Home / Romansa / ISTRI 48 JAM TUAN CEO / 125. BINTANG MALAMKU

Share

125. BINTANG MALAMKU

Author: Purple Rain
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-12 16:37:17

​Wajah Bella memanas. Jarak yang tiba-tiba sirna itu membuat indranya dipenuhi aroma kopi, eau de parfum mahal, dan sesuatu yang—entah bagaimana—sangat akrab dari diri Ethan. Tubuhnya secara naluriah mundur selangkah, namun terhenti oleh dinding yang keras di belakangnya.

​“Ethan, jangan mulai,” Bella berbisik, suaranya terdengar lebih seperti erangan. Situasi ini sama sekali tidak ada dalam “Kontrak Kerja” yang mereka setujui.

​Ethan tersenyum tipis, senyum yang biasanya hanya ia tunjukkan saa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    210. PUING-PUING ARCHADIA (END)

    Suasana di Sky Hall Residence yang biasanya memancarkan aura kemewahan modern, seketika berubah menjadi makam yang dingin. Ethan Dirgantara berdiri kaku di depan jendela kaca raksasa, namun matanya tidak lagi melihat gemerlap city light New Arcadia. Ia hanya melihat pantulan dirinya sendiri—seorang pria yang memiliki segalanya, namun kehilangan satu-satunya alasan untuk menikmati itu semua.Di atas meja marmer, sebuah kotak beludru kecil yang telah dibersihkan dari noda darah diletakkan dengan tangan gemetar. Kancing manset itu berkilat mengejeknya. Hadiah ulang tahun yang seharusnya menjadi simbol masa depan, kini menjadi pusaka terakhir dari wanita yang ia puja.Ethan tidak menangis dengan meraung. Dukanya adalah jenis yang sunyi dan mematikan. Sejak kabar penembakan itu sampai ke telinganya tiga hari yang lalu, ia belum menyentuh makanan ataupun mengganti kemeja hitamnya."Ethan..." Suara lembut Sovia memecah kesunyian. Saudara kembarnya itu berdiri di ambang pintu dengan mata semb

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    209. PESTA KEJUTAN

    Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk Mansion Dirgantara, suasana di Sky Hall Residence terasa jauh lebih modern namun tak kalah membara. Jika di kediaman Kayvandra suasananya kental dengan aroma lavender dan rekonsiliasi masa lalu, di penthouse milik Ethan, segalanya terasa lebih intens, bersih, dan penuh dengan gairah masa depan.Dinding kaca raksasa Sky Hall menampilkan pemandangan city light New Arcadia yang gemerlap, namun Ethan sama sekali tidak tertarik pada pemandangan di luar. Fokusnya hanya satu: Bella.Ethan baru saja selesai menuangkan segelas red wine, namun gelas itu berakhir terabaikan di atas meja marmer. Ia menarik Bella ke dalam pelukannya, menyesap aroma parfum vanila yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Di bawah temaram lampu gantung minimalis, Ethan menatap Bella dengan binar posesif yang tidak lagi ia sembunyikan."Malam ini hanya kita, Bel. Tidak ada urusan kantor, tidak ada gangguan dari siapa pun," bisik Ethan, suaranya berat dan serak tepat di telinga Bella.

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    208. MENYERAHKAN SELURUH JIWA

    Hening kembali tercipta. Aroma lavender menguat, seakan ingin mendamaikan hati kedua orang yang tengah bergejolak di tengah badai. “Setiap detik setelah aku pulih dari koma, yang aku pikirkan hanyalah kalian. Ingin sekali aku pulang, tapi aku rasa… belum saatnya. Apalagi melihat kondisimu, anak-anak kita, perusahaan… semua itu membuatku harus bangkit dan meletakkan kembali posisinya ke tempat semula.” Kay menjelaskan setelah merasa sedikit tenang.“Setelah kamu pergi, aku merasa… sudah tidak ada lagi yang harus aku lakukan. Ya… tidak ada tujuan hidup, karena semuanya sudah kamu bawa pergi Mas,” genggaman menatapnya—lekat.Keheningan kamar itu kini tidak lagi terasa dingin. Isak tangis Zivanna mereda, digantikan oleh deru napas Kayvandra yang terasa hangat di dadanya. Genggaman tangan Zivanna pada jemari suaminya mengerat, seolah takut jika ia berkedip, pria ini akan kembali menjadi bayang-bayang yang hilang ditelan waktu.Kayvandra perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    207. DASAR PENIPU!

    Langkah kaki mereka berdua, Kayvandra dan Ethan, bergema serempak di sepanjang koridor marmer yang panjang itu. Tidak ada lagi ketegangan yang tersisa di udara; yang tertinggal hanyalah bau parfum mahal dan residu dari dominasi yang baru saja ditegakkan.Ethan menekan tombol lift dengan tenang. Pintu perak itu terbuka, dan mereka masuk ke dalam kotak logam yang membawa mereka turun dari puncak kekuasaan menuju realitas bisnis yang sesungguhnya."Kau terlalu lunak padanya," ujar Kayvandra tanpa menoleh, matanya terpaku pada angka lantai yang terus berkurang di layar digital.Ethan terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Jika aku menghancurkannya hari ini, aku tidak akan mendapatkan akses ke rekening luar negeri yang dia sembunyikan, Pa. Memberi ruang bagi seekor tikus untuk panik adalah cara terbaik untuk melihat ke mana lubang persembunyiannya."Kayvandra menoleh, menatap putranya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat—sebuah pengakuan yang jarang ia berikan. "Jadi, kau sudah

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    206. KONFRONTASI LANTAI 50

    Kayvandra tidak langsung duduk. Ia justru berjalan perlahan mengelilingi meja marmer yang panjang itu, langkah kakinya beradu dengan lantai, menciptakan irama yang terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu bagi para direktur di sana. Ia berhenti tepat di belakang kursi Pak Hadi, lalu mencondongkan tubuhnya."Duduk, Hadi," suara Kayvandra rendah, hampir seperti bisikan, namun menusuk tajam. "Lututmu tampak tidak stabil. Aku tidak ingin kau pingsan di sini dan membuat rapat ini semakin membosankan."Pak Hadi terduduk lemas, wajahnya sepucat kertas. Suasana ruangan yang tadi penuh dengan arogansi kini berubah menjadi pemakaman bagi rencana busuk mereka."B-bagaimana... Anda..." Pak Hadi tergagap, mencoba mencari celah untuk membela diri, namun suaranya hilang ditelan keberadaan Kayvandra.Kayvandra kemudian berjalan menuju ujung meja yang lain—kursi utama, kursi sang pemimpin. Dengan gerakan santai, ia menarik kursi itu dan duduk, menatap seluruh ruangan dengan pandangan p

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    205. KEBANGKITAN SOSOK 'HANTU' YANG TERLUPAKAN

    ​Di dalam mobil hitam yang melaju mulus membelah kemacetan pagi New Arcadia, suasana terasa kontras dengan kekacauan di mansion tadi. Ethan duduk tegak, tangannya tak henti-hentinya merapikan letak dasinya. Bella, di sampingnya, berusaha mengatur napas.​Kayvandra, di sisi lain, tampak seperti sedang menikmati perjalanan liburan. Ia menatap ke luar jendela, memandangi papan reklame dan gedung-gedung yang ia kenal—atau lebih tepatnya, yang ia tinggalkan.​"Jangan gugup, Bella," suara Kayvandra memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. "Orang-orang di dalam sana lebih takut padamu daripada kau takut pada mereka. Ingat, kau adalah orang yang berdiri di samping Ethan saat perusahaan dan harga diri Dirgantara hampir karam. Itu posisi yang terhormat."​Bella menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Om—maksud saya, Papa."​"Ethan," panggil Kayvandra, kini menatap putranya. "Ingat, kau tidak sendirian lagi. Biarkan mereka bermain dengan asumsi mereka selama mun

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    17. LIMA MENIT

    “Ares, berdiri. Sekarang juga!” Nada Zivanna tegas, tapi suaranya terdengar bergetar. Ia tidak tahu getaran itu karena marah atau —gugup.Ares justru menatapnya dari posisi berjongkok, seolah enggan melepaskan momen itu. “Aku serius, Zee. Aku nggak peduli apa kata dunia, atau siapa yang mau protes.

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    16. PENGAKUAN ARES

    “Lepas!” Zivanna menyingkirkan tangan Ares dari bahunya.“Aku sudah nolong kamu dari dia, lho. Begini cara kamu berterima kasih?” tampak kekecewaan di raut wajah Ares yang kini menggaruk tengkuknya.“Makasih,” ia berbalik badan, kemudian menatap Ares dengan datar.Namun tetap saja Ares bergeming, p

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    15. DILEMA

    Ares masih berlutut di depan Zivanna, napasnya memburu, wajahnya setengah terkejut setengah marah— marah pada dirinya sendiri atau pada keadaan, Zivanna tidak tahu.“Aku tidak perlu menjelaskan,” suara Zivanna rendah, dingin, tapi getarannya tidak bisa ia sembunyikan. Tangannya meraih kaosnya yang

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    14. DERMAGA 7

    Langkah Zivanna melebar, gaun hitamnya berayun mengikuti gerak. Ia menyusuri tepian kerumunan, menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang—meski ia bisa merasakan tatapan tiga pasang mata memburunya sekaligus: Jessica, Ares, dan Kayvandra. Draven sudah menunggu di lorong servis, kamera di lehern

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status