LOGINHidupnya seperti tak pernah jauh dari kesialan. Sedari kecil sudah diperlakukan berbeda dari anggota keluarga yang lain. Menikah dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal dari sebuah perjodohan, kemudian bercerai karena fitnah dan tanpa tunjangan. Oh ya, kemalangan belum selesai sampai di sana. Setelah sidang perceraian, ia harus mengalami kecelakaan hingga membuat dirinya lumpuh. Sisa hartanya habis untuk berobat dan saat ia mulai ingin bangkit. Kenyataan menohok di depan mata. Bertahun-tahun Intan harus bertahan sendirian ditengah badai teror, hidup dalam nestapa dengan hati yang terkoyak. Pada akhirnya di buang dan tidak diakui. Ia mengira semua memang sudah berakhir dan pria itu harus benar-benar dihindari. Namun takdir berkata sebaliknya. Ia kembali bertemu dengan lelaki tersebut saat pemeriksaan kesehatan dan Abraham mendesaknya untuk kembali menjalin hubungan dan meyakinkan pada Intan bahwa tidak ada perceraian. Saat Intan kembali membuka kesempatan untuk Abraham Shelter, hubungan itu nyaris hancur lagi dalam semalam ketika sebuah konspirasi kejam membuang Abraham ke belantara Sumatra, merengat ingatannya, dan memisahkannya dari sang pujaan hati. Di saat yang sama, klan Sukoco dan Amelia bergerak rakus untuk merampas segala kebahagiaan yang tersisa dari hidupnya. Namun, sekuat hati yang terkoyak, setinggi itu pula takdir mengangkatnya kembali. Abraham Shelter pulang dari Sumatra dengan ingatan yang utuh dan murka yang membakar. Kepulangan sang suami tidak hanya membawa pelindungan, tetapi juga membongkar kotak pandora berisi rahasia darah yang paling kelam: pengkhianatan dari dalam rahim ibu kandungnya sendiri melalui Aris, sang saudara seibu yang menuntut balas. Di atas puing-puing dinasti Sukoco yang mulai runtuh, Bagus Mahardika ikut muncul bagai burung bangkai, mencoba mencaplok takhta bisnis dengan cara yang paling manipulatif. Didukung oleh otoritas dingin sang ayah, dr. Wira, Intan kini berdiri tegak di samping Abraham. Bersama-sama, mereka siap membersihkan setiap duri yang pernah mengoyak kehidupan mereka.
View MoreMalam kian merayap pekat di pedalaman perkebunan sawit. Suara jangkrik dan kodok rawa saling bersahutan, menciptakan simfoni malam yang menyamarkan langkah kaki dua orang pria yang tengah berjalan mengendap-endap di dekat mess karyawan.Aris berdiri di balik bayangan pohon mahoni besar, tidak jauh dari rumah panggung milik Abah Yuyud. Di tangannya, sebatang rokok menyala kecil, menyisakan bara merah yang berkedip di kegelapan. Matanya yang jeli terus mengawasi setiap gerak-gerik di rumah itu."Kamu sudah periksa garasi belakang, Boy?" bisik Aris tanpa menoleh."Sudah, Bos. Motor trail si Radit ada di sana. Mesinnya masih agak hangat saat saya pegang tadi sore. Berarti dia memang baru kembali dari kota," jawab Boy dengan suara berbisik yang berat. "Tapi ada yang aneh, Bos. Saya sempat mengintip ke dalam tong sampah di dekat dapur mereka. Ada bekas bungkusan kasa steril dan botol obat antiseptik yang masih baru."Aris menarik napas dalam-dalam dari rokoknya, lalu mengembuskan asapnya pe
### **Bab 42: Serigala di Balik Kabut Sawit**Air mata Ajeng luruh mendengarnya. “Kamu anak yang sangat baik, Nak. Abah Engkus dan Nyai tidak gagal mendidikmu menjadi wanita yang berhati mulia.”“Takdir juga yang akhirnya mempertemukan kita kembali, Ma. Mama adalah wanita yang sangat tegar. Sementara Intan... Intan bahkan pernah gagal menjaga anak Intan dulu,” bisik Intan, suaranya bergetar menahan perih ingatan masa lalu.Ajeng terkejut, matanya melebar. “Apa? Apa yang terjadi, Nak?”“Intan keguguran karena kecelakaan, tepat di hari putusan cerai dari pengadilan dengan Mas Bram....”“Astaga, anakku... sungguh berat cobaan hidupmu. Kamu wanita yang luar biasa kuat,” isak Ajeng, langsung membawa tubuh rapuh Intan ke dalam pelukan hangatnya.Di dalam dekapan ibunya, Intan berbisik dengan nada memohon yang amat sangat, “Karena itu, Ma... tolong jangan pernah malu dengan keadaan Intan yang sekarang ya? Apa pun yang terjadi antara Intan dan ayah dari janin ini... anak dalam kandungan ini a
*Brak!*Seorang wanita muda dengan pakaian modis namun wajah yang tampak kusut dan penuh amarah menerobos masuk. Amelia. Napasnya memburu, dan matanya langsung tertuju pada Intan yang terbaring di ranjang."Di mana Abraham, Intan?!" seru Amelia tanpa basa-basi, mengabaikan keberadaan Ajeng. Ia melangkah mendekat dengan langkah besar yang mengintimidasi. "Jangan pura-pura luput! Aku tahu kamu disembunyikan di rumah sakit mewah ini oleh pria kaya baru. Dan aku yakin, Abraham juga ada di sekitar sini, kan? Kamu sengaja menyembunyikannya agar aku tidak bisa mendapatkan hakku!"Intan tersentak, wajahnya yang baru mulai membaik kembali memucat. "Amelia… apa yang kamu lakukan di sini?""Jangan sok polos!" Amelia menunjuk wajah Intan dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Gara-gara kamu, jalanku untuk menguasai saham Sukoco jadi terhambat! Aris bilang Abraham hilang, tapi aku tidak bodoh. Kamu pasti menyembunyikan dia untuk membalas dendam padaku
“Radit...” Abraham menggumamkan nama itu.Deg!Kepingan memori masa lalu mendadak menghantam benaknya dengan telak. Suara merdu namun sarat akan tangis protes dari seorang wanita bergema di telinganya. *Intan.**“Radit itu saudaramu, Mas! Tidak seharusnya kamu cemburu kepadanya. Apa-apaan kamu ini? Kamu menduakan aku saja aku tidak pernah protes, sementara adikmu hanya membantuku tapi kamu cemburu setengah mati! Kamu egois, Mas. Jika kamu memang mencintai Melia, maka ceraikan aku!”*Ingatan itu menghunjam relung hati Abraham hingga ia mendesah perih. Kata 'cerai' yang terlontar dari bibir wanita yang paling dirindukannya itu adalah awal dari kehancuran hidupnya. Dulu ia tidak pernah menganggap serius ancaman Intan, sampai asistennya yang bernama Aris bermain api di belakangnya. Ibunya, Novita, yang memaksanya menerima Aris dengan alasan agar Abraham berhenti membuat skandal dengan sekretaris-sekretaris seksi di kantor. Namun ternyata, keputusan itu justru menjadi bumerang yang mengha
Dharma pulang saat hari sudah sangat sore. Bahkan matahari sudah hampir tenggelam. Begitu memarkirkan kendaraannya ia segera menuju pendopo tempat biasa kedua orang tua duduk menikmati suasana sore. Banyak hal yang harus ia kerjakan di tempat Intan salah satunya adalah mencari tempat perbaikan CC
Intan tak bisa tidur sejak semalam. Kakinya yang cacat terasa nyeri pada otot dan linu. Ditambah lagi pikiran yang sedang ruwet karena banyaknya pesanan kerajinan rotan sementara persediaan bahan mentahnya susah didapatkan. Intan belum tahu pasti, kenapa supplier langganannya menghentikan pengiri
Rintik hujan semakin lebat bahkan disertai angin kencang yang menghantam kaca jendela kamar Intan. Tinggal di wilayah Kabupaten Garut yang dikategorikan sebagai daerah beriklim tropis basah, dengan iklim 9 bulan basah dan 3 bulan kering mau tak mau membuat Intan harus membiasakan diri dengan seri
Usapan di puncak kepala berubah menjadi belaian disusul dengan ciuman di kening, lalu di pipi sebelum kemudian menuju rahang singgah sebentar di sudut bibir. Sumpah, rasanya sungguh nikmat nafkah batin di pagi hari dari orang terkasih. Belaian dan kecupan Intan yang selalu dirindukan oleh Ab












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews