LOGIN
Arjuna Danajaya, seorang pemuda yang malang. Dia harus kehilangan kedua orangtua dan kakak perempuannya pada kecelakaan tiga tahun silam. Bukan hanya kehilangan orang-orang terdekatnya, Arjuna harus kehilangan kemampuannya untuk berjalan. Dia dinyatakan lumpuh oleh dokter, karena saat kecelakaan kaki terjepit. Sebenarnya dia bisa saja kembali pulih, asal rutin melakukan pengobatan atau terapi.
Namun sayangnya, Arjuna tidak bisa melakukan pengobatan atau terapi. Karena dirinya sekarang diasuh oleh adek sang papa. Dan semua harta kekayaan yang dimiliki papa dan keluarganya, dikuasi oleh oomnya yang bernama Joni.
Jadi, Arjuna yang masih berusia remaja itu hanya bisa menggunakan kursi roda. Dia sama sekalitidak pernah keluar rumah. Bahkan dia pun terpaksa putus sekolah, karena oomnya tidak mau membiayai sekolahnya. Bahkan, kamarnya yang dulu berada di lantai atas, tidak bisa dikunjunginya lagi sejak kecelakaan. Dia hanya di tempatkan di sebuah kamar tamu, yang luasnya tidak begitu besar. Sangat jauh beda dengan kamarnya yang dulu.
“Juna, kerjakan PR gue dong!” seru Dimas, sepupu Arjuna yang sekarang menempati kamarnya.
Sejenak Arjuna memejamkan matanya sejenak, “Dim, gue kan sudah tidak sekolah lagi. Mana bisa gue kerjakan PR lo!”
“Jadi lo nolak permintaan gue? Eits, ini bukan permintaan, tapi perintah Juna! Setiap perintah yang keluar dari mulut gue, harus lo lakukan bagaimana pun caranya. Lagian lo dulu selalu juara kelas, masa kerjakan PR seperti ini tidak bisa, sih?”
“Ta-tapi, Dim. Gue benaran tidak bisa.”
Dimas tersenyum sinis. Dia berjalan mendekati Arjuna yang tengah duduk di kursi roda, “Juna, lo tidak mau kan, kalau laptop lo di sita sama bokap dan nyokap gue? Atau lebih parahnya lagi, gue bisa buat lo di pindahkan ke kamar pembantu yang lebih sempit. Mau?”
Arjuna terdiam, kepalanya tertunduk tidak berdaya. Jika dipindahkan ke kamar yang lebih sempit tidak masalah. Asal kamar mandi masih berada di dalam kamar itu. Tetapi, jika laptopnya di sita. Arjuna tidak mau. Karena hanya dengan laptop, dia bisa mengetahui dunia luar. Dia bisa belajar dan dia bisa berkomunikasi dengan teman-temannya.
“HEI! JANGAN MELAMUN! MAU ATAU KAGAK???” sentak Dimas.
“Ma-mau, Dim! Gue coba kerjakan ya?”
“Nah, gitu kan bagus! Jadi gue gak perlu repot-repot ngarang cerita untuk diadukan kepada papa atau mama! Yaaa, walau bagaimana pun lo masih di butuhkan di sini, Jun! Nanti kalau udah gak di butuhkan lagi, lo bakal pergi kok dengan tenang. Seperti keluarga lo yang pelit itu! Kita hanya menunggu lo cukup umur aja, biar bisa dapatin semuanya!” ujar Dimas santai.
Deg…
Jantung Arjuna seolah terhenti sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Ternyata dia dibiarkan seperti ini, karena mereka semua masih memerlukan dirinya untuk menguasai sepenuhnya harta papanya. Mungkin jika tanda tangan dan kehadirannya tidak berguna lagi, bisa saja dirinya sudah di buang ke pinggir jalan atau juga nyawanya di hilangkan begitu saja.
“Jun, klo mau tahu sesuatu tidak? Sini gue bisikin!” ujar Dimas mendekati wajahnya ke telinga Arjuna. “Ternyata buat keluarga pelit lo mati itu kagak susah ya? Hanya melakukan satu hal saja, sudah buat mereka kecelakaan dan mati! Cuma yang gue sesali kenapa lo kagak ikutan mati sih? Eh, tapi jangan dulu deh lo mati! Kalau lo mati, semua harta kekayaan keluarga lo larinya ke panti asuhan dan panti jompo. Sia-sia dong kerja ringan gue dan keluarga gue!” bisik Dimas.
“Dimaaaasss…” desis Arjuna mengepalkan tangannya kuat.
“Ya, gue di sini, Juna. Lo kenapa, mau marah? Mau benci? Mau mukul gue? Emang bisa dengan kaki lo yang lumpuh itu? Sini merangkak kearah gue,” sahut Dimas melangkah mundur menjauh dari Arjuna. “Gak bisa kan? Jadi, kalau lo gak mau menderita, lo harus turuti semua perintah gue. Jangan lupa kerjaian PR gue ya? Nanti malam gue ambil. Awas saja kalau itu belum selesai!”
Dimas keluar dari kamar Arjuna. Dia sama sekali tidak peduli jika saudara sepupunya merasa emosi karena mendengar perkataannya. Lagian, Arjuna tidak akan lama lagi berada di rumah itu. Hanya dua tahun lagi, setelah itu dia akan di tendang jauh dari rumah.
Sepeninggalan Dimas, Arjuna hanya bisa terdiam menahan amarah dalam hatinya. Selama beberapa tahun ini, dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian orangtua dan kakaknya. Dia selalu berandai-andai, jika dirinya tidak meminta makan di luar. Mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Dan papa, mama serta kakaknya masih hidup sekarang.
Tapi, kenyataannya lebih sakit dari kata andainya itu. Kecelakaan yang merenggut keluarganya itu mungkin di sebabkan oleh orang terdekat, yaitu keluarga oom-nya sendiri.
“Gak, gue gak boleh nyerah. Gue harus cari dan kumpulkan bukti-bukti! Gue akan membuat mereka semua mendapatkan balasan setimpal!” gumam Arjuna.
Dia memutuskan untuk tidak menjadi orang yang lemah walau kakinya lumpuh. Orangtua dan kakaknya harus menerima keadilan jika memang kematian mereka di sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang.
Saat memikirkan itu semua, mata Arjuna teralih pada sebuah buku yang tergeletak di samping laptopnya. Buku PR yang harus dia kerjakan dan harus selesai sebelum malam tiba. Tidak ingin membuang waktu, Arjuna mendorong kursi rodanya menuju meja belajarnya.
“Soal seperti ini saja tidak bisa!” lirih Arjuna.
Arjuna mengerjakan soal matematika itu dengan serius. Namun, dia berhenti pada soal nomor 4.
“Kenapa gue harus jawab dengan benar? Manfaat untuk gue apa? Kagak ada kan? Mendingan gue jawab asal-asalan saja!” gumam Arjuna.
Untuk soal nomor 4 dan seterusnya, Arjuna jawab asal-asalan. Yang penting selesai tepat waktu dan untuk salah serta benarnya itu masalah Dimas sendiri.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
“JUNA!!! ARJUNA!!! LO DIMANA? KELUAR!!!”
Seorang wanita berusia 40 tahunan keluar dari sebuah kamar. Dia menatap anak sulungnya yang baru pulang sekolah dengan wajah merah padam.
“Dimas, kamu kenapa nak?”
“Arjuna, ma! Dia ngerjain aku?”
“Ngerjain kamu bagaimana? Dia kan tidak pernah keluar rumah. Bagaimana bisa ngerjain kamu?”
“Mama tidak ngerti!” sungut Dimas. Dia menunjuk lengannya dan wajahnya yang merah. Bukan hanya merah karena emosi saja. Tetapi merah karena paparan sinar matahari. “Karena dia, aku di jemur di lapangan, ma. Mama tahu sendiri, hari ini panas sekali kan?”
“Jadi kamu di jemur di lapangan karena Arjuna?”
“Iya, ma. Karena jawab PR aku asal-asalan. Aku dapat nilai rendah, makanya aku di jemur. Aku kepanasan, ma. Aku juga malu di tonton murid lain!” adu Dimas.
“Sialan tuh Arjuna! Bukannya dia pintar, kok bisa dia jawab asal-asalan kayak gitu?”
Kepala Dimas menggeleng, “mana aku tahu, ma. Mungkin dia kesal sama aku, karena kamarnya aku ambil!”
“Ya, tidak bisa gitu sayang! Dia kan lumpuh, mana bisa naik turun tangga. Gila aja tuh, Juna. Sudah dikasih hati malah minta jantung!” sungut Marisa, mamanya Dimas sekaligus istri dari oom-nya Arjuna. “Sudah, kamu masuk ke kamar! Biar mama yang urus Arjuna!”
“Bener, ma? Makasih ya, ma. Mama emang mama yang terbaik!” ucap Dimas mengecup pipi mamanya sekilas, sebelum akhirnya dia naik ke lantai dua masuk ke kamar milik Arjuna.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Byuuurrr…
Satu gayung air membasahi wajah Arjuna yang baru saja terlelap.
“Bagus ya? Anak saya di hukum panas-panasan, kamu malah enak-enakan tidur di sini!” seru tante Marisa dengan tangan berkacak di pinggang.
Arjuna terbangun dengan keadaan bingung. Dia menatap sekelilingnya yang tampak asing bagi dirinya. Belum lagi di dekatnya berdiri wanita asing yang sama sekali tidak dia kenali.
“Hei, malah melongo! Bangun kamu!!!”
“Anda siapa? Kenapa saya ada di sini?” tanya Juna dengan wajah bingung.
Tante Marisa semakin merasa kesal dengan keponakannya, dia berjalan mendekati dan hendak memberikan keponakannya pelajaran.
“ARJUNAAAAA!!!” desis Tante Marisa sambil mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Arjuna.
“Anda mau mukul saya? Anda siapa?”
“Ka-kamu beneran lupa dengan tante? Kamu Arjuna kan?”
Dahi Arjuna mengernyit, “Arjuna? Saya Arjuno!”
“Hah? Sinting kamu!” seru tante Marisa keluar dari kamar Arjuna yang merasa jika keponakan suaminya iru tengah berakting. Padahal tanpa dia tahu, jika memang ada hal yang aneh pada Arjuna. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Arjuna kembali seperti biasa, bukan seperti Arjuno. Dia yang cukup kesal dengan tingkah keponakan dari suaminya, mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu yang bisa memberikan pelajaran kepada Arjuna tanpa disadari oleh pemuda lumpuh itu.
Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan
Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men
Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak
Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny
“ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h
Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.“Tapi, ma…”Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.“Juna, senang sayang? Mau k







