MasukCahaya fajar yang merayap masuk dari celah tirai kantor tidak pernah terasa seberat ini bagi Chika. Ia kini tidak lagi mengenakan seragam biru OG-nya. Sebagai gantinya, ia memakai kemeja oversized putih dan celana bahan berwarna krem—pakaian yang dibelikan Rahmat atas perintah Dewa agar ia tampak seperti staf administrasi biasa.Namun, identitas barunya sebagai "asisten bayangan" di ruangan Dewa justru membuatnya merasa lebih terkurung daripada saat ia memegang sapu."Fokus, Chika. Kalau angka ini tidak sinkron, Barata punya celah untuk menggugat balik di pengadilan niaga minggu depan," suara Dewa memecah lamunan Chika.Dewa duduk di kursi kebesarannya, sementara Chika duduk di meja kecil di sudut ruangan yang kini dipenuhi laptop dan berkas-berkas audit. Sejak insiden di ruang arsip kemarin, suasana di antara mereka berubah. Ada profesionalisme yang sangat kaku, namun sesekali, saat mata mereka bertemu, bayangan napas yang beradu di ruang sempit itu kembali menghantui.Tiba-tiba, pon
Dunia seolah berhenti berputar bagi Chika. Suara langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar bergema di koridor luar, semakin mendekat ke arah pintu jati ruang kerja Dewa. Itu adalah irama langkah yang sangat ia kenal—langkah kaki Dion Adiwangsa, pria yang tidak pernah menerima kata "tidak" dan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan."Sembunyi," bisik Dewa tajam.Chika panik. Matanya menyapu ruangan. Kolong meja kerja Dewa terlalu terbuka. Lemari buku? Terlalu sempit. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu samping yang menghubungkan ruang kerja langsung ke ruang arsip pribadi Dewa yang kedap suara.Tanpa membuang waktu, Chika melesat masuk ke ruang arsip tersebut tepat saat pintu depan ruangan Dewa terbuka dengan dentuman pelan namun mengintimidasi.Klik.Chika menutup pintu ruang arsip dari dalam. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya biru dari indikator mesin penghancur kertas dan barisan rak besi yang penuh dengan map rahasia. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia taku
Kemenangan Dewangga Corp atas Grup Barata menjadi tajuk utama di semua portal berita bisnis pagi ini. Judul-judul bombastis seperti "Manuver Jenius Dewangga: Titik Balik di Lentera Logistik" menghiasi layar televisi di lobi kantor. Dewa berhasil memukul mundur hiu-hiu Barata tepat di menit terakhir, membekukan proses merger dengan gugatan administrasi yang tak terduga.Namun, di lantai tiga puluh, sang pemenang justru tidak terlihat merayakan apa pun. Dewa duduk di kursi kebesarannya, mengabaikan tumpukan bunga ucapan selamat yang memenuhi meja sekretaris di luar. Matanya tertuju pada sebuah papan tulis putih di ruang rapat kecil yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya."Rahmat, panggil semua staf yang punya akses ke lantai ini semalam. Semuanya. Tanpa kecuali," perintah Dewa lewat interkom. Suaranya datar, tapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah."Termasuk tim kebersihan, Pak?" suara Rahmat terdengar ragu."Semuanya, Rahmat."Sepuluh menit kemudian, ruangan itu penuh.
Ketegangan di lantai tiga puluh Dewangga Corp tidak mereda meski Nyonya Martha telah pergi. Justru, atmosfer di sana berubah menjadi lebih pekat dan dingin. Dewa mengurung diri di ruangannya selama berjam-jam. Rahmat mondar-mandir dengan wajah sepucat kertas, membawa tumpukan dokumen hukum yang tebalnya nyaris menyamai bantal tidur. Chika, yang kini memiliki akses lebih bebas ke lantai eksekutif, mencium aroma "darah" di udara bisnis. Sebagai putri Adiwangsa, ia tahu bau ini: bau pemangsa yang sedang mencoba menelan mangsanya bulat-bulat. "Rahmat, ada apa sebenarnya?" tanya Chika saat Rahmat keluar dari ruangan Dewa dengan bahu merosot. Rahmat menoleh, ragu sejenak, lalu berbisik pelan. "Grup Barata. Mereka melakukan hostile takeover. Mereka sudah menguasai empat puluh persen saham di pasar dan sekarang memaksa Pak Dewa untuk menandatangani perjanjian merger paksa. Kalau Pak Dewa menolak, mereka akan menjatuhkan nilai saham kita besok pagi." Chika tertegun. Grup Barata adalah r
Lantai tiga puluh yang biasanya sunyi dan berwibawa mendadak terasa mencekam. Di dalam ruangan kerja Dewa, seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel dan tatanan rambut sasak sempurna sedang duduk di kursi kebesaran Dewa. Nyonya Martha Dewangga. Matanya yang tajam bak elang langsung menghunjam ke arah Dewa dan Chika yang baru saja masuk. "Keluar dari gedung di jam kerja hanya untuk makan bubur pinggir jalan, Dewa? Kamu sudah kehilangan akal sehat?" suara Martha dingin, bergetar karena amarah yang tertahan. Dewa berdiri tegak, tangannya yang tadi sempat santai kini kembali kaku di samping tubuh Ibunya. "Ibu, lambung saya sedang bermasalah. Makanan di kantor terlalu berat." "Dan kamu membiarkan pelayan ini membawamu ke tempat kumuh seperti itu?" Martha menunjuk Chika dengan dagunya, seolah Chika adalah kuman yang baru saja menyerang putranya. "Rahmat bilang dia hanya staf kebersihan. Kenapa dia punya akses begitu dekat dengan kamu?" Chika menunduk sedalam mungkin. Ia b
Siang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal Sudirman hingga tampak bergelombang karena panas. Di lantai tiga puluh, pendingin ruangan bekerja ekstra keras, namun suasana di dalam ruang kerja Dewa terasa lebih gerah daripada suhu di luar.Dewa tampak gelisah. Wajahnya yang tadi pagi sudah sedikit segar, kini kembali menekuk. Ia berkali-kali memijat ulu hatinya sambil menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Rapat koordinasi dengan tim legal baru saja selesai, dan Dewa tidak menyentuh makan siang katering premium yang disediakan Rahmat."Pak, Bapak belum makan," tegur Chika yang sedang mengganti bunga di vas sudut ruangan. Ia memperhatikan nampan makanan mewah berisi wagyu steak dan salad organik itu masih utuh."Saya tidak selera," jawab Dewa pendek. Suaranya terdengar agak serak."Bapak mau pingsan lagi kayak semalam? Nanti saya nggak mau ya mijit perut Bapak lagi. Capek," sindir Chika tanpa rasa takut.Dewa mendongak, menatap Chika dengan tajam. "Kamu
Aurora perlahan membuka mata. Suhu air conditioner yang terlalu dingin membuatnya terbangun. Ia memiringkan tubuh. Di depannya Darius tertidur lelap."Ganteng banget," puji Aurora sembari membelai wajah sugar daddynya itu.Ternyata begini ya rasanya jika tinggal satu rumah. Bangun tidur melihat ora
Maju mundur Darius mencoba membuka kode angka pada buku diary Marion. Apa kodenya? Darius memikirkan itu. Tapi lebih dari itu. Dia lebih memikirkan apa kiranya yang ditulis Marion.Kenapa Dean menyuruhnya membaca buku diary itu alih-alih menjelaskan apa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.Dariu
[ Ra, besok temani saya bertemu dengan ayahmu. ]Darius mengirim sebuah pesan.Aurora langsung membuka pesan itu begitu suara notif ponsel berbunyi. Ia terdiam sebentar. Pikirannya menerka-nerka. Kenapa Darius ingin menemui ayahnya. Tetapi, barangkali ini salah satu jalan keluar agar kesalah pahama
Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan bagi setiap wanita, terasa seperti sebuah upacara pemakaman bagi Aurora. Tidak ada gaun putih megah dengan ekor panjang, tidak ada dekorasi bunga lili yang harum, dan tidak ada riuh rendah sanak saudara. Hanya ada dinding bercat putih gading kantor ur







