Share

BAB 9

Author: Casanova
last update publish date: 2026-09-19 07:37:40

Papa Mahaka menguap berulang kali. Duduk di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta, sesekali dia menggerutu. Istri yang sejak tadi sabar meladeni setiap protesnya hanya diam sembari menjaga agar keluhan sang suami tak terdengar oleh besan mereka.

“Kenapa tidak memberitahu dari kemarin-kemarin, sih?” Mahaka mendengkus kesal. Dia bahkan tidak sempat mandi, hanya membasuh wajah dan gosok gigi.

“Sudah. Kak Haka saja yang tidak menanggapi. Semalam saat aku menyiapkan koper, Kak Haka masih sempat mel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI 365 HARI   BAB 10

    “Kamu di mana?” Mama Caca mengomel di telepon. Hampir satu jam menunggu di lobi, Suma tak kunjung menghampiri. Bersama suami dan kedua besannya terbang ke Bali pagi-pagi sekali, bahkan ada yang belum sempat sarapan dan mandi. “Aku … aku ….” Suma menggaruk-garuk kepala. Dia bingung memberi alasan pada mamanya yang terus mengoceh tanpa jeda. “Ini sudah satu jam. Sebentar lagi papa dan mertuamu kering dijemur matahari.” Mama Caca kembali menyembur. “Maaf, Ma. Aku dan Tera sedang tidak ada di resor. Kita baru kembali nanti sore atau malam.” Suma beralasan. Bersusah payah menyelinap keluar dari resor, Suma harus segera mencari cara menyelamatkan diri. Dia tak mau sampai kedoknya terkuak. Bulan madu yang harusnya dilewati bersama Tera, tetapi pria tampan itu malah mengajak Inggit. Andai Mama Caca mengetahui, tentu akan murka. “HAH!” Suara terkejut itu ditunjukkan dengan notasi tinggi dan suara kencang. Mama Caca takbisa berkata-kata. Dia merasa dikerjai sang putra. “Bagaimana?” tanyany

  • ISTRI 365 HARI   BAB 9

    Papa Mahaka menguap berulang kali. Duduk di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta, sesekali dia menggerutu. Istri yang sejak tadi sabar meladeni setiap protesnya hanya diam sembari menjaga agar keluhan sang suami tak terdengar oleh besan mereka. “Kenapa tidak memberitahu dari kemarin-kemarin, sih?” Mahaka mendengkus kesal. Dia bahkan tidak sempat mandi, hanya membasuh wajah dan gosok gigi. “Sudah. Kak Haka saja yang tidak menanggapi. Semalam saat aku menyiapkan koper, Kak Haka masih sempat melihat, ‘kan?” Papa Mahaka membisu. “Ayo senyum. Jangan mengeluh. Tidak enak dengan besan. Ini rencana mereka agar kita ikut liburan bersama. Katanya menyambut pernikahan Suma dan Tera. Di sana kita akan merayakan ulang tahun Suma.” Haka terbeliak. “Aku tidak sudi. Sejak awal aku tidak pernah respek dengan anak itu. Apa bagusnya? Kalau bukan karena orang tuanya, aku akan berpikir ribuan kali merestui.” Papa Mahaka masih mengungkit hal yang sama berulang-ulang. “Kak.” Mama Nayala mengingatkan.

  • ISTRI 365 HARI   BAB 8

    Kantong belanjaan teronggok di ruang tamu apartemen, dua sahabat lama terlihat duduk di sofa mengamati hasil perburuan mereka setelah nyaris sepanjang hari berkeliling di salah satu mal besar ibu kota. “Besok kita jalan lagi, Kak Tera.” Britania merebahkan punggungnya di sandaran sofa. Melepas penat yang mendera raga, dia tersenyum lega. Bersama Tera, keduanya berburu pakaian, sepatu, dan tas. “Mumpung aku masih libur. Lusa sudah kuliah lagi,” lanjutnya. Tera tercengang. “Besok lanjut lagi?” tanya wanita muda itu, menoleh ke arah Britania yang duduk di sebelahnya. “Untuk apa? Yang di sana saja aku bingung kapan mengenakannya. Kamu sudah mau mengajakku keliling lagi?” “Besok kita ke salon sekalian ke optik. Kita ganti kacamatamu dengan yang agak kekinian. Kalau perlu pakai kontak lens untuk sementara. Aku dengar-dengar bisa dilasik. Mudah-mudahan bisa terbebas dari kacamata.” Britania menjelaskan. Tera merapikan kacamatanya lalu mengernyit. “Aku tidak ada masalah, Bri. Kacamataku m

  • ISTRI 365 HARI   BAB 7B

    Ayo, kita bicara ke depan.” Jejak luka di wajah Tera terbaca Britania. Gadis cantik itu merengkuh lengan lawan bicaranya tanpa permisi lalu menuntun ke arah taman yang sore itu dipenuhi anak-anak dan para penghuni apartemen. Jantung Tera berdetak dua kali lebih kencang. Kaki melangkah mengikuti Britania, tetapi pikirannya menerawang jauh. Entah alasan apa yang akan diberikan. Tidak mungkin berterus-terang. Akan tetapi, dia juga takbisa memberi alasan yang masuk akal pada gadis muda berstatus mahasiswi universitas ternama tersebut. Duduk di bangku taman, dua wanita muda itu saling berhadapan. Sore yang indah, suara anak-anak riuh rendah. Kilau keemasan meneduhkan dari sudut barat cakrawala. “Kak Tera bertengkar dengan Kak Suma?” tanya Britania, penasaran. Selain sepupu Suma, mereka juga bertetangga. “Kamu ke sini dengan siapa, Bri?” Tera mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau pembahasan mengenai hubungannya dan Suma terus berlanjut. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang terja

  • ISTRI 365 HARI   BAB 7A

    Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri. “Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan. “Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan. Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini. Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk m

  • ISTRI 365 HARI   BAB 6

    Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang.“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status