Home / Romansa / Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris / Bab 5. Penghinaan di Malam Pertama

Share

Bab 5. Penghinaan di Malam Pertama

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2024-11-28 11:20:12

Dua hari berlalu dengan cepat. Aleena masih berada di kediaman Keluarga Benedict dan tidak pergi ke mana pun. Apalagi, sekarang Aleena telah memiliki status baru, yaitu menjadi istri kedua Asher. 

Malam ini, gadis bertubuh kurus itu duduk di tepi ranjang dengan balutan dress berwarna biru muda. Aleena tampak cemas dan kalut. 

Dalam waktu yang begitu singkat, Aleena dan Asher resmi menikah. Meskipun pernikahan itu hanya untuk sementara waktu saja, dan juga berjalan demi keuntungan masing-masing.

"Nona Aleena..." 

Suara Bibi Julien berhasil membuyarkan lamunan Aleena, gadis itu menoleh cepat ke arah pintu dan berdiri dari duduknya. 

"Iya, Bi? Ada apa?" tanya Aleena menatapnya. 

"Ini gaun tidur tidur yang Nyonya Marsha siapkan untuk Nona Aleena pakai malam ini," ujar Bibi Julien meletakkan gaun tidur satin berwarna merah di atas ranjang. 

Wajah Aleena mendadak pucat. Rasa takut menyelimutinya dengan cepat.

Ia tidak bisa membayangkan seperti apa malam pertama itu?

"A-apa Nyonya Marsha sedang di rumahnya, Bi?" tanya Aleena. 

"Nyonya Marsha ada di bawah bersama Tuan Asher." 

Aleena mengembuskan napasnya pelan. "Aku ingin menemui Nyonya Marsha sebentar, Bi." 

"Baik Nyonya, mari..." 

Mereka berdua keluar dari dalam kamar, Aleena berjalan di selasar lantai dua menuju anak tangga. 

Namun, di sana Aleena menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan Asher dan Marsha di lantai satu. 

"Sayang, apa kau yakin akan baik-baik saja?" ujar Asher mencekal pundak Marsha dengan tatapan penuh kasih sayang. "Ayo kita pulang ke rumah." 

"Tidak, Sayang," Marsha melepaskan tangan Asher dengan pelan. 

Wanita cantik itu tersenyum menangkup kedua pipi Asher. 

"Sekarang, habiskan malam ini dengan Aleena. Semakin cepat semakin baik. Jangan cemaskan aku." 

"Aku tidak setega itu padamu, Marsha." Asher berusaha menolak. 

"Kumohon, Asher…," Marsha menangkup kedua pipi Asher. "Aku akan menunggumu di rumah sampai kau selesai, hmm?" 

Asher berdecak kesal, menyesal ia pernah berkata akan menuruti semua hal yang istrinya inginkan, bila pada akhirnya Marsha menginginkan hal di luar dugaannya. 

Sedangkan Aleena, gadis itu diam terpaku mendengar perbincangan Asher dan Marsha tanpa sengaja. Melihat Marsha sampai memohon pada Asher, di situlah pintu hati Aleena terketuk. 

Ia tidak boleh membuat Marsha kecewa padanya. Aleena harus melakukan tugasnya dengan baik. 

"Aleena?" 

Tubuh Aleena tersentak pelan mendengar suara Marsha. 

"Nyonya Marsha, sa-saya tidak bermaksud menguping pembicaraan Tuan dan Nyonya. Sa-saya tadinya hanya ingin menemui Nyonya," ujar Aleena melirik takut ke arah Asher. 

Laki-laki itu berdiri dengan sorot mata dingin dan berlalu melangkah menuju lantai dua. 

Marsha menghampirinya. "Jangan takut, Aleena. Asher tidak menyeramkan, dia pasti akan memperlakukanmu dengan baik malam ini, percayalah padaku," ujarnya menyakinkan. 

Aleena tertunduk sedih. "Tapi, saya ingin meminta maaf pada Nyonya. Saya berjanji saya tidak akan membuat Nyonya kecewa." 

"Aku percaya padamu." Marsha tersenyum tipis. "Sekarang, segeralah ke kamar. Asher sudah menunggumu. Dan ingat, jaga perasaanmu pada suamiku, kau mengerti?"

"Saya mengerti, Nyonya." 

Marsha pun berlalu meninggalkan tempat itu dan menutup pintu utama paviliun. 

Sementara Aleena berjalan kembali masuk ke dalam kamar. Ia tidak menemukan Asher di sana, namun dia mendengar suara air di dalam kamar mandi. 

Aleena menatap gaun tidur di atas ranjang dan meraihnya. Gaun tipis itu membuat Aleena merinding. Selama ini, ia tidak pernah menunjukkan lekuk tubuhnya pada siapapun, lalu bagaimana bisa ia akan memakai gaun setipis itu?

Saat dalam kegalauan, tiba-tiba Alena tersentak saat ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, di sana Asher berdiri menatapnya tanpa ekspresi. 

Asher mendekati Aleena dan mematikan penerangan kamar itu. 

"Mari lakukan semua ini dengan cepat, aku harus menemani Marsha malam ini," ujar Asher. 

Aleena menelan salivanya gugup. Ia menggigit bibir bawahnya gelisah. 

Gaun tidur di tangannya pun teremas kuat oleh jemari Aleena saat gadis itu melihat Asher melepaskan kemeja putih yang laki-laki itu pakai. 

"Tu-tuan Asher, saya ... saya tidak tahu harus memulai dari mana," ujar Aleena sambil mengalihkan pandangannya. 

Asher tersenyum kecut. Baginya, tidak mungkin Aleena tidak mengerti tentang apa yang akan mereka lakukan. Bukankah dia rela menukarkan dirinya dan hamil anak orang lain demi uang? 

"Mustahil," ucap Asher remeh. 

"A-apa yang mustahil, Tuan?" tanya Aleena bingung. 

Asher membalikkan badannya, laki-laki itu berdiri dengan tubuh atasnya yang terpampang. 

Sekali lagi, Aleena menelan ludah gugup. Napasnya tercekat saat ia berhadapan dengan dada bidang dan kokoh milik laki-laki itu. Kulit tubuh Asher yang putih dan otot perutnya yang terpahat sempurna, membuat Aleena benar-benar ingin lari. 

Gadis itu mundur perlahan hingga betisnya terbentur sisi pinggiran ranjang dan sontak Aleena terjatuh terlentang di atas ranjang. 

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Asher untuk mengurung kedua sisi tubuh Aleena. Wajah pucat Aleena nampak terlihat jelas saat Asher menatapnya tajam dan lekat. 

Saat jemari tangan Asher hendak melepas kancing dress yang Aleena pakai, laki-laki itu merasakan gemetar pada tubuh Aleena. 

"Jangan menghambat, aku ingin lakukan ini dengar cepat," desis Asher. 

"Ma-maaf, Tuan...," cicit Aleena dengan suara bergetar. 

"Pejamkan matamu, jangan menatapku," perintah Asher dengan suara beratnya. 

Bahkan kamar yang sekarang menjadi minim cahaya pun rasanya masih kurang untuk Asher. Dia benar-benar tidak ingin melihat wajah gadis itu, begitupun sebaliknya, dia tidak ingin Aleena menatapnya. 

Kedua mata Aleena mulai terpejam, gadis itu tersentak saat merasakan sensasi menggelikan di sekitar lehernya. Ia berjengit lagi saat sentuhan bibir itu menyapu kulit lehernya dengan kasar, seperti menggigitnya kuat-kuat hingga Aleena mendesis sakit. 

Aleena ingin mendorong Asher menjauh, tapi kedua tangannya dicengkeram erat di atas kepalanya oleh pria itu. 

Satu tangan Asher kemudian membuka satu persatu kancing dress yang Aleena pakai, hingga hanya menyisakan pakaian dalam yang menutupi tubuh indahnya. Tanpa menghentikan cumbuan kasar di leher Aleena, Asher menyentuh bagian tubuh Aleena yang tak tertutup pakaian lagi.

“Akh!” Aleena meringis saat satu titik di lehernya terasa perih. Apakah Asher baru saja menggigitnya?!

Aleena tersentak saat merasakan tangan besar Asher menyentuh bagian paling intim miliknya yang masih berbalut pakain dalam. Ia menahan napas dan memejamkan mata dengan erat. 

Namun, tiba-tiba saja laki-laki itu menghentikan kegiatannya. 

Napas Aleena memburu. Suaranya bergetar. "Tu-Tuan Asher..." panggil Aleena sambil membuka matanya perlahan. 

Asher menekan cengkeramannya pada tangan Aleena hingga membuat gadis itu tersentak. Wajah marahnya muncul dalam hitungan detik saat gadis itu menyebut namanya. 

"Kau sangat menjijikkan,” desisnya dengan suara yang terdengar menyeramkan. “Lihat betapa murahnya dirimu." 

Kedua mata Aleena melebar sempurna. Bibirnya bergetar dan kedua matanya berkaca-kaca. Aleena tidak tahu, mengapa Asher tiba-tiba mengatakan hal itu.

Laki-laki itu lalu melepaskan cengkeraman tangannya dan beranjak menjauhinya. 

Asher menyahut kemeja putihnya di tepi ranjang dan memakaikan cepat, dia berdiri memunggungi Aleena. 

"Aku tidak bisa menghabiskan malam dengan wanita yang tidak aku cintai. Apalagi dengan gadis sepertimu," ujar Asher dingin.

"Ta-tapi Tuan—"

Ucapan Aleena terhenti saat Asher pergi dari kamar dan membanting pintu dengan keras. 

Aleena tertegun, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Ia beranjak duduk menutup tubuhnya dengan selimut. 

Menjijikkan! Murahan! 

Kata-kata itu terngiang di kepalanya, menikamnya tanpa ampun. 

Aleena merasa dadanya sesak. Ia memeluk dirinya sendiri dan menangis dalam diam. 

Sebegitu hinakah dirinya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Ketut Aryatrini
hargai wanita donk tuan
goodnovel comment avatar
ORTYA POI
Kekuasaan uang mengharuskan untuk operasi papa nya, sabar Alenna
goodnovel comment avatar
Riri Dzabil
kasian aleena
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 390. KISAH KITA BERUJUNG BAHAGIA

    Dua hari terasa cepat di depan mata. Hari pertunangan Theo dan Arabelle pun telah datang hari ini. Acara pertunangan itu dilaksanakan di sebuah gedung hotel bintang lima milik Keluarga Benedict. Semua tamu-tamu penting dari kedua keluarga itu pun datang. Arabelle tampak sangat cantik malam ini dengan balutan dress panjang berwarna biru muda. Arabelle berdiri di samping Theo dan kedua orang tua Theo setelah acara inti dimulai beberapa menit yang lalu. Theo meraih tangan Arabelle dan menatap cincin berlian bermata putih bening itu tersemat cantik di jari manis Arabelle. "Cantik sekali cincin ini ada di jari manismu," ucap Theo berbisik. Arabelle langsung menoleh dan gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. "Karena kau yang memilihkannya untukku." Kekeham pelan terdengar dari bibir Theo, ia merangkul Arabelle sambil menyapa beberapa tamu yang kini memberikan ucapan selamat pada mereka. "Ini baru pertunangan, sudah sebanyak ini tamu Papa," ucap Theo. "Bagaimana kalau

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 389. S2. Tinggal Menghitung Hari, Kita Akan Terikat

    Beberapa bulan berlalu, hari-hari yang dilalui oleh Theo semakin berubah. Dari yang semula hidupnya serba tenang-tenang saja, kini menjadi sibuk layaknya ia dulu melihat sang Papa.Apalagi Theo merasakan tentang jatuh cinta, memiliki kekasih, dan menyayanginya. Arabelle adalah alasan bagi Theo untuk selalu bersemangat setiap hari. Seperti sore ini, Theo berkumpul bersama orang tuanya dan juga keluarga Arabelle di kediaman Jordan. "Kenapa Tuan Asher dan Nyonya Aleena tidak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini," ujar Hani pada mereka berdua."Memangnya kalau kami bilang-bilang apakah ada sambutan yang sangat meriah?" tanya Asher dengan nada bergurau. Kakek dan Nenek Arabelle itu pun tertawa. Bahkan Arabelle dan Theo yang duduk di sofa seberang ikut tertawa mendengarnya jawaban Asher. "Kami bertiga ke sini karena ada tujuan tertentu, Nyonya Hani," ujar Aleena. "Ada apa?" tanyanya. "Pasti ingin membahas tentang anak-anak, kan?" tanya Julian—Kakek Arabelle. "Benar Tuan." Asher menga

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 388. S2. Anak Kesayangan Mama

    Hari sudah gelap, rumah Asher tampak sepi di saat semua anak-anaknya sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aleena dan Asher kini duduk di dalam ruangan keluarga. Berdua, dan ditemani oleh cahaya yang temaram. "Tidak terasa ya, Sayang. Sekarang anak kita sudah besar-besar. Theo sudah dewasa, si kembar juga sudah besar. Rasanya baru kemarin kita menjadi orang tua," ujar Aleena menatap ke luar dari jendela di ruang keluarga. Asher tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari," jawab Asher. Aleena menyandarkan kepalanya di pundak sang suami dan wanita itu mengangguk kecil. "Dan aku tidak percaya menghabiskan seumur hidupku bersamamu, Asher. Padahal, dulu kita dipertemukan karena hal-hal yang tidak diinginkan, dan kita—""Jangan diingat lagi!" Asher menjentikkan jari telunjuknya dengan pelan di kening Aleena hingga membuat sang istri cemberut menatapnya. Wanita cantik itu mengusap keningnya dan mengeratkan pelukannya di lengan

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 387. S2. Kedekatan yang Nyaman

    Kedekatan Arabelle dan Theo sudah sangat dekat, bahkan semua orang juga sudah tahu dengan hubungan mereka. Seperti teman-teman kampus Arabelle saat ini yang melihat Theo yang tengah menjemput Arabelle pulang dari kampus. "Wah, tampan sekali, siapa dia?" "Dia kekasihny Arabelle, anak kedokteran." "Kekasihnya sangat tampan, ya, sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya." Suara bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Arabelle saat gadis cantik itu sampai di depan. Ia melihat semua kakak tingkatnya tampak memperhatikan Theo yang berdiri di samping mobilnya tampak menunggu-nunggu. Arabelle tidak banyak bicara, ia langsung berjalan mendekati Theo saat itu juga dan mengabaikan semua Kakak tingkatnya yang masih asik membicarakan Theo. "Kak Theo!" pekik Arabelle melambaikan tangannya dan berlari kecil mendekatinya. Theo tersenyum manis padanya seperti biasa, sampai begitu mendekat, Arabelle langsung memeluk pemuda itu. Kedua alis Theo terangkat. Tumben sekali Arabelle melakukan ha

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 386. S2. Berdua Bersamamu Adalah Hal Ternyaman

    Setelah acara makan malam selesai, Theo mengajak Arabelle untuk ikut bersamanya lebih dulu. Mereka berdua pergi ke suatu tempat malam ini. Theo mengajak Arabelle ke taman tempat mereka dulu melihat kembang api saat tahun baru. Di sebuah taman yang indah, dan tepat di cuaca yang cukup dingin seperti malam ini. "Kenapa mengajakku ke sini?" tanya Arabelle tersenyum menatap Theo. "Ingin saja," jawab Theo, ia menggenggam hangat tangan Arabelle dan diajaknya berjalan menaiki banyak anak tangga. Arabelle tersenyum gemas, gadis itu membalas genggaman tangan Theo sebelum mereka kini akhirnya sampai di taman bagian atas. Arabelle menatap sekitar, semua bunga-bunga bermekaran di sana. Dari bunga Hydrangea hingga bunga-bunga lainnya. "Wahh ... cantik sekali bunga-bunganya," ujar Arabelle tersenyum senang. "Sebelum musim dingin, mereka semua bermekaran," ujar Theo menarik pelan lengan Arabelle dan mengajaknya duduk. "Di rumah Mama yang ada di Palonia, semua tamannya dipenuhi oleh bunga Hyd

  • Ibu Pengganti 1 Miliar untuk Anak Pewaris   Bab 385. S2. Kedua Keluarga Berkumpul

    Segala macam persiapan sudah diselesaikan. Arabelle lolos masuk ke universitas impiannya, gadis itu mendalami ilmu kedokteran seperti yang ia inginkan. Berkat dukungan dan juga perhatian penuh yang Jordan berikan, anak gadisnya bisa berdiri sampai di titik ini.Malam ini, Jordan mengadakan makan malam. Ia mengundang juga Asher dan Aleena, juga Theo, bersama di kembar di sebuah rumah makan di restoran mewah. Tak hanya mereka, bahkan kedua orang tua Jordan pun juga ikut. "Terima kasih Tuan dan Nyonya sudah menyempatkan datang malam ini," ucap Jordan pada Asher dan Aleena. Asher terkekeh mendengarnya, ia menepuk pundak Jordan. "Masih formal saja kau dengan calon besanmu ini," ucap Asher. Jordan pun tertawa. "Masih perlu beradaptasi, Tuan Asher," jawabnya.Sedangkan Aleena kini duduk bersama dengan Hani, mereka berbincang-bincang. Theo bersama Julian dan juga Arabelle. Leo dan Lea melihat ikan-ikan hias di akuarium besar yang berada di tempat itu. Lea berlari mendekati Aleena, anak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status