Share

I'm Arjuno, Not Arjuna
I'm Arjuno, Not Arjuna
Author: Rhiana

BAB 1

Author: Rhiana
last update publish date: 2026-07-01 21:35:30

Arjuna Danajaya, seorang pemuda yang malang. Dia harus kehilangan kedua orangtua dan kakak perempuannya pada kecelakaan tiga tahun silam. Bukan hanya kehilangan orang-orang terdekatnya, Arjuna harus kehilangan kemampuannya untuk berjalan. Dia dinyatakan lumpuh oleh dokter, karena saat kecelakaan kaki terjepit. Sebenarnya dia bisa saja kembali pulih, asal rutin melakukan pengobatan atau terapi.

Namun sayangnya, Arjuna tidak bisa melakukan pengobatan atau terapi. Karena dirinya sekarang diasuh oleh adek sang papa. Dan semua harta kekayaan yang dimiliki papa dan keluarganya, dikuasi oleh oomnya yang bernama  Joni.

Jadi, Arjuna yang masih berusia remaja itu hanya bisa menggunakan kursi roda. Dia sama sekalitidak pernah keluar rumah. Bahkan dia pun terpaksa putus sekolah, karena oomnya tidak mau membiayai sekolahnya. Bahkan, kamarnya yang dulu berada di lantai atas, tidak bisa dikunjunginya lagi sejak kecelakaan. Dia hanya di tempatkan di sebuah kamar tamu, yang luasnya tidak begitu besar. Sangat jauh beda dengan kamarnya yang dulu.

“Juna, kerjakan PR gue dong!” seru Dimas, sepupu Arjuna yang sekarang menempati kamarnya.

Sejenak Arjuna memejamkan matanya sejenak, “Dim, gue kan sudah tidak sekolah lagi. Mana bisa gue kerjakan PR lo!”

“Jadi lo nolak permintaan gue? Eits, ini bukan permintaan, tapi perintah Juna! Setiap perintah yang keluar dari mulut gue, harus lo lakukan bagaimana pun caranya. Lagian lo dulu selalu juara kelas, masa kerjakan PR seperti ini tidak bisa, sih?”

“Ta-tapi, Dim. Gue benaran tidak bisa.”

Dimas tersenyum sinis. Dia berjalan mendekati Arjuna yang tengah duduk di kursi roda, “Juna, lo tidak mau kan, kalau laptop lo di sita sama bokap dan nyokap gue? Atau lebih parahnya lagi, gue bisa buat lo  di pindahkan ke kamar pembantu yang lebih sempit. Mau?”

Arjuna terdiam, kepalanya tertunduk tidak berdaya. Jika dipindahkan ke kamar yang lebih sempit tidak masalah. Asal kamar mandi masih berada di dalam kamar itu. Tetapi, jika laptopnya di sita. Arjuna tidak mau. Karena hanya dengan laptop, dia bisa mengetahui dunia luar. Dia bisa belajar dan dia bisa berkomunikasi dengan teman-temannya.

“HEI! JANGAN MELAMUN! MAU ATAU KAGAK???” sentak Dimas.

“Ma-mau, Dim! Gue  coba kerjakan ya?”

“Nah, gitu kan bagus! Jadi gue gak perlu repot-repot ngarang cerita untuk diadukan kepada papa atau mama! Yaaa, walau bagaimana pun lo masih di butuhkan di sini, Jun! Nanti kalau udah gak di butuhkan lagi, lo bakal pergi kok dengan tenang. Seperti keluarga lo yang pelit itu! Kita hanya menunggu lo cukup umur aja, biar bisa dapatin semuanya!” ujar Dimas santai.

Deg…

Jantung Arjuna seolah terhenti sejenak mendengar apa yang dikatakan oleh Dimas. Ternyata dia dibiarkan seperti ini, karena mereka semua masih memerlukan dirinya untuk menguasai sepenuhnya harta papanya. Mungkin jika tanda tangan dan kehadirannya tidak berguna lagi, bisa saja dirinya sudah di buang ke pinggir jalan atau juga nyawanya di hilangkan begitu saja.

“Jun, klo mau tahu sesuatu tidak? Sini gue bisikin!” ujar Dimas mendekati wajahnya ke telinga Arjuna. “Ternyata buat keluarga pelit lo mati itu kagak  susah ya? Hanya melakukan satu hal saja, sudah buat mereka kecelakaan dan mati!  Cuma yang gue sesali kenapa lo kagak ikutan mati sih? Eh, tapi jangan dulu deh lo mati! Kalau lo mati, semua harta kekayaan keluarga lo larinya ke panti asuhan dan panti jompo. Sia-sia dong kerja ringan gue dan keluarga gue!” bisik Dimas.

“Dimaaaasss…” desis Arjuna mengepalkan tangannya kuat.

“Ya, gue di sini, Juna. Lo kenapa, mau marah? Mau benci? Mau mukul gue? Emang bisa dengan kaki lo yang lumpuh itu? Sini merangkak kearah gue,” sahut Dimas melangkah mundur menjauh dari Arjuna. “Gak bisa kan? Jadi, kalau lo gak mau menderita, lo harus turuti semua perintah gue.  Jangan lupa kerjaian PR gue ya? Nanti malam gue ambil. Awas saja kalau itu belum selesai!”

Dimas keluar dari kamar Arjuna. Dia sama sekali tidak peduli jika saudara sepupunya merasa emosi  karena mendengar perkataannya. Lagian, Arjuna tidak akan lama lagi berada di rumah itu. Hanya dua tahun lagi, setelah itu dia akan di tendang jauh dari rumah.

Sepeninggalan Dimas, Arjuna hanya bisa terdiam menahan amarah dalam hatinya. Selama beberapa tahun ini, dia menyalahkan dirinya sendiri  atas kematian orangtua dan kakaknya. Dia selalu berandai-andai, jika dirinya tidak meminta makan di luar. Mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Dan papa, mama serta kakaknya masih hidup sekarang.

Tapi, kenyataannya lebih sakit dari kata andainya itu. Kecelakaan yang merenggut keluarganya itu mungkin di sebabkan oleh orang terdekat, yaitu keluarga oom-nya sendiri.

“Gak, gue gak boleh nyerah. Gue harus cari dan kumpulkan bukti-bukti! Gue akan membuat mereka semua mendapatkan balasan setimpal!” gumam Arjuna.

Dia memutuskan untuk tidak menjadi orang yang lemah walau kakinya lumpuh. Orangtua dan kakaknya harus menerima keadilan jika memang kematian mereka di sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang.

Saat memikirkan itu semua, mata Arjuna teralih pada sebuah buku yang tergeletak di samping laptopnya. Buku PR yang harus dia kerjakan dan harus selesai sebelum malam tiba. Tidak ingin membuang waktu, Arjuna mendorong kursi rodanya menuju meja belajarnya.

“Soal seperti ini saja tidak bisa!” lirih Arjuna.

Arjuna mengerjakan soal matematika itu dengan serius. Namun, dia berhenti pada soal nomor 4.

“Kenapa gue harus jawab dengan benar? Manfaat untuk gue apa? Kagak ada kan? Mendingan gue jawab asal-asalan saja!” gumam Arjuna.

Untuk soal nomor 4 dan seterusnya, Arjuna jawab asal-asalan. Yang penting selesai tepat waktu dan untuk salah serta benarnya itu masalah Dimas sendiri.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“JUNA!!! ARJUNA!!! LO DIMANA? KELUAR!!!”

Seorang wanita berusia 40 tahunan keluar dari sebuah kamar. Dia menatap anak sulungnya yang baru pulang sekolah dengan wajah merah padam.

“Dimas, kamu kenapa nak?”

“Arjuna, ma! Dia ngerjain aku?”

“Ngerjain kamu bagaimana? Dia kan tidak pernah keluar rumah. Bagaimana bisa ngerjain kamu?”

“Mama tidak ngerti!” sungut Dimas. Dia menunjuk lengannya dan wajahnya yang merah. Bukan hanya merah karena emosi saja. Tetapi merah karena paparan sinar matahari. “Karena dia, aku di jemur di lapangan, ma. Mama tahu sendiri, hari ini panas sekali kan?”

“Jadi kamu di jemur di lapangan karena Arjuna?”

“Iya, ma. Karena jawab PR aku asal-asalan. Aku dapat nilai rendah, makanya aku di jemur. Aku kepanasan, ma. Aku juga malu di tonton murid lain!” adu Dimas.

“Sialan tuh Arjuna! Bukannya dia pintar, kok bisa dia jawab asal-asalan kayak gitu?”

Kepala Dimas menggeleng, “mana aku tahu, ma. Mungkin dia kesal sama aku, karena kamarnya aku ambil!”

“Ya, tidak bisa gitu sayang! Dia kan lumpuh, mana bisa naik turun tangga. Gila aja tuh, Juna. Sudah dikasih hati malah minta jantung!” sungut Marisa, mamanya Dimas sekaligus istri dari oom-nya Arjuna. “Sudah, kamu masuk ke kamar! Biar mama yang urus Arjuna!”

“Bener, ma? Makasih ya, ma. Mama emang mama yang terbaik!” ucap Dimas mengecup pipi mamanya sekilas, sebelum akhirnya dia naik ke lantai dua masuk ke kamar milik Arjuna.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Byuuurrr…

Satu gayung air membasahi wajah Arjuna yang baru saja terlelap.

“Bagus ya? Anak saya di hukum panas-panasan, kamu malah enak-enakan tidur di sini!” seru tante Marisa dengan tangan berkacak di pinggang.

Arjuna terbangun dengan keadaan bingung. Dia menatap sekelilingnya yang tampak asing bagi dirinya. Belum lagi di dekatnya berdiri wanita asing yang sama sekali tidak dia kenali.

“Hei, malah melongo! Bangun kamu!!!”

“Anda siapa? Kenapa saya ada di sini?” tanya Juna dengan wajah bingung.

Tante Marisa semakin merasa kesal dengan keponakannya, dia berjalan mendekati dan hendak memberikan keponakannya pelajaran.

“ARJUNAAAAA!!!” desis Tante Marisa sambil mencoba melepaskan tangannya dari cekalan Arjuna.

“Anda mau mukul saya? Anda siapa?”

“Ka-kamu beneran lupa dengan tante? Kamu Arjuna kan?”

Dahi Arjuna mengernyit, “Arjuna? Saya Arjuno!”

“Hah? Sinting kamu!” seru tante Marisa keluar dari kamar Arjuna yang merasa jika keponakan suaminya iru tengah berakting. Padahal tanpa dia tahu, jika memang ada hal yang aneh pada Arjuna. Namun itu tidak berlangsung lama, karena Arjuna kembali seperti biasa, bukan seperti Arjuno. Dia yang cukup kesal dengan tingkah keponakan dari suaminya, mulai merencanakan sesuatu. Sesuatu yang bisa memberikan pelajaran kepada Arjuna tanpa disadari oleh pemuda lumpuh itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 25

    Arga kembali ke kamarnya dengan hati penuh rasa heran dan bingung. Di satu sisi dia merasa pemuda yang bernama Arjuna itu sangat mirip dengan kakak angkatnya. Akan tetapi di sisi lain, dia tetap percaya kalau pemuda itu hanya sekedar pemuda yang beruntung. Hanya karena memiliki nama yang sama dengan nama kakak angkatnya, cuma beda satu huruf diakhir namanya.“Tetapi kenapa dia tahu kalau aku jadi ketua muda? Apa mungkin dia cari tahu semuanya sebelum masuk ke keluarga Dergantara?” gumam Arga.“Tidak mungkin, gue yakin dia hanya bocah sombong yang kebetulan tahu tentang bang Juno. Iya, itu kemungkinan yang masuk akal! Dan bisa juga dia salah satu bawahan bang Juno yang memang mau menjatuhkan gue!”“Oke, Arga! Lo harus tenang. Lo bisa menyingkirkan tuh bocah dengan halus. Seperti lo singkirkan Arjuno!”Laki-laki muda terus berbicara sendiri tanpa henti. Merencanakan sesuatu kemudian menggantinya, begitu terus sampai waktu memasuki dini hari.“Sial, karena terlalu semangat gue sampai lup

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 24

    Bik Siti dan para pekerja lainnya tidak ada yang keluar dari kamar mereka. Sesuai dengan titah dari Yoza dan Arman, jika mendengar suara berisik dan kehebohan, jangan ada yang keluar dari kamar. Karena lehebohan itu terjadi karena sebagai bentuk pembalasan yang Arjuna lakukan untuk melindungi mereka semua.Awalnya, keluar kecil Joni tidur dengan nyenyak dan merasa penuh kemenangan karena Arjuna memilih untuk tidak pulang. Namun kenyenyakan tidur mereka tidak berlangsung lama. Rasa gatal dan sakit mulai terasa. Membuat mereka semua harus membuka matanya.Dimas adalah orang yang pertama yang merasakan hal itu. Ketika dia terbangung, dia melihat tubuhnya penuh dengan bentol yang berwarna merah. Rasanya jangan ditanya, pasti gatal bercampur sakit. Tidak tahan dengan apa yang dia rasakan, Dimas pun berteriak kencang. Dia memanggil orangtuanya, berharap orangtuanya bisa membantunya. Tanpa dia tahu kalau orangtua serta adeknya merasakan hal yang sama.Bahkan adeknya yang belum sepenuhnya sem

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 23

    Meja makan yang jarang terisi penuh, sekarang penuh dengan berbagai macam makanan. Sudah lama tidak terjadi, dan terakhir terjadi saat keluarga Dergantara mengangakat Arga sebagai seorang anak. Dan sekarang terjadi lagi, saat pengakatan Arjuna menjadi anak angkat keluarga Dergantara.“Ma, ada apa ini? Tumben mama masak banyak!” seru Arga terkejut melihat meja makan. Saat dia keluar dan bersantai di teras, meja makan itu masih kosong. Tetapi saat dia masuk sambil mengikuti pemuda yang mengaku sebagai Arjuna itu, meja makan sudah penuh.“Ini syukuran untuk nyambut adek kamu, Ga. Sekarang Arjuna akan menjadi adek kamu.”“Arjuna…”“Iya, Arjuna. Itu dia yang ada di dekat kamu!” tunjuk mama Mayang kearah Arjuna yang berdiri tidak jauh dari Arga. “Arjuna, mama boleh minta satu permintaan tidak? Mungkin terkesan berat dan akan menyinggung kamu. Tapi, boleh gak kalau mama panggil kamu dengan nama Arjuno?”“Mama!!!” seru papa Sanusi serta Arga secara bersamaan.Bibir Arjuna alias Arjuno tersen

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 22

    Kamar yang sekarang sudah kembali ditempati oleh Arjuno, telah tidak berbentuk lagi. Semuanya menjadi berantakan. Dan itu ulah satu orang, yaitu Dimas.Disaat Arjuno keluar, Yoza dan juga Arman keluar. Pemuda itu memaksa masuk ke dalam kamar itu. Bik Siti, mang Ujang serta para pekerja lain sudah mencaoba untuk menghentikannya. Namun usaha mereka gagal. Dimas mengeluarkan ancaman, yang langsung membuat mereka semua terdiam dan hanya bisa melihat perbuatan Dimas.“Ini akibatnya sudah berani mengganggu gue! Kalau kalian masih tetap ingin aman, DIAM! Jangan banyak bacot. Paham!!!”“Pa-paham, tuan.”“Bagus! Pergi dari sini, kerjakan apa yang menjadi tugas kalian! Ingat jalan sekali-kali kalian mengadu. Ancaman gue kagak main-main!” seru Dimas sambil menunjuk kearah para perkerja di rumahnya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bik Siti dan pekerja lainnya berbalik badan meninggalkan Dimas yang sedang menatap puas kamar Arjuno. Jika beberapa waktu lalu, Arjuno menghancurkan barang-barangny

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 21

    Arjuno tidak bisa menolak permintaan tante Mayang, yang sekarang tidak mau lagi di panggil tante. Dia sekarang mau dipanggil dengan sebutan mama. Seperti Arjuno dahulu menuju memanggilnya.Mama Mayang mengajaknya berjalan menuju taman yang berada tidak jauh dari restoran. Mama mayang tidak peduli dengan panas matahari yang menyengat kulitnya. Dia percaya, jika di taman itu akan terasa sejuk. Dan di sana juga dia bisa menilai pemuda yang bernama Arjuna.Ketika masuk arean taman, mama Mayang melakukan sesuatu yang tidak terduga. Sehingga tubuhnya tampak oleng, dan hendak jatuh ke tanah. Namun, Arjuno menahan tubuh mama Mayang. Hingga tidak sampai jatuh menyentuh tanah.“Mama bisa hati-hati gak sih? Kalau mama terluka, siapa yang disalahkan? Pasti aku, ma? Mama tahu kan, gimana papa protektifnya sama mama. Sedangkan sama aku aja, papa gak peduli. Dia hanya berikan aku uang, uang dan uang. Sedangkan sama mama, papa selalu perhatian!” seru Arjuno tanpa sadar.“Arjuno…” lirih mama Mayang.

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 20

    Yoza menepati janjinya kepada papanya Arjuno. Sekarang dia dan Arjuno yang berada di dalam raga Arjuno, tengah melesat menuju kantor papanya. Jantung pemuda itu berdetak cepat. Sudah sangat lama dia tidak melihat papanya secara langsung. Selama ini, dia berkomunikasi dengan papa serta mamanya melalui panggilan video. Namun, dia baru bisa melihat dan bertemu sang papa setelah dirinya meninggal atau setelah dirinya berada di tubuh orang lain.“Za, nyokap dan bokap gue sehat kan? Mereka baik-baik saja kan? Si bajingan tak tahu diri itu kagak nyakiti mereka kan? Waktu lo ke rumah gue, bajingan itu ada gak? Lo sempat masuk ke kamar gue gak? Lo sempat nanyain masalah pesan yang di kirim sama bajingan itu gak? Lo…”“Jun! Dari kemaren gue pulang, hingga sekarang. Lo udah ratusan kali nanya hal yang sama, dan gue udah jawab ratusan kali pula. Kagak usah lo tanya lagi lah! Sumpah, gue udah muak!” potong Yoza melirik kesal kearah sahabatnya.“Gue hanya mastikan doang, Za!”“Kalau hanya mastikan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status