LOGIN"Uang satu miliar akan kuberikan padamu asal kau melahirkan anak untuk kami. Tapi ingat, kau hanyalah wanita sekali pakai, Aleena!" Aleena Pandora membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya yang sakit keras. Niat hati ingin meminta bantuan pada sang calon suami, Aleena malah diminta untuk menyewakan rahimnya pada sepasang suami istri yang akan memberinya imbalan besar. Aleena marah dan sakit hati. Bagaimana mungkin, calon suaminya meminta hal seperti itu?! Namun, pria yang Aleena pikir mencintainya dengan tulus ternyata tak lebih dari bajingan ulung yang hanya ingin memanfaatkan dirinya! Terbakar amarah, Aleena pun menerima tawaran untuk menyewakan rahimnya dan hamil anak dari seorang laki-laki yang sudah beristri, yaitu Asher Benedict—seorang CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Akankah Aleena bertahan di saat Asher memperlakukannya seperti wanita murahan yang rela menjual tubuh demi uang?
View MoreRoxy
Jeez-us it’s absolutely freezing as I step down from the aircraft that has brought me into Anchorage from my home in sunny California. My battered suitcase has seen better days, as I haul it finally from inside the terminal off the carousel.
My stomach is in knots from the mere fact that I have to return home after a few years away. I feel irritated, bitter and vulnerable as I step back onto home turf.
Three years away, and it still smells like regret and testosterone in this damn place.
Returning back to Anchorage is not my choice, however, my mother has just undergone surgery on her gallbladder and asked that I come home to be with her during recovery.
What, like her husband, my stepfather and my asshole, womanizing, step brother, Blake couldn’t be there for her? Sorry, that’s rude I know. She is my mother after all and we do love each other. But having to spend any time around my step brother makes me feel like burning the town down.
The cab driver nods when I give him the address to take me to. It’s in a small town where my mom and step father live, they own the largest house there with iron gates and plenty of land. He is a billionaire, making his money in stocks and shares. And the douchebag son of his, thinks he is God’s gift to women.
That and being a hockey player makes him think he is something special. Entitled comes to mind. Okay, granted he works his ass off practicing, going to the gym and all the games, but still, he is a jerk.
I work for National Geographic as a photographer, so the deal is that I do plenty of nature shots whilst I’m here to cover my spot and to give something to my followers.
Thirty minutes later, I have arrived at my destination. I pay my driver who was a sweet man and wait for him to get my bags out of the trunk. The security guy remembers me thankfully and lets me in through the gates.
Half a mile down the drive is the imposing property and wouldn’t you know it; Blake opens the front door when I ring on the bell. And the man is shirtless. SHIRTLESS!
National Geographic does not prepare you for facing your shirtless smug stepbrother!
I am guessing he is just back from practice or the gym, since I can see sweat glistening on his tan skin. Which I question since he lives in Alaska and it is the winter. So how has he got such a stupendous tan. My mouth has gone dry. WTF? No way.
There is something about his perfect pecs, and his six pack with the glorious V all the way to his waistband. I quickly manage to drag my eyes up to his cobalt blue eyes. He has a cocky smirk on his face.
“Seriously? No shirt, in January? Are you showing off for the snowflakes again, Blake?”
The tension feels hot. I feel hot even though it is sub-zero temperature out here.
I’m wondering if his wolf sensed that I was here since the door was opened so quickly.
Blake smirks at me. I want to slap it off his face. “Some of us, Roxy were born to be hot-blooded. Can’t relate, huh?”
I glare my emerald eyes at him; he merely grins like a shit eating grin.
“You still think you’re God’s gift to hockey?” I snark at him, still standing in the ice cold.
His lips form a smile, his eyes shimmer with something like jest in them. “Just the Ice Wolves, MVP. And your favorite mistake if I recall.”
Fucking asshole. It was perhaps a bad call to sleep with the boss of the team when I was supposed to be covering footage. Yeah, it was a mistake but I don’t need Blake reminding me of it.
My eyes stray again to his impressive abs. He rocks them. It should be illegal for anyone to be this gorgeous. Blake checks me out, checking him out. I blush and look away.
I hate him, so why do I even like the look of him?
“Like what you see, Princess?” he chuckles. I raise my hand to slap him but he catches my hand with his in one lightning move.
“Get out of my way, asshole,” I say hot tempered and flustered. Very flustered. He drops my wrist as if it is scalding iron as I push past him into the enormous, grand entrance with its black and white diamond marble flooring.
“By the way, your old room is now the home gym. You will have to sleep in the guest room.”
What the hell? My room is now his gym? That takes the flaming piss. God, I am literally seething, my body is almost vibrating with anger. And why can’t he put on a T-shirt or hoodie. Anything than having his Godlike body on display distracting me.
“You’re kidding me?” I say perplexed. He shakes his head with a grin on his face. “That’s right across from your room, the spare room I mean.”
He shrugs his shoulders.
“You could always share my room, step sister.” Did he seriously just suggest that? Arrogant s.o.b.
“I’d rather spoon a grizzly bear, Blake. Thanks, no thanks!”
“Yeah, I bet I growl louder.”
Dammit, something in the way he talks with that low, husky voice makes my clit throb and my nipples pebble. My wolf is feeling lustful. That’s all I need. My wolf wanting to get it on with his!
My inner wolf is picking up on his scent and the smell of pine and his pheromones is driving me mildly insane with wanting him. He smells wild, out of control, like your total bad ass boy.
I go tense as he stands right behind me, lowering his head to my ear. His breath is warm against my skin sending shivers up and down my spine. “We’d have a good time, step-sister!”
Dua hari terasa cepat di depan mata. Hari pertunangan Theo dan Arabelle pun telah datang hari ini. Acara pertunangan itu dilaksanakan di sebuah gedung hotel bintang lima milik Keluarga Benedict. Semua tamu-tamu penting dari kedua keluarga itu pun datang. Arabelle tampak sangat cantik malam ini dengan balutan dress panjang berwarna biru muda. Arabelle berdiri di samping Theo dan kedua orang tua Theo setelah acara inti dimulai beberapa menit yang lalu. Theo meraih tangan Arabelle dan menatap cincin berlian bermata putih bening itu tersemat cantik di jari manis Arabelle. "Cantik sekali cincin ini ada di jari manismu," ucap Theo berbisik. Arabelle langsung menoleh dan gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. "Karena kau yang memilihkannya untukku." Kekeham pelan terdengar dari bibir Theo, ia merangkul Arabelle sambil menyapa beberapa tamu yang kini memberikan ucapan selamat pada mereka. "Ini baru pertunangan, sudah sebanyak ini tamu Papa," ucap Theo. "Bagaimana kalau
Beberapa bulan berlalu, hari-hari yang dilalui oleh Theo semakin berubah. Dari yang semula hidupnya serba tenang-tenang saja, kini menjadi sibuk layaknya ia dulu melihat sang Papa.Apalagi Theo merasakan tentang jatuh cinta, memiliki kekasih, dan menyayanginya. Arabelle adalah alasan bagi Theo untuk selalu bersemangat setiap hari. Seperti sore ini, Theo berkumpul bersama orang tuanya dan juga keluarga Arabelle di kediaman Jordan. "Kenapa Tuan Asher dan Nyonya Aleena tidak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini," ujar Hani pada mereka berdua."Memangnya kalau kami bilang-bilang apakah ada sambutan yang sangat meriah?" tanya Asher dengan nada bergurau. Kakek dan Nenek Arabelle itu pun tertawa. Bahkan Arabelle dan Theo yang duduk di sofa seberang ikut tertawa mendengarnya jawaban Asher. "Kami bertiga ke sini karena ada tujuan tertentu, Nyonya Hani," ujar Aleena. "Ada apa?" tanyanya. "Pasti ingin membahas tentang anak-anak, kan?" tanya Julian—Kakek Arabelle. "Benar Tuan." Asher menga
Hari sudah gelap, rumah Asher tampak sepi di saat semua anak-anaknya sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aleena dan Asher kini duduk di dalam ruangan keluarga. Berdua, dan ditemani oleh cahaya yang temaram. "Tidak terasa ya, Sayang. Sekarang anak kita sudah besar-besar. Theo sudah dewasa, si kembar juga sudah besar. Rasanya baru kemarin kita menjadi orang tua," ujar Aleena menatap ke luar dari jendela di ruang keluarga. Asher tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari," jawab Asher. Aleena menyandarkan kepalanya di pundak sang suami dan wanita itu mengangguk kecil. "Dan aku tidak percaya menghabiskan seumur hidupku bersamamu, Asher. Padahal, dulu kita dipertemukan karena hal-hal yang tidak diinginkan, dan kita—""Jangan diingat lagi!" Asher menjentikkan jari telunjuknya dengan pelan di kening Aleena hingga membuat sang istri cemberut menatapnya. Wanita cantik itu mengusap keningnya dan mengeratkan pelukannya di lengan
Kedekatan Arabelle dan Theo sudah sangat dekat, bahkan semua orang juga sudah tahu dengan hubungan mereka. Seperti teman-teman kampus Arabelle saat ini yang melihat Theo yang tengah menjemput Arabelle pulang dari kampus. "Wah, tampan sekali, siapa dia?" "Dia kekasihny Arabelle, anak kedokteran." "Kekasihnya sangat tampan, ya, sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya." Suara bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Arabelle saat gadis cantik itu sampai di depan. Ia melihat semua kakak tingkatnya tampak memperhatikan Theo yang berdiri di samping mobilnya tampak menunggu-nunggu. Arabelle tidak banyak bicara, ia langsung berjalan mendekati Theo saat itu juga dan mengabaikan semua Kakak tingkatnya yang masih asik membicarakan Theo. "Kak Theo!" pekik Arabelle melambaikan tangannya dan berlari kecil mendekatinya. Theo tersenyum manis padanya seperti biasa, sampai begitu mendekat, Arabelle langsung memeluk pemuda itu. Kedua alis Theo terangkat. Tumben sekali Arabelle melakukan ha
Puas berputar-putar mengelilingi kota dengan bus kota sambil menikmati hujan salju yang turun malam ini. Arabelle dan Theo bernostalgia mengenang masa kecil mereka saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak saat bus melewati sekolah mereka. "Kau sudah pamit pada Ayahmu kalau akan pulang terlamba
Satu Minggu kemudian.Arabelle tampak murung siang ini di sekolah. Gadis itu menatap ke arah jendela luar di sekolahnya. Pandangan mata Arabelle sudah pulih, meskipun ia tidak bisa memandang jarak jauh, namun setidaknya Arabelle sudah bisa menatap sesuatu di dekatnya. "Arabelle, hmm ... kau kenap
Sekolah pulang pukul sembilan, itu terlalu pagi untuk bersantai-santai di rumah. Theo pun berkumpul dengan teman-temannya di warung belakang sekolah. Semua teman-temannya berada di sana. Tetapi Theo sedang menyusul Arabelle di sekolah, ia mengajak gadis itu ikut dengannya dulu, karena Ayahnya belu
Arabelle dan sang Ayah kini pergi ke rumah sakit ibu kota. Hari ini adalah jadwal Arabelle untuk cek up terkait kondisi kesehatannya. Bersama Jordan yang selalu menemaninya, Arabelle tampak duduk di samping sang Ayah yang kini menunggu hasil pemeriksaan oleh dokter. "Ayah, Ara pasti sembuh, kan?"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore