MasukTengah malam saat semuanya telah terlelap tidur, Arjuno melangkah keluar kamar. Langkahnya tertuju pada kamar yang ada di sebelah kamarnya itu. Kamar seorang gadis yang sangat belia, yang selalu dimanja oleh kedua orangtuanya.Tanpa keraguan dan ketakutan sedikitpun, Arjuno mencoba membuka pintu kamar tersebut. Sesuai dugaannya, pintu tersebut terkunci dari dalam. Pastinya orangtua serta abang si gadis itu telah memperingatinya.“Ck, dikunci? Percuma, tetap masih bisa gue buka!” desis Arjuno.Dengan menggunakan sebuah kawat kecil, dan layaknya sang professional. Arjuno berhasil membuka pintu yang menghalangi langkahnya. Saat pintu tersebut terbuka, tampak seorang gadis tertidur dengan lelapnya. Layaknya gadis remaja pada umumnya, dia menggunakan piyama bergambar kartun yang terlihat menggemaskan. Namun, tidak di mata Arjuno. Baginya, gadis itu seperti ulat bulu yang harus dijauhi dan juga di basmi sampai habis.“Bocah lemah ini udah gak butuh obat sialan ini. Tapi, gadis kecil ini pas
Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan
Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men
Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak
Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny
“ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h







