Share

BAB 10

Author: Casanova
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-20 11:37:36

“Kamu di mana?” Mama Caca mengomel di telepon. Hampir satu jam menunggu di lobi, Suma tak kunjung menghampiri. Bersama suami dan kedua besannya terbang ke Bali pagi-pagi sekali, bahkan ada yang belum sempat sarapan dan mandi.

“Aku … aku ….” Suma menggaruk-garuk kepala. Dia bingung memberi alasan pada mamanya yang terus mengoceh tanpa jeda.

“Ini sudah satu jam. Sebentar lagi papa dan mertuamu kering dijemur matahari.” Mama Caca kembali menyembur.

“Maaf, Ma. Aku dan Tera sedang tidak ada di re
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
tera lebih berkelas dari pada inggit
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
tutup tlf tera..biar suma tanggung sendiri akibatnya
goodnovel comment avatar
Dyah Wiryastini
Cerdas Tera
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • ISTRI 365 HARI   BAB 70

    “Suma!” Mama Caca panik. Dikejarnya sang putra yang sudah berjalan cepat menuju ke area belakang rumah. Mata Suma memerah, wajah pun diselimuti amarah. Pengakuan jujur Bu Rosmi menjungkirbalikkan hati pria muda itu. Dia yang begitu bersemangat berbincang dengan Tera diberi kenyataan yang sebaliknya.“Suma, tunggu! Jangan emosi.” Mama Caca nyaris terjungkal permadani lantai.“Ca, hati-hati.” Papa Tama berlari menyusul. Dia khawatir saat melihat istrinya yang hampir terjatuh. Pasangan suami istri tersebut menghilang dari pandangan. Tertinggal Bu Rosmi yang mematung sendirian dengan mangkuk sup masih di tangan. Dia bingung dan sedih. Kejujurannya bisa saja menghancurkan ketenangan Inggit.“Apa aku salah jawab? Harusnya aku katakan saja tidak tahu menahu.” Wajah keriput Bu Rosmi tampak sedih. Namun, dia takbisa berlama-lama berdiam diri. Suara berisik dari halaman belakang memaksa kesadaran wanita tua itu kembali.“Apa Den Suma bakal memukul Inggit?” Membayangkan saja, Bu Rosmi sudah b

  • ISTRI 365 HARI   BAB 69

    “Nggit kamu kenapa?” Bu Rosmi kaget melihat bunga yang dihancurkan putrinya. Rangkaian yang indah itu dalam hitungan detik menjadi sampah. Kecantikannya musnah karena ulah kaki Inggit yang begitu lincah. Kelopak mawar bertebaran. Tangkainya patah.“Nggit? Kamu baik-baik saja? Kenapa dihancurkan?” Bu Rosmi menyadarkan putrinya.“Dia sengaja mengerjaiku, Bu. Sengaja! Mau melihat aku cemburu?”Inggit memungut kartu ucapan yang teronggok di lantai dekat kaki ibunya. Namun, niat itu belum terlaksana, dia harus mengalah. Bu Rosmi menyambar lebih dulu.“Apa kamu sudah gila, Nggit? Sadar! Suma sudah menikah. Itu fakta yang harus kamu terima.”“Dia dan Tera hanya menikah kontrak. Setahun, Bu. Satu tahun. Setelah urusan mereka selesai, Suma jadi duda. Kami akan berjuang lagi untuk mendapatkan restu Tuan Tama dan Nyonya Caca.”Bu Rosmi menggeleng. “Rencana gila apa ini? Perjuangan gila apa yang kalian rencanakan?” Tangan wanita tua itu bergetar menggenggam secarik kertas di tangannya. “Kalian p

  • ISTRI 365 HARI   BAB 68

    Inggit melangkah gontai masuk ke pekarangan luas kediaman milik Wiratama Resla Mandala Putra. Di tangan kirinya mengantung bungkusan hitam berisi nasi bungkus yang dibeli dari warung di ujung jalan. Benda itu berayun setiap empunya berjalan. Raut wajah tak bersemangat, dia mulai lelah dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja.Tiga purnama berlalu tanpa banyak cerita. Hubungan dengan Suma pun terkurung di dalam ruangan gelap tanpa cahaya. Semua hitam. Kehidupan mewahnya dulu lenyap tak berbekas, dia harus menerima keadaan kembali ke setelan semula. Putri asisten rumah yang menghuni bilik kecil di belakang istana megah tuannya.“Ini semua gara-gara Tera!” Inggit mendengkus. Kekesalannya karena takdir yang tak berpihak dilampiaskan pada satu nama, yaitu Tera. “Kalau saja dia tidak berulah, aku pasti masih hidup enak seperti biasa. Dia sengaja memancingku hingga ….”Langkah kaki gadis itu terhenti. Hari-harinya yang suram belakangan ini seperti tercerahkan saat mendapati perdebatan sek

  • ISTRI 365 HARI   BAB 67

    Tepat setelah menghubungi Tera, Suma menghubungi seseorang. Perasaannya begitu bahagia, senyum terus mengembang di wajah tampannya. Belakangan, hidup pria muda itu terasa jauh lebih ringan. Ada banyak hal yang selama ini tak pernah dijumpai, kini ditemuinya. Dunianya masih sama, tetapi dia memperlakukan diri lebih manusiawi. Kalau dulu, di dalam hidup hanya ada Inggit, kini tak lagi. Hari-harinya lebih seimbang antara keluarga, perusahaan, dan pertemanan.Kedua ibu jari tampak menari-nari di atas papan pengetikan. Begitu lancar dengan wajah semringah. Obrolannya dan Tera masih menyisakan buncah di dada, walau terselip secuil galau setiap teringat kontrak pernikahan yang suatu saat akan usai. Tak lagi genap setahun, waktu terus berjalan. Pak, tolong kirimkan buket bunga terbaik, ya. Sebentar, aku kirim kata-kata ucapannya.Suma membaca ulang hasil ketikannya sebelum mengirimkan ke nomor pemilik florist langganan. Tak butuh waktu lama, pesan balasan pun diterima oleh owner-nya sendiri.

  • ISTRI 365 HARI   BAB 66

    Tiga purnama berlalu dengan tertatih-tatih. Ada yang datang, juga ada yang pergi. Silih berganti. Banyak yang terjadi dalam hidup Suma, Tera, dan Inggit. Semua cerita yang melengkapi takdir Yang Kuasa.“Suma.” Papa Tama menyodorkan ponselnya. Layar benda pipih itu menyala terang dengan bukti transfer senilai lima puluh juta rupiah.“Ini apa?” tanya Suma, bingung. Duduk di depan papanya, pria muda yang tampak jauh lebih dewasa dalam balutan setelan kerja itu menegakkan tubuhnya. “Bukannya semua gajiku masuk ke rekening Tera?” Papa Tama terkekeh ringan. Ada kebanggaan yang terpancar di wajah semringahnya. Dia bahagia melihat kemajuan Suma beberapa bulan terakhir. Proyek pertama yang dipegang sang putra lancar tanpa hambatan. Bahkan, lebih dari target yang diperkirakan. Putra satu-satunya sudah menunjukkan niat dan ketulusan dalam bekerja.“Itu bonusmu.” Papa Tama menerangkan.“Kenapa dikirim ke rekeningku? Bukannya biasa dikirim ke rekening Tera.” Nama sang istri disebut, raut wajah S

  • ISTRI 365 HARI   BAB 65

    “Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status