I Hate My CEO

I Hate My CEO

last updateHuling Na-update : 2025-09-10
By:  FajarOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
29Mga Kabanata
11views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Bagi Lily, merantau ke kota besar bukanlah pilihan mudah. Gadis sederhana itu rela meninggalkan rumah demi membantu perekonomian keluarganya. Dan kini, ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan tetap sebagai sekretaris di perusahaan PT.ELFANO. Namun, di hari pertamanya, sebuah insiden membuat segalanya kacau. Lily menolong seorang ibu yang dijambret—dan tanpa sengaja menuduh pria berjas hitam yang ternyata bukan pelakunya. Malu, gugup, dan berharap tak pernah bertemu lagi dengan pria itu… Lily justru dikejutkan saat menyadari kenyataan pahit: pria yang ia tuduh jambret adalah CEO PT.ELFANO, bos barunya sendiri. Sejak hari itu, pekerjaan Lily tak lagi sederhana. Ia harus berhadapan dengan CEO muda yang dingin, arogan, sekaligus menyimpan pesona berbahaya. Apakah Lily mampu bertahan di bawah tekanan dan membuktikan dirinya? Atau justru pertemuan tak sengaja itu akan mengubah hidupnya selamanya?

view more

Kabanata 1

Bab 1 Jambret Berjas Hitam

Pagi itu, mentari Jakarta masih malu-malu menembus tirai jendela sebuah kost-an putri sederhana di daerah Jakarta. Di balik selimut tipis, seorang gadis muda masih terlelap. Namanya Lily, gadis yang merantau demi membantu orang tua.

Kamarnya mungil tapi penuh karakter. Poster dinosaurus menempel di dinding, boneka kecil berjejer rapi di rak, dan sebuah meja belajar dengan laptop tua serta tumpukan buku di sampingnya.

Suasana masih sepi, hanya terdengar suara kipas angin berputar lambat dan dering alarm dari ponselnya yang terus berbunyi. Namun, Lily tetap terlelap, tenggelam dalam mimpi yang hangat.

Tak lama kemudian, alarm itu berhenti, berganti dengan nada dering telepon. Dengan wajah mengantuk, Lily meraba ponselnya dan mengangkat panggilan itu.

“Halo, Bun…” suaranya pelan, masih berat karena baru bangun.

Dari seberang, suara bundanya terdengar jelas, “Halo, kamu sudah berangkat?”

“Berangkat? Berangkat kemana?” Lily menjawab dengan malas, matanya masih terpejam.

Bunda mendesah pelan, “Astaga, Lily… kamu lupa hari ini hari apa?”

Sekejap Lily terdiam. Otaknya bekerja cepat mencoba mengingat. Hingga seolah ada lonceng berdentang dalam kepalanya—hari ini adalah hari interview penting yang sudah ia tunggu-tunggu.

Ia langsung terduduk, matanya melebar. “Hari Interview".

Telepon segera ia matikan, lalu tanpa pikir panjang ia berlari menuju kamar mandi. Jantungnya berdegup kencang, menandakan kepanikan yang mulai merayapi dirinya.

Setelah mandi dengan tergesa, Lily menatap cermin kecil di atas wastafel kamar kostnya. Rambutnya masih sedikit basah, wajahnya tampak tegang bercampur kantuk yang belum hilang sepenuhnya. Ia bergumam pada dirinya sendiri, “Tenang, Li… ini cuma interview, jangan sampai gagal.”

Dengan gerakan tergesa, ia meraih pakaian yang sudah ia siapkan sejak malam tadi: sebuah kemeja putih sederhana dan rok hitam yang rapi. Pakaian itu tampak bersih meski bukan baru, tetap memberi kesan sopan untuk menghadiri interview.

Di atas meja kecil dekat ranjang, sudah tertata map berwarna biru berisi beberapa dokumen penting. Lily memeriksanya sekali lagi—fotokopi ijazah, transkrip nilai, CV, dan pas foto. Satu per satu ia cek, lalu memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tas.

“Semoga nggak ada yang ketinggalan…” gumamnya pelan, sambil meneliti meja, takut ada berkas penting yang tercecer.

Selesai berkemas, Lily melirik jam dinding—waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 pagi. Padahal jadwal interview-nya pukul 9 dan lokasi cukup jauh dari kosannya.

Di meja, sebungkus roti tawar menunggu. Lily meraih selembar, menggigitnya sambil menyisir rambutnya di depan cermin kecil. Rambutnya masih sedikit lembap, tapi ia mencoba merapikannya sebisa mungkin. Meski wajahnya terlihat lelah, sorot matanya kini dipenuhi tekad.

Ia menarik napas panjang, lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Aku bisa. Aku pasti bisa.”

Dengan langkah tergesa, Lily menggendong tasnya, mengunci pintu kamar kos, dan keluar menuju jalan yang sudah dipenuhi hiruk pikuk pagi.

Lily segera menuju halte bus terdekat. Udara pagi masih terasa hangat bercampur dengan asap kendaraan yang lewat. Ia berdiri di antara beberapa orang lain yang juga menunggu, sambil menggenggam tasnya erat.

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba seseorang berlari kencang dari arah belakang dan menabraknya cukup keras. Lily hampir terjatuh, map birunya hampir terlepas dari genggaman.

“Eh! Hati-hati dong…” gumam Lily refleks, menoleh ke belakang. Namun orang itu sama sekali tidak menoleh, hanya terus berlari menjauh.

Lily masih kebingungan seketika terdengar teriakan lantang, “JAMBRET! JAMBRET!” Seorang ibu-ibu berlari sambil menunjuk ke arah pria yang tadi menabraknya.

Saat ibu itu semakin dekat, Lily bertanya, “Bu, jambretnya yang mana?”

Ibu itu menunjuk dengan napas terengah, “Itu! Yang jaket hitam itu!”

Mata Lily membelalak—ternyata orang yang menabraknya barusan adalah si jambret. Dari belakang terlihat jelas, pria itu mengenakan jaket hitam lusuh, berlari kencang sambil membawa tas kecil hasil rampasan.

Tanpa berpikir panjang, Lily berkata tegas, “Saya bantu kejar ya, Bu!”

Ia segera berlari mengejar pria berjaket hitam itu. Nafasnya mulai berat, sepatu hitamnya menghentak keras di trotoar, map birunya ia peluk erat agar tidak terjatuh. Orang-orang di sekitar hanya menoleh tanpa berani bergerak, membuat Lily semakin yakin kalau dialah satu-satunya yang bisa melakukan sesuatu saat itu.

Walau ia anak rantau, Lily tahu... kebaikan tak kenal tempat asal.

“Hei!! Berhenti!!” teriak Lily sambil menyingkirkan beberapa orang di trotoar.

Lily terus berlari, napasnya semakin memburu. Dari kejauhan ia bisa melihat tas milik ibu-ibu tadi—warnanya merah marun—tergenggam erat di tangan si jambret. Hatinya semakin berkobar, “Aku harus dapatin tas ibu itu!”

Si jambret lalu berbelok ke sebuah gang kecil yang sempit. Tanpa ragu, Lily ikut mengejarnya. Gang itu pengap, dindingnya berlumut, dan penuh jemuran warga. Langkah kaki keduanya bergema, namun ketika Lily berhasil keluar dari ujung gang, sosok si jambret sudah tidak terlihat lagi.

Lily berdiri kebingungan, matanya menyapu kanan-kiri, mencari petunjuk. “Ke mana dia…?” gumamnya panik.

Sementara itu, tak jauh dari sana, seorang pria berjas hitam dengan kemeja putih sedang berdiri di dekat minimarket. Di tangannya, segelas kopi panas baru saja ia beli. Ia menyeruput pelan, menikmati waktu singkat di tengah kesibukan.

Tiba-tiba, dari arah gang, sebuah tas berwarna merah marun terlempar ke jalan. Pria itu spontan berjongkok mengambil tas itu. “Hei, tasnya jatuh!” teriaknya kepada seseorang yang lari cepat menjauh. Tapi orang itu tak menoleh sedikit pun, terus menghilang di balik keramaian.

Saat itulah Lily keluar dari gang kecil. Matanya langsung tertuju pada tas merah marun di tangan pria berjas. Nafasnya masih terengah, dan tanpa berpikir panjang ia berteriak, “KETEMU! Dasar, jambret?!”

Pria itu menoleh dengan ekspresi bingung, “Apa? Jambret?!”

“Jangan pura-pura! Saya lihat sendiri kamu pegang tas itu!” Lily mendekat dengan wajah penuh tuduhan.

Pria itu mengangkat kedua tangannya sambil masih memegang tas, “Tunggu dulu! Saya cuma nemuin tas ini, barusan dilempar orang!”

Namun Lily sudah telanjur yakin dengan apa yang ia lihat. Orang-orang sekitar mulai menoleh, memperhatikan keributan kecil itu.

Tanpa berpikir panjang, Lily langsung merebut tas merah marun itu dari tangan pria berjas. Nafasnya masih memburu ketika ia berteriak keras, “Tolong! Ada jambret!”

Orang-orang di sekitar yang tadi hanya menonton kini mendekat, membentuk kerumunan. Beberapa ada yang mengangguk-angguk, seolah membenarkan tuduhan Lily hanya karena melihat pria itu sedang memegang tas.

Pria berjas itu terkejut, mencoba menahan situasi, “Tunggu! Ada kesalahpahaman di sini. Saya bukan pencurinya!”

Pria itu mencoba menjelaskan dengan tenang, wajahnya tetap tenang. “Saya tadi sedang minum kopi. Tiba-tiba tas ini dilempar ke jalan. Saya cuma reflek ambil supaya tidak diinjak oleh orang. Orang yang lempar tas itu masih lari ke depan. Saya bahkan sempat teriak, tapi dia nggak noleh sama sekali.”

Namun Lily menggeleng keras. “Alasan! Kamu cuma mau menghindar kan. Mana ada maling mau ngaku maling?!”

Bisik-bisik mulai terdengar di kerumunan. Seorang bapak paruh baya berkata lantang, “Udah, bawa aja dia ke kantor polisi, biar jelas!”

Dua orang pria muda langsung maju, siap menggiring si pria berjas. Ia berusaha menahan, “Kalian salah paham! Dengarkan dulu!”

Sebelum situasi makin panas, sosok ibu-ibu yang tadi berteriak jambret akhirnya datang dengan wajah terengah. “Tas saya! Itu tas saya!” katanya lega.

Lily segera menyerahkan tas itu sambil berkata, “Ini, Bu. Bu, orang ini jambretnya. Ayo kita bawa ke kantor polisi!”

Namun ibu itu menggeleng cepat, “Lho, bukan! Bukan dia jambretnya.”

Kerumunan terdiam. Lily menoleh dengan bingung. “Maksudnya… bukan dia? Tapi… tasnya tadi ada di dia, Bu.”

Ibu itu menjelaskan dengan suara masih terbata, “Saya lihat jelas sekali, yang menjambret saya itu pakai jaket hitam, bukan jas hitam."

Sekejap Lily terdiam. Ingatannya berkelebat—benar, tadi ia sendiri yang melihat si jambret memakai jaket hitam lusuh, bukan jas hitam rapi seperti pria ini.

Wajah Lily langsung memerah. Dadanya terasa sesak, rasa malu menelannya bulat-bulat. Orang-orang yang tadi menuduh pun mulai saling pandang dengan canggung, sementara pria berjas itu berdiri diam, menatap Lily dengan ekspresi campuran antara kesal dan tak percaya.

Lily menundukkan kepala, ingin sekali menghilang dari situ.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
29 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status