Se connecterLangit sore di ibu kota berhias bias jingga kemerahan tatkala mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh Arka meninggalkan area penthouse hotel.
Di dalam kabin yang senyap, atmosfer yang menyelimuti Arka dan Melati begitu pekat oleh kebahagiaan.Baru beberapa menit lalu, sebelum mereka melangkah keluar hotel, ponsel Arka berdering.Itu adalah panggilan dari Kirana. Istri pertamanya itu meminta Arka untuk segera pulang ke rumah begitu pekerjaannya selesai karena ada hBeberapa menit berlalu dalam dekap hangat itu. Isak tangis Kirana perlahan mereda, menyisakan helaan napas berat dan kelelahan fisik. Saat suasana mulai tenang, Kirana teringat akan percakapan mereka di telepon tadi sebelum suaminya pulang. Dengan posisi masih bersandar di dada Arka, Kirana mendongakkan kepalanya pelan. "Oh ya, Mas..." bisik Kirana dengan suara serak. "Tadi di telepon... kamu bilang ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Sesuatu yang penting tentang kita... atau tentang rumah ini. Apa itu, Mas?" Deg! Pertanyaan itu datang bagaikan hantaman palu di kepala Arka. Pria matang itu mendadak tertegun seribu bahasa. Tenggorokannya mendadak kering, dan air liurnya terasa begitu sulit ditelan.
Langit sore di ibu kota berhias bias jingga kemerahan tatkala mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh Arka meninggalkan area penthouse hotel. Di dalam kabin yang senyap, atmosfer yang menyelimuti Arka dan Melati begitu pekat oleh kebahagiaan. Baru beberapa menit lalu, sebelum mereka melangkah keluar hotel, ponsel Arka berdering.Itu adalah panggilan dari Kirana. Istri pertamanya itu meminta Arka untuk segera pulang ke rumah begitu pekerjaannya selesai karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.Tanpa ragu, Arka langsung menjawab jujur bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang bersama Melati, dan ia pun memiliki hal yang jauh lebih penting untuk diberitahukan kepadanya saat itu juga. Panggilan itu ditutup setelah Kirana berpesan singkat agar mereka berhati-hati di jalan.Arka mengalihkan pandangannya dari jalan raya. Tangan kanannya terulur, menggenggam jemari Melati yang duduk di kursi penumpang sebelahnya. Hangat kulit mere
Suasana di dalam penthouse suite sebuah hotel bintang lima yang mewah terasa begitu privat dan tenang. Di salah satu sudut sofa beludru berwarna emerald, Arka Dirgantara baru saja menurunkan gawainya dari telinga. Pria matang itu menghela napas panjang, lalu memijit pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut linu.Beberapa menit lalu, ia baru saja menolak permintaan Kirana untuk menemaninya menemui Dokter Miranda di rumah sakit. Hatinya diliputi rasa bersalah yang amat dalam saat mendengar suara lembut istri pertamanya yang memaklumi kesibukan pekerjaan. Tentu saja, Arka tidak bisa mengatakan yang sebenarnya—bahwa ia sedang berada di hotel mewah ini untuk bertemu dengan istri mudanya, Melati.Arka mendongakkan kepalanya, menatap Melati yang duduk di hadapannya dengan tatapan penuh kelembutan, menepis rasa bersalahnya kepada Kirana."Kirana menelpon karena ingin di temani ke rumah sakit, tetapi aku tidak bisa karena sudah bersamamu," Arka menjelaskan pada Melati tentnag isi telponny
Suasana di dalam ruang kerja butik utama milik Kirana Dirgantara tampak dipenuhi oleh tumpukan kain sample, sketsa gaun pengantin, dan deretan katalog warna yang berserakan di atas meja besar. Hari itu, Kirana bersama dua orang sahabat sekaligus partner bisnisnya, Lisa dan Mila, sedang berjibaku menyelesaikan persiapan akhir untuk sebuah event pernikahan skala besar dari klien VIP mereka. Di tengah kesibukan yang membakar tenaga, layar gawai pintar Kirana yang tergeletak di atas meja menyala memperlihatkan Panggilan masuk di layarnya. Mila, yang duduk di sebelah Kirana, melirik sekilas ke arah layar gawai tersebut. "Ran... HP-mu nyala ada panggilan dari Dokter Miranda," ujar Mila. Mendengar nama Dokter Miranda—dokter spesialis obstetri, ginekologi, dan konsultan fertilitas yang selama tiga tahun terakhir mendampingi program kesuburan rahimnya—Kirana langsung menghentikan gerakan tangannya. "Astaga, Dokter Miranda?" gumam Kirana kaget. Ia segera meraih Hp di tangan Mila. "Kena
Emosi yang sudah membakar udara di dalam ruangan seketika meledak tanpa terkendali. Syam, yang tidak terima bajunya ditarik dan rahangnya dihantam hingga berdarah, melepaskan seluruh kendali dirinya."Persetan dengan gertakanmu, Arka!" teriak Syam murka.Dengan dorongan tenaga yang dahsyat, Syam memutar posisi tubuhnya dan melayangkan tinjauan balasan yang mendarat telak di tulang pipi kanan Arka. Pria matang itu tersungkur beberapa langkah ke belakang, menghantam pinggiran meja kerja mahoni mewahnya.Melihat Arka sedikit terhuyung, Syam langsung melesat maju bagaikan serigala lapar. Ia mencengkeram kerah Arka dan melayangkan pukulan beruntun ke wajah pimpinan Dirgantara Group itu. Namun, Arka bukanlah pria lemah yang mudah ditundukkan, dengan refleks cepat, Arka menahan lengan Syam, memutar kuncian, lalu melayangkan sikut kerasnya tepat ke perut Syam hingga pria itu terbatuk sesak.Kedua pengusaha yang biasanya tampil elegan dengan jas mahal ratusan juta rupiah itu kini bergulat
Keputusan Melati untuk mengambil jeda tiga hari dari hiruk pikuk Dirgantara Group disambut hangat oleh Arka. Pria matang itu tak ingin melihat kesehatan istri mudanya kembali drop akibat kelelahan batin dan fisik."Istirahatlah di rumah, Sayang," ujar Arka lembut pagi itu sebelum berangkat ke kantor, mengelus pipi Melati yang masih sedikit pucat. "Jangan pikirkan pekerjaan sama sekali. Semua urusan di kantor adalah tanggung jawabku. Aku cuma ingin kamu pulih total."Melati tersenyum tipis, mengangguk pasrah. "Terima kasih, Mas... Maaf ya kalau Melati malah jadi merepotkan Mas Arka.""Kamu tidak pernah merepotkanku, Melati," bisik Arka seraya mendaratkan kecupan hangat di kening sang istri sebelum melangkah pergi.Namun, ketenangan Arka tidak bertahan lama. Begitu mobil mewahnya tiba di pelataran kediaman eksekutif dan ia melangkah ke ruang kerjanya, gawai pribadi Arka bergetar nyaring. Nama Bimo—kepala tim keamanan sekaligus asisten khususnya—tertera di layar."Bicaralah, Bimo. Apa







