FAZER LOGINSuasana pagi hingga siang yang dihabiskan dengan gejolak asmara membuat perut keduanya mulai berkeroncong. Di rumah mewah yang tenang itu, Arka benar-benar tidak membiarkan istri mudanya kelelahan sedikit pun. Jauh hari sebelum kepindahan ini, Arka telah menyeleksi dan merekrut beberapa pelayan serta juru masak profesional yang siap siaga mengurus segala kebutuhan rumah tangga, sehingga Melati hanya perlu fokus menjaga kehamilannya dan melayani suaminya dengan penuh cinta.Di ruang makan berdesain minimalis modern yang menghadap langsung ke arah taman, hidangan makan siang mewah telah tersaji rapi di atas meja marmer putih.Arka dan Melati duduk bersisian, menikmati makan siang mereka setelah "pertempuran" panjang di atas ranjang yang menguras banyak tenaga. Aroma harum dari berbagai menu pilihan langsung membangkitkan selera makan. Di sana tersaji semangkuk sup asparagus kepiting hangat yang gurih, udang bakar madu dengan bumbu rempah yang meresap sempurna, daging sapi teriyaki e
Mobil SUV hitam yang dikemudikan Arka membelok perlahan memasuki sebuah kawasan hunian elit yang tenang, asri, dan jauh dari kebisingan pusat kota. Setelah melintasi gerbang perumahan yang dijaga ketat oleh petugas keamanan, kendaraan mewah itu berhenti di depan sebuah hunian berdesain modern minimalis bernuansa putih bersih yang tampak megah namun hangat.Melati yang duduk di kursi penumpang menatap luar jendela dengan mata membelalak takjub. Rumah itu dikelilingi oleh halaman yang sangat luas dan tertata rapi. Di sudut-sudut halaman, berdiri subur beberapa pohon buah yang rindang—mulai dari pohon mangga harum manis yang lebat, pohon jambu kristal, hingga deretan pohon jeruk nagami di dekat pagar. Tak hanya itu, hamparan taman bunga di sekeliling halaman tampak bermekaran indah dengan aneka warna, memancarkan aroma wangi yang menenangkan begitu pintu mobil dibuka.Arka mematikan mesin mobil, lalu beranjak keluar dan membukakan pintu untuk istri mudanya.Melati melangkah turun, men
Di dalam kamar suite-nya, Melati telah selesai merapikan seluruh pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam koper besar. Keputusan untuk keluar dari rumah ini adalah jalan terbaik yang ia ambil setelah drama panjang dan ancaman dari Syam, sekaligus demi menjaga jarak aman dari rahasia besar yang kian menghimpit dadanya.Dengan bantuan Bi Inah, seorang pembantu paruh baya yang sudah lama mengabdi di rumah itu, Melati menuruni anak tangga satu persatu. Koper miliknya diletakkan rapi di dekat pintu utama.Di ruang tengah, Kirana sudah menunggu. Wanita berambut sebahu itu mengenakan pakaian rumah yang elegan, namun wajahnya masih menyisakan guratan kesedihan akibat vonis mandul yang diterimanya beberapa hari lalu. Meski dunianya sendiri sedang runtuh, Kirana tetap menyempatkan diri untuk melepas kepergian Melati dengan senyuman hangat yang tulus."Melati..." panggil Kirana lembut begitu melihat gadis itu menuruni tangga. Kirana melangkah mendekat, menyambut Melati dengan kedua tangan
Melati duduk termenung di tepi ranjang berukuran king size dengan jemari yang meremat erat ujung seprai putih gading. Di atas nakas sebelah tempat tidurnya, gawai pintarnya kembali berdering nyaring, memecah keheningan sore itu.Lagi-lagi, nama Syam terpampang jelas di layar.Sudah berhari-hari Melati sengaja mengabaikan setiap panggilan dan pesan yang dikirimkan oleh pria itu. Bukan hanya karena ia masih menyimpan rasa kesal yang mendalam atas insiden kasar di ruang VVIP restoran beberapa waktu lalu, tetapi Melati juga ingin menjaga jarak. Ia tidak ingin sikap ramahnya disalahartikan sebagai bentuk pemberian harapan palsu atau lampu hijau bagi Syam untuk mendekatinya.Namun, hari ini tampak berbeda. Telepon itu berdering tanpa henti, disusul oleh rentetan pesan singkat yang bernada mendesak dan penuh kepanikan, seolah-olah ada hal yang sangat darurat.Melati menghela napas panjang. Dengan perasaan enggan, ia akhirnya mengulurkan tangan, meraih gawainya, lalu menggeser ikon hijau u
Beberapa menit berlalu dalam dekap hangat itu. Isak tangis Kirana perlahan mereda, menyisakan helaan napas berat dan kelelahan fisik. Saat suasana mulai tenang, Kirana teringat akan percakapan mereka di telepon tadi sebelum suaminya pulang. Dengan posisi masih bersandar di dada Arka, Kirana mendongakkan kepalanya pelan. "Oh ya, Mas..." bisik Kirana dengan suara serak. "Tadi di telepon... kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Sesuatu yang penting tentang kita... atau tentang rumah ini. Apa itu, Mas?" Deg! Pertanyaan itu datang bagaikan hantaman palu di kepala Arka. Pria matang itu mendadak tertegun seribu bahasa. Tenggorokannya mendadak kering, dan air liurnya terasa begitu sulit ditelan.
Langit sore di ibu kota berhias bias jingga kemerahan tatkala mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh Arka meninggalkan area penthouse hotel. Di dalam kabin yang senyap, atmosfer yang menyelimuti Arka dan Melati begitu pekat oleh kebahagiaan. Baru beberapa menit lalu, sebelum mereka melangkah keluar hotel, ponsel Arka berdering.Itu adalah panggilan dari Kirana. Istri pertamanya itu meminta Arka untuk segera pulang ke rumah begitu pekerjaannya selesai karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.Tanpa ragu, Arka langsung menjawab jujur bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang bersama Melati, dan ia pun memiliki hal yang jauh lebih penting untuk diberitahukan kepadanya saat itu juga. Panggilan itu ditutup setelah Kirana berpesan singkat agar mereka berhati-hati di jalan.Arka mengalihkan pandangannya dari jalan raya. Tangan kanannya terulur, menggenggam jemari Melati yang duduk di kursi penumpang sebelahnya. Hangat kulit mere







