MasukSelama dua tahun menikah, Rosaline Atmadja hanya menyandang status sebagai istri di atas kertas. Damian Atmadja tak pernah mencintainya, tak pernah menyentuhnya, dan lebih memilih kembali ke pelukan wanita yang telah menjadi kekasihnya jauh sebelum perjodohan itu terjadi. Ironisnya, wanita itu adalah Bianca Maheswara—istri dari Alexander Maheswara, pewaris konglomerat terbesar yang dikenal dingin, kejam, dan tak tersentuh. Saat pengkhianatan itu menghancurkan harga dirinya, Rosaline memutuskan berhenti menjadi istri yang hanya diam menahan luka. Jika Damian memilih menghancurkan hidupnya, maka ia akan menghancurkan kebahagiaan mereka dengan caranya sendiri. Namun, satu langkah yang seharusnya hanya menjadi awal balas dendam justru mengubah segalanya. Karena pria yang seharusnya paling mustahil untuk jatuh cinta... perlahan mulai menginginkan Rosaline menjadi miliknya. Ketika cinta, pengkhianatan, dan balas dendam saling bertabrakan, siapa yang akan menyesali semuanya lebih dulu?
Lihat lebih banyakHening memenuhi kamar hotel mewah itu, tirai tipis yang bergoyang pelan diterpa embusan pendingin ruangan membiarkan cahaya lampu kota masuk melalui dinding kaca yang menjulang dari lantai hingga langit-langit.
Damian berdiri di depan jendela sambil merapikan kancing kemejanya yang sejak tadi terlepas, jas hitamnya tergeletak begitu saja di atas sofa. Di atas ranjang, Bianca menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur dengan balutan robe satin berwarna gading. Senyum tipis masih menghiasi wajah cantiknya saat memandangi pria yang telah mengisi hatinya selama tujuh tahun terakhir. “Aku masih tidak suka melihatmu pulang ke rumahnya,” gumam Bianca lirih. Damian menghentikan gerakannya sejenak sebelum mengambil jam tangan dari atas nakas. “Aku juga.” Bianca turun dari ranjang, berjalan menghampiri Damian, lalu merapikan kerah kemeja pria itu dengan gerakan yang begitu sensual. "Kalau begitu... ceraikan dia." Tatapan Damian bertemu dengan mata Bianca. “Lalu bagaimana dengan suamimu?” tanyanya datar. “Apa kamu juga akan menceraikan suamimu yang hebat itu?” Bianca terkekeh pelan, tetapi tawanya terdengar hambar. "Alexander? Pernikahan kami bahkan lebih buruk daripada pernikahanmu. Dia tidak pernah mencintaiku. Kami tidur di kamar yang berbeda, menjalani hidup masing-masing. Bahkan dua bulan setelah menikah, dia pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya. Aku hanyalah istri yang dipilih keluarganya." Damian mengembuskan napas panjang. "Seharusnya yang menikah denganmu adalah aku." "Aku juga berpikir begitu." Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat, Damian masih mengingat dengan jelas hari ketika semuanya berubah. Perusahaan Atmadja yang dibangun ayahnya selama puluhan tahun hampir runtuh setelah dikhianati rekan bisnis sendiri. Utang menumpuk, aset mulai disita, dan satu demi satu relasi bisnis memilih meninggalkan keluarga mereka. Tak ada seorang pun yang bersedia membantu, tak ada... kecuali keluarga Adiwijaya. Namun bantuan sebesar itu tidak diberikan secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, Damian harus menikahi putri tunggal keluarga Adiwijaya. Rosaline Adiwijaya. Damian sempat menolak. Ia bahkan memohon kepada ayahnya agar mencari jalan lain, namun keadaan tidak memberi mereka pilihan. Menolak berarti membiarkan perusahaan keluarga hancur dan seluruh karyawan kehilangan mata pencaharian. Demi menyelamatkan keluarganya, Damian akhirnya mengorbankan wanita yang dicintainya. Di sisi lain, Bianca pun mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Kedekatan keluarga Wiranata dan Maheswara membuat kedua orang tuanya menerima lamaran Alexander tanpa pernah meminta pendapat putri mereka. Hari itu, dua orang yang saling mencintai dipaksa berjalan ke pelaminan bersama pasangan yang berbeda. "Aku tidak akan membiarkan keadaan seperti ini selamanya," ucap Damian seraya mengusap pipi Bianca. "Aku akan menceraikan Rosaline, lalu menikahimu." Bianca tersenyum lega sebelum memeluk pria itu erat. "Aku akan menunggumu." Ponsel Damian tiba-tiba bergetar di atas meja. Layar menampilkan satu nama. Rosaline. Damian hanya melirik sekilas sebelum membalikkan ponselnya. "Dia mencarimu," ujar Bianca. "Biarkan saja." "Hari ini kan ulang tahunmu." "Aku tahu." “Dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untukmu.” Bianca tertawa pelan. “Mungkin makan malam… atau kue ulang tahun.” Damian pun memasukkan dompet ke dalam saku celananya. “Kalau memang begitu, dia bisa menikmatinya sendiri.” Bianca terkekeh geli mendengar jawaban itu. “Kasihan juga dia.” “Tidak perlu mengasihaninya, dia mendapatkan apa yang diinginkan banyak perempuan.” “Maksudmu?” “Status sebagai Nyonya Atmadja.” Bianca menatap Damian beberapa saat. “Bagaimana kalau suatu hari dia lelah menunggumu?” Damian tersenyum tipis, senyum yang dipenuhi keyakinan. “Itu tidak akan terjadi.” “Kamu yakin?” “Rosaline sangat mencintaiku.” Jawaban itu begitu mantap, seolah tidak menyisakan sedikit pun ruang untuk keraguan. “Dia tidak akan pernah meninggalkanku, terkecuali aku yang akan meninggalkannya lebih dulu.” Mendengar keyakinan Damian, Bianca kembali tersenyum. Ia melangkah mendekat hingga tubuh mereka nyaris tak berjarak, kedua lengannya melingkar perlahan di leher pria itu. “Kalau begitu…” bisiknya pelan. “Jangan pulang malam ini.” Damian menatap Bianca tanpa berkata apa-apa. Lalu Bianca mengusap pelan kerah kemeja pria itu yang baru saja dirapikannya, lalu tersenyum manis. "Temani aku sampai pagi." "Besok aku juga tidak ada jadwal apa pun," lanjutnya dengan nada manja. "Sudah lama kita tidak benar-benar punya waktu berdua seperti ini." Damian mengembuskan napas pelan. Jemarinya terangkat, menyingkirkan beberapa helai rambut Bianca yang menutupi wajah wanita itu. "Kau tahu aku sulit menolakmu." "Tentu saja tahu." Bianca tersenyum penuh kemenangan. "Kalau tidak, aku tidak akan memintanya." Damian menggeleng pelan sambil terkekeh. "Kau ini memang keras kepala." "Dan kau selalu mengalah." "Karena hanya padamu aku ingin mengalah." Mendengar jawaban itu, senyum Bianca semakin lebar. Ia mengeratkan pelukannya di leher Damian, enggan memberi pria itu kesempatan untuk menjauh. "Jadi... bagaimana?" Damian menatap jam tangan yang baru saja dikenakannya, kemudian melirik sekilas ke arah ponsel yang masih tergeletak telungkup di atas nakas. Beberapa detik berlalu. Pria itu akhirnya mengembuskan napas pelan sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada Bianca. "Baiklah." Senyum Bianca langsung mengembang. "Aku akan menemanimu." Baginya, malam itu jauh lebih ingin ia habiskan bersama wanita yang dicintainya daripada kembali ke rumah tempat seseorang masih setia menunggu kepulangannya. *** Di saat yang sama, aroma cokelat memenuhi dapur rumah keluarga Atmadja. Rosaline tersenyum puas menatap kue yang baru saja selesai dihias. Jemarinya yang ramping masih memegang piping bag berisi cokelat leleh. Dengan penuh kehati-hatian, ia merapikan tulisan ‘Happy Birthday, Damian’ di atas lapisan buttercream putih. Setelah merasa semuanya sempurna, ia melangkah mundur sambil mengangguk kecil. "Cantik." Ia memang tidak pandai membuat banyak hal, tetapi untuk urusan memasak, Rosaline selalu berusaha memberikan yang terbaik. Sejak siang ia berada di dapur menyiapkan semua makanan favorit Damian. Steak medium, sup krim jamur, kentang panggang, hingga jus jeruk tanpa gula telah tersusun rapi di atas meja makan. Ia bahkan mengganti taplak meja dengan yang baru agar makan malam mereka terasa sedikit lebih istimewa. Hari ini adalah ulang tahun Damian. Dan entah mengapa, Rosaline kembali berharap bahwa kali ini suaminya akan pulang lebih cepat. Harapan itu terdengar bodoh. Namun selama dua tahun menikah, ia masih belum mampu berhenti berharap. Rosaline adalah wanita yang sederhana. Meski lahir sebagai putri tunggal keluarga Adiwijaya, ia tidak pernah menyukai perhiasan mahal ataupun gaun yang mencolok. Ia lebih nyaman mengenakan pakaian dengan warna-warna lembut, mengikat rambut seadanya, lalu menghabiskan waktu membaca buku daripada menghadiri pesta kalangan atas. Banyak orang menganggapnya terlalu pendiam, terlalu membosankan, bahkan culun untuk ukuran seorang pewaris konglomerat. Tidak ada yang tahu bahwa sejak masa sekolah, hatinya telah dipenuhi satu nama. Damian Atmadja. Pria itu mungkin bahkan tidak pernah menyadari keberadaannya. Karena itulah, ketika sang ayah bertanya apakah ia bersedia menikahi Damian demi menyelamatkan keluarga Atmadja, Rosaline menerima tanpa berpikir panjang. Ia mengira Tuhan akhirnya memberinya kesempatan untuk hidup bersama lelaki yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari kejauhan. Yang tidak pernah ia ketahui adalah... Saat itu Damian telah memiliki seorang wanita yang dicintainya. Bianca Winarta. Hubungan mereka telah berjalan selama bertahun-tahun. Rosaline memasuki pernikahan itu tanpa mengetahui bahwa dirinya hanyalah pengganti yang dipilih oleh keadaan. Dering notifikasi membuyarkan lamunannya, Rosaline segera mengambil ponsel di atas meja. Nama Damian membuat senyumnya kembali mengembang. Namun senyum itu perlahan memudar ketika membaca isi pesannya. > Aku lembur malam ini. Jangan tunggu aku. Rosaline menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil. "Lembur lagi...." Sudah terlalu sering ia mendengar alasan yang sama. Selama dua tahun pernikahan mereka, Damian hampir tidak pernah pulang tepat waktu. Makan malam bersama hanyalah angan-angan. Ulang tahun, hari jadi pernikahan, bahkan akhir pekan selalu berakhir dengan alasan pekerjaan. Perlahan ia menatap dua piring yang telah tersusun di atas meja. Kemudian ia mengambil salah satunya, dan mengembalikannya ke dalam lemari. Kini hanya tersisa satu. Rosaline membuka laci kecil di dapur, mengambil sebatang lilin, lalu menancapkannya di atas kue. Setelah api kecil itu menyala, ia duduk sendirian di depan meja makan yang begitu sunyi. Tatapannya tak lepas dari nyala api yang bergoyang pelan. "Selamat ulang tahun, Damian." Rosaline memejamkan mata sejenak, lalu meniup lilin itu seorang diri. Huuu~ Api kecil tersebut padam dalam sekejap, bersamaan dengan harapan sederhana yang kembali gagal ia rayakan malam itu. Bersambung…Alexander melangkah menyusuri lorong menuju kamar pribadinya. Namun, begitu tiba di depan pintu, langkahnya seketika terhenti. Tatapannya tertuju pada angka di pintu yang kini berubah menjadi 6.Alisnya langsung berkerut.Seketika ingatannya kembali pada kejadian semalam, saat Rosaline berkali-kali berusaha membuka pintu kamarnya.“Jangan-jangan…” gumamnya pelan. “Dia mengira kamar ini adalah kamar nomor enam.”Alexander perlahan mengalihkan pandangannya ke arah pintu lain yang memang bertuliskan angka 6. Keningnya semakin berkerut.Kalau Rosaline memang salah masuk kamar…Lalu pria yang sebenarnya ingin ditemuinya semalam berada di kamar nomor enam?Benarkah Rosaline sengaja memesan seorang pria dari klub ini?Pikiran itu membuat rahangnya mengeras. Tanpa membuang waktu, Alexander segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu mengirim pesan singkat kepada Sean.> Sean, cari tahu siapa yang menempati kamar nomor 6 semalam.Setelah pesan itu terkirim, Alexander memasukkan kode a
Pagi akhirnya tiba. Cahaya matahari yang menembus celah tirai perlahan menyinari kamar itu. Alexander masih duduk di kursi yang berada di samping ranjang, tatapannya tak pernah lepas dari Rosaline yang masih terlelap dengan napas teratur.Semalaman ia tidak memejamkan mata sedikit pun.Efek obat yang mengalir di tubuhnya sempat membuat seluruh tubuhnya terasa panas, bahkan kemeja hitam yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Namun Alexander memilih mengabaikan semuanya. Baginya, memastikan Rosaline baik-baik saja jauh lebih penting daripada memedulikan dirinya sendiri.Dalam keheningan, Alexander meraih ponsel yang terletak di atas nakas. Jemarinya segera mengetik sebuah pesan untuk Tama.> Datang ke kamar VIP nomor 9 di Noir Éclipse Club. Bawakan satu setel pakaian untukku dan satu gaun wanita yang sopan. Jangan biarkan siapa pun tahu kau ke sini.Tak lama kemudian, pesan itu terkirim.Baru saja Alexander hendak meletakkan kembali ponselnya, terdengar suara lirih dari atas ranja
Tiga gelas cocktail yang diminumnya mulai menunjukkan efeknya. Kepala Rosaline terasa sedikit berat, pipinya memerah, bahkan pandangannya mulai mengabur. Meski begitu, ia masih berusaha mempertahankan kesadarannya.Tak lama kemudian, pelayan yang tadi dipanggil Anna kembali menghampiri mereka sambil membawa sebuah kartu akses.“Maaf sudah menunggu, Kak. Kamarnya sudah siap.”Anna langsung tersenyum puas. “Bagus.”Pelayan itu menyerahkan kartu tersebut kepada Rosaline. “Kamar nomor enam, Kak.”Rosaline menatap kartu di tangannya beberapa detik. Jantungnya tiba-tiba berdegup semakin cepat. Baru sekarang ia benar-benar menyadari apa yang akan dilakukannya malam ini.Anna yang melihat sahabatnya hanya diam langsung menyenggol bahunya pelan. “Nah… semangat, ya.”Rosaline hanya mampu tersenyum kecil. Entah karena gugup atau karena alkohol yang mulai menguasai tubuhnya.Pelayan itu kembali bertanya dengan sopan, “Kalau Kakak mau, saya bisa mengantar sampai ke depan kamar.”“Nggak usah.” Rosa
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil Anna akhirnya berhenti di depan Noir Éclipse Club. Cahaya lampu neon berwarna biru dan ungu menghiasi bagian depan bangunan mewah itu, sementara deretan mobil sport dan mobil-mobil mewah memenuhi area parkir. Rosaline mengangkat wajahnya, menatap papan nama klub itu beberapa saat. “Inikah tempatnya?” tanyanya pelan. Anna mengangguk sambil tersenyum lebar. “Tenang aja. Kita cuma bersenang-senang malam ini.” Rosaline menarik napas panjang sebelum akhirnya mengikuti langkah Anna memasuki klub. Begitu pintu terbuka, dentuman musik langsung memenuhi indera pendengarannya. Lampu-lampu berwarna-warni bergerak mengikuti irama, membuat seluruh ruangan dipenuhi suasana yang begitu hidup. Para tamu tampak menikmati malam mereka, sebagian menari di tengah lantai dansa, sebagian lagi duduk di sofa sambil berbincang dan menikmati minuman. Rosaline tanpa sadar mengerutkan kening. Ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Lam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan