Beranda / Romansa / ISTRI SIRI SANG CEO / Bab 5: Tawaran di Tepi Jalan

Share

Bab 5: Tawaran di Tepi Jalan

Penulis: Ai_Li
last update Tanggal publikasi: 2026-10-06 15:17:22

Langkah kaki Arunika terasa kian berat menyusuri trotoar kota yang mulai berdebu. Bayangan harapan yang pagi tadi membakar dadanya kini telah padam, berganti menjadi keputusasaan yang melumpuhkan.

Niatnya untuk kembali bekerja di kantor lamanya berujung pada penolakan mentah-mentah. Alasannya hanya satu karena Arunika membawa Bintang ke tempat kerja. Manajemen kantor tidak mengizinkan karyawan membawa bayi ke area kerja karena dianggap mengganggu konsentrasi dan profesionalisme.

Namun, Arunika tidak punya pilihan lain. Trauma akibat kecerobohan mantan ibu mertuanya membuat Arunika berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menitipkan Bintang kepada siapa pun lagi.

Seharian penuh Arunika berjalan dari satu toko, warung, hingga perkantoran kecil di pinggiran kota untuk melamar pekerjaan apa saja. Dari menjadi pencuci piring, kasir, hingga pelayan toko, semuanya memberikan jawaban menolak yang sama. Tidak ada tempat kerja yang mau menerima karyawan yang membawa anak bayi dalam gendongan.

Arunika menyapu air matanya yang nyaris menetes di pipi, menatap Bintang yang terlelap tenang dalam dekapan kain gendongannya. Napas kecil bayinya yang berhembus teratur menjadi satu-satunya alasan baginya untuk tidak ambruk di tepi jalan.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam mewah bergerak melambat dan berhenti tepat di samping trotoar tempat Arunika berdiri. Kaca jendela mobil yang gelap perlahan turun, memperlihatkan sesosok pria berjas rapi yang duduk di balik kemudi. Pria itu membuka pintu penumpang dari dalam tanpa sedikit pun melangkah turun.

Arunika membeku, menatap pria jangkung berwajah tegas di balik kemudi itu dengan cemas. Ia sama sekali tidak mengenali pria kaya yang kini berdiri di hadapannya.

"Butuh pekerjaan?" suara pria itu terdengar rendah, tenang, dan penuh wibawa menembus bisingnya lalu lintas.

Arunika terdiam dengan mata membelalak. Bagaimana pria asing yang tak dikenalnya ini bisa tahu kalau ia sedang mencari pekerjaan?

"Tapi tetap ingin bisa merawat anakmu?" lanjut pria itu lagi.

Jantung Arunika berdegup kencang. Ia kian heran dan bingung. Bagaimana bisa pria asing ini tahu semua masalahku?

"Naiklah," perintah pria itu dengan nada yang tak menerima bantahan.

"Saya akan kasih kamu pekerjaan. Dan saya pastikan kamu tetap bisa merawat anak kamu."

Arunika termangu di tepi trotoar. Pikirannya berkecamuk hebat. Pekerjaan jenis apa yang memperbolehkan seorang ibu membawa bayinya bekerja? Seharian penuh ia sudah memutari kota dan tak ada satu pun orang yang sudi memberinya kesempatan itu.

Meskipun terlihat keraguan di mata Arunika dan Bintang yang mulai gelisah terkena hembusan angin jalanan, Arunika akhirnya memberanikan diri. Dengan hembusan napas panjang demi masa depan buah hatinya, ia melangkah mendekat, membuka pintu, lalu duduk di kursi penumpang di samping pria tersebut.

Pintu mobil langsung tertutup rapat, mengisolasi mereka dari bisingnya jalanan luar. Pria berjas gelap itu, Altair menekan pedal gas, membawa mobil mewah itu melaju tenang membelah jalanan kota.

Di dalam kabin mobil yang hening dan terasa dingin, Arunika memeluk Bintang erat-erat seraya memberanikan diri bersuara.

"Pekerjaan apa... yang sebenarnya harus saya lakukan, Pak?" tanya Arunika pelan dengan suara bergetar ragu.

Altair melirik Arunika sekilas melalui kaca spion tengah, lalu menepi perlahan di bahu jalan yang agak lengang. Pria itu menghentikan mobilnya, memutar tubuhnya menghadap Arunika sepenuhnya. Tatapan mata hazel pria itu begitu dalam dan mengintimidasi.

"Saya butuh kamu menjadi istri kedua saya," ucap Altair lugas dan dingin.

"Dan saya akan melegalkan status anak kamu, memasukkannya ke dalam Kartu Keluarga saya, serta menjamin seluruh masa depannya sebagai pewaris."

Arunika tersentak hebat, napasnya seketika tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak tak percaya.

"M--maksud Bapak apa?! Bapak ini siapa? Mengapa harus saya dan anak saya?"

Altair menatap mata Arunika dengan raut wajah yang serius.

"Dokter menyatakan saya... mandul," ujar Altair tenang namun menyiratkan luka lama.

"Saya membutuhkan pewaris segera. Bintang masih terlalu kecil, pertumbuhannya bisa saya awasi dan bentuk sendiri sejak dini. Saya ragu untuk mengadopsi anak asing yang tidak saya ketahui asal-usul dan pengasuhannya. Dan dari apa yang saya amati... kamu adalah ibu yang sangat perhatian dan penuh kasih sayang."

Dada Arunika berdesir hebat. Kata-kata pria asing itu menghantam sudut terdalam hatinya.

"Saya tidak meminta kamu menjual diri," lanjut Altair mantap.

"Saya menawarkan pernikahan siri sah secara agama, tempat tinggal yang aman, dan jaminan perlindungan penuh untuk anak kamu dari mantan suamimu. Sebagai imbalannya, kamu cukup mendampingi saya dan membiarkan anak kamu tumbuh sebagai anak saya."

Arunika menunduk, menatap Bintang yang terlelap di dadanya. Di hadapannya kini ada pria berkuasa yang siap memberi Bintang nama besar, perlindungan hukum, dan masa depan tanpa kekurangan satu apa pun.

Arunika mendongak, menatap mata Altair dengan binar ketegasan baru.

"Baik," ucap Arunika pelan namun mantap.

"Saya terima... tapi dengan syarat."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 6: Syarat dan Kesepakatan

    Kabin mobil sedan mewah yang terparkir di bahu jalan yang agak lengang itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara menusuk permukaan kulit Arunika yang tipis, membelai pipinya yang masih menyisa jejak keputusasaan setelah seharian terlunta-lunta di jalanan kota.Bisingnya arus lalu lintas di luar sana seolah teredam sempurna oleh dinding-dinding mobil yang terisolasi tebal, menyisakan deru napas halus Bintang yang tertidur lelap dalam dekapan kain gendongannya.Di balik kemudi, Altair menyandarkan punggungnya yang tegap. Tatapan mata hazel pria itu begitu dalam, tajam, dan penuh kehati-hatian, mencoba menguliti setiap riak emosi di raut wajah wanita sederhana yang duduk di sebelah kursinya. Pria itu tampak begitu sabar, namun aura kepemimpinan dan dominasi yang terpancar darinya membuat udara di dalam kendaraan itu terasa kian menghimpit."Sebutkan syaratmu," ucap Altair datar, memutus keheningan panjang.Suaranya rendah dan sarat ketegasan, tidak menyisakan ruang untuk

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 5: Tawaran di Tepi Jalan

    Langkah kaki Arunika terasa kian berat menyusuri trotoar kota yang mulai berdebu. Bayangan harapan yang pagi tadi membakar dadanya kini telah padam, berganti menjadi keputusasaan yang melumpuhkan.Niatnya untuk kembali bekerja di kantor lamanya berujung pada penolakan mentah-mentah. Alasannya hanya satu karena Arunika membawa Bintang ke tempat kerja. Manajemen kantor tidak mengizinkan karyawan membawa bayi ke area kerja karena dianggap mengganggu konsentrasi dan profesionalisme.Namun, Arunika tidak punya pilihan lain. Trauma akibat kecerobohan mantan ibu mertuanya membuat Arunika berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menitipkan Bintang kepada siapa pun lagi.Seharian penuh Arunika berjalan dari satu toko, warung, hingga perkantoran kecil di pinggiran kota untuk melamar pekerjaan apa saja. Dari menjadi pencuci piring, kasir, hingga pelayan toko, semuanya memberikan jawaban menolak yang sama. Tidak ada tempat kerja yang mau menerima karyawan yang membawa anak bayi dalam

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 4: Retakan di Balik Kesempurnaan

    Pintu mobil sedan mewah itu tertutup dengan bunyi berat yang berwibawa. Altair Dirgantara melangkah keluar, merapikan jas gelap yang melingkupi tubuh tegapnya, lalu berjalan menembus keheningan pilar-pilar tinggi kediamannya. Suasana rumah berarsitektur modern itu nampak tenang seperti biasa, tenang yang selalu terasa terlalu rapi dan tertata. Langkah kaki Altair membawanya naik menuju kamar utama di lantai dua. Begitu ia mendorong pintu kayu mahoni itu perlahan, pemandangan di dalam kamar langsung menyambutnya. Di sana, di tepi ranjang berukuran king size, Alice sudah menunggu. Istrinya itu mengenakan lingerie sutra berwarna marun yang kontras, membuat kulit putih bersihnya nampak begitu menyala di bawah pendar lampu kamar yang hangat. Senyum manis nan lembut mengembang di bibir Alice, menggoda tanpa perlu banyak kata. Altair menelan salivanya perlahan. Bohong besar jika ia bilang tubuhnya tidak bereaksi. Ia pria normal, dan wanita di hadapannya adalah istri sah yang amat ia cint

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 3: Lembaran Baru dan Cincin Penyelamat

    Suara derit pintu kamar yang tua terdengar samar di tengah keheningan malam yang makin mencekik. Arunika melangkah masuk ke dalam kamar sempitnya, membaringkan Bintang yang tertidur lelap dengan sangat perlahan di tengah tempat tidur. Tubuh kecil itu masih terasa agak hangat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding saat berada di UGD tadi. Arunika menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya. Setelah kalimat talak yang diucapkan Gantara secara dingin di depan ibu dan adiknya tadi, tak ada lagi alasan bagi Arunika untuk menumpahkan air mata. Duka dan pengkhianatan yang bertubi-tubi dihantamkan padanya telah membekukan rasa sakit itu menjadi tekad yang keras. Dari sudut atas lemari, Arunika menarik sebuah koper kusam berdebu dan tas kain berukuran besar. Ia membukanya lebar-lebar di atas lantai. Jemari Arunika mulai merogoh lemari pakaian. Namun, alih-alih membereskan baju-bajunya sendiri, sembilan puluh persen ruang koper itu justru diisinya dengan perlen

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 2: Tamu Agung dan Belati Talak

    Tanpa mengindahkan pandangan sinis Bu Suminar dan Tasya yang terus mengomel di lorong rumah sakit, Arunika melangkah gontai menuju bagian administrasi. Kedua tangannya gemetar hebat saat merogoh isi tas dan dompetnya.Rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Setelah dihitung berulang kali, sisa uang tabungannya sama sekali tidak cukup untuk melunasi biaya tindakan darurat Bintang.Minta kepada ibu mertuanya? Jelas mustahil, wanita itu hanya akan melontarkan caci maki. Minta kepada Gantara? Untuk diajak bicara saja panggilan teleponnya langsung diputus sepihak.Dengan bibir yang makin pucat, Arunika melepas cincin emas polos seberat dua gram dari jari manisnya. Ia menyodorkannya ke hadapan petugas resepsionis dengan mata berkaca-kaca."Mbak... uang saya tidak cukup," ucap Arunika lirih, menahan rasa malu yang membakar dadanya."Boleh saya jadikan cincin nikah ini sebagai jaminan dulu? Besok pagi setelah saya cari pinjaman, saya janji akan melunasinya..."Petugas resepsionis itu terseny

  • ISTRI SIRI SANG CEO   Bab 1: Panggilan di Lorong Rumah Sakit

    Dada Arunika berombak hebat saat melangkah setengah berlari menelusuri lorong rumah sakit yang dingin. Deretan lampu neon membias kaku di lantai keramik, memantulkan bayangan tubuhnya yang gemetar. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipinya yang pucat.Di dalam pelukannya, Bintang.... bayinya yang baru berusia satu bulan menangis melengking dengan napas yang megap-megap. Tubuh kecil itu terasa begitu panas membakar, kejang tipis berkali-kali melanda jemari mungilnya."Sabar ya, Nak... Sedikit lagi kita sampai," bisik Arunika dengan suara bergetar serak.Pikirannya kalut luar biasa. Semua ini terjadi karena kelalaian Bu Suminar, ibu mertuanya. Hanya karena Bintang terus menangis saat ditinggal bekerja sebentar, wanita itu dengan gampangnya menyuapi sang bayi dengan susu formula kental dan sedikit pisang lumat, padahal pencernaan bayi satu bulan belum siap sama sekali. Bintang mendadak demam tinggi hingga melilit parah.Jemari Arunika yang bebas merogoh saku celana, mencoba menghub

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status