ホーム / Romansa / I'M NOT HER / PORSCHE DAN KESETIAAN

共有

PORSCHE DAN KESETIAAN

作者: Ontelicious
last update 公開日: 2021-05-25 19:28:39

Bab Empat: Porsche dan Kesetiaan

Ashley sudah tiba di rumah Noel. Pintu pagar yang besar itu terbuka otomatis ketika mobilnya berada di depan. Dengan menginjak gas pelan, mobil masuk lalu berhenti tepat di samping teras rumah Noel. Ia segera turun sambil menenteng tasnya dan masuk setelah pintu terbuka otomatis lagi.

“Pak Noel,” panggil Ashley yang melangkahkan kaki menuju ruang kerja sang pemilik rumah.

“Aku disini, Ash.”

Ashley menghentikan langkah saat melihat Noel yang keluar dari kamarnya, bukan ruang kerja. Lelaki yang shirtless dan hanya memakai celana jeans panjang itu berdiri di lantai dua. Ia menatap ke bawah, melihat Ashley yang napasnya terengah karena terburu-buru.

“Kupikir kamu akan mengabaikanku. Ternyata … aku tetap menjadi prioritasmu,” ucapnya dengan nada setengah mengejek.

Ashley memutar bola mata dengan malas. Ia menadahkan wajahnya untuk melihat Noel di atas. “Apa saya harus kesana?”

“Tunggu di sana,” jawab Noel lalu berjalan menuruni tangga.

Di rumah besar dan mewah itu sebenarnya memiliki lift, namun Noel lebih suka memakai tangga karena menurutnya itu bisa dijadikan salah satu olahraga. Alasan yang masuk akal menurut Ashley. Bahkan sekretarisnya pernah berceletuk, kenapa tidak memakai tangga darurat saja saat di kantor. Bukan jawaban yang diterima Ashley, melainkan sebuah pulpen dari Noel melayang ke arah kepalanya dengan tepat sasaran.

Noel sekarang sudah berdiri di depan Ashley. Ia melihat penampilan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dress Sabrina berwarna hitam tanpa ada asesoris tambahan membuat gadis itu tampak sangat elegan. Sesaat ia tersenyum penuh arti dan mulai berkata dengan nada sindiran lagi. “Makan malamnya menyenangkan, Ash?”

Sigh! Ashley tidak harus menjawab. Dia kesal dengan pertanyaan yang sudah jelas Noel tahu jawabannya. Bagaimana bisa dia menikmati acara malam ini sementara Noel terus menerornya lewat telepon hingga membuat HP-nya terus menerus bergetar dalam tas.

“Apa yang anda inginkan, Pak?” tanya Ashley mengalihkan pembicaraan.

“Kamu mau wine?”

“Tidak. Terima kasih, Pak,” tolak Ashley. “Kalau Pak Noel ingin bersenang-senang malam ini, saya bisa carikan perempuan yang anda inginkan.”

Noel menggaruk alisnya yang mendadak gatal lalu menggeram pelan. “Aku sedang tidak ingin bercinta dengan siapapun, Ash.”

“Lalu?”

“Ada masalah yang jauh lebih rumit sekarang.”

Ashley mengerutkan alisnya dengan dalam. Ia melihat Noel mulai duduk di kursi ruang tamu, lalu menyilangkan kaki dan tangan merentang lurus di atas bahu sofa. Noel juga memberi kode dengan gerakan kepala untuk Ashley duduk di hadapannya.

“Hal rumit apa yang membuat anda tidak bisa menunda besok hari?” tanya Ashley sembari duduk di sofa. Ia juga menyilangkan kaki dan meletakkan tasnya di sisi kanan.

“Sebenarnya … Ibu Suri menelponku tadi sekitar jam delapan,” kata Noel mulai bercerita.

Ashley mengangguk. Dia tahu siapa yang dipanggil Noel dengan nama Ibu Suri, tentu saja itu panggilan untuk ibunya sendiri. “Lalu?”

“Katanya, Brian akan menikah.”

Who’s Brian?”

“Adik sepupuku. Kami terpaut lima tahun,” jawab Noel dengan malas.

“Oh, wow! Dia menikah dalam usia semuda itu?”

“Ya.” Noel mengangguk pelan.

“Lalu apa masalahnya? Anda ingin cepat-cepat menikah juga karena sudah dilangkahi Brian atau‒”

“Tidak, Ash … aku tidak ingin menikah,” jawab Noel sambil mendengkus. “Hanya saja di acara itu nanti semua keluargaku akan berkumpul. Dan kamu tahu apa yang paling kuhindari?”

“Tante-tante kepo yang selalu ingin tahu kenapa anda tidak menikah sampai sekarang,” jawab Ashley dengan mantap.

Noel menjentikkan jarinya dan mengangguk bangga pada sekretarisnya yang cepat tanggap. “Itu dia!”

“Kalau begitu anda harus memiliki jawaban untuk pertanyaan itu nantinya,” kata Ashley.

“Bukan hanya jawaban, tapi harus memberikan bukti, Ash.”

Kening Ashley kembali mengernyit. “Lalu, anda benar-benar akan menikah?” kagetnya.

“Bukan!” gemas Noel dengan nada tinggi. “Aku harus membawa salah satu gadis ke acara itu untuk ditunjukkan pada mereka semua bahwa aku memang sedang menjalin hubungan dengan seseorang.”

“Oh … I see,” kata Ashley memegang dagunya. “Kalau begitu tugas saya adalah mencarikan gadis itu untuk anda. Benar, kan?”

“Tidak,” jawab Noel singkat.

“Loh?”

“Aku ingin kamu yang menjadi gadis itu.”

Ada jeda sesaat. Ashley mengerjapkan mata dan berusaha mencerna apa maksud dari Noel. “Pardon?”

“Aku butuh kamu untuk menjadi pasanganku di acara itu nanti,” jelas Noel lagi.

“HAH! ITU TIDAK MUNGKIN!” Ashley langsung berdiri saking terkejutnya. Perintah Noel kali ini tidak akan bisa dia wujudkan. “S-SAYA TIDAK BISA MENJADI PASANGAN ANDA, PAK!”

“Ash, tenanglah … ini hanya pura-pura. Aku tidak akan menjadikanmu pasanganku selamanya. Aku hanya butuh diselamatkan untuk kali ini saja dari komentar keluargaku,” pinta Noel dengan nada memelas.

Oh, gosh!” Ashley memegang kepalanya lalu kembali duduk. Ia tidak percaya kalau hal ini akan terjadi padanya. “Tetap saja tidak bisa, Pak. Entah pura-pura atau tidak. Masalahnya saya memiliki Justin. Apa kata dia kalau tahu hal ini terjadi?”

“Jangan sampai Justin tahu.”

“Anda mengajarkan saya untuk selingkuh?”

“Bukan selingkuh, Ash. Ya Tuhan, tenanglah!” Noel terus menenangkan Ashley yang mulai panik dan gelisah sendiri. “Anggap ini adalah salah satu side job yang harus kamu kerjakan. Aku akan memberikanmu fee yang sangat besar.”

Fee?” ulang Ashley.

Noel mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. Dia tahu kalau kelemahan Ashley selama ini hanyalah uang. “Selama ini kamu ingin sebuah mobil Porsche, bukan?”

Ashley menelan ludah ketika mendengar nama mobil mewah itu. Ia mengangguk cepat seperti mainan yang ada di atas dashboard mobil. Sangat lucu sehingga membuat Noel sekuat tenaga harus menahan tawanya.

“Aku akan memberikanmu Porsche,” kata Noel seraya memberikan senyum terbaiknya.

Sumpah, Ashley tergiur dengan penawaran itu. Siapa yang akan menolak mobil mewah seharga milyaran. Namun, kembali lagi bayangan Justin terlintas di kepalanya. Ia tak bisa mengenyahkan fakta kalau menjadi pasangan Noel meski hanya pura-pura tetap saja seperti selingkuh.

“Pak, ini benar-benar sulit diputuskan,” keluh Ashley dengan ekspresi serius.

“Aku tidak menyuruhmu untuk memutuskan sekarang. Kuberi waktu satu minggu,” kata Noel akhirnya.

“Satu minggu, ya?”

“Yap! Apapun bisa terjadi selama tujuh hari, kan?”

Ashley hanya mengangguk lemah dan seperti orang linglung karena memikirkan antara mobil mewah dan kesetiaannya.

***

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • I'M NOT HER   IMPRESSED

    Bab Lima Belas: Impressed“Kamu dan Noel akan bertunangan?” tanya Ziva tanpa basa basi.Ashley sedikit bingung dengan konteks pertanyaan tersebut, ia melirik sepintas pada Noel yang mengedipkan kedua matanya sekali tanda dirinya harus mengangguk.“Iya, Bu. Rencananya kita akan bertunangan,” jawab Ashley.Ziva tersenyum tipis mendengar jawaban itu. “Kalian saling mencintai?”“Hah?” Tanpa sadar Ashley langsung menjawab seperti itu. Detik berikutnya ia mengatup bibirnya dengan rapat dan mulai kebingungan. Kenapa pertanyaan ini seolah diajukan dengan keseriusan. Bukankah Noel sudah mengatakan kalau ibunya sudah tahu rencana mereka yang akan berpura-pura. Kalau sudah seperti ini Ashley harus menjawab apa.“Kenapa jawabanmu seperti itu? Apa nanti kamu akan memberikan reaksi begini saat ditanya keluarga besar nanti?" singgung Ziva yang akhirnya mulai memperjelas maksud tujuannya bertanya.

  • I'M NOT HER   DIGNITARIES

    Bab Empat Belas: DignitariesPagi ini Ashley sudah siap bekerja dengan side job tambahan yaitu berlatih menjadi pasangan yang manis untuk Noel. Selama ini dia melayani bosnya dengan batasan antara sekretaris dan pimpinan, sekarang ia harus mengubah itu lebih intens lagi. Entah dia siap atau tidak, setidaknya tak mungkin ada jalan untuk putar balik dan mengatakan tidak pada Noel.“Huh! Semangat, Ash!” ucapnya pada diri sendiri sambil menatap pantulan dirinya di cermin toilet khusus perempuan.Ia harus memastikan kembali penampilannya yang sudah rapi sebelum duduk di kursi kebanggaannya di Big Bang.“Semangat untuk apa?” tanya seseorang yang keluar dari salah satu bilik toilet.Ashley melihat Anna yang mulai mendekati wastafel lewat cermin besar. Setiap pagi Anna akan lebih mudah ditemukan dalam toilet karena gadis itu paling malas ketika jam kerja sudah dimulai, dia harus ke belakang hanya untuk buang air ke

  • I'M NOT HER   YOU BELONG WITH ME

    Bab Tiga Belas: You Belong With Me Ashley menginjakkan kaki di teras rumahnya saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Semua rasa stress karena ulah Noel mendadak menguap begitu saja setelah dia mendapat kabar dari Justin tentang rencana hubungan mereka selanjutnya. “Ergh … capeknya!” Ashley memukul-mukul pundaknya dengan pelan. Ia kemudian membuka pintu dengan kunci yang sudah diambilnya dari dalam tas. Pintu terbuka dan membuatnya sedikit heran karena lampu ruang tamu sudah menyala. Dia coba mengingat apakah sudah mematikan lampu atau belum. Namun, dia yakin sekali kalau semua lampu sudah dia matikan. “Kenapa baru pulang?” Tiba-tiba terdengar suara dengan nada berat. Ashley terlonjak kaget, dia bahkan melompat ke belakang dan memegang dadanya, seolah jantungnya hampir saja copot. Seseorang muncul dari dalam dan menuju ruang tamu. Kedua tangannya di pinggang dengan wajah congkak. Ia bersiap untuk menginterogasi Ashley. Siapa lagi k

  • I'M NOT HER   POINT IN FACT

    Bab Dua Belas: Point In Fact Noel pulang ke rumah dengan badan dan pikiran yang sangat melelahkan. Begitu letih rasanya hari ini setelah ia bertemu dengan Erika kemudian disambung dengan telponnya yang diabaikan oleh Ashley. Tentu saja dia merasakan tidak karuan. “Ergh! Kemana gadis itu?!” geram Noel sangat marah. Ia melepaskan jasnya lalu melemparkan ke sembarang arah lalu membuka kulkas mini bar untuk mengambil sebotol beer. Tanpa bicara, ia segera membuka tutup beer dan meminumnya hingga tiga kali teguk. “Ahh.” Noel menyeka bibirnya yang basah. Kemudian berjalan menuju ruang kerjanya terlebih dulu sebelum ke kamar. “Awas saja kalau ketemu. Akan kuberikan dia hukuman karena berani mengabaikan telponku!” gerutunya lagi. Noel mendorong pintu ruang kerja yang tertutup rapat. Namun, alangkah terkejutnya dia saat melihat seseorang berdiri di sana sembari membaca sebuah buku dengan posisi duduk tenang. “Mom?!” kag

  • I'M NOT HER   MARRIED

    Bab Sebelas: Married? “Calon tunangan katanya? Yang benar saja!” rutuk Ashley sambil mencengkeram kuat setir mobilnya. Setelah keluar dari ruangan Noel, ia tak peduli dan langsung meraih tas untuk pulang segera. Ia tak ingin tahu apa yang dibicarakan oleh dua orang di dalam ruangan CEO tersebut. Baginya, sudah cukup mendapat kejutan yang menjengkelkan seperti itu, tak perlu dia harus mendengarkan lebih jauh apalagi meminta penjelasan pada Noel. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah ingin melampiaskan kekesalannya akibat ulah Noel. Ashley membelokkan arah mobilnya menuju rumah Justin. Dia butuh seseorang untuk menenangkannya. Saat dirinya berusaha untuk fokus, HP di atas kursi sampingnya berdering dan muncul nama Noel disana. Tanpa ragu Ashley langsung menggeser tanda merah. Ia tak ingin mendengar suara Noel sekarang. Mobil akhirnya tiba di depan sebuah rumah sederhana yang mana isinya ada tiga penghuni lelaki di kamar yang berbeda-beda. Justin tidak tin

  • I'M NOT HER   ARE YOU KIDDING?

    Bab Sepuluh: Are You Kidding? Wait a second … Ashley mencerna apa maksud dari kalimat bossnya yang selama ini telah membuatnya begitu emosi. Ia mengerjapkan mata dengan mulut terbuka lalu menoleh pelan pada Noel yang tak menatapnya, melainkan menatap Erika yang begitu shock. Yang dilihat Ashley adalah wajah tampan itu tersenyum tanpa beban dan dosa saat mengatakan kalimat konyol yang bahkan sebelumnya tidak pernah mereka bahas sama sekali. Bagaimana bisa tiba-tiba saja ada pergantian status dalam hitungan detik saja dan itu belum dikonfirmasi sama sekali olehnya. Apa dia sedang bercanda? “Calon tunangan?” ulang Erika akhirnya memecah jeda sesaat. “Ya … Ashley, calon tunanganku.” Sekali lagi Noel menegaskan. Tangannya bukan hanya menggenggam tangan Ashley yang mulai dingin, melainkan merangkul pundak sekretarisnya yang mulai gemetar karena terkejut. “Bukankah dia sekretarismu?” cibir Erika yang tak mungkin bisa dibodo

  • I'M NOT HER   SURPRISE IN THE MORNING

    Bab Lima: Surprise in the morning. Apa yang dikhawatirkan Ashley nanti ketika dirinya harus berpura-pura menjadi pasangan Noel di acara pernikahan sepupu bosnya itu. Apakah dia takut ketahuan? Mungkin saja. Karena sejauh ini berada di samping Noel sudah seperti memang dirinya menjadi pasa

  • I'M NOT HER   PRIORITAS

    Bab Tiga: Prioritas Ashley tetap pada rencananya. Dia tidak akan meninggalkan Justin kali ini. Sudah cukup berapa kali Noel selalu menggagalkan rencananya yang ingin berkencan dengan pacarnya, sekarang tidak akan dia biarkan hal itu terjadi. Entah apa yang akan terjadi pada Pa

  • I'M NOT HER   ANNIVERSARRY 5TH

    Bab Dua: Anniversarry 5th Ashley merapikan meja kerjanya dengan terburu-buru. Dia sudah ada janji dengan Justin untuk makan malam. Lagipula setelah insiden Marry yang datang ke Big Bang dengan segala kehebohan dibuatnya, itu sudah lebih dari cukup untuk Ashley mengabdi pada Noel hari ini.

  • I'M NOT HER   I'M NOT HER

    Bab Satu: I’m Not Her Selama ini impian Ashley dalam bekerja hanyalah satu, yaitu bisa dengan tenang mengerjakan jobdesk-nya tanpa harus ada side job lainnya. Datang ke kantor di pukul delapan dan pulang jam lima sore seperti layaknya pegawai yang rajin. Kalaupun ada lem

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status