Home / Romansa / ISTRI SIRI SANG CEO / Bab 6: Syarat dan Kesepakatan

Share

Bab 6: Syarat dan Kesepakatan

Author: Ai_Li
last update publish date: 2026-10-13 17:21:31

Kabin mobil sedan mewah yang terparkir di bahu jalan yang agak lengang itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara menusuk permukaan kulit Arunika yang tipis, membelai pipinya yang masih menyisa jejak keputusasaan setelah seharian terlunta-lunta di jalanan kota.

Bisingnya arus lalu lintas di luar sana seolah teredam sempurna oleh dinding-dinding mobil yang terisolasi tebal, menyisakan deru napas halus Bintang yang tertidur lelap dalam dekapan kain gendongannya.

Di balik kemudi, Al
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 7: Operasi Senyap dan Pengadangan

    Deru mesin sedan hitam milik Altair mendadak berubah menjadi geraman halus namun bertenaga saat pria itu menginjak pedal gas sedikit lebih dalam. Di dalam kabin, ketegangan menguar begitu pekat, memangkas pasokan udara hingga terasa menghimpit paru-paru.Arunika mencengkeram kain gendongan Bintang dengan jemari yang dingin dan gemetar, sementara matanya tak lepas dari kaca spion luar. Sebuah sedan putih milik Alice terus membuntut dengan jarak yang tak sampai sepuluh meter di belakang mereka.Altair mengambil ponsel keduanya dari dalam saku jas, sebuah ponsel terenkripsi yang khusus digunakan untuk urusan penting. Tanpa menoleh sedikit pun dari jalanan di hadapannya, jemari panjangnya menekan tombol panggilan cepat dan menyambungkannya ke earphone nirkabel yang terpasang di telinga kanannya."Halo, Bos," suara Arjuna, asisten kepercayaan Altair, mengudara cepat di balik sambungan telepon."Mendekat ke saya sekarang! Kita ke jalur ramai di mana kita bisa mengecoh Alice," perintah Altai

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 6: Syarat dan Kesepakatan

    Kabin mobil sedan mewah yang terparkir di bahu jalan yang agak lengang itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara menusuk permukaan kulit Arunika yang tipis, membelai pipinya yang masih menyisa jejak keputusasaan setelah seharian terlunta-lunta di jalanan kota.Bisingnya arus lalu lintas di luar sana seolah teredam sempurna oleh dinding-dinding mobil yang terisolasi tebal, menyisakan deru napas halus Bintang yang tertidur lelap dalam dekapan kain gendongannya.Di balik kemudi, Altair menyandarkan punggungnya yang tegap. Tatapan mata hazel pria itu begitu dalam, tajam, dan penuh kehati-hatian, mencoba menguliti setiap riak emosi di raut wajah wanita sederhana yang duduk di sebelah kursinya. Pria itu tampak begitu sabar, namun aura kepemimpinan dan dominasi yang terpancar darinya membuat udara di dalam kendaraan itu terasa kian menghimpit."Sebutkan syaratmu," ucap Altair datar, memutus keheningan panjang.Suaranya rendah dan sarat ketegasan, tidak menyisakan ruang untuk

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 5: Tawaran di Tepi Jalan

    Langkah kaki Arunika terasa kian berat menyusuri trotoar kota yang mulai berdebu. Bayangan harapan yang pagi tadi membakar dadanya kini telah padam, berganti menjadi keputusasaan yang melumpuhkan.Niatnya untuk kembali bekerja di kantor lamanya berujung pada penolakan mentah-mentah. Alasannya hanya satu karena Arunika membawa Bintang ke tempat kerja. Manajemen kantor tidak mengizinkan karyawan membawa bayi ke area kerja karena dianggap mengganggu konsentrasi dan profesionalisme.Namun, Arunika tidak punya pilihan lain. Trauma akibat kecerobohan mantan ibu mertuanya membuat Arunika berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menitipkan Bintang kepada siapa pun lagi.Seharian penuh Arunika berjalan dari satu toko, warung, hingga perkantoran kecil di pinggiran kota untuk melamar pekerjaan apa saja. Dari menjadi pencuci piring, kasir, hingga pelayan toko, semuanya memberikan jawaban menolak yang sama. Tidak ada tempat kerja yang mau menerima karyawan yang membawa anak bayi dalam

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 4: Retakan di Balik Kesempurnaan

    Pintu mobil sedan mewah itu tertutup dengan bunyi berat yang berwibawa. Altair Dirgantara melangkah keluar, merapikan jas gelap yang melingkupi tubuh tegapnya, lalu berjalan menembus keheningan pilar-pilar tinggi kediamannya. Suasana rumah berarsitektur modern itu nampak tenang seperti biasa, tenang yang selalu terasa terlalu rapi dan tertata. Langkah kaki Altair membawanya naik menuju kamar utama di lantai dua. Begitu ia mendorong pintu kayu mahoni itu perlahan, pemandangan di dalam kamar langsung menyambutnya. Di sana, di tepi ranjang berukuran king size, Alice sudah menunggu. Istrinya itu mengenakan lingerie sutra berwarna marun yang kontras, membuat kulit putih bersihnya nampak begitu menyala di bawah pendar lampu kamar yang hangat. Senyum manis nan lembut mengembang di bibir Alice, menggoda tanpa perlu banyak kata. Altair menelan salivanya perlahan. Bohong besar jika ia bilang tubuhnya tidak bereaksi. Ia pria normal, dan wanita di hadapannya adalah istri sah yang amat ia cint

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 3: Lembaran Baru dan Cincin Penyelamat

    Suara derit pintu kamar yang tua terdengar samar di tengah keheningan malam yang makin mencekik. Arunika melangkah masuk ke dalam kamar sempitnya, membaringkan Bintang yang tertidur lelap dengan sangat perlahan di tengah tempat tidur. Tubuh kecil itu masih terasa agak hangat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding saat berada di UGD tadi. Arunika menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya. Setelah kalimat talak yang diucapkan Gantara secara dingin di depan ibu dan adiknya tadi, tak ada lagi alasan bagi Arunika untuk menumpahkan air mata. Duka dan pengkhianatan yang bertubi-tubi dihantamkan padanya telah membekukan rasa sakit itu menjadi tekad yang keras. Dari sudut atas lemari, Arunika menarik sebuah koper kusam berdebu dan tas kain berukuran besar. Ia membukanya lebar-lebar di atas lantai. Jemari Arunika mulai merogoh lemari pakaian. Namun, alih-alih membereskan baju-bajunya sendiri, sembilan puluh persen ruang koper itu justru diisinya dengan perlen

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 2: Tamu Agung dan Belati Talak

    Tanpa mengindahkan pandangan sinis Bu Suminar dan Tasya yang terus mengomel di lorong rumah sakit, Arunika melangkah gontai menuju bagian administrasi. Kedua tangannya gemetar hebat saat merogoh isi tas dan dompetnya.Rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Setelah dihitung berulang kali, sisa uang tabungannya sama sekali tidak cukup untuk melunasi biaya tindakan darurat Bintang.Minta kepada ibu mertuanya? Jelas mustahil, wanita itu hanya akan melontarkan caci maki. Minta kepada Gantara? Untuk diajak bicara saja panggilan teleponnya langsung diputus sepihak.Dengan bibir yang makin pucat, Arunika melepas cincin emas polos seberat dua gram dari jari manisnya. Ia menyodorkannya ke hadapan petugas resepsionis dengan mata berkaca-kaca."Mbak... uang saya tidak cukup," ucap Arunika lirih, menahan rasa malu yang membakar dadanya."Boleh saya jadikan cincin nikah ini sebagai jaminan dulu? Besok pagi setelah saya cari pinjaman, saya janji akan melunasinya..."Petugas resepsionis itu terseny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status