebelum ia sempat melanjutkan, tiba-tiba sebuah tangan kuat mencengkeram lengannya. Lily menoleh, kaget, melihat Fajar menatapnya dengan sorot dingin.

“Matikan.” ucap Fajar pelan tapi tegas.

Lily menatapnya tidak percaya.

“Kenapa, Pak? Dia jelas-jelas ingin mencelakai Bapak!” serunya penuh emosi.

Fajar berdiri, menahan rasa sakit di bahunya. Dengan suara rendah dan dingin, ia berkata,

“Jangan ikut campur.”

Lily menggigit bibirnya, hatinya berdebar keras.

“Tapi Bapak terluka! Kalau begitu, saya panggil orang kantor yang masih lembu—”

Belum sempat ia berbalik, Fajar kembali menahan lengannya lebih erat. Tatapannya tajam menembus mata Lily.

“Tutup mulutmu… atau kau kupecat.”

Lily terdiam, matanya melebar. Untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan aura mengintimidasi dari Fajar. Jantungnya berdegup kencang, namun ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Lily melangkah kembali ke halte dengan langkah berat. Ia duduk, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu mendesah panjang.

Dalam hati ia bergumam kesal,

“Gak ada bilang terima kasih gitu… udah ditolong malah nyuruh diem. Tuh orang bener-bener dah. Kalau gak gue tolong, udah jadi mayat kali.”

Baru saja ia hendak menunduk memainkan ponselnya, tiba-tiba suara klakson memecah keheningan malam.

Lily menoleh, kaget. Mobil hitam milik Fajar berhenti tepat di depannya. Fajar memainkan klaksonnya lagi—jelas sebagai tanda menyuruh Lily untuk masuk.

Lily melotot kecil, bergumam dalam hati dengan nada sebal,

“Gila nih orang ya…”

Di tengah perjalanan, Fajar tiba-tiba bersuara dengan nada dingin tanpa menoleh,

“Di mana rumahmu?”

Lily menelan ludah sebelum menjawab pelan,

“Saya ngekos, Pak. Di jalan Mawar.”

Fajar tidak merespons, hanya memandang lurus ke jalan. Keheningan kembali menyelimuti mobil.

Lily akhirnya memberanikan diri berkata,

“Seharusnya Bapak tidak perlu repot-repot mengantar saya pulang.”

Namun lagi-lagi, Fajar tidak menjawab. Wajahnya tetap dingin, seolah kata-kata Lily hanya angin lalu.

Lily melirik sekilas, lalu kembali menunduk. Dalam hati ia mendesah panjang.

“Udah deh… gue lebih baik diem aja.”

Mobil melaju menembus jalanan malam yang sepi, membawa mereka berdua dalam diam yang penuh tekanan.

Mobil Fajar berhenti di depan sebuah gang kecil dengan papan nama bertuliskan Jalan Mawar. Lampu jalan redup, dan hanya ada suara serangga malam menemani keheningan.

Lily segera melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu. Ia turun sambil membawa tas kecilnya, kemudian menunduk sedikit mendekat ke arah kaca mobil Fajar yang setengah terbuka.

Dengan sopan ia berkata,

“Terima kasih banyak sudah mengantar saya, Pak.”

Namun Fajar tetap menatap ke depan, ekspresi dingin tanpa menoleh sedikit pun. Mesin mobil meraung pelan sebelum akhirnya ia menekan gas dan melaju pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

Lily berdiri mematung sebentar, menatap lampu belakang mobil itu yang semakin menjauh.

Dalam hati ia menggerutu,

“Minimal jawab kek… huhhh, bener-bener deh tuh orang. Dingin banget kayak es batu.”

Ia mendesah kesal, lalu berjalan masuk ke gang menuju kosannya sambil menendang kecil kerikil di jalan. Raut wajahnya campur aduk antara jengkel dan bingung, tapi entah kenapa ada sedikit rasa penasaran yang diam-diam mengusik pikirannya tentang sosok CEO dingin itu.

Di dalam mobil yang melaju di jalanan sepi, Fajar memegang setir erat. Pandangannya lurus, tapi pikirannya bergejolak. Kilasan tadi—pukulan kayu di belakang kepala, lalu Lily yang menendang penyerang dengan begitu kuat—masih terngiang.

Ia menghela napas panjang.

“Sudah hampir dua bulan ini…” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. “Teror itu nggak berhenti. Orang-orang tak dikenal, pesan ancaman, dan sekarang… berani menyerang di depan kantor.”

Matanya sedikit menyipit, memikirkan sesuatu.

“Siapa yang sebenarnya mengincarku? Apa mereka orang dalam… atau musuh bisnis Papah?” pikirnya, wajahnya makin dingin.

Tangannya sempat meraba bagian belakang kepalanya yang nyeri karena pukulan tadi. Sakitnya membuat emosinya kian memuncak.

Tapi yang lebih membuatnya bingung—kenapa Lily bisa muncul di saat yang sama. Seorang cleaning service baru, tiba-tiba menolongnya dengan refleks begitu cepat. Fajar meremas setir lebih kencang.

“Wanita itu…” batinnya. “Apa kebetulan… atau dia juga bagian dari permainan ini?”

Mobil melaju kencang menembus malam. Dari kaca spion, Fajar sempat melirik bayangan hitam di kejauhan, seakan-akan ada motor yang mengikuti. Ia mempercepat laju mobilnya, namun pikirannya tetap tak tenang.

Malam semakin larut, udara lembab merayap masuk lewat jendela kecil di kamar kost Lily. Ia sudah berganti pakaian santai—tanktop putih dan celana pendek hitam—lalu berbaring di kasur tipis sambil menatap langit-langit kamar yang sedikit mengelupas catnya.

Tangannya diletakkan di atas perut, sementara kakinya bergoyang pelan. Pikiran Lily tak bisa tenang.

“Gila… hari ini chaos banget.” ia bergumam pelan.

Ingatannya memutar lagi kejadian di depan kantor: suara kayu menghantam, Fajar yang jatuh, lalu dirinya yang spontan menendang pria itu hingga mental.

“Kalau tadi gue nggak reflek, mungkin bapak CEO itu udah jadi mayat beneran.” Lily mendengus kesal. “Dan apa balasannya? Disuruh tutup mulut, diancem lagi. Minimal bilang makasih kali, dasar jutek.”

Ia menghela napas panjang, lalu menutup wajahnya dengan bantal sebentar. Namun tak lama kemudian, ia membuka lagi karena dadanya terasa sesak oleh pikiran yang menumpuk.

“Tapi… kenapa gue jadi mikirin terus?” ia menatap kosong ke langit-langit, matanya berkedip pelan. “Wajahnya dingin banget, tapi di matanya tadi… kayak ada sesuatu. Ketakutan? Atau rahasia besar?”

Lily menggulingkan badan ke samping, menatap jam kecil di meja. Sudah hampir tengah malam.

Namun meski lelah, pikirannya masih berputar. Tentang pekerjaannya yang makin berat, tentang kenapa ia harus sampai membuat kopi segala, dan yang paling membekas—tentang sosok Fajar yang misterius.

“CEO macam apa itu… bisa bikin gue kesel sekaligus penasaran dalam satu waktu.” Lily mendengus pelan, lalu menarik selimut tipis menutupi tubuhnya.

Keesokan paginya, suara alarm ponsel meraung-raung di kamar kost Lily. Bunyi itu begitu berisik sampai membuatnya mengernyit dan menutup telinga dengan bantal.

Namun begitu matanya mengintip ke arah jam di layar ponsel, ia langsung melonjak kaget.

“Ya ampun! Setengah sembilan!?” serunya panik.

Dengan tergesa-gesa ia bangkit dari kasur, tapi karena terlalu buru-buru, kakinya malah tersandung ujung selimut. Tubuhnya oleng dan hampir jatuh tersungkur, untung saja ia sempat menahan diri dengan berpegangan pada meja kecil di samping kasur.

“Aduh! Sialan, pagi-pagi udah bikin drama.” Lily menggerutu sambil menepuk-nepuk lututnya yang sedikit sakit.

Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari menuju kamar mandi dengan rambut awut-awutan dan wajah masih setengah mengantuk. Suara langkahnya tergesa-gesa memenuhi lorong kost yang sempit, sementara pikirannya kacau.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status