LOGINDimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.
“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.
“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”
“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”
Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan sejatuh-jatuhnya. Lagian papa dan mama kan lagi siapkan berkas untuk mengalihkan semua harta kekayaan si lumpuh itu.”
“Ooh, ya udah kalau gitu! Ikhlasin aja kali ya bang!”
“Kagak lah! Gue gak bakal ikhlas sampai kapan pun. Kamar itu harus milik gue seutuhnya. Dia hanya bisa menempati beberapa hari saja,” sahut Dimas cepat. “Atau gini aja, dek. Gue tidur di kamar lo ya? Dan lo tidur di kamar tamu atau kamar lain. Gimana?”
“No, No, No! Enak aja lo ngomong kayak gitu! Gak mau gue!”
“Dek, emang lo gak takut bersebelahan kamar dengan si Lumpuh? Kalau dia tiba-tiba masuk ke kamar lo gimana?”
Cantika tersenyum penuh arti, “gak usah pakai alasan yang kayak gitu lo bang. Gue tahu kenapa lo gak mau pindah dari lantai dua. Lo mau lihat mbak Nias kan? Lo suka sama mbak Nias, tapi gak berani dekati dia kan?”
“Ish, kagak lah! Gue hanya…”
Cantika meninggalkan Dimas, sebelum kakak laki-lakinya menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu tidak peduli dengan peringatan atau kata-kata yang diucapkan oleh kakaknya. Lagian tidak mungkin saudara sepupunya bisa masuk ke kamarnya. Untuk berjalan saja, si Lumpuh itu sudah kesusahan.
Tanpa disadari oleh dua kakak beradik yang licik dan jahat. Apa yang mereka bicarakan di dengar oleh Arjuno. Jika raga itu masih ditempati Arjuna, mungkin apa yang mereka tidak dapat didengar, karena pendengaran Arjuna tidak setajam Arjuno. Sedangkan Arjuno mendengar dengan sangat jelas.
“Cih, jadi lo punya gebetan. Kebetulan lo selalu mengamil apa yang menjadi milik bocah lemah ini. Maka gue akan ambil apa yang lo punya. Termasuk cewek yang lo suka!” gumam Arjuno menatap Dimas dari lantai dua.
Dimas yang merasa di tatap oleh seseorang, mendongakkan kepalanya. Dia melihat Arjuna tengah menatapnya dengan tatapan mengejek. Membuat dia semakin merasa kesal dengan saudara sepupunya.
‘Tunggu sebentar lagi, Juna. Lo pasti gak akan bisa ngapa-ngapain lagi. Bukannya sudah saatnya lo diperiksa dan minum obat!’ desis Dimas dalam hati.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Malam hari, sesuai dengan permintaan suaminya. Marisa memanggil dokter biasanya. Dia juga sudah kong kalikong dengan sang dokter untuk meminta obat biasanya.
“Tapi, bu. Ini resikonya sangat besar. Jika ketahuan, ijin prkatek saya bisa di cabut. Dan jika itu terjadi, saya tidak bisa jadi dokter lagi. Saya juga akan kehilangan perkerjaan.”
Marisa menatap dokter tersebut sambil tersenyum penuh arti. “Dokter tenang saja, jika nanti dokter kehilangan perkerjaan dokter, suami saya akan menyediakan satu posisi di kantor untuk dokter. Selain itu, sikakan dokter cek ponsel. Saya sudah mentrasfer bayaran yang lebih dari cukup dari gaji seorang dokter.”
Tanpa diminta dua kali, dokter tersebut memeriksa ponselnya. Bibirnya tersenyum lebar.
“Kalau seperti ini, hati saya menjadi tenang,” ujar dokter tersebut. “Ayoo, kita periksa Arjuna, bu. Lebih cepat. lebih baik. Agar obatnya bisa langsung berkerja.”
Di dalam kamar yang belum semuanya di renovasi, Arjuno terbaring. Dia pura-pura lemah ketika mengetahui jika ada dokter yang rutin memeriksa dirinya setiap minggunya. Dia ingin tahu apa yang dilakukan oleh dokter tersebut mengetahui tubuhnya lemas.
“Kondisi Arjuna lemas, mungkin efek dari yang kemaren. Tidak apa-apa, setelah istirahat cukup dan minum vitamin. Nanti tidak akan lemas lagi,” ujar dokter laki-laki itu setelah memeriksa tubuh Arjuna.
“Terus apakah kaki saya bisa sembuh dok? Dokter hampir tiap minggu periksa dan beri saya obat. Tetapi, kenapa saya tidak ada perkembangan? Kaki saya kenapa belum bisa digerakan?” tanya Arjuno menatap lekat dokter laki-laki itu.
Robin, nama dokter laki-laki yang selalu diperkerjakan oleh Marisa dan suaminya langsung diam dan tidak menjawab langsung. Dia bukan dokter syaraf atau dokter ortopedi. Dia hanya dokter umum yang menangangi pasien secara umum saja. Dia belum pernah menanganin kasus yang berat seperti Arjuna. Dan untuk mendapatkan obat yang dipesan oleh Marisa, dia meminta bantuan temannya.
“Dok… Dokter! Kok dokter bengong? Kenapa tidak menjawab pertanyaan saya? Saya capek kalau harus duduk di kursi roda terus, dok. Saya mau bisa jalan. Apakah ada kemungkinan saya bisa jalan?”
Dokter Robin menatap kearah Joni dan Marisa secara bergantian. Lalu kembali menatap Arjuna. Dia menganggukkan kepalanya.
“Bisa. Anda tidak akan lagi duduk di kursi roda kalau rajin minum obat dan vitamin dari saya. Saya jamin itu, Arjuna!”
Mata Arjuno tampak berbinar. Namun dalam hatinya, dia penasaran dengan obat dan vitamin yang akan diberikan oleh dokter Robin itu. Jika memang dokter tersebut memberikan obat yang tepat, kenapa bocah lemah ini terlalu lama lumpuh. Serta bocah lemah ini tidak pernah mengikuti terapi berjalan, sebagai salah satu cara untuk sembuh.
“Mana obatnya, dok. Saya mau, saya akan minum teratur!” seru Arjuno.
“Obatnya akan di tembus oleh tante kamu. Jadi, sekarang kamu makan. Dan obatnya sudah sampai, kamu langsung minum. Oke, boy?”
Kepala Arjuno mengangguk semangat. “Siap, dokter!”
Sepeninggalan ketiga orang dewasa itu, Arjuno bangkit dan duduk diatas ranjang. Bibirnya menyeringai sinis. Dia tahu jelas apa yang dilakukan oleh dokter itu tadi. Dokter tadi hanya memeriksa tubuh dan suhunya saja. Sama sekali tidak menyentuh kakinya. Bagaimana mungkin dokter itu merasa sangat yakin jika bisa menyembuhkan kakinya.
“Den…”
Suara lembut dari wanita paruh baya membuat Arjuno menoleh keasal suara. Dari pintu masuk, wanita paruh baya yang lebih kenal dengan Bik Siti membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan juga beberapa botol obat yang sudah tidak ada namanya. Hanya ada aturan makannya saja.
“Ini makanannya, Den.”
“Terimakasih, bik.”
“Den, obatnya…”
“Makanannya aman kan, bik? Kalau aman, aku akan makan sekarang!”
Bik Siti menganggukkan kepalanya. Tetapi matanya terus menatap dua botol obat dengan gelisah.
“Ada apa, bik? Ada sesuatu yang mau bilang?”
Kepala bik Siti menggeleng kuat. “Gak, den. Bibik permisi ya, den? Selamat makan!”
Arjuno menganggukkan kepalanya. Dia terus menikmati makannya dengan lahap. Dan memang dia benar-benar terasa sangat lapar. Karena sejak tadi siang, tidak ada yang mengantar makan kepada dirinya.
Dua botol yang sekarang berada di tangannya, terus dia perhatikan. Dia pun meminum sesuai dengan aturan yang ada di botol tersebut. Lalu kembali bersandar disandaran tempat tidur.
Cuih…
“Sialan! Makan dan minum obat saja harus diawasi. Emang obat apa sih ini?” sungut Arjuno kembali mengeluarkan obat yang dia simpan di dalam mulut. Dia mempunyai teknik sendiri, agar obat itu tetap utuh dan tidak menyentuh lidahnya.
Mata Arjuno melotot sempura mengetahui jenis obat yang diberikan kepada dirinya.
“Sialan! Wajar saja si lemah ini kagak pernah sembuh. Dan kalau terus-terusan minum obat kayak gini, bukannya sembuh malah dia akan terbaring di atas kasur tanpa bisa ngapa-ngapain! Emang jahat banget keluarga bajingan itu!” maki Arjuno.
Teringat akan sesuatu, bibir Arjuno tersenyum lebar. “Kalau kalian udah buat si lemah ini lumpuh, maka gue akan buat salah satu anak kalian lumpuh juga. Tunggu kejutan dari gue!” gumam Arjuno.
Arga kembali ke kamarnya dengan hati penuh rasa heran dan bingung. Di satu sisi dia merasa pemuda yang bernama Arjuna itu sangat mirip dengan kakak angkatnya. Akan tetapi di sisi lain, dia tetap percaya kalau pemuda itu hanya sekedar pemuda yang beruntung. Hanya karena memiliki nama yang sama dengan nama kakak angkatnya, cuma beda satu huruf diakhir namanya.“Tetapi kenapa dia tahu kalau aku jadi ketua muda? Apa mungkin dia cari tahu semuanya sebelum masuk ke keluarga Dergantara?” gumam Arga.“Tidak mungkin, gue yakin dia hanya bocah sombong yang kebetulan tahu tentang bang Juno. Iya, itu kemungkinan yang masuk akal! Dan bisa juga dia salah satu bawahan bang Juno yang memang mau menjatuhkan gue!”“Oke, Arga! Lo harus tenang. Lo bisa menyingkirkan tuh bocah dengan halus. Seperti lo singkirkan Arjuno!”Laki-laki muda terus berbicara sendiri tanpa henti. Merencanakan sesuatu kemudian menggantinya, begitu terus sampai waktu memasuki dini hari.“Sial, karena terlalu semangat gue sampai lup
Bik Siti dan para pekerja lainnya tidak ada yang keluar dari kamar mereka. Sesuai dengan titah dari Yoza dan Arman, jika mendengar suara berisik dan kehebohan, jangan ada yang keluar dari kamar. Karena lehebohan itu terjadi karena sebagai bentuk pembalasan yang Arjuna lakukan untuk melindungi mereka semua.Awalnya, keluar kecil Joni tidur dengan nyenyak dan merasa penuh kemenangan karena Arjuna memilih untuk tidak pulang. Namun kenyenyakan tidur mereka tidak berlangsung lama. Rasa gatal dan sakit mulai terasa. Membuat mereka semua harus membuka matanya.Dimas adalah orang yang pertama yang merasakan hal itu. Ketika dia terbangung, dia melihat tubuhnya penuh dengan bentol yang berwarna merah. Rasanya jangan ditanya, pasti gatal bercampur sakit. Tidak tahan dengan apa yang dia rasakan, Dimas pun berteriak kencang. Dia memanggil orangtuanya, berharap orangtuanya bisa membantunya. Tanpa dia tahu kalau orangtua serta adeknya merasakan hal yang sama.Bahkan adeknya yang belum sepenuhnya sem
Meja makan yang jarang terisi penuh, sekarang penuh dengan berbagai macam makanan. Sudah lama tidak terjadi, dan terakhir terjadi saat keluarga Dergantara mengangakat Arga sebagai seorang anak. Dan sekarang terjadi lagi, saat pengakatan Arjuna menjadi anak angkat keluarga Dergantara.“Ma, ada apa ini? Tumben mama masak banyak!” seru Arga terkejut melihat meja makan. Saat dia keluar dan bersantai di teras, meja makan itu masih kosong. Tetapi saat dia masuk sambil mengikuti pemuda yang mengaku sebagai Arjuna itu, meja makan sudah penuh.“Ini syukuran untuk nyambut adek kamu, Ga. Sekarang Arjuna akan menjadi adek kamu.”“Arjuna…”“Iya, Arjuna. Itu dia yang ada di dekat kamu!” tunjuk mama Mayang kearah Arjuna yang berdiri tidak jauh dari Arga. “Arjuna, mama boleh minta satu permintaan tidak? Mungkin terkesan berat dan akan menyinggung kamu. Tapi, boleh gak kalau mama panggil kamu dengan nama Arjuno?”“Mama!!!” seru papa Sanusi serta Arga secara bersamaan.Bibir Arjuna alias Arjuno tersen
Kamar yang sekarang sudah kembali ditempati oleh Arjuno, telah tidak berbentuk lagi. Semuanya menjadi berantakan. Dan itu ulah satu orang, yaitu Dimas.Disaat Arjuno keluar, Yoza dan juga Arman keluar. Pemuda itu memaksa masuk ke dalam kamar itu. Bik Siti, mang Ujang serta para pekerja lain sudah mencaoba untuk menghentikannya. Namun usaha mereka gagal. Dimas mengeluarkan ancaman, yang langsung membuat mereka semua terdiam dan hanya bisa melihat perbuatan Dimas.“Ini akibatnya sudah berani mengganggu gue! Kalau kalian masih tetap ingin aman, DIAM! Jangan banyak bacot. Paham!!!”“Pa-paham, tuan.”“Bagus! Pergi dari sini, kerjakan apa yang menjadi tugas kalian! Ingat jalan sekali-kali kalian mengadu. Ancaman gue kagak main-main!” seru Dimas sambil menunjuk kearah para perkerja di rumahnya.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bik Siti dan pekerja lainnya berbalik badan meninggalkan Dimas yang sedang menatap puas kamar Arjuno. Jika beberapa waktu lalu, Arjuno menghancurkan barang-barangny
Arjuno tidak bisa menolak permintaan tante Mayang, yang sekarang tidak mau lagi di panggil tante. Dia sekarang mau dipanggil dengan sebutan mama. Seperti Arjuno dahulu menuju memanggilnya.Mama Mayang mengajaknya berjalan menuju taman yang berada tidak jauh dari restoran. Mama mayang tidak peduli dengan panas matahari yang menyengat kulitnya. Dia percaya, jika di taman itu akan terasa sejuk. Dan di sana juga dia bisa menilai pemuda yang bernama Arjuna.Ketika masuk arean taman, mama Mayang melakukan sesuatu yang tidak terduga. Sehingga tubuhnya tampak oleng, dan hendak jatuh ke tanah. Namun, Arjuno menahan tubuh mama Mayang. Hingga tidak sampai jatuh menyentuh tanah.“Mama bisa hati-hati gak sih? Kalau mama terluka, siapa yang disalahkan? Pasti aku, ma? Mama tahu kan, gimana papa protektifnya sama mama. Sedangkan sama aku aja, papa gak peduli. Dia hanya berikan aku uang, uang dan uang. Sedangkan sama mama, papa selalu perhatian!” seru Arjuno tanpa sadar.“Arjuno…” lirih mama Mayang.
Yoza menepati janjinya kepada papanya Arjuno. Sekarang dia dan Arjuno yang berada di dalam raga Arjuno, tengah melesat menuju kantor papanya. Jantung pemuda itu berdetak cepat. Sudah sangat lama dia tidak melihat papanya secara langsung. Selama ini, dia berkomunikasi dengan papa serta mamanya melalui panggilan video. Namun, dia baru bisa melihat dan bertemu sang papa setelah dirinya meninggal atau setelah dirinya berada di tubuh orang lain.“Za, nyokap dan bokap gue sehat kan? Mereka baik-baik saja kan? Si bajingan tak tahu diri itu kagak nyakiti mereka kan? Waktu lo ke rumah gue, bajingan itu ada gak? Lo sempat masuk ke kamar gue gak? Lo sempat nanyain masalah pesan yang di kirim sama bajingan itu gak? Lo…”“Jun! Dari kemaren gue pulang, hingga sekarang. Lo udah ratusan kali nanya hal yang sama, dan gue udah jawab ratusan kali pula. Kagak usah lo tanya lagi lah! Sumpah, gue udah muak!” potong Yoza melirik kesal kearah sahabatnya.“Gue hanya mastikan doang, Za!”“Kalau hanya mastikan,







