INICIAR SESIÓNSejak hari itu, Cleara tidak pernah mau untuk menegur, menyapa, atau sekadar menanggapi ucapan Kheland. Sikap dingin dan pengabaian total ia tunjukkan secara terang-terangan di bawah atap yang sama. Ia selama ini sudah cukup bersabar dengan sikap pria itu,tetapi sekarang tidak lagi.Lagi pula, mendiamkan Kheland bukanlah sesuatu yang sulit bagi Cleara. Selama ini, interaksi di antara mereka memang tidak pernah hangat atau dipenuhi percakapan manis. Hubungan pernikahan mereka hanya diisi oleh bentakan, tuntutan, dan makian dari pihak Kheland. Jadi, mengabaikan pria itu rasanya sama sekali tidak membebani batinnya—ia justru merasa lebih tenang tanpa harus mendengar suara yang selalu memicu stres bagi dirinya dan sang janin.Pagi itu Cleara menikmati sarapannya dengan tenang. Ia sama sekali tidak tahu kalau Kheland pulang ke rumah semalam, sebab sudah menjadi kebiasaan bagi pria itu untuk tidak pernah menampakkan batang hidungnya di rumah.Namun, saat ia belum benar-benar merampungkan ma
Cleara mengedarkan pandangannya sekali lagi ke gerbang utama rumah sakit, menyapu setiap sudut jalanan dengan sisa-sisa air hujan. Ia berharap Kheland datang—sebenarnya ia tidak begitu mengharapkan pria itu, hanya saja, ia takut jika Kheland akan kembali memaki dan menyalahkannya. Hal itu yang membuatnya takut dan terpaksa mau tetap menunggu di sana. Sebab ia tahu sekali bagaimana buruknya perangai sang suami selama ini. Namun, bukankah kali ini Kheland sendiri yang sudah kelewat batas? Pria itu sudah membuatnya menunggu berjam-jam tanpa kabar sama sekali.Namun, ketika kesadaran menghantam bahwa tidak ada lagi harapan bagi Kheland untuk muncul, ia akhirnya menyerah pada keadaan.“Kenapa kau kembali lagi kemari, Ethan?” tanya Cleara dengan penasaran. “Memastikan kau sudah dijemput oleh Kheland. Tapi ternyata dugaanku benar. Dia tidak akan menjemputmu. Jadi itu sebabnya tadi aku buru-buru menyelesaikan pekerjaanmu dan kembali lagi kemari. Pulanglah bersamaku, aku akan mengantarmu!”Tan
Dengan rasa sesak dan kesal oleh rasa kecewa, Cleara terpaksa melangkah masuk seorang diri ke dalam ruang pemeriksaan. Dokter kandungan yang ramah menyambutnya, lalu memintanya berbaring di atas ranjang pasien untuk memulai pemeriksaan USG.Di tengah layar monitor, dokter mengamati pergerakan janin dengan teliti sambil menggerakkan probe di atas permukaan perut Cleara yang mulai membuncit. Namun, beberapa saat kemudian, dahi sang dokter berkerut samar, mengamati sesuatu sebelum menatap Cleara lekat-lekat.Melihat perubahan ekspresi wanita itu, Cleara merasa cemas. “Apa bayiku baik-baik saja, Dokter?”“Apa akhir-akhir ini Nona sering merasa stres atau tertekan?” tanya dokter lembut namun penuh selidik.Cleara tertegun sejenak. “Ehm... tidak juga, Dok. Kenapa memangnya?” tanyanya balik, berusaha menutupi kegugupannya. Ia tidak tahu stress dan tertekan macam apa yang sedang wanita itu bicarakan. Dokter lantas menjauhkan alat probe USG tersebut, mengambil selembar tisu, lalu dengan telat
Keesokan lusa, tepat sesuai jadwal yang telah ditentukan, ponsel Cleara berdering nyaring di atas meja nakas. Wanita itu segera meraihnya dan mendapati nama Nyonya Bella tertera di layar.Begitu panggilan tersambung, suara tegas namun sarat akan otoritas langsung menyapa indra pendengarannya. Percakapan lewat sambungan telepon itu bernuansa penuh posesif dan kendali mutlak. Nyonya Bella menelepon secara khusus hanya untuk memastikan dan mengingatkan Cleara agar tidak melewatkan jadwal kontrol kehamilannya hari ini, bahkan memberitahu bahwa wanita paruh baya itu telah membuatkan janji temu langsung dengan dokter kepercayaan keluarga Davies.“Iya, Ibu... terima kasih banyak atas perhatiannya,” jawab Cleara sopan namun kaku.“Iya, Sayang,” sahut Nyonya Bella di ujung sana. “Ngomong-ngomong, Kheland sudah bangun?”Pertanyaan itu seketika membuat Cleara tertegun dan dilanda kebingungan hebat. Otaknya berputar cepat, mendadak gagap mencari alasan. Semalam, suaminya itu bahkan pulang terlamb
Brak!Suara hantaman keras itu dibalas tak kalah sengit oleh Kheland. Pria itu melayangkan tendangan kuat ke daun pintu kamar Cleara, meluapkan rasa kesal yang membakar dadanya. Sambil mengusap-usap dahinya yang terasa nyeri akibat terbentur bingkai kayu, ia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah hentakan kaki yang berat.Begitu tiba di garasi, ia langsung menarik gagang pintu mobilnya, masuk ke dalam kabin kemudi, dan membanting pintu mobil itu dengan keras hingga suaranya memantul di dinding garasi yang sepi.Dengan napas memburu dan rahang mengeras, ia menatap lurus ke arah kemudi, melampiaskan amarahnya dalam gumaman tajam.“Wanita sialan itu... dia benar-benar semakin menjadi-jadi dan berani melawan karena merasa dilindungi dan diperhatikan oleh Ibu! Awas saja kau nanti, Cleara!”Kheland melajukan mobilnya membelah jalanan sore yang mulai padat, berniat untuk menemui Aleandra di apartemen wanita itu. Namun, setibanya di sana dan memasukkan kode akses, unit tersebut ternyata
“Permisi, Nona... ada tamu di luar,” ucap seorang pelayan menghampiri Cleara tak lama setelah kepergian Kheland.“Tamu?” ulang Cleara dengan dahi berkerut heran. Ia merasa asing dengan kata itu. Selama ini ia tidak memiliki siapa pun di sisinya, bahkan teman dekat sekali pun tidak ada.“Iya, Nona. Seorang pria paruh baya yang mengaku sebagai ayah Nona Cleara.”Cleara terperanjat kaget. Matanya membelalak lebar. Bagaimana bisa Ayah tahu kalau aku pindah kemari? batinnya bertanya-tanya penuh kecemasan.Cleara hampir membuka mulut untuk menyuruh pelayan tersebut mempersilakan ayahnya masuk ke dalam rumah. Namun, belum sempat suara itu keluar dari tenggorokannya...“Cleara?”Pintu ruang makan berderit pelan. Tanpa perlu dipersilakan atau menunggu izin, sosok pria paruh baya itu sudah melangkah masuk begitu saja ke dalam ruangan.Cleara menatap pria paruh baya yang berdiri di hadapannya dengan perasaan campur aduk. “Ayah?”Tuan Steve menyeringai samar, memperlihatkan kerutan di sudut matan







