Masuk"Uang satu miliar akan kuberikan padamu asal kau melahirkan anak untuk kami. Tapi ingat, kau hanyalah wanita sekali pakai, Aleena!" Aleena Pandora membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya yang sakit keras. Niat hati ingin meminta bantuan pada sang calon suami, Aleena malah diminta untuk menyewakan rahimnya pada sepasang suami istri yang akan memberinya imbalan besar. Aleena marah dan sakit hati. Bagaimana mungkin, calon suaminya meminta hal seperti itu?! Namun, pria yang Aleena pikir mencintainya dengan tulus ternyata tak lebih dari bajingan ulung yang hanya ingin memanfaatkan dirinya! Terbakar amarah, Aleena pun menerima tawaran untuk menyewakan rahimnya dan hamil anak dari seorang laki-laki yang sudah beristri, yaitu Asher Benedict—seorang CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Akankah Aleena bertahan di saat Asher memperlakukannya seperti wanita murahan yang rela menjual tubuh demi uang?
Lihat lebih banyak“Misah, ayo keluar!” teriak seorang gadis yang sedang bergerombol dengan teman sebayanya. Mereka sedang menghitung biji sawo untuk nantinya digunakan untuk bermain dakon.
“Bapak lagi sakit, aku ndak bisa ikut,” teriak gadis berambut legam yang dipanggil Misah itu. Kata–katanya segera dibalas dengan anggukan. Dari dalam rumahnya yang berlantai tanah, Misah mengawasi teman–temannya yang sedang bermain. Meskipun begitu tatapannya kosong, pikirannya melayang, ia masuk dalam dunia lamunan. Namun seketika lamunannya pudar setelah terdengar suara batuk ayahnya yang sangat keras dan berat. Dengan sigap Misah menyodorkan segelas air jahe hangat yang sudah disiapkannya. Ki Gambang menerima air jahe yang disodorkan anak gadisnya itu. Tangannya gemetar dan badannya menggigil. Di bale bambu yang tidak terlalu lebar, Ki Gambang kembali merebahkan tubuhnya setelah seteguk jahe hangat lumayan bisa meredakan batuknya. Misah menyelubungi tubuh ayahnya yang kurus dengan kain sarung.
Ki Gambang menata nafasnya yang tidak beraturan. Meskipun umurnya belum terlalu tua, tubuh Ki Gambang sangat lemah karena digerogoti oleh penyakit yang telah lama dideritanya. Penyakit itu timbul tenggelam seperti siang dan malam. Di saat musim kering seperti sekarang ini penyakit Ki Gambang akan muncul dan menjadi cukup parah. Saat udara malam sangat dingin, ia akan mengalami batuk yang sulit diredam. Biasanya Misah akan membuatkan ramuan yang terbuat dari jahe dan perasan jeruk nipis untuk sedikit meredakannya. Meskipun ia sudah berobat ke beberapa tabib yang dikenalnya, tetapi tak juga kunjung membaik. Karena itu Ki Gambang sudah pasrah dengan keadaannya ini.
Seharian ini Ki Gambang tidak melakukan apapun, tubuhnya lemas dan tidak bertenaga. Biasanya ia akan sangat rajin mengurus tanamannya di sawah. Tahun ini ia menanam ubi dan ketela karena musim kemarau baru saja tiba. Di musim seperti ini tidak mungkin untuk menanam padi, karena padi membutuhkan banyak sekali air. Karena itulah ia hanya bisa menanam umbi–umbian untuk menyokong hidupnya yang serba kekurangan.
Malam semakin larut, orang–orang yang tadinya berada di luar rumah untuk menikmati terangnya cahaya bulan purnama sudah kembali ke rumahnya masing–masing. Mungkin mereka sudah terlelap di balik kain sarungnya. Tetapi tidak dengan Ki Gambang, ia merasa sulit tidur. Selain karena penyakitnya yang semakin parah, hati dan pikirannya juga terasa tidak nyaman. Beberapa hari ini, burung bence sering bertengger di pohon belakang rumahnya. Banyak orang menganggap, kedatangan burung itu di dekat rumah adalah suatu pertanda buruk. Ki Gambang merasa gelisah, ia mulai berfikiran buruk.
Seharian rebah membuat badannya sakit semua. Ia bangkit dan bersandar pada dinding bambu rumah yang sudah puluhan tahun ditinggalinya. Rumah peninggalan orang tua yang diwariskan kepadanya setelah keduanya meninggal. Sambil menyeruput air jahe buatan Misah yang sudah mulai dingin, Ki Gambang mengenang kembali masa kecilnya bersama kedua orang tuanya dan kesembilan saudaranya.
“Bapak kenapa belum tidur?” Misah berkata. Gadis ayu itu keluar dari kamarnya kemudian berjalan mendekati ayahnya yang masih terjaga.
“Bapak masih sakit?” Misah yang telah duduk di samping Ki Gambang mulai memijit–mijit lembut kaki ayahnya yang terasa dingin.
“Bapak sudah agak baikan Nduk. Kamu kenapa bangun lagi, tidur sana! Ini sudah larut malam,” ucap Ki Gambang.
“Aku cuma mau lihat Bapak,”
“Sudah Nduk, jahe buatanmu ini manjur tenan,” ucap Ki Gambang sambil tersenyum lemah. Misah membalas senyuman ayahnya dengan perasaan lega.
“Bapak harus sehat yo Pak, aku cuma punya bapak. Bapak harus menemin aku sampai tua! Janji yo Pak!” ujar Misah penuh harap. Ki Gambang kembali menyunggingkan senyuman.
“Iyo Nduk, semoga Sang Hyang Widi mengabulkan doamu ini yo!” jawab Ki Gambang. Meskipun ia tidak yakin dengan apa yang akan terjadi nanti, Ki Gambang tetap menenangkan hati anak gadisnya yang masih remaja itu.
“Tadi Bapak lagi melamun yo Pak, mikirin apa?” tanya Misah.
“Bapak cuma ingat kakek nenek kamu Nduk, juga saudara–saudara bapak,” jawab Ki Gambang. Iapun mulai lagi kisah-kisah tentang keluarganya itu dengan penuh semangat meski sesekali tampak kesedihan di raut wajah lelaki yang telah dipenuhi keriput itu. Misah dengan santai menyimak kisah yang entah sudah berapa kali ia mendengarnya. Tentang paman–pamannya yang menjadi anggota pasukan kerajaan, dan tentang bibi–bibinya yang memilih menjadi emban di Kerajaan Singapatih. Kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas, termasuk Dukuh Manis Jambe. Pedukuhan di kaki Gunung Agung yang menjadi tempat tinggal Misah saat ini. Kabar terakhir yang didengar oleh Ki Gambang adalah bahwa dua saudaranya telah masuk dalam barisan pasukan kerajaan, bahkan salah satunya telah menyandang gelar Senopati. Sedangkan ketiga saudarinya memilih menjadi emban di kediaman para permaisuri raja. Sayangnya, Ki Gambang telah kehilangan kabar dari keempat saudara lelakinya yang lain. Meski simpang siur Ki Gambang pernah mendengar bahwa keempat saudaranya itu pergi menuntut ilmu di sebuah padepokan silat di tengah hutan, ada juga yang mengatakan bahwa mereka menjadi pengikut saudagar kaya dan menjadi ajudannya. Seluruh saudaranya itu belum pernah sekalipun menengoknya sejak kepergian mereka di usia yang masih sangat muda. Tidak ada yang tahu bahwa ia telah menikah dan memiliki seorang anak. Begitupun sebaliknya, Ki Gambang tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang dijalani oleh saudara–saudaranya itu.
Ki Gambang dan Misah tinggal berdua saja setelah istrinya meninggal dunia saat melahirkan Misah lima belas tahun yang lalu. Mungkin karena itulah anak gadis semata wayangnya itu ia beri nama Misah, yang artinya pisah atau memisahkan, memisahkan ia dengan istri yang sangat dicintainya. Tapi meski begitu Ki Gambang sangat menyayangi Misah, hingga ia tumbuh menjadi anak gadis yang ayu, berkulit sawo matang dengan bola mata yang besar dan bersinar. Mata yang sama persis seperti mata Ki Gambang.
“Tidurlah lagi Nduk,” ucap Ki Gambang kepada anaknya.
“Nggeh Pak,” jawab Misah sambil beranjak dari tempat duduknya. Misah mengurai rambut hitamnya yang tadi bergelung. Ia kemudian masuk ke dalam bilik satu–satunya di rumah itu, bilik dengan pintu yang tertutup kain jarik lusuh bekas milik ibunya.
...
Derap kuda memecah keheningan pagi yang benar-benar masih buta ini. Seakan baru semenit yang lalu Misah terlelap dan kini ia dikagetkan dengan keributan asing di luar rumahnya. Misah buru–buru merapikan kain jarik kemben yang dikenakannya, rambutnya yang masih berurai dibiarkannya berantakan menutupi sebagian wajah ayunya itu. Terlihat sang ayah sudah berada di depan seorang lelaki gagah namun garang yang berdiri angkuh memegang pedang yang bersarung di pinggangnya. Tampak pula puluhan prajurit lengkap berbaris rapi menyertainya. Salah satu prajurit yang gempal memegang tali kekang kuda yang mungkin milik si pria gagah itu.
“Benar ini rumah Ki Gambang Pengalihan?” lelaki kekar itu bertanya.
“Betul Raden,” Ki Gambang menjawab.
“Dimana Sastra, Mangun dan dua saudaramu bersembunyi Ki?”
“Ampun Raden, saya tidak tahu menahu lagi tentang keberadaan mereka, mereka pergi dari rumah saat berusia masih sangat muda, dan sejak saat itu hamba tidak pernah tahu lagi kabar dari mereka Raden,” kedua tangan Ki Gambang bertelungkup di dada dan terlihat sekali tangan itu gemetaran.
“Benarkan demikian Ki, kamu pasti sedang berbohong, jawablah dengan jujur tentang keberadaan para begal itu, atau kau akan aku hukum karena dengan sengaja menyembunyikan mereka,” lelaki itu mengancam.
“Ampun Raden, ampun, hamba benar-benar tidak tahu tentang mereka, jangan sakiti hamba Raden,” seketika tubuh Ki Gambang lemas, ia berlutut di depan lelaki itu dan menyembah minta ampun.
Sriinggg! Suara pedang yang sedari tadi bersarung kini mengayun dan hampir bersarang di leher Ki Gambang.
Dua hari terasa cepat di depan mata. Hari pertunangan Theo dan Arabelle pun telah datang hari ini. Acara pertunangan itu dilaksanakan di sebuah gedung hotel bintang lima milik Keluarga Benedict. Semua tamu-tamu penting dari kedua keluarga itu pun datang. Arabelle tampak sangat cantik malam ini dengan balutan dress panjang berwarna biru muda. Arabelle berdiri di samping Theo dan kedua orang tua Theo setelah acara inti dimulai beberapa menit yang lalu. Theo meraih tangan Arabelle dan menatap cincin berlian bermata putih bening itu tersemat cantik di jari manis Arabelle. "Cantik sekali cincin ini ada di jari manismu," ucap Theo berbisik. Arabelle langsung menoleh dan gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. "Karena kau yang memilihkannya untukku." Kekeham pelan terdengar dari bibir Theo, ia merangkul Arabelle sambil menyapa beberapa tamu yang kini memberikan ucapan selamat pada mereka. "Ini baru pertunangan, sudah sebanyak ini tamu Papa," ucap Theo. "Bagaimana kalau
Beberapa bulan berlalu, hari-hari yang dilalui oleh Theo semakin berubah. Dari yang semula hidupnya serba tenang-tenang saja, kini menjadi sibuk layaknya ia dulu melihat sang Papa.Apalagi Theo merasakan tentang jatuh cinta, memiliki kekasih, dan menyayanginya. Arabelle adalah alasan bagi Theo untuk selalu bersemangat setiap hari. Seperti sore ini, Theo berkumpul bersama orang tuanya dan juga keluarga Arabelle di kediaman Jordan. "Kenapa Tuan Asher dan Nyonya Aleena tidak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini," ujar Hani pada mereka berdua."Memangnya kalau kami bilang-bilang apakah ada sambutan yang sangat meriah?" tanya Asher dengan nada bergurau. Kakek dan Nenek Arabelle itu pun tertawa. Bahkan Arabelle dan Theo yang duduk di sofa seberang ikut tertawa mendengarnya jawaban Asher. "Kami bertiga ke sini karena ada tujuan tertentu, Nyonya Hani," ujar Aleena. "Ada apa?" tanyanya. "Pasti ingin membahas tentang anak-anak, kan?" tanya Julian—Kakek Arabelle. "Benar Tuan." Asher menga
Hari sudah gelap, rumah Asher tampak sepi di saat semua anak-anaknya sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aleena dan Asher kini duduk di dalam ruangan keluarga. Berdua, dan ditemani oleh cahaya yang temaram. "Tidak terasa ya, Sayang. Sekarang anak kita sudah besar-besar. Theo sudah dewasa, si kembar juga sudah besar. Rasanya baru kemarin kita menjadi orang tua," ujar Aleena menatap ke luar dari jendela di ruang keluarga. Asher tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari," jawab Asher. Aleena menyandarkan kepalanya di pundak sang suami dan wanita itu mengangguk kecil. "Dan aku tidak percaya menghabiskan seumur hidupku bersamamu, Asher. Padahal, dulu kita dipertemukan karena hal-hal yang tidak diinginkan, dan kita—""Jangan diingat lagi!" Asher menjentikkan jari telunjuknya dengan pelan di kening Aleena hingga membuat sang istri cemberut menatapnya. Wanita cantik itu mengusap keningnya dan mengeratkan pelukannya di lengan
Kedekatan Arabelle dan Theo sudah sangat dekat, bahkan semua orang juga sudah tahu dengan hubungan mereka. Seperti teman-teman kampus Arabelle saat ini yang melihat Theo yang tengah menjemput Arabelle pulang dari kampus. "Wah, tampan sekali, siapa dia?" "Dia kekasihny Arabelle, anak kedokteran." "Kekasihnya sangat tampan, ya, sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya." Suara bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Arabelle saat gadis cantik itu sampai di depan. Ia melihat semua kakak tingkatnya tampak memperhatikan Theo yang berdiri di samping mobilnya tampak menunggu-nunggu. Arabelle tidak banyak bicara, ia langsung berjalan mendekati Theo saat itu juga dan mengabaikan semua Kakak tingkatnya yang masih asik membicarakan Theo. "Kak Theo!" pekik Arabelle melambaikan tangannya dan berlari kecil mendekatinya. Theo tersenyum manis padanya seperti biasa, sampai begitu mendekat, Arabelle langsung memeluk pemuda itu. Kedua alis Theo terangkat. Tumben sekali Arabelle melakukan ha
Keesokan harinya, Theo begitu heboh dengan kepulangan Papanya. Anak itu sangat merindukan Asher hingga kini memeluk Papanya dan tidak melepaskannya. Setelah pagi ia datang ke kamar Mamanya, Theo kaget melihat Papanya ada di sana. Hingga anak itu kini memeluk sang Papa yang masih berbaring di atas
"Aleena, hari ini teman-teman Mama arisan Mama akan datang ke sini. Nanti, kau ikut Mama menyambut kedatangan mereka, ya..." Camelia mendekati Aleena yang tengah bersama Theo di taman rumahnya. Menantunya itu tampak kikuk, Aleena kemarin bertemu dengan beberapa teman Camellia dan ia hanya bisa di
Sudah tiga hari lamanya Asher disibukkan dengan pekerjaan yang sangat banyak di negeri seberang. Bahkan saat ini, pukul delapan malam ia masih berada di kantor milik rekannya. Di dalam ruangan luas dan praktis itu, terdapat empat orang di dalam sana, termasuk Asher dan Jordan. "Sudah pukul del
Satu hari tinggal bersama Mama dan Papa mertuanya, ternyata tidak seburuk seperti yang Aleena bayangkan. Camelia dan Darren begitu perhatian padanya. Bahkan Camelia tahu kalau Aleena setiap tengah malam selalu makan, hingga wanita itu menemaninya di dapur seperti malam ini. Aleena tampak membuka


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak