Inicio / Romansa / ISTRI 48 JAM TUAN CEO / 40. HARAPAN KEDUA

Compartir

40. HARAPAN KEDUA

Autor: Purple Rain
last update Fecha de publicación: 2025-09-10 21:31:35

Waktu berjalan lambat. Detik terasa seperti menit, menit menjelma menjadi jam. Zivanna duduk di kursi panjang lorong rumah sakit, tubuhnya condong ke depan, wajah cantiknya terkubur di kedua telapak tangan, sementara bahunya bergetar menahan tangis yang tak kunjung reda.

Sovia tertidur di pangkuannya, tubuh mungil itu masih menggigil meski sudah berselimut tebal. Sesekali ia mengigau lirih, memanggil nama ibunya, lalu kembali terlelap dengan air mata yang masih membekas di pipi.

Ares berdiri ti
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    210. PUING-PUING ARCHADIA (END)

    Suasana di Sky Hall Residence yang biasanya memancarkan aura kemewahan modern, seketika berubah menjadi makam yang dingin. Ethan Dirgantara berdiri kaku di depan jendela kaca raksasa, namun matanya tidak lagi melihat gemerlap city light New Arcadia. Ia hanya melihat pantulan dirinya sendiri—seorang pria yang memiliki segalanya, namun kehilangan satu-satunya alasan untuk menikmati itu semua.Di atas meja marmer, sebuah kotak beludru kecil yang telah dibersihkan dari noda darah diletakkan dengan tangan gemetar. Kancing manset itu berkilat mengejeknya. Hadiah ulang tahun yang seharusnya menjadi simbol masa depan, kini menjadi pusaka terakhir dari wanita yang ia puja.Ethan tidak menangis dengan meraung. Dukanya adalah jenis yang sunyi dan mematikan. Sejak kabar penembakan itu sampai ke telinganya tiga hari yang lalu, ia belum menyentuh makanan ataupun mengganti kemeja hitamnya."Ethan..." Suara lembut Sovia memecah kesunyian. Saudara kembarnya itu berdiri di ambang pintu dengan mata semb

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    209. PESTA KEJUTAN

    Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk Mansion Dirgantara, suasana di Sky Hall Residence terasa jauh lebih modern namun tak kalah membara. Jika di kediaman Kayvandra suasananya kental dengan aroma lavender dan rekonsiliasi masa lalu, di penthouse milik Ethan, segalanya terasa lebih intens, bersih, dan penuh dengan gairah masa depan.Dinding kaca raksasa Sky Hall menampilkan pemandangan city light New Arcadia yang gemerlap, namun Ethan sama sekali tidak tertarik pada pemandangan di luar. Fokusnya hanya satu: Bella.Ethan baru saja selesai menuangkan segelas red wine, namun gelas itu berakhir terabaikan di atas meja marmer. Ia menarik Bella ke dalam pelukannya, menyesap aroma parfum vanila yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Di bawah temaram lampu gantung minimalis, Ethan menatap Bella dengan binar posesif yang tidak lagi ia sembunyikan."Malam ini hanya kita, Bel. Tidak ada urusan kantor, tidak ada gangguan dari siapa pun," bisik Ethan, suaranya berat dan serak tepat di telinga Bella.

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    208. MENYERAHKAN SELURUH JIWA

    Hening kembali tercipta. Aroma lavender menguat, seakan ingin mendamaikan hati kedua orang yang tengah bergejolak di tengah badai. “Setiap detik setelah aku pulih dari koma, yang aku pikirkan hanyalah kalian. Ingin sekali aku pulang, tapi aku rasa… belum saatnya. Apalagi melihat kondisimu, anak-anak kita, perusahaan… semua itu membuatku harus bangkit dan meletakkan kembali posisinya ke tempat semula.” Kay menjelaskan setelah merasa sedikit tenang.“Setelah kamu pergi, aku merasa… sudah tidak ada lagi yang harus aku lakukan. Ya… tidak ada tujuan hidup, karena semuanya sudah kamu bawa pergi Mas,” genggaman menatapnya—lekat.Keheningan kamar itu kini tidak lagi terasa dingin. Isak tangis Zivanna mereda, digantikan oleh deru napas Kayvandra yang terasa hangat di dadanya. Genggaman tangan Zivanna pada jemari suaminya mengerat, seolah takut jika ia berkedip, pria ini akan kembali menjadi bayang-bayang yang hilang ditelan waktu.Kayvandra perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang biasanya

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    207. DASAR PENIPU!

    Langkah kaki mereka berdua, Kayvandra dan Ethan, bergema serempak di sepanjang koridor marmer yang panjang itu. Tidak ada lagi ketegangan yang tersisa di udara; yang tertinggal hanyalah bau parfum mahal dan residu dari dominasi yang baru saja ditegakkan.Ethan menekan tombol lift dengan tenang. Pintu perak itu terbuka, dan mereka masuk ke dalam kotak logam yang membawa mereka turun dari puncak kekuasaan menuju realitas bisnis yang sesungguhnya."Kau terlalu lunak padanya," ujar Kayvandra tanpa menoleh, matanya terpaku pada angka lantai yang terus berkurang di layar digital.Ethan terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. "Jika aku menghancurkannya hari ini, aku tidak akan mendapatkan akses ke rekening luar negeri yang dia sembunyikan, Pa. Memberi ruang bagi seekor tikus untuk panik adalah cara terbaik untuk melihat ke mana lubang persembunyiannya."Kayvandra menoleh, menatap putranya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat—sebuah pengakuan yang jarang ia berikan. "Jadi, kau sudah

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    206. KONFRONTASI LANTAI 50

    Kayvandra tidak langsung duduk. Ia justru berjalan perlahan mengelilingi meja marmer yang panjang itu, langkah kakinya beradu dengan lantai, menciptakan irama yang terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu bagi para direktur di sana. Ia berhenti tepat di belakang kursi Pak Hadi, lalu mencondongkan tubuhnya."Duduk, Hadi," suara Kayvandra rendah, hampir seperti bisikan, namun menusuk tajam. "Lututmu tampak tidak stabil. Aku tidak ingin kau pingsan di sini dan membuat rapat ini semakin membosankan."Pak Hadi terduduk lemas, wajahnya sepucat kertas. Suasana ruangan yang tadi penuh dengan arogansi kini berubah menjadi pemakaman bagi rencana busuk mereka."B-bagaimana... Anda..." Pak Hadi tergagap, mencoba mencari celah untuk membela diri, namun suaranya hilang ditelan keberadaan Kayvandra.Kayvandra kemudian berjalan menuju ujung meja yang lain—kursi utama, kursi sang pemimpin. Dengan gerakan santai, ia menarik kursi itu dan duduk, menatap seluruh ruangan dengan pandangan p

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    205. KEBANGKITAN SOSOK 'HANTU' YANG TERLUPAKAN

    ​Di dalam mobil hitam yang melaju mulus membelah kemacetan pagi New Arcadia, suasana terasa kontras dengan kekacauan di mansion tadi. Ethan duduk tegak, tangannya tak henti-hentinya merapikan letak dasinya. Bella, di sampingnya, berusaha mengatur napas.​Kayvandra, di sisi lain, tampak seperti sedang menikmati perjalanan liburan. Ia menatap ke luar jendela, memandangi papan reklame dan gedung-gedung yang ia kenal—atau lebih tepatnya, yang ia tinggalkan.​"Jangan gugup, Bella," suara Kayvandra memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. "Orang-orang di dalam sana lebih takut padamu daripada kau takut pada mereka. Ingat, kau adalah orang yang berdiri di samping Ethan saat perusahaan dan harga diri Dirgantara hampir karam. Itu posisi yang terhormat."​Bella menelan ludah, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Om—maksud saya, Papa."​"Ethan," panggil Kayvandra, kini menatap putranya. "Ingat, kau tidak sendirian lagi. Biarkan mereka bermain dengan asumsi mereka selama mun

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    161. SEBUAH JANJI

    Setelah meninggalkan kamar ibunya dengan janji manis yang masih menggantung di udara, Bella bergegas keluar dari Celestial Spring. Hatinya berat, tapi ia memaksa senyum tetap melekat di wajahnya saat melambai pada perawat yang menyapa ramah di koridor. Taksi yang ia pesan sudah menunggu, dan dalam

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    160. MENUTUPI KEBOHONGAN

    Bella memutuskan untuk pergi lebih awal dari kediaman Dirgantara. Ia berpamitan lewat pesan yang dikirim ke ponsel Ethan, pria itu masih terlelap dalam buaian mimpinya.Tujuannya bukan ke arah kantor Goc’ta Company, melainkan Celestial Spring, salah satu rumah sakit swasta di tengah kota New Archad

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    159. MENOLAK RESTU

    “Sus, bagaimana kondisi Mama sekarang?” Bella menelpon rumah sakit ketika hendak meninggalkan Archenland. Raut wajahnya terlihat muram, namun sesekali membuang ekspresi yang semakin menggelap. “Besok aku usahakan datang ke rumah sakit. Lakukan saja operasinya tanpa aku. Terus kabari perkembanganny

  • ISTRI 48 JAM TUAN CEO    158. WHISPERING PINES

    Bella terpaku, napasnya tertahan di dada. Cahaya dari perapian menari di permukaan batu permata zamrud itu, seolah menyimpan janji abadi. Cincin emas putihnya ramping, elegan, dengan berlian kecil mengelilingi pusatnya—bukan barang mewah berlebihan, tapi penuh makna, seperti Ethan yang selalu tahu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status