Masuk"Uang satu miliar akan kuberikan padamu asal kau melahirkan anak untuk kami. Tapi ingat, kau hanyalah wanita sekali pakai, Aleena!" Aleena Pandora membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya yang sakit keras. Niat hati ingin meminta bantuan pada sang calon suami, Aleena malah diminta untuk menyewakan rahimnya pada sepasang suami istri yang akan memberinya imbalan besar. Aleena marah dan sakit hati. Bagaimana mungkin, calon suaminya meminta hal seperti itu?! Namun, pria yang Aleena pikir mencintainya dengan tulus ternyata tak lebih dari bajingan ulung yang hanya ingin memanfaatkan dirinya! Terbakar amarah, Aleena pun menerima tawaran untuk menyewakan rahimnya dan hamil anak dari seorang laki-laki yang sudah beristri, yaitu Asher Benedict—seorang CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Akankah Aleena bertahan di saat Asher memperlakukannya seperti wanita murahan yang rela menjual tubuh demi uang?
Lihat lebih banyakThe end of life is death, ashes to ashes. Everything should have an end, the end of destruction, the end of hate, the end of a friendship and the end of life. We go through the tedious motions of living just to die in the end. What’s the point of it all? Love. Love is the point of it all. If you’ve never had it or given it, you won’t understand why I say it’s important. It makes you do crazy things, things you probably shouldn’t do.
The opposite of love is hate. Hate is a feeling we all know and some of us encounter it on a daily basis. It makes you cold and unfeeling, it crushes your soul and changes who you are. If you allow it in, hate can be more powerful than love. It’s easier to hate than to love.
Up to this point I’ve never hated anyone and I had plenty of reasons to hate, to be angry, to want more, to expect more. Being driven is not a bad thing, unless the drive inside of you takes over, because then, you lose yourself to it.
Loss is also not a new feeling. Life is all about teaching you loss and humility, being grateful, being the best, the best you that you can be, this I know for a fact. It’s something I hear almost every day. Be, better, do better, work harder, stop being a shithead.
It’s not always that easy. I’m naturally mischievous which means I’m in trouble more often than I’m not, much to my sister’s delight. Being a Sinclair takes a special kind of special, like Aunt Jessica says, because I’m not allowed to call her grandma.
My name is Kai and I’m somewhere in between. I’m the first born son of Kiran and Adara Sinclair. My father is the Alpha of our pack and that makes me the future Alpha. I am half wolf and half witch and I can see glimpses into the future, usually a future that involves me. My father speaks to Death and I speak to the dead.
To the outside world I have a twin sister, Saga, although she’s not really my twin. It’s easier to let people believe that since we were born on the same day, just a few hours apart in different parts of Alaska and telling people that our father killed her mother wouldn’t go down well.
Our family can seem confusing and I only truly understood the complexity of being Kiran SInclair when I secretly started reading his diaries. One thing I do know for sure, my family is filled with badasses, my father being one of them. He has left a trail of dead bodies all over the place.
Saga, my showoff sister, gave my father back his memories and his magic. From that day onwards, he worked really hard to find a balance between everything he had to carry on his shoulders. When certain things happen, you change. My father changed as well. He changed from the man that just had to save everyone to someone that spent more time at home with us and our mother, although he didn’t really stop saving people.
I love Saga more than I love myself and there’s nothing I wouldn’t do for her. She loves green fire and I prefer red fire. She got her powers from our grandmother, Karani. She can alter your memories, take them away and give you new ones and at this point her powers are more advanced than mine.
My mother, Adara, is the nicest person in the world but she could be strict to the point where I felt she was unfair. She has this hot and cold relationship with my father and he can take her temper from zero to a hundred in ten seconds flat.
We have complete honesty in our family and we share everything. My grandfather, Malachi, used to compete in death fights and he now holds the position of Head Alpha of The Council of the United States. He is the voice of reason in our family, which is weird when you know Aunt Jessica. She married Malachi without him even proposing.
Uncle Levi, or Jericho, as some people still call him, is the real badass of the family. He used to be a professional killer but now he spends his time training us. William went off to college and now he’s a lawyer in Seward. Malachi had only chuckled when William announced his plans to go to law school, because the family always needs a lawyer.
Tala is a completely different story. She looks like her mother but she’s exactly like her father. Hot and cold and she can kick your ass from here to kingdom come. Also, I’m not always sure if she’s on my side or not. She has the ability to touch someone and see that person’s past.
Uncle James is the steadfast one, always encouraging us. He is most like Malachi in our family. Gunnar doesn’t know how lucky he is. Kiran drills me day and night in wolf laws and how to be an Alpha. He has a quick temper and he’s the second person I’d call if shit hit the fan, with Uncle Levi being the first.
Gunnar is my best friend and Beta. His mother, Aunt Shoran, died two years earlier when she got caught in the crossfire when a local man lost his shit and started shooting up the supermarket. Gunnar and I do almost everything together, except when I get suspended.
I can’t see Death like Kiran does, but I see the dead all around us. It used to scare the shit out of me when I was smaller. Sometimes they ask me for favors, when they haven’t moved on and other times they just wanted to talk. I soon figured out that the quickest way they would leave me alone was to give them what they wanted.
I didn’t see things like when you would die, it was more the immediate future, like when I was in trouble, I saw those five or ten minutes ahead, mostly the disappointment in Adara’s eyes and for now it was always a future that directly impacted me.
Like mist able to blind you instantly, I too was blinded, by life, by love, by hate and by my own arrogance.
Dua hari terasa cepat di depan mata. Hari pertunangan Theo dan Arabelle pun telah datang hari ini. Acara pertunangan itu dilaksanakan di sebuah gedung hotel bintang lima milik Keluarga Benedict. Semua tamu-tamu penting dari kedua keluarga itu pun datang. Arabelle tampak sangat cantik malam ini dengan balutan dress panjang berwarna biru muda. Arabelle berdiri di samping Theo dan kedua orang tua Theo setelah acara inti dimulai beberapa menit yang lalu. Theo meraih tangan Arabelle dan menatap cincin berlian bermata putih bening itu tersemat cantik di jari manis Arabelle. "Cantik sekali cincin ini ada di jari manismu," ucap Theo berbisik. Arabelle langsung menoleh dan gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. "Karena kau yang memilihkannya untukku." Kekeham pelan terdengar dari bibir Theo, ia merangkul Arabelle sambil menyapa beberapa tamu yang kini memberikan ucapan selamat pada mereka. "Ini baru pertunangan, sudah sebanyak ini tamu Papa," ucap Theo. "Bagaimana kalau
Beberapa bulan berlalu, hari-hari yang dilalui oleh Theo semakin berubah. Dari yang semula hidupnya serba tenang-tenang saja, kini menjadi sibuk layaknya ia dulu melihat sang Papa.Apalagi Theo merasakan tentang jatuh cinta, memiliki kekasih, dan menyayanginya. Arabelle adalah alasan bagi Theo untuk selalu bersemangat setiap hari. Seperti sore ini, Theo berkumpul bersama orang tuanya dan juga keluarga Arabelle di kediaman Jordan. "Kenapa Tuan Asher dan Nyonya Aleena tidak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini," ujar Hani pada mereka berdua."Memangnya kalau kami bilang-bilang apakah ada sambutan yang sangat meriah?" tanya Asher dengan nada bergurau. Kakek dan Nenek Arabelle itu pun tertawa. Bahkan Arabelle dan Theo yang duduk di sofa seberang ikut tertawa mendengarnya jawaban Asher. "Kami bertiga ke sini karena ada tujuan tertentu, Nyonya Hani," ujar Aleena. "Ada apa?" tanyanya. "Pasti ingin membahas tentang anak-anak, kan?" tanya Julian—Kakek Arabelle. "Benar Tuan." Asher menga
Hari sudah gelap, rumah Asher tampak sepi di saat semua anak-anaknya sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aleena dan Asher kini duduk di dalam ruangan keluarga. Berdua, dan ditemani oleh cahaya yang temaram. "Tidak terasa ya, Sayang. Sekarang anak kita sudah besar-besar. Theo sudah dewasa, si kembar juga sudah besar. Rasanya baru kemarin kita menjadi orang tua," ujar Aleena menatap ke luar dari jendela di ruang keluarga. Asher tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari," jawab Asher. Aleena menyandarkan kepalanya di pundak sang suami dan wanita itu mengangguk kecil. "Dan aku tidak percaya menghabiskan seumur hidupku bersamamu, Asher. Padahal, dulu kita dipertemukan karena hal-hal yang tidak diinginkan, dan kita—""Jangan diingat lagi!" Asher menjentikkan jari telunjuknya dengan pelan di kening Aleena hingga membuat sang istri cemberut menatapnya. Wanita cantik itu mengusap keningnya dan mengeratkan pelukannya di lengan
Kedekatan Arabelle dan Theo sudah sangat dekat, bahkan semua orang juga sudah tahu dengan hubungan mereka. Seperti teman-teman kampus Arabelle saat ini yang melihat Theo yang tengah menjemput Arabelle pulang dari kampus. "Wah, tampan sekali, siapa dia?" "Dia kekasihny Arabelle, anak kedokteran." "Kekasihnya sangat tampan, ya, sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya." Suara bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Arabelle saat gadis cantik itu sampai di depan. Ia melihat semua kakak tingkatnya tampak memperhatikan Theo yang berdiri di samping mobilnya tampak menunggu-nunggu. Arabelle tidak banyak bicara, ia langsung berjalan mendekati Theo saat itu juga dan mengabaikan semua Kakak tingkatnya yang masih asik membicarakan Theo. "Kak Theo!" pekik Arabelle melambaikan tangannya dan berlari kecil mendekatinya. Theo tersenyum manis padanya seperti biasa, sampai begitu mendekat, Arabelle langsung memeluk pemuda itu. Kedua alis Theo terangkat. Tumben sekali Arabelle melakukan ha
Beberapa hari berlalu, Arabelle masih melanjutkan pekerjaannya setelah pulang sekolah dan pulang pukul sembilan malam.Bahkan di hari minggu, gadis itu selalu berangkat pagi, pulang siang dan berangkat lagi. Malam ini cuaca sedang hujan. Cafe tampak sepi dan Erica juga sedang pergi dengan kekasihny
Di tempat lain, seorang gadis cantik dengan balutan seragam menengah pertama yang dibalut jaket tebal, tengah duduk di bangku sekolahnya. Saat di jam istirahat, Arabelle tidak pernah menjajakan uangnya untuk makan siang. Ia benar-benar berhemat.Arabelle, gadis itu melipat kedua tangannya di atas
Musim dingin menandakan hari libur panjang telah tiba. Pagi ini Theo terlihat sedih saat Jordan membawa Arabelle pulang bersamanya ke rumah kedua orang tuanya. Theo tidak memiliki teman lagi, mereka akan bertemu di sekolah dan mungkin saat Jordan membawa Arabelle kemari. "Kenapa diam saja, Sayang
Di lain tempat, Aleena dan Asher kini masih di rumah sakit. Aleena sudah merasa baikan meskipun perutnya masih terasa sangat sakit di bagian luka operasinya. Pagi ini, Aleena diizinkan bertemu dengan kedua bayi kembarnya. Bayi-bayi manis itu dibawa ke kamar Aleena. Wajah Aleena berseri-seri bahag






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak