Home / Romansa / I Hate My CEO / Bab 9 Ketika Dilema Bertemu Ancaman Baru

Share

Bab 9 Ketika Dilema Bertemu Ancaman Baru

Author: Fajar
last update Last Updated: 2025-09-07 06:28:36

Siang menjelang sore, Fajar duduk di depan laptopnya, layar penuh dokumen dan laporan yang harus ia selesaikan. Namun pikirannya melayang.

Kejadian pagi tadi masih membekas di kepalanya—bagaimana ia terlalu cepat menghakimi Lily yang terlambat, tanpa mau mendengar penjelasannya. Rasa bersalah itu menekan dada Fajar, membuatnya merasa canggung sendiri.

Tapi di saat yang sama, ia tak bisa menghapus ingatan kejadian beberapa hari lalu, saat Lily menuduhnya sebagai jambret. Fajar menutup mata sejenak, menghela napas panjang.

“Aku pernah dihakimi, tanpa dia tahu ceritanya. Dan sekarang… aku sendiri yang menghakimi dia, tanpa tahu ceritanya” gumam Fajar dalam hati, perasaan dilematis bercampur antara bersalah, kesal, dan penasaran.

Tangan Fajar mengepal di atas meja. Ia sadar, baik dia maupun Lily sama-sama pernah menilai satu sama lain secara keliru. Tetapi berbeda dengan Lily, Fajar merasa posisinya sebagai CEO membuatnya tidak bisa sembarangan menunjukkan keraguan atau perasaannya.

Ia menatap layar laptopnya lagi, namun pikirannya tetap melayang pada Lily. Senyum kecilnya, tatapan tegasnya waktu di main hall, dan keberaniannya menghadapi Fajar membuatnya sulit untuk fokus.

“Aneh… kenapa aku kepikiran terus sama dia? Dan kenapa aku merasa bersalah terus?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Di ruangan yang sunyi itu, Fajar tetap duduk menatap layar, merasa terjebak antara rasa bersalah karena menghakimi Lily dan rasa penasaran yang tak bisa ia jelaskan.

Sementara itu, di lantai atas, Lily sedang membersihkan kaca jendela kantor dengan gerakan setengah hati. Pikiran Lily melayang, terjebak dalam dilema yang sama seperti Fajar. Ia memikirkan kejadian pagi tadi saat ia terlambat dan Fajar menegurnya dengan tajam, tanpa sempat ia menjelaskan alasan sebenarnya. Sekarang, ia juga teringat bagaimana ia pernah menuduh Fajar sebagai jambret beberapa hari lalu—dan kini Fajar juga seakan menghakiminya.

Lily melamun, tangannya mengelap kaca tapi pandangannya kosong ke luar jendela. Tanpa sadar, ia lebih banyak mengelap tangannya sendiri daripada kaca.

Gita, yang lewat, memperhatikan itu dan geleng-geleng kepala. Ia menghampiri Lily dan bertanya dengan nada khawatir,

“Li, kamu kenapa? Lagi pusing atau gimana? Kok nggak fokus?”

Lily sedikit terkejut dan cepat-cepat menepuk tangannya, tersenyum canggung.

“Nggak apa-apa kok, kak.”

Gita menatap Lily ragu, tapi Lily menambahkan dengan suara lembut dan meyakinkan,

“Serius, kak. Nggak ada yang perlu dikhawatirin. Aku baik-baik aja.”

Gita akhirnya mengangguk pelan, masih terlihat tidak yakin, tapi membiarkan Lily kembali membersihkan kaca. Lily menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya dan melanjutkan pekerjaannya sambil tetap memikirkan dilema yang membelitnya—antara rasa bersalah karena pernah menghakimi Fajar dan rasa terhakimi karena teguran Fajar tadi pagi.

Di main hall suasana mendadak berubah. Para karyawan yang sedang sibuk dengan urusannya tiba-tiba menoleh hampir bersamaan. Seorang wanita muda melangkah masuk dengan penuh percaya diri. Penampilannya cantik, anggun, dengan gaun mahal yang jatuh indah mengikuti langkahnya. Namun dari cara jalannya dan tatapan matanya, terlihat jelas aura keangkuhan yang membuat suasana sekitar menjadi tegang.

Beberapa karyawan buru-buru tersenyum penuh basa-basi sambil menyapanya,

“Selamat siang, Mbak…”

Wanita itu hanya mengangguk tipis tanpa membalas senyum, lalu terus melangkah menuju lift. Tumit sepatunya berketuk tegas di lantai, membuatnya benar-benar tampak berkelas sekaligus tak tersentuh.

Lily yang sedang merapikan meja di dekat sana ikut memperhatikan. Dari jauh, ia melihat wanita itu masuk ke dalam lift dengan wajah dingin.

Lily pun menghampiri Gita yang kebetulan berdiri tak jauh darinya. Dengan nada penasaran, Lily bertanya,

“Kak, siapa wanita itu? Kok semua orang di sini memberikan hormat kepada dia.”

Gita melirik sebentar ke arah lift yang baru saja tertutup, lalu menunduk sedikit mendekat ke Lily dan berbisik,

“Oh… itu. Katanya sih dia orang yang bakal dijodohin sama Pak Fajar.”

Lily hanya menjawab singkat,

“Oh.”

Ekspresinya tetap biasa saja, seolah informasi itu tak memberi pengaruh besar. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.

Di ruangan lantai paling atas, Fajar sedang duduk serius di balik meja kerjanya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, menatap layar laptop dengan dahi sedikit berkerut. Suasana hening, hanya terdengar suara ketikan.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu terdengar.

Tok… tok… tok…

Fajar menghela napas, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop ia berkata datar,

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan, lalu seorang wanita melangkah masuk dengan anggun. Gaun mewahnya tampak kontras dengan nuansa formal ruangan kerja itu. Begitu Fajar mengangkat kepalanya, matanya melebar sejenak, jelas menunjukkan keterkejutan.

“Oliv…?” ucapnya pelan, nadanya kaku.

“Ngapain kamu datang kesini?”

Wanita itu tersenyum kecil, penuh percaya diri.

“Kenapa? Masa aku nggak boleh datang ke tempat calon suamiku bekerja?” jawab Olivia santai, lalu berjalan mendekati meja Fajar sambil melirik sekeliling ruangan.

Fajar menyandarkan tubuhnya ke kursi, ekspresinya langsung berubah dingin. Matanya menatap Olivia, namun sorotnya jelas-jelas bukan sorot orang yang bahagia bertemu. Ada jarak yang tak bisa ia tutupi.

“Kamu nggak perlu repot-repot datang ke sini, Oliv. Aku sibuk.” suaranya dingin, tanpa basa-basi.

Olivia terkekeh ringan, seperti tak peduli dengan reaksi dingin itu.

“Aku cuma penasaran, aja. Seperti apa sih suasana kamu kerja. Dan ternyata… hm, lumayan juga.”

Namun, dari raut wajah Fajar, terlihat jelas: dia tidak menyukai kehadiran Olivia. Apalagi kata “calon suami” yang tadi terucap seolah menjadi beban. Tidak ada sedikit pun rasa cinta dalam matanya saat menatap wanita itu.

Olivia duduk santai di kursi depan meja kerja Fajar, menyilangkan kaki anggunnya sambil menatap pria itu penuh senyum menggoda.

“Oh ya,” ucapnya tiba-tiba, suaranya manja. “Aku dengar-dengar kamu belum punya sekretaris, kan? Aku bisa kok jadi sekretaris kamu. Setiap hari ngebantuin kamu kerja, bukankah itu lebih memudahkan?”

Fajar menghela napas, menutup laptopnya dengan perlahan. Pandangannya tajam, lalu dengan nada dingin ia menjawab:

“Aku bisa menyelesaikan tugasku sendiri. Tidak perlu sekretaris, apalagi dari orang yang tidak mengerti cara kerja di sini.”

Seketika wajah Olivia berubah. Senyumnya meredup, bibirnya sedikit manyun. Ia menatap Fajar, berusaha tetap terlihat tenang meski jelas-jelas tersinggung.

“Hmm, gitu ya?” sahutnya, mencoba menyembunyikan rasa kesal dengan nada bercanda.

Namun dalam hatinya, Olivia mendesah panjang.

“Sabar, Oliv… sabar."

Olivia lalu kembali tersenyum tipis, berpura-pura tidak terpengaruh, meski hatinya mendidih karena ditolak mentah-mentah.

Siang itu, Lily sedang membersihkan kamar mandi wanita di lantai enam. Dengan seragam cleaning service dan sarung tangan karet, ia sibuk mengelap wastafel.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Olivia masuk dengan langkah anggun, gaun indahnya menyapu lantai. Lily secara refleks menoleh, matanya sempat menatap penampilan Olivia dari ujung kepala hingga kaki.

Dalam hati, Lily bergumam dengan ekspresi datar:

“Jadi ini calon nya si kulkas itu…”

Lily buru-buru kembali fokus mengelap wastafel. Namun saat ia memeras lap yang basah, tanpa sengaja airnya terciprat mengenai gaun Olivia.

“Astaga!” Olivia berteriak kecil sambil menatap gaunnya yang terkena bercak air. Ekspresinya langsung kesal.

“Hei! Kamu buta ya? Gaun ini mahal, tau!”

Lily terkejut, buru-buru meletakkan lap dan menunduk.

“Maaf, Bu. Saya benar-benar tidak sengaja… airnya nyiprat. Saya minta maaf sekali.”

Olivia menatap Lily dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan, lalu mengibaskan gaunnya pelan.

“Kamu pikir dengan minta maaf semuanya selesai? Dasar ceroboh.”

Lily menggigit bibirnya, menahan perasaan.

“Saya benar-benar minta maaf, Bu. Lain kali saya akan lebih hati-hati.”

Olivia melipat tangannya di depan dada, menatap Lily dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan.

“Kamu baru ya di sini?” tanyanya dengan nada tinggi.

Lily menunduk sopan.

“Iya, Bu. Saya baru mulai beberapa hari ini.”

Olivia tersenyum tipis, lalu melontarkan kalimat yang terasa menusuk.

“Hmm… pantas saja. Makanya hati-hati kalau kerja, jangan sampai bikin malu perusahaan. Jangan sampai gara-gara orang baru, nama PT Elfano jadi tercoreng.”

Lily hanya menunduk, menahan kesal dalam hati.

“Baik, Bu. Saya akan lebih berhati-hati,” jawabnya singkat.

Olivia mengibaskan rambutnya angkuh, lalu melangkah pergi dengan gaunnya yang menjuntai elegan.

Saat pintu kamar mandi tertutup kembali, Lily mengepalkan tangan.

Dalam hati ia menggerutu, “Udah deh… udah bener lu paling cocok sama tuh kulkas.”

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan wajah yang ditahan agar tetap terlihat profesional.

Beberapa saat kemudian, di ruangan Fajar. Suasana hening hanya diisi suara ketikan keyboard Fajar. Tiba-tiba ponsel Olivia bergetar di atas meja, menandakan pesan masuk.

Olivia mengambilnya, membaca sebentar, lalu berdiri dengan elegan.

“Sayang, aku pergi dulu ya,” ucapnya dengan nada manja sambil menatap Fajar.

Namun Fajar sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari layar laptop. Wajahnya dingin, jari-jarinya tetap sibuk mengetik tanpa ada sedikit pun respon.

Senyum Olivia perlahan menghilang. Dengan sedikit cemberut, ia berbalik menuju pintu.

Saat melangkah ke arah lift, ia menggerutu dalam hati, “Dasar cowok dingin… apa susahnya sih cuma bilang hati-hati? Sabar Oliv, sabar, nanti juga luluh.”

Pintu lift terbuka, Olivia masuk dengan ekspresi kesal yang berusaha ia tutupi di depan para karyawan yang memperhatikannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I Hate My CEO    Bab 29 Rencana Tersembunyi

    Jam makan siang pun tiba. Fajar menutup file di mejanya, lalu berdiri sambil merapikan jasnya. Dengan langkah mantap ia berjalan menuju pintu, sebelum keluar ia menoleh pada Lily yang sedang serius mengetik di laptopnya.“Kalau ada yang mencari saya, beritahu saja bahwa saya sedang keluar untuk makan siang,” ucap Fajar datar.Lily mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”Fajar memperhatikan sejenak. “Kamu tidak makan siang?” tanyanya dengan nada datar.Jari Lily berhenti sejenak di atas keyboard. “Nanti saya makan, Pak. Saya mau selesaikan ini dulu.”Fajar terdiam sepersekian detik, lalu dengan suara dingin ia berkata, “Jangan terlalu sibuk bekerja. Istirahatlah. Kalau kamu jatuh sakit, justru akan merepotkan saya.”Lily tertegun mendengarnya. Walaupun nadanya dingin, tapi jelas-jelas ada perhatian di balik perkataan itu. Ia hanya bisa mengangguk, menahan senyum agar tidak terlihat terlalu girang.“Baik, Pak,” balasnya singkat.Fajar tidak menambahkan apa-apa lagi.

  • I Hate My CEO    Bab 28 Awal dari Masalah Besar

    Keesokan paginya, suasana main hall kantor terasa berbeda dari biasanya. Semua karyawan sudah berkumpul, sebagian berbisik-bisik penasaran kenapa mereka dipanggil.Langkah Fajar terdengar tegas saat ia berjalan ke depan, mengenakan setelan jas rapi yang membuatnya tampak berwibawa. Di sampingnya, Lily berjalan dengan gugup tapi tetap menjaga senyum. Penampilannya kini benar-benar berbeda dari seorang cleaning service biasa—anggun dengan blazer sederhana yang dipadukan celana panjang hitam yang membuatnya tampak elegan sekaligus profesional.Fajar berdiri di tengah ruangan, menatap semua karyawan dengan ekspresi dingin khasnya. Suaranya mantap dan jelas.“Mulai hari ini, saya resmi melantik Lily sebagai sekretaris pribadi saya. Segala urusan yang berkaitan dengan saya akan langsung melalui dirinya.”Ruangan seketika hening. Banyak yang terkejut, bahkan ada yang saling pandang, tidak percaya.Gita yang biasanya bersama Lily di ruang cleaning service, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

  • I Hate My CEO    Bab 27 Antara Kebohongan dan Cinta

    Perdebatan di ruang makan semakin memanas. Fajar berdiri di hadapan Elyan, wajahnya memerah, nada suaranya tinggi.“Pah, aku tidak akan mengakhiri hubungan aku dengan Lily! Kami serius!” bentak Fajar, suaranya terdengar tegas.Elyan menatapnya dingin, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Fajar, kamu harus mengerti! Papah sudah menjodohkanmu dengan orang yang lebih tepat! Jangan egois, hentikan hubunganmu dengan perempuan ini sekarang juga!”Fajar menggeleng keras. “Pah, tolong hargai keputusan aku dan juga perasaannya. Ini bukan soal ego, tapi cinta!”Pertengkaran itu semakin memanas. Suara mereka saling bertubrukan, hingga tiba-tiba Lily berdiri, langkahnya mantap, wajahnya serius, mata berkaca-kaca. Suaranya terdengar lantang di seluruh ruang makan.“Fajar telah meniduri saya, pak!”Seisi ruangan langsung hening. Wajah Fajar memucat, matanya melebar, tubuhnya kaku. Novi terduduk tegak, terkejut dan hampir tak percaya.“Jangan sembarangan, kamu!” seru Novi, nadanya penuh cemas.Lily

  • I Hate My CEO    Bab 26 Harga Sebuah Cinta

    Elyan mendekat dan duduk di samping Novi. Ia menatap Lily dengan serius. "Tadi kau bilang lulusan kesekretariatan dan sastra Inggris, bukan?" tanyanya.Lily mengangguk mantap. "Iya, pak."Elyan menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa kamu benar-benar lulusan kesekretariatan."Fajar menatap Elyan, wajahnya menunjukkan kepanikan kecil. "Pah..."Elyan menengadah, menahan ucapan Fajar. "Diam. Papah tidak berbicara denganmu sekarang. Papah berbicara dengan wanita ini."Lily menelan ludah, tapi dalam hatinya berkata, "Ayo, Li, tunjukkan kalau kau bisa. Untuk apa kuliah kalau tidak bisa jawab pertanyaan."Elyan mulai melontarkan pertanyaan satu per satu.Pertanyaan pertama, "Apa langkah utama dalam membuat notulen rapat yang resmi?"Lily menjawab cepat, "Mencatat semua poin pembahasan, keputusan yang diambil, serta penanggung jawab setiap tindak lanjut, kemudian menyusun dalam format yang jelas dan ringkas."

  • I Hate My CEO    Bab 25 Ujian Pertama Sang Pacar Palsu

    Sesampainya di halaman rumah Fajar, Lily menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Rumah itu… lebih tepatnya kastil, megah dan luas, dengan taman yang tertata rapi, lampu taman yang menyala lembut, dan jalan setapak berbatu yang mengarah ke pintu utama. Angin malam yang sejuk membuat dedaunan berbisik pelan, menambah kesan misterius dan sedikit menegangkan. Dalam hati Lily bergumam, “Gila… ini rumah apa Kastil?”Fajar menoleh sebentar, matanya tajam menatap Lily dari sisi mobil. “Jangan sampai salah bicara atau melakukan hal yang mencurigakan,” ujarnya dengan nada serius, seolah ingin menekankan bahwa setiap gerak-gerik Lily malam ini diawasi.Lily menelan ludah, dadanya sedikit berdebar. “Baik, pak,” jawabnya dengan suara lirih.Fajar mengangguk dan matanya menatap lurus ke depan. “Buat orang tua saya yakin bahwa kita benar-benar berpacaran.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam Lily, membuatnya terdiam sejenak. Dalam hati, ia mengelus dadanya, “Bawel banget nih kulkas…” Namun

  • I Hate My CEO    Bab 24 Malam yang Akan Mengubah Segalanya

    Setelah selesai dengan perawatan wajah, rambut, dan tangan, Lily duduk sebentar di sofa salon sambil menenangkan diri. Saat itu, handphonenya bergetar. Ia membuka pesan masuk dari Fajar:"Lily, pastikan kamu membeli gaun yang cantik untuk malam ini. Saya ingin kau terlihat anggun tapi tetap sopan."Lily membaca pesan itu, hatinya berdebar sedikit, tetapi ia segera mengangguk dalam hati. “Baiklah, gue akan menurutinya,” gumamnya pelan.Tidak lama kemudian, stylist menatap Lily sambil berkata, “Sekarang kita lanjut ke bagian pemilihan gaun, mbak. Kami memiliki koleksi terbaru yang bisa cocok untuk acara spesial malam ini.”Salon itu ternyata juga berfungsi sebagai butik mewah, deretan gaun terpajang dengan indah di setiap hanger, lampu sorot menyoroti setiap detail kain dan bordiran. Lily mulai berjalan, tangannya menyentuh lembut kain-kain mahal yang menggantung di depannya. Stylist dengan sabar memberikan beberapa pilihan.Ia menatap satu persatu, mencari gaun yang membuatnya merasa a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status