Pagi itu, udara Karangpawitan masih dibalut sisa hujan semalam. Di teras rumah, Risa sudah siap dengan ransel pink pastelnya, tampak kontras dengan wajahnya yang serius. "Kamu yakin mau antar aku, Sa?" tanya Intan sembari menyesuaikan posisi kruknya. "Yakin, Mbak. Bapak sama Ibu juga sudah titip pesan. Lagipula kita nggak langsung balik, kan? Mbak harus ketemu teman soal guru matematika itu," jawab Risa mantap. Ia tidak tega membiarkan wanita yang sudah dianggapnya kakak sendiri itu berjuang sendirian di kota yang pernah membuangnya. "Iya, tapi nanti kamu repot. Aku perginya agak lama mungjin." "Ya sudah kalau begitu. Mbak nggak mungkin sendiri. Apalagi masih kambuh begitu kakinya. Risa nggak tega lepas Mbak sendiri." Aminah muncul dari arah dapur, membawa nampan berisi kopi dan pisang goreng yang aromanya menggoda selera. "Sarapan dulu. Jangan berangkat dengan perut kosong." "Iya, Bu," sahut Risa sembari meletakkan tasnya di kursi teras. "Jangan taruh tas di luar, Sa! Kamu
Read more