Home / Romansa / INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak) / Chapter 5 Batu Permata Di Lumpur Tropis

Share

Chapter 5 Batu Permata Di Lumpur Tropis

last update publish date: 2022-07-08 12:53:57

Hujan yang mengguyur Kabupaten Garut pagi itu bukan sekadar rintik, melainkan barisan air yang menghantam kaca jendela kamar Intan dengan irama yang mengancam.

Tinggal di wilayah Kabupaten Garut yang dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah, dengan iklim 9 bulan basah dan 3 bulan kering mau tak mau membuat Intan harus membiasakan diri dengan seringnya curah hujan yang turun walau dirinya termasuk orang yang takut dengan suara guntur.

Suara guntur yang sesekali menggelegar di balik Gunung Guntur membuat dadanya berdenyut nyeri. Baginya, petir bukan sekadar fenomena alam, melainkan lonceng kematian yang membawa memori kelam tentang bus pariwisata, pohon tumbang, dan kepergian Abah serta Nyai yang teramat mendadak.

Rasa kantuk sebetulnya baru saja datang, entah mengapa semalaman ia tak kunjung bisa memejamkan mata dan kini saat ingin memejamkan mata. Listrik yang padam membuat suasana lembah di bawah kaki Gunung Putri itu semakin mencekam. Dalam kegelapan yang pekat, Intan terjaga. Pikirannya melayang pada pagi yang sama beberapa tahun lalu—pagi saat Abraham datang bukan dengan kecupan, melainkan dengan map coklat berisi fitnah selingkuh yang menghancurkan dunianya.

​"Berharap pada manusia memang cara tercepat untuk patah hati," gumam Intan lirih di tengah kesunyian kamar.

​Ia meraba meja nakas, menyalakan senter ponsel untuk mencari botol minyak tawon. Udara dingin yang menusuk membuat keloid dan bekas luka di kakinya terasa linu, seolah tulang-tulangnya sedang diremas. Dengan telaten, ia mengurut kakinya sendiri. Kecelakaan itu meninggalkan bekas di fisiknya yang jelas akan selalu mengingatkan dirinya pada salah satu sisi kepahitan hidup masa lalu. Udara dingin yang menusuk memang sering kali membuat otot-otot kakinya dan mungkin juga tulangnya terasa nyeri serta linu. Hanya aroma rempah dari minyak itu yang menemaninya melewati sisa malam, sementara ingatannya memutar kembali wajah pengkhianatan sang adik, Melia, dan keangkuhan keluarga Sukoco.

Intan sudah lelah dan bosan untuk mengkonsumsi obat pereda nyeri belum lagi jika migren atau bahkan vertigo menyerang. Nah, untuk penyakit yang satu itu ia memang harus terpaksa minum obat jika tak ingin berakhir mengenaskan tergolek di ranjang dan bahkan untuk membuka mata saja sulit.

​Pukul delapan pagi, ketukan Risa di pintu membuyarkan lamunan Intan yang sempat terlelap sebentar. Bahkan keringat sudah membasahi lehernya karena kipas angin mati semalam. Intan melirik pada tangan yang masih setia menggenggam botol minyak tawon segera menutup benda itu dan menaruhnya di atas meja. Ia bersyukur tidak menumpahkan isinya. Seruan dari Risa dari balik pintu memaksa Intan bangkit dan dengan perlahan menurunkan kedua kakinya yang kesemutan karena terlalu lama tertekuk.

Intan menatap lekat pada jendela dengan gorden terbuka itu. Menampakkan pemandangan halaman depan rumah yang temaram karena masih sangat pagi. Suasana ini sama persis dengan tempo dulu. Pikirannya melayang pada pagi yang sama beberapa tahun lalu—pagi saat Abraham datang bukan dengan kecupan, melainkan dengan map coklat berisi fitnah selingkuh yang menghancurkan dunianya. Intan bahkan tidak diizinkan untuk datang ke pengadilan saat proses berlangsung. Namun, Intan memberanikan diri sekali dalam hidupnya melanggar perintah suaminya dan nekat datang ke pengadilan. Walaupun dengan itu, konsekuensinya juga tidak main-main.

Jatuh cinta pada seorang Abraham tidaklah mudah. Ia pikir hidupnya akan menjadi lebih baik, memiliki tempat nyaman untuk bersandar seperti yang selalu didapatkan dari sang kakek yang selalu ia panggil Abah dan juga belaian sayang dari nenek yang ia sering panggil Nyai.

Semua hanya harapan yang tak pernah menjadi nyata. Intan lupa jika berharap kepada manusia yang salah, kita hanya akan merasakan kekecewaan yang lebih besar. Terluka lebih dalam seperti definisi kata jatuh itu sendiri. Intan terlalu naif dan percaya jika tatapan menginginkan dari Abraham dulu merupakan cinta. Nyatanya pria itu hanya menginginkan tubuhnya, rahimnya lebih tepatnya.

Memasang telinga baik-baik dan masih tidak mendapati kegiatan apapun dari balik pintu kamarnya membuat Intan kembali merebahkan tubuhnya setelah merapikan gorden. Berusaha mengenyahkan kilasan masa lalu yang suram dengan kembali membayangkan adik yang telah mengkhianati, membandingkan dengan kehidupannya sekarang dan bersyukur. Setidaknya apa yang ia coba raih saat ini berangsur membaik. Masih ada orang baik yang mau membantunya mewujudkan impian dan mempertahankan rumah ini. Dirinya memang bukan seorang tukang kayu seperti kakeknya tapi meneruskan usaha dengan membantu beberapa orang yang memerlukan lapangan pekerjaan tidaklah hal yang sulit.

Intan meluruskan kedua kakinya seraya menyorotkan sinar senter pada ponselnya untuk meraih minyak tawon dan kemudian mengurut parut dan keloid bekas luka pada kakinya. Kecelakaan itu meninggalkan bekas di fisiknya yang jelas akan selalu mengingatkan dirinya pada salah satu sisi kepahitan hidup masa lalu. Udara dingin yang menusuk memang sering kali membuat otot-otot kakinya dan mungkin juga tulangnya terasa nyeri serta linu. Hanya minyak tawon inilah yang bisa membantunya meredakan sementara. Intan sudah lelah dan bosan untuk mengkonsumsi obat pereda nyeri belum lagi jika migren atau bahkan vertigo menyerang. Nah, untuk penyakit yang satu itu ia memang harus terpaksa minum obat jika tak ingin berakhir mengenaskan tergolek di ranjang dan bahkan untuk membuka mata saja sulit.

Intan tak sadar berapa lama tertidur sampai ketukan beruntun di pintu kamarnya membangunkannya. Bahkan keringat sudah membasahi lehernya karena kipas angin mati semalam. Intan melirik pada tangan yang masih setia menggenggam botol minyak tawon segera menutup benda itu dan menaruhnya di atas meja. Ia bersyukur tidak menumpahkan isinya. Seruan dari Risa dari balik pintu memaksa Intan bangkit dan dengan perlahan menurunkan kedua kakinya yang kesemutan karena terlalu lama tertekuk.

Pukul delapan pagi, ketukan beruntun menghentikan angannya tentang kepahitan masa lalu.

"Sebentar," jawab Intan.

​"Mbak, bangun! Nggak takut apa tadi subuh badainya kencang banget?" seru Risa saat Intan membuka pintu. "Di jendela kedengaran seperti ada yang ngetuk-ngetuk terus, Mbak. Aku sampai sembunyi di balik selimut!"

​Intan tersenyum tipis, mencoba mengenyahkan rasa kantuknya. "Itu cuma ranting rambutan, Sa. Jangan terlalu banyak nonton film horor."

Pandangan Intan menyapu ruang tamu yang kini merangkap galeri. Cahaya matahari mulai menyeruak masuk, memenuhi seluruh ruang tamu yang menyambung dengan ruang santai yang kini berfungsi sebagai tempat kerja sekaligus galeri seni. Sinar indahnya memantul di atas deretan gerabah dan keramik hasil karyanya. Itulah terapinya, tempat ia menumpahkan segala duka menjadi bentuk-bentuk indah yang bisa disentuh.

"Tadi Ibu Surni datang bawakan sup ikan dan dodol. Ibu juga sudah masak rica-rica ceker.'

Mendengar ceker ayam rica favoritnya sudah masak membuat cacing di perut Intan menggeliat. "Baiklah siapkan makan pagi, aku mandi dulu."

"Sudah siap kok, Mbak. Oh ya, soal Risa yang membantu pembukuan bagaimana Mbak?" Melihat Intan yang masih bergeming gadis berlesung pipit itu kembali menambahkan, "Risa bukannya lancang ya, Mbak. Urusan pembukuan memang sensitif apalagi menyangkut keuangan tapi kasihan Mbak nggak ada yang bantu. Apalagi Mbak jadi nggak bisa buat gerabah nanti padahal pesanan banyak."

"Pesanan? Pesanan apa?"

"Pesanan piring keramik dan mangkok."

"Dari siapa?"

"Wah, Risa nggak hafal. Orangnya kemarin telepon ke sini, waktu Risa bilang Mbak masih di Bandung dia bilangnya nggak apa yang penting bisa order khusus."

​"Mbak, soal pembukuan... Risa beneran pengen bantu," Risa kembali mendesak sambil menyiapkan sarapan rica-rica ceker favorit Intan."

"Berapa banyak?"

"Kasihan Mbak, pesanan piring biru metalik itu ada 200 biji. Orang yang telepon kemarin bilang mau order serius."

​"200 biji? Serius kamu?" Intan seketika antusias, rasa kantuknya menguap. "Siapa namanya? Ada di buku?"

"200 untuk piring lepek biru metalik sama mangkoknya," ulang Risa.

"Apa dia memberikan nama?" Intan mulai antusias.

Dua ratus bukan jumlah yang sedikit terlebih ia membuat secara khusus bersama dengan beberapa gadis di desa ini yang sudah ia ajari khusus. gerabah yang dibuat oleh Intan adalah gerabah keramik yang menggunakan bahan baku seperti pasir, kaolin atau tanah liat putih, bahan pengikat serta bahan baku lainnya yang diperlukan.

"Ada, sudah kutulis. Katanya buat kebutuhan pameran atau apa gitu, suaranya laki-laki, sopan banget. Apa Risa harus panggil Indi?"

Indi adalah salah satu dari lima gadis yang Intan ajari membuat kerajinan itu. "Boleh. Suruh kesini nanti jam 10 dan gadis lainnya. Bagaimana dengan tas anyamannya?"

"Sudah dibawa ke pameran katanya. Tinggal tunggu Pak Rizky ambil mebel hari ini kan Mbak?"

"Oh iya aku lupa kamu sudah bilang semalam. Tapi, aku tidak bisa pergi. Kalau begitu kamu saja nanti yang pergi dengan dia."

Setelah membersihkan diri dan sarapan, Intan memeriksa beberapa laporan pesanan yang masuk.

​Kesibukan pagi itu bertambah saat Kang Juki datang tergopoh-gopoh dari gudang workshop.

"Ada apa, Kang?"

"Neng, celaka! Stok rotan kurang buat pesanan 5 set meja kursi yang baru masuk."

"Lalu?"

"Nah itu, bahan bakunya kurang."

"Baiklah saya akan hubungi Kang Dharma dulu."

"Makasih Neng." Setelah menyampaikan maksudnya, pria setengah baya itu pun berlalu.

Intan menghela napas, ia segera meraih ponselnya. Satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah Dharma.

💍

Di Bandung, di kediaman keluarga Shelter, Dharma yang tadi sudah sempat pergi kini sedang duduk santai menunggu Novita menyiapkan bekal. Ia tidak menyadari bahwa Abraham sedang berdiri tak jauh darinya, memasang telinga dengan raut wajah yang masam.

Ponsel Dharma berdering. Senyumnya langsung mengembang saat melihat nama di layar.

​"Ada yang bisa saya bantu, Neng Geulis?" sapa Dharma dengan suara yang sengaja dilembutkan.

​Di seberang sana, Intan terkekeh mendengar panggilan yang tak pernah berubah dari Dharma kepadanya sejak mereka kecil. "Kang, saya butuh rotan secepatnya. Bisa diusahakan? Kang Juki panik di gudang."

​"Tentu, apa sih yang nggak buat Neng," balas Dharma telak, tak peduli pada Abraham yang mendengkus sinis di dekatnya.

​"Dasar tukang rayu," gumam Abraham ketus. Ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal hatinya mendidih karena rasa penasaran yang aneh.

Siapa wanita yang dipanggil 'Neng Geulis' itu? Kenapa Dharma terdengar begitu protektif dan hangat?

Rupanya Abraham juga belum pergi setelah menyambar kunci mobil tadi.

Biasanya Abraham tidak akan ambil pusing dengan bualan Dharma tetapi entah untuk saat ini ia merasa tidak nyaman. Mungkin juga karena pagi ini ia sudah terganggu dengan kedatangan wanita gatal itu. Namun keputusannya benar setelah kembali masuk ke rumah. Abraham penasaran setengah mati dengan orang yang dipanggil 'Neng Geulis' oleh Dharma.

​"Butuh berapa banyak, Cantik?" tanya Dharma lagi, nada bicaranya seolah sedang merayu permata yang paling berharga.

​"Seperti biasa, Kang. Maaf saya lupa pesan duluan."

​"Nggak apa-apa. Kebetulan hari ini ada dua tronton rotan datang. Nanti Akang minta supirnya langsung belok ke arahmu setelah urusan di sini selesai. Mungkin agak siang, karena Akang masih di rumah Mami."

​"Makasih ya, Kang. Sampai ketemu."

Setelah menutup telepon, Dharma mendapati Abraham sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik yang tajam.

​"Sudah tahun berapa ini, kamu masih menyebut dirimu sendiri 'Akang'?" sindir Abraham sambil menyambar kunci mobilnya kembali. "Ketinggalan zaman."

​Dharma mengedikkan bahu, senyum kemenangan masih menghiasi wajahnya. "Hanya dia yang memanggilku begitu, Bram. Dan hanya dia yang berhak aku panggil 'Neng'. Spesial, tidak untuk wanita lain."

​"Apa itu janda muda yang kamu maksud?" Novita menyela, masuk ke ruang tamu dengan tas jinjing berisi makanan.

​"Iya, Tante. Dia wanita hebat. Meskipun dicampakkan suami dan keluarganya, dia tidak lari. Dia malah membangun workshop sendiri, memberi makan banyak orang di desanya. Dia itu... permata yang sempat terinjak lumpur."

​Novita tampak terkesan. "Luar biasa sekali. Kapan-kapan, kenalkan pada Tante. Sepertinya dia tipe wanita yang punya prinsip."

Dharma mengangguk takzim. "Tante, tidak akan menyangka pastinya."

Dharma menghela napas panjang, tatapannya menerawang seolah sedang membayangkan wajah Intan yang tenang. "Aku nggak yakin, Tante. Pergaulannya berbeda dengan Tante yang sosialita. Dia lebih suka aroma tanah liat daripada aroma parfum mahal."

​"Kamu seolah ingin menyimpannya untuk diri sendiri, posesif sekali," goda Novita. "Apa kamu benar-benar jatuh cinta padanya?"

​Dharma mengangguk takzim, matanya berkilat penuh tekad yang membuat Abraham merasa semakin gerah. "Harus, Tante. Karena batu permata akan tetap bersinar walau pernah dicampakkan dan berlumur lumpur sekalipun. Aku hanya bertugas membersihkan lumpurnya, agar dunianya kembali terang."

​Abraham mendengarkan kata-kata itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada denyut nyeri yang aneh di dadanya. Dicampakkan suaminya? Janda? Hebat?

​Tanpa berkata apa-apa lagi, Abraham melangkah keluar menuju garasi. Namun di dalam kepalanya, suara Dharma terus terngiang. Tanpa disadarinya, bibit obsesi mulai tumbuh. Ia harus tahu siapa wanita itu. Ia harus memastikan apakah "janda hebat" pilihan Dharma itu adalah orang yang sama dengan wanita yang ia hancurkan dua tahun lalu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   SEKUAT CINTA YANG MENGAKAR

    Hakim mengetuk palunya sekali, menatap Rizky dengan pandangan mengayomi. "Meskipun sempat bungkam karena ketakutan dan tekanan batin dari orang tua, Pengadilan mengapresiasi keberanian Saudara Rizky yang akhirnya maju sebagai saksi kunci di menit-menit terakhir. Kesaksiannya mengenai pergerakan mencurigakan mobil-mobil asing di sekitar rumah Intan telah memperkuat pembuktian adanya unsur perencanaan dalam teror ini."​Intan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, lalu memberikan sebuah senyuman tulus dan anggukan pelan ke arah Rizky. Senyuman itu seolah menghapus seluruh beban rasa bersalah yang selama ini menghimpit dada pemuda itu. Ibu Rizky pun langsung memeluk anaknya erat-erat, menangis lega karena meskipun mereka sempat dilingkupi ketakutan, niat tulus anak lakil-lakinya untuk menolong tetangga mereka akhirnya diakui oleh hukum dan dimaafkan dengan lapang dada oleh Intan.Badai hukum yang dahsyat itu akhirnya berlalu, meninggalkan hamparan langit yang bersih di atas klan

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   MEJA HIJAU PEMBALASAN

    Pagi yang berhawa pekat menyelimuti kawasan Segitiga Emas Jakarta. Di dalam auditorium utama Mahardika Tower, kemilau lampu kristal memantulkan ambisi yang meluap-luap. Ratusan lensa kamera dari puluhan awak media bisnis nasional telah bersiap, membidik podium megah tempat logo raksasa Mahardika Group terpampang dengan angkuh. Hari itu adalah hari kemenangan bagi Aryo Mahardika dan putranya, Bagus Mahardika. Mereka menggelar konferensi pers dadakan yang diklaim sebagai 'langkah penyelamatan ekonomi nasional'—sebuah eufemisme dari akuisisi senyap dan pemaksaan atas sisa-sisa aset strategis milik Sukoco Group yang sedang berdarah-darah di lantai bursa.Bagus Mahardika berdiri di depan mikrofon dengan setelan jas bespoke seharga ratusan juta rupiah. Senyumnya simetris, memancarkan aura kontrol yang mutlak. "Langkah strategis yang diambil oleh Mahardika Group hari ini adalah bentuk komitmen nyata kami untuk menjaga stabilitas sektor logistik dan energi nasional, pasca kemelut hukum yang m

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   INSTING SINGA KORPORAT

    ​"Benar, Pak. Secara formal, aset pribadi Prama dan Wandira terkunci total," Baskoro membuka tabletnya, menampilkan grafik kepemilikan saham yang mendadak berubah struktur dalam hitungan jam. "Namun, dua jam yang lalu, muncul dokumen pengalihan mutlak atas sisa saham sekunder yang dipegang oleh Amelia Sukoco dan beberapa anak perusahaan logistik mereka di lini pelayaran domestik. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah."​Dr. Wira mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar tablet tersebut. "Siapa yang berani menyentuh barang panas milik tersangka kriminal di saat penyidikan sedang berjalan?"​"Konsorsium Bisnis Mahardika, Dok," jawab Baskoro tegas. "Itu adalah perusahaan induk milik keluarga Bagus. Mereka menyerahkan dokumen transaksi backdate—tertanggal mundur enam bulan lalu—ke otoritas bursa. Secara hukum, transaksi itu dinyatakan sah karena ditandatangani sebelum Prama Sukoco resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dengan kata lain, Bagus telah mencaplok sisa kekayaan Sukoco Gro

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   RIAK DI AIR KERUH

    50 RIAK DI AIR KERUHUntuk memperjelas situasi, Bagus menyodorkan sebuah tabel analisis struktur aset yang telah dipersiapkan oleh tim analis keuangannya secara rahasia sejak subuh tadiEntitas Anak PerusahaanPorsi Saham Amelia/WandiraStatus Hukum Saat IniRencana Pengalihan Konsortium BagusPT Sukoco Logistik N

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   FAJAR SEBELUM BADAI

    49 Fajar Sebelum Badai"Sebelum Mama menikah dengan ayahmu, Mama dipaksa meninggalkan Aris oleh keluarga besar Shelter karena ayah Aris hanya orang miskin. Mama sakit hati, Bram! Mama ingin Aris juga mendapatkan hak yang sama sebagai anak Mama! Tapi Mama bersumpah... Mama tidak pernah menyuruh Aris untuk membunuhmu! Mama hanya menyuruhnya mengambil alih saham dari tanganmu!""Tapi Anda membiarkan dia meneror istri saya!" bentak Abraham, emosinya akhirnya pecah hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. "Anda membiarkan Aris dan klan Sukoco menyiksa Intan, menghancurkan kandungannya yang dulu, dan membuat hidupnya seperti di neraka! Hanya demi membela anak haram masa lalu Anda?!"Intan hanya bisa menangis di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di dada Ajeng yang terus mendekapnya erat.Dr. Wira melangkah maju, berdiri di samping Abraham dan menatap Novita dengan tatapan jijik seorang hakim. "Nyonya Novita, kasih sayang seorang ibu tidak bisa

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   RUNTUHNYA DINASTI KESERAKAHAN

    48 Runtuhnya dinasti keserakahanMalam harinya di kota Garut, suasana di dalam kamar inap Intan berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Abraham, yang sudah mendapatkan perawatan darurat untuk tulang rusuknya, kini duduk di kursi sebelah ranjang Intan. Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, sorot mata tajam sang CEO telah kembali sepenuhnya.Di ujung ruangan, dr. Wira berdiri mendampingi dua pengacara senior kepercayaannya yang baru saja tiba dari Jakarta. Sementara Baskoro, kepala keamanan Abraham, berdiri tegap di dekat pintu setelah menyerahkan sebuah koper hitam berisi dokumen manifes kapal tanker Sumatra dan rekaman pengakuan Aris."Semua bukti sudah lengkap, Dok, Pak Abraham," ujar salah satu pengacara, seraya merapikan berkas-berkas di atas meja. "Kesaksian Tendi tentang aliran dana dari Prama Sukoco kepada Aris, ditambah bukti manipulasi manifes penyelundupan di Sumatra, sudah lebih dari cukup untuk menjerat Prama Sukoco, Wandira, dan

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 7 Larangan Ibu

    Dharma pulang saat hari sudah sangat sore. Bahkan matahari sudah hampir tenggelam. Begitu memarkirkan kendaraannya ia segera menuju pendopo tempat biasa kedua orang tua duduk menikmati suasana sore. Banyak hal yang harus ia kerjakan di tempat Intan salah satunya adalah mencari tempat perbaikan CC

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 6 Pagi yang Kelabu

    Intan tak bisa tidur sejak semalam. Kakinya yang cacat terasa nyeri pada otot dan linu. Ditambah lagi pikiran yang sedang ruwet karena banyaknya pesanan kerajinan rotan sementara persediaan bahan mentahnya susah didapatkan. Intan belum tahu pasti, kenapa supplier langganannya menghentikan pengiri

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 2 Berhenti Meratapi Nasib

    Hampir tiga jam perjalanan dan waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih saat ia hujan deras mulai turun dan mobil Yudi meninggalkan pekarangan rumah. Mungkin karena sudah mengenal lama pria itu sedikit peduli kepada Intan dengan banyak pertanyaan yang rasanya tak patut orang asing menanya

  • INTAN (Sekuat Hati yang Terkoyak)   Chapter 1 Terabaikan

    "Dalam keluarga Sukoco tidak ada istilah perceraian, itu aib besar bagi kami dan apa yang sudah kamu perbuat jelas-jelas sudah mencoreng nama baik keluarga ini. Kamu tahu konsekuensinya bukan?""Tapi saya nggak bersalah. Saya diceraikan tanpa tahu kesalahan saya di mana?" balas Intan mencoba membel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status