LOGINEvelyn menatapnya dengan serius. "Waktu kami melawan Veyron, kenapa kau tidak datang membantu?"Abraham terdiam sejenak. "Kontrak kerja sama klan kita sudah berakhir saat itu," jawabnya datar."Itu saja?""Menurutmu apa lagi?""Kami sedang menghadapi musuh yang sangat berbahaya. Kau tahu itu, kan?""Aku tahu.""Tapi kau tetap tidak membantu."Abraham menghela napas. "Evelyn, kontrak kerja sama itu memiliki batas waktu. Ketika Veyron muncul, masa kerja sama tersebut sudah berakhir. Aku tidak punya kewajiban untuk mengerahkan pasukan klanku."Evelyn mengerutkan kening. "Kau benar-benar tidak punya sedikit pun rasa tanggung jawab?""Aku punya tanggung jawab. Tapi saat itu, ada urusan yang jauh lebih penting bagiku.""Urusan apa?""Leon."Nama itu membuat Evelyn terdiam.Abraham melanjutkan, "Dia pengkhianat klan petir. Dia memberikan pecahan kristal hitam kekosongan kepada Veyron dan mengkhianati orang-orangnya sendiri. Aku tidak bisa membiarkan dia lolos begitu saja.""Tapi Veyron juga
Kael berpikir sebentar. “Taman air mancur di tengah labirin?”Lyria mengangguk. "Kau pernah berjanji akan membawaku ke sana lagi."Kael tersenyum. "Aku ingat. Tetapi kau harus menunggu sampai tubuhmu benar-benar pulih."Lyria menatapnya lekat-lekat. "Kau selalu punya alasan untuk menyuruhku menunggu.""Karena aku tidak ingin kau sakit lagi."Lyria tersenyum kecil. "Kalau begitu, kapan kau akan berhenti memperlakukanku seperti seseorang yang terbuat dari kaca?"Kael tertawa. "Kalau kau sudah benar-benar sehat."Lyria tidak menjawab, memperhatikan wajah Kael, laki-laki itu masih memiliki senyum yang sama, sorot mata yang dahulu selalu membuatnya merasa aman, dan juga kebiasaan Kael ketika mengusap rambutnya yang berantakan masih sama seperti dulu.Lyria menunduk sebentar, banyak hal telah berubah, tetapi dia belum siap melepaskan semua yang pernah mereka miliki.***Ketika malam di hari yang lain... Kael baru saja menyelesaikan tugasnya bersama Azreal. Saat berjalan menuju kamarnya keti
Lyria menoleh, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya berubah dingin. “Ryan memberikan gelang ajaib yang seharusnya melindunginya kepada Leon."Kael mengerutkan kening. “Leon?" Kael menatap Ryan, "Apakah kau tahu di mana Leon sekarang?"Ryan menggeleng. "Tidak."Kael terdiam. Leon seharusnya sudah kehilangan hampir seluruh kemampuannya setelah Abraham menghancurkan inti kekuatannya, tubuhnya pun berada dalam kondisi yang sangat lemah. Namun, jika gelang itu benar-benar melindunginya, berarti masih ada kemungkinan Leon bertahan hidup.Azreal yang mendengar percakapan mereka segera meletakkan gelasnya. "Jangan mengambil kesimpulan sebelum kita mengetahui keadaan sebenarnya," katanya tegas. "Kita akan mengirim pengintai untuk mencari informasi tentang Leon." Menoleh ke Kael, "Untuk malam ini, nikmatilah kepulanganmu. Kita akan membicarakan persoalan ini besok."Kael mengangguk, meskipun pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan.Lyria kembali menatap Ryan, tidak lagi mengatakan apa-a
"Ya?""Aku akan berangkat besok pagi."Tara mengangguk. "Semoga perjalananmu lancar."Hanya itu. Tidak ada pertanyaan tentang kapan mereka akan bertemu lagi. Tidak ada permintaan agar Kael menunggunya. Bahkan, Tara tidak menunjukkan kesedihan sedikit pun. Kael ingin mengatakan sesuatu, tetapi Enla sudah kembali berbicara mengenai persiapan perjalanan. Pertemuan pun berlanjut, dan selama itu pula, Tara tetap tersenyum seolah tidak ada sesuatu pun yang sedang ditahan di dalam hatinya.Setelah pertemuan selesai, para pejabat mulai meninggalkan ruangan. Lyria sedang berbicara dengan salah seorang tabib mengenai obat yang harus dibawanya selama perjalanan ketika Kael melihat Tara berjalan menuju pintu samping. “Tara, tunggu."Tara menghentikan langkah.Kael segera menghampirinya. "Aku mau bicara sebentar."Tara melirik ke arah Lyria, kemudian mengangguk. “Baik."Kael mengajaknya menuju taman kecil di sisi timur istana. Tempat itu cukup sepi, dikelilingi pohon-pohon cemara bersalju. Di keja
Lyria tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana. Tatapannya tertuju kepada Kael, seolah sedang berusaha memahami sesuatu yang sebenarnya telah dia ketahui sejak awal, tetapi tidak pernah benar-benar siap untuk melihatnya.Kael masih mencium Tara. Lalu membuka mata, tatapan mereka bertemu, dan waktu seolah berhenti. Kael membeku, dia mengenali wajah itu, mengenali mata yang dahulu selalu menatapnya dengan penuh kepercayaan, mata yang pernah membuatnya merasa bahwa apa pun yang terjadi, selalu ada seseorang yang akan menunggunya pulang.Perempuan yang pernah menjadi seluruh dunianya, yang sudab kehilangan begitu banyak hal, yang baru saja dijanjikan tidak akan kehilangan dirinya begitu saja.Kael perlahan melepaskan ciumannya dari Tara.Namun, Lyria tidak menunggu penjelasan. Air mata mengalir di pipinya, tidak menangis keras-keras, bahkan tidak mengeluarkan suara, hanya menutup mulutnya dengan tangan, seolah takut isakannya akan terdengar. Lalu Lyria menggeleng pelan, bukan sebagai ben
"Memastikan obatmu berikutnya sudah disiapkan.""Tara." Perempuan itu berhenti."Apa lagi?"Kael hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya menggeleng. “Tidak jadi."Tara mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya.Kael memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Ada yang berubah. Tara masih tersenyum kepadanya, mengurus kebutuhannya, memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi perempuan itu tidak lagi berlama-lama di sisinya.Tara tidak duduk menemaninya setelah semua urusannya selesai, tidak menatapnya dengan cara yang sama seperti ketika mereka berada di Gerbang Kekosongan. Kael tahu perubahan itu karena dia menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Tara untuk memahami perasaannya. Perempuan itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Malam tiba.. langit Bintang Utara dipenuhi cahaya aurora yang bergerak perlahan di antara gugusan bintang. Setelah menjalani pemeriksaan terakhir, Lyria akhirnya diminta beristirahat di kamar yang disediakan khusus untuknya. K







