Mag-log inSisa Mimpi dan Realita yang Memuakkan
Usapan di puncak kepala itu terasa begitu nyata, berubah menjadi belaian halus yang disusul dengan kecupan di kening, pipi, lalu rahang—singgah sejenak di sudut bibir dengan kelembutan yang memabukkan. Abraham mengerang rendah, menyesap sisa-sisa kehangatan itu. Rasanya sungguh nikmat; sebuah nafkah batin di pagi hari dari orang terkasih. Belaian dan aroma tubuh Intan yang selalu ia kunci dalam brankas ingatannya. Hembusan hangat menerpa sisi lehernya, disusul kembali dengan kecupan dari bibir yang terasa ranum. Namun, sedetik kemudian, dahi Abraham berkerut dalam tidurnya. Tunggu dulu.... Bibir Intan tidak pernah seberani ini. Bibir istrinya adalah rasa malu-malu yang suci, bukan tuntutan yang lapar. Hati Abraham mencelos. Ia takut membuka mata. Ia takut jika kelopak matanya terangkat, sosok yang ia dekap hanya akan menguap menjadi udara dingin kamar. Namun, rasa nyata itu berubah menjadi alarm bahaya saat sebuah tangan mengusap sisi pahanya, menyusup dengan lancang ke balik lapisan terakhir pakaiannya, mencoba menggenggam miliknya yang paling intim. Tidak, ini tidak benar. Intan tidak pernah memiliki inisiatif seberani ini tanpa bimbingannya.* Kesadaran menghantam telak. Abraham menyentak matanya terbuka dan terlonjak kaget hingga punggungnya menghantam kepala ranjang. Duk! Kepala Abraham berdenyut sakit. "Ola?! Apa yang kamu lakukan di kamarku?!" Suara Abraham menggelegar, sarat akan kejutan yang bercampur dengan mual yang mendadak naik ke kerongkongan. Abraham yakin suaranya sampai terdengar keluar kamar ini. Ia melotot tajam pada Ola, yang duduk di sisi ranjang dengan gaun yang mengekspos lekuk tubuhnya seperti gitar Spanyol, hanya menyunggingkan senyum menggoda yang tampak murahan di mata Abraham pagi ini. "Tante memberikan izin aku masuk," jawab Ola santai, meski sebenarnya jantungnya berdentam liar melihat wajah Abraham yang menggelap—marah, bukan penuh birahi seperti saat matanya terpejam tadi. Hati Ola terasa seperti disayat sembilu. Sakit sekali menyadari bahwa saat ia mencumbu pria ini, nama wanita lainlah yang meluncur lembut dari bibir Abraham. Pria yang ia cintai sejak SMA ini. Intan lagi. Selalu wanita lumpuh itu, batin Ola geram. Wanita itu seharusnya sudah pergi jauh, tetapi kenapa masih berada di hati Abraham? Sial! "Bukan berarti kamu bebas menggerayangi! Kamu tahu sopan santun, tidak? Dasar lancang! Pelecehan itu namanya!" Abraham menunjuk pintu dengan jari gemetar. Kemarahannya meledak, bukan hanya karena kelancangan Ola, tapi karena rasa kecewa yang luar biasa bahwa mimpinya tentang Intan baru saja dinodai. Ola terlonjak saat telunjuk Abraham nyaris mengenai pelipisnya. Wanita itu berdiri di sisi ranjang saat Novita membuka pintu dan kini berada di tengah kamar. Tepat saat itu, Novita muncul di ambang pintu yang terbuka. Menatap bingung pada keduanya dan bertanya, "Ada apa ini ribut-ribut?" "Mami yang mengizinkan dia masuk?" tanya Abraham, menatap ibunya dengan tatapan yang bisa membekukan air. "Iya, untuk membangunkanmu. Ini sudah hampir jam tujuh, nanti kamu terlambat, " sahut Novita tenang. "Dia melecehkanku, Mam!" Abraham menunjuk Ola tanpa ampun. Wajah Ola memerah padam. Dipermalukan di depan calon mertuanya adalah pukulan telak. "Melecehkan apa?" tanya Novita semakin bingung. "Maaf Tante sebaiknya saya pergi. Bram sepertinya tidak suka saya di sini." Novita, menggapai tangan kanan Ola menahan wanita muda itu. "Tunggu dulu, Ola." Novita beralih pada Bram. "Jelaskan!" Abraham membuka mulut. "Dia...." "Maaf Tante, sebaiknya saya pergi. Bram sepertinya... sedang tidak ingin diganggu," potong Ola ketus, lalu bergegas keluar dengan air mata yang mulai menggenang. Novita menatap tajam pada putra sulungnya. Ia tersenyum miring dengan sorot menuduh ke arah Abraham."Terlalu kamu, Bram! Ola itu gadis baik-baik, calon istrimu!" ujar Novita lantas berbalik dan melangkah menyusul Ola, kemudian langkahnya membeku saat mendengar jawaban dari Bram. "Persetan dengan dia dan semua wanita yang Mami sodorkan. Bram tidak akan pernah menikah dengan mereka!" balas Abraham dingin, lantas berjalan santai menuju kamar mandi seolah-olah ia baru saja membuang sampah yang mengganggu tidurnya. Novita menoleh menatap nanar pada punggung tegap sang putra yang berjalan santai menuju kamar mandi. Ia pun kemudian melangkah gontai dan menutup pintu. Novita lantas menyusul Ola yang berada di ruang tamu. "Tunggu Ola, kita sarapan bersama dulu. Lontong sayur dari mamamu itu banyak sekali buat kami pun tak akan habis." Ola melirik ke arah kamar Abraham yang tertutup rapat dan kembali teringat akan perbuatan nekatnya tadi dan kembali merasa malu luar biasa kini. Menyesal iya, tapi hanya sedikit yang banyak adalah sakit hati yang semakin mengendap dalam dan tersimpan seolah seperti bom waktu yang hendak meledak. "Nggak usah aja Tante. Nanti Ola makan di kantor saja. Sepertinya juga Bram tidak mau saya di sini." Novita tahu tidak bisa memaksa. Gadis cantik favoritnya ini sudah terlihat akan menangis saat ini. Ibanya ia, semua pasti karena ulah Abraham hingga Ola ketakutan dan sekarang gadis itu akan pulang. Novita jengkel, alasan apalagi yang akan ia buat agar anaknya dan Ola bisa dekat. Novita geram karena selama ini mantan menantu pertamanya itu selalu menghantui putranya. Ia tidak tuli hingga tidak tahu jika sang putra masih sering menyebut mantan istrinya itu dalam tidur hingga berurai air mata. Namun perpisahan sudah terjadi, gadis itu sudah pergi jauh. Apalagi perbuatan Abraham kemarin yang datang menemui mantan mertuanya. Jelas saja anaknya kena usir, mana mungkin Intan datang ke sana. Bukankah wanita itu sudah mati? 💍 "Mam," sapa Abraham yang kini sudah memakai pakaian kerja. Di ruang makan, suasana tidak jauh berbeda. "Ayo makan lontongnya, Bram. Kamu perlu tenaga," bujuk Novita. Lontong sayur kiriman Bu Amarita tampak tak tersentuh di piring Abraham. Ia lebih memilih mengaduk oatmeal tawarnya. "Tidak, Mam. Oatmeal saja cukup." "Kamu perlu lebih dari itu. Nanti kamu sakit." "Mami tidak perlu khawatir. Bram masih bisa menjaga diri. Kalau lapar Bram tinggal pesan dan nanti akan diantarkan oleh catering langganan." "Kamu ini kalau Mami bilang selalu saja menjawab. Selalu begitu! Menolak semua perhatian Mami!" "Sudah, sudah, jangan paksa dia," sela Yakub tenang namun tegas. Ketiganya makan dalam diam sampai Dharma muncul dan bergabung dengan mereka. Terasa sekali aura dingin di sekitarnya, Dharma tahu, pasti terjadi perang lagi selama ia tinggal lari pagi. "Wah ... ada lontong sayur. Kelihatannya enak nih. Apalagi ada sambal gorengnya. Tumben Tante masak, kayaknya tadi nggak ada aktifitas di dapur?" "Ck ... bukan Tante yang masak. Ini dari Bu Amarita." "Bu Amarita? Siapa yang antarkan sepagi ini?" "Anaknya lah. Itu yang cantik," jawab Novita seraya melirik sekilas pada Abraham yang acuh dan terlihat terlalu fokus pada sarapannya. "Ola atau Maya?" "Ola. Cantik kan dia Dhar?" Dharma mengangguk. "Cantik sih. Seksi bodynya. Bohay seperti gitar Spanyol." "Kalau begitu kamu saja yang menikah dengan dia. Sepertinya dia calon ideal pilihan Mami tuh, Dhar," ujar Abraham, tanpa mengangkat wajah dari mangkuknya. Dharma tertawa keras, mengangkat kedua tangannya. "Wow ... tunggu dulu! Apa maksudnya ini? Nggak deh kalau pakai acara jodoh-jodohan. Aku masih memilih pilihan yang kemarin aku katakan itu." Entah mengapa Abraham merasa semakin buruk suasana hatinya mendengar penuturan Dharma. Wanita misterius yang dikatakan oleh Dharma itu sedikit mengusik rasa ingin tahu Abraham tapi demi ego jelas ia tidak akan bertanya apa lagi sekarang ada kedua orang tuanya. "Baiklah aku pergi kerja sekarang. Hati-hati nanti di jalan ya, Dhar. Salam untuk janda pilihanmu," kata Abraham ketus sambil mencium tangan kedua orang tuanya. "Apa! Tunggu dulu. Siapa yang janda?" tanya Novita, hampir menjatuhkan sendoknya. "Itu calonnya Dharma," balas Abraham seraya memasuki kamar mengambil tas kerjanya. Sementara Dharma meringis melihat raut terkejut dari paman dan bibinya, tanpa membalas satu suku kata pun. "Ayahmu tahu jika kamu dekat dengannya?" tanya Yakub pada Dharma, matanya menyipit penuh selidik. Abraham mendengar juga pertanyaan itu dan sengaja memperlama kegiatan memasang tali sepatunya, mencuri dengar apa yang akan menjadi jawaban dari Dharma. "Ayah tahu dan tidak masalah dengan itu. Apalagi wanita itu belum punya anak," jawab Dharma santai sambil meraih toples kerupuk. Novita mendengus jengah, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang kentara. "Mana ada janda yang baik. Jika dia baik, nggak akan menjadi janda. Jangan mudah terbuai bujuk rayu seorang janda ya, Dhar. Mereka pasti sangat berpengalaman menaklukkan pria." Dharma berhenti mengunyah. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah paman dan bibinya, suaranya merendah namun tajam seperti perkataannya terlalu rahasia jika didengar selain mereka bertiga di meja makan itu. "Tante, tidak semua kesalahan terjadi pada satu pihak, bisa jadi karena si mantan suami atau mertua yang terlalu ikut campur rumah tangga anak mereka." Dharma menjeda, menatap tepat ke arah pintu tempat Abraham berdiri diam. "Lebih parah lagi ada campur tangan dari pihak lain yang bukan merupakan anggota keluarga." Hati Abraham berdenyut nyeri mendengar semua itu. Benar tetap terasa sangat salah, ada sesuatu yang sepertinya tidak pada tempatnya. Kalimat Dharma terasa seperti sembilu yang menyayat luka lama yang ia pikir sudah mengering. Tanpa berkata apa-apa lagi, Abraham menyambar tas kerjanya tapi sebelum keluar rumah ia kembali masuk ke ruang kerjanya. Pikirannya kalut. Ia tidak tahu bahwa sebentar lagi, sebuah map di ruang kerjanya akan membawa pada kenyataan yang jauh lebih mengejutkan daripada sekadar gosip janda pilihan Dharma. 💍 Dharma pun sudah pergi tapi ia meninggalkan sebuah map kulit berwarna cokelat di atas meja kerja di perpustakaan rumah. Abraham, yang masih penasaran dengan "sosok janda hebat" yang diceritakan sepupunya semalam, melangkah masuk ke ruangan itu. Tangannya meraih map tersebut. Di dalamnya terdapat draf katalog produk untuk proyek hotel barunya. Ia membolak-balik halaman yang berisi foto-foto mebel jati minimalis, hingga langkahnya terhenti pada satu halaman khusus: "Koleksi Galeri Tanah Pasundan – Seri Biru Metalik." Jantung Abraham berdegup kencang secara tidak wajar. Matanya terpaku pada sebuah foto piring lepek dan mangkok keramik berwarna biru metalik yang sangat unik. Desainnya meliuk indah, organik, namun memiliki sentuhan kesedihan yang sulit dijelaskan. "Piring ini..." gumam Abraham. Ia teringat satu masa, bertahun-tahun lalu, saat Intan pernah bercerita sambil memandangi tanah liat di halaman rumah kakeknya. “Mas, suatu saat aku ingin buat keramik warna langit setelah badai... biru, tapi ada kilau peraknya.” Abraham segera mencari nama pengrajin atau pemilik galeri di pojok bawah halaman. Namun, Dharma sangat rapi—hanya ada tulisan "Neng Geulis Ceramic Studio". Rasa penasaran itu berubah menjadi kecurigaan yang membakar. Ia mengambil ponselnya, mencoba memotret logo studio tersebut untuk dicari di mesin pencari. Tepat saat itu, sebuah kartu nama kecil terjatuh dari selipan map. Di sana tertulis sebuah alamat di Kecamatan Karangpawitan, Garut. "Garut?" Abraham mengerutkan dahi. "Dharma bilang dia kembang desa di sana. Dan kecelakaan dua tahun lalu...." Abraham menyandarkan punggungnya ke kursi kayu jati. Potongan puzzle mulai menyatu di kepalanya. Tanggal kecelakaan yang disebutkan Dharma hampir bersamaan dengan hari di mana ia mengusir Intan dari hidupnya. "Tidak mungkin," bisik Abraham, mencoba menyangkal. "Dia mandul, dia cacat moral, dia selingkuh, apalagi tidak mendapatkan warisan... mana mungkin dia bisa membangun bisnis seperti ini sendirian?" Namun, ego Abraham terusik. Jika benar wanita itu adalah Intan, maka Intan telah berhasil "hidup" dan "bersinar" justru setelah ia buang. Dan yang lebih menyakitkan, sepupunya sendiri—Dharma—tampak sangat memuja wanita itu. Abraham meraih kunci mobilnya dengan kasar. Jika Dharma menutupi identitas wanita ini, maka ada sesuatu yang sangat besar yang disembunyikan darinya. Dan Abraham Shelter tidak pernah suka menjadi orang terakhir yang mengetahui kebenaran. Hakim mengetuk palunya sekali, menatap Rizky dengan pandangan mengayomi. "Meskipun sempat bungkam karena ketakutan dan tekanan batin dari orang tua, Pengadilan mengapresiasi keberanian Saudara Rizky yang akhirnya maju sebagai saksi kunci di menit-menit terakhir. Kesaksiannya mengenai pergerakan mencurigakan mobil-mobil asing di sekitar rumah Intan telah memperkuat pembuktian adanya unsur perencanaan dalam teror ini."Intan yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang, lalu memberikan sebuah senyuman tulus dan anggukan pelan ke arah Rizky. Senyuman itu seolah menghapus seluruh beban rasa bersalah yang selama ini menghimpit dada pemuda itu. Ibu Rizky pun langsung memeluk anaknya erat-erat, menangis lega karena meskipun mereka sempat dilingkupi ketakutan, niat tulus anak lakil-lakinya untuk menolong tetangga mereka akhirnya diakui oleh hukum dan dimaafkan dengan lapang dada oleh Intan.Badai hukum yang dahsyat itu akhirnya berlalu, meninggalkan hamparan langit yang bersih di atas klan
Pagi yang berhawa pekat menyelimuti kawasan Segitiga Emas Jakarta. Di dalam auditorium utama Mahardika Tower, kemilau lampu kristal memantulkan ambisi yang meluap-luap. Ratusan lensa kamera dari puluhan awak media bisnis nasional telah bersiap, membidik podium megah tempat logo raksasa Mahardika Group terpampang dengan angkuh. Hari itu adalah hari kemenangan bagi Aryo Mahardika dan putranya, Bagus Mahardika. Mereka menggelar konferensi pers dadakan yang diklaim sebagai 'langkah penyelamatan ekonomi nasional'—sebuah eufemisme dari akuisisi senyap dan pemaksaan atas sisa-sisa aset strategis milik Sukoco Group yang sedang berdarah-darah di lantai bursa.Bagus Mahardika berdiri di depan mikrofon dengan setelan jas bespoke seharga ratusan juta rupiah. Senyumnya simetris, memancarkan aura kontrol yang mutlak. "Langkah strategis yang diambil oleh Mahardika Group hari ini adalah bentuk komitmen nyata kami untuk menjaga stabilitas sektor logistik dan energi nasional, pasca kemelut hukum yang m
"Benar, Pak. Secara formal, aset pribadi Prama dan Wandira terkunci total," Baskoro membuka tabletnya, menampilkan grafik kepemilikan saham yang mendadak berubah struktur dalam hitungan jam. "Namun, dua jam yang lalu, muncul dokumen pengalihan mutlak atas sisa saham sekunder yang dipegang oleh Amelia Sukoco dan beberapa anak perusahaan logistik mereka di lini pelayaran domestik. Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah."Dr. Wira mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar tablet tersebut. "Siapa yang berani menyentuh barang panas milik tersangka kriminal di saat penyidikan sedang berjalan?""Konsorsium Bisnis Mahardika, Dok," jawab Baskoro tegas. "Itu adalah perusahaan induk milik keluarga Bagus. Mereka menyerahkan dokumen transaksi backdate—tertanggal mundur enam bulan lalu—ke otoritas bursa. Secara hukum, transaksi itu dinyatakan sah karena ditandatangani sebelum Prama Sukoco resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dengan kata lain, Bagus telah mencaplok sisa kekayaan Sukoco Gro
50 RIAK DI AIR KERUHUntuk memperjelas situasi, Bagus menyodorkan sebuah tabel analisis struktur aset yang telah dipersiapkan oleh tim analis keuangannya secara rahasia sejak subuh tadiEntitas Anak PerusahaanPorsi Saham Amelia/WandiraStatus Hukum Saat IniRencana Pengalihan Konsortium BagusPT Sukoco Logistik N
49 Fajar Sebelum Badai"Sebelum Mama menikah dengan ayahmu, Mama dipaksa meninggalkan Aris oleh keluarga besar Shelter karena ayah Aris hanya orang miskin. Mama sakit hati, Bram! Mama ingin Aris juga mendapatkan hak yang sama sebagai anak Mama! Tapi Mama bersumpah... Mama tidak pernah menyuruh Aris untuk membunuhmu! Mama hanya menyuruhnya mengambil alih saham dari tanganmu!""Tapi Anda membiarkan dia meneror istri saya!" bentak Abraham, emosinya akhirnya pecah hingga dadanya naik turun dengan napas memburu. "Anda membiarkan Aris dan klan Sukoco menyiksa Intan, menghancurkan kandungannya yang dulu, dan membuat hidupnya seperti di neraka! Hanya demi membela anak haram masa lalu Anda?!"Intan hanya bisa menangis di atas ranjang, menyembunyikan wajahnya di dada Ajeng yang terus mendekapnya erat.Dr. Wira melangkah maju, berdiri di samping Abraham dan menatap Novita dengan tatapan jijik seorang hakim. "Nyonya Novita, kasih sayang seorang ibu tidak bisa
48 Runtuhnya dinasti keserakahanMalam harinya di kota Garut, suasana di dalam kamar inap Intan berubah menjadi ruang strategi yang dingin. Abraham, yang sudah mendapatkan perawatan darurat untuk tulang rusuknya, kini duduk di kursi sebelah ranjang Intan. Meskipun tubuhnya masih dibalut perban, sorot mata tajam sang CEO telah kembali sepenuhnya.Di ujung ruangan, dr. Wira berdiri mendampingi dua pengacara senior kepercayaannya yang baru saja tiba dari Jakarta. Sementara Baskoro, kepala keamanan Abraham, berdiri tegap di dekat pintu setelah menyerahkan sebuah koper hitam berisi dokumen manifes kapal tanker Sumatra dan rekaman pengakuan Aris."Semua bukti sudah lengkap, Dok, Pak Abraham," ujar salah satu pengacara, seraya merapikan berkas-berkas di atas meja. "Kesaksian Tendi tentang aliran dana dari Prama Sukoco kepada Aris, ditambah bukti manipulasi manifes penyelundupan di Sumatra, sudah lebih dari cukup untuk menjerat Prama Sukoco, Wandira, dan
Dharma pulang saat hari sudah sangat sore. Bahkan matahari sudah hampir tenggelam. Begitu memarkirkan kendaraannya ia segera menuju pendopo tempat biasa kedua orang tua duduk menikmati suasana sore. Banyak hal yang harus ia kerjakan di tempat Intan salah satunya adalah mencari tempat perbaikan CC
Intan tak bisa tidur sejak semalam. Kakinya yang cacat terasa nyeri pada otot dan linu. Ditambah lagi pikiran yang sedang ruwet karena banyaknya pesanan kerajinan rotan sementara persediaan bahan mentahnya susah didapatkan. Intan belum tahu pasti, kenapa supplier langganannya menghentikan pengiri
Rintik hujan semakin lebat bahkan disertai angin kencang yang menghantam kaca jendela kamar Intan. Tinggal di wilayah Kabupaten Garut yang dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah, dengan iklim 9 bulan basah dan 3 bulan kering mau tak mau membuat Intan harus membiasakan diri dengan seri
"Untuk apa kamu ke sana lagi?" tegur Novita begitu melihat anak kesayangannya muncul dari balik pintu garasi."Ke sana ke mana?" tanya Abraham balik tak acuh, tanpa menghentikan langkah menuju kamarnya. Setelah bercerai untuk yang kedua kalinya, kedua orang tuanya memang m







