FAZER LOGIN"Uang satu miliar akan kuberikan padamu asal kau melahirkan anak untuk kami. Tapi ingat, kau hanyalah wanita sekali pakai, Aleena!" Aleena Pandora membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya yang sakit keras. Niat hati ingin meminta bantuan pada sang calon suami, Aleena malah diminta untuk menyewakan rahimnya pada sepasang suami istri yang akan memberinya imbalan besar. Aleena marah dan sakit hati. Bagaimana mungkin, calon suaminya meminta hal seperti itu?! Namun, pria yang Aleena pikir mencintainya dengan tulus ternyata tak lebih dari bajingan ulung yang hanya ingin memanfaatkan dirinya! Terbakar amarah, Aleena pun menerima tawaran untuk menyewakan rahimnya dan hamil anak dari seorang laki-laki yang sudah beristri, yaitu Asher Benedict—seorang CEO yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Akankah Aleena bertahan di saat Asher memperlakukannya seperti wanita murahan yang rela menjual tubuh demi uang?
Ver maisHours of silence flooded Remi's room; she could not believe what was about to happen to her.
"Where is she?" her father said coldly. "I don't know; maybe she should be in her room," her mother responded, coughing afterwards. The silence in her room was so much that she could hear a needle sound, and yes, she did hear all her parents said. A badge into the room; the door was opened ajar. The sound brought her back from her thoughts. "He is coming this evening, and you are going with him," her father said authoritatively. With so much shock in her eyes, she said, "Daddy, why are you doing this to me? I thought I was your best daughter, your only star. What has changed? What is happening?" She moved toward him with tears rolling down her eyes in an attempt to touch him. Her father felt the pain in her voice, but that was the only thing he could do. "As I said, my words are final, and you will do as I say," he answered her in words, looking away and turning to the door. "Wait! I have something to tell you. I am not getting married to any man overnight," she sniffed with so much courage, moving back to her room. The house became very hot inside; though it was cold outside, the laughter, smiles and energy the Bolajis had disappeared in a twinkle of an eye. It was late as Remi wondered about it in her cemented duplex building. She was losing her mind; she moved to the sitting room and then to her room while her parents were upstairs discussing silently. "Should I run? Where will I run to? I made a few friends cause I had everything a friend could give, and now things have turned around. How am I supposed to survive now? I have to think of a plan before midnight," she finalized it. She walked to her room when she heard noises. This made her tiptoe, but she was still caught by a voice. "Remi, what is wrong with you?" she heard it behind her back. She wondered why the voice seemed calm. If she could remember, she was the one being forced to get married overnight and should not be the insane one. She turned, and it was her mother. "Mummy," she said. "Why me?" Her mother signalled that she should be quiet as she placed one of her fingers on her lips. She dragged her to her room; on her bed, they both sat. "My heartbeat," her mum ended the drama and spoke softly. She interrupted her and said, "If you are not in support of this, why don't you stop your husband? Why don't you remind him it is still his only daughter he always fought for and sweated to protect? What has blinded him so fast that he forgot all the sweat, memories, and bond we shared? Mummy, why?" "It is okay, Remi," she consoled her. "Your father still loves you up till now," she added. In deep disappointment, Remi rose from the bed and faced her mum with tears running down her eyes. "Mummy," she called. "Can you remember when you both sweated to protect me? The story of how I came after the death of your first son, how my father got a new contract that changed and raised the family after my birth. The way I was pampered, the don't touch anything scheme you subscribed me to and after all, I made sure I never disappointed you and my brothers. I was in my best manners, obedient to all and very respectful. You and my father promised me a dream, so I could be successful, go to school and become the great star I wanted to be. But now you want to throw me into the hands of a man I do not even know overnight. I have no decision, no choice, not a day to think and accept." "Enough, enough," her mother thundered. Remi, in shock, moved backwards, still trying to maintain her balance. Her mother said, "Your father loves you, so do I, but this is what it is. You are getting married tonight for your brother's visa approval. You know this family needs money, and this is the..." "Mummy," she said in shock, holding her chest like she was going to have a heart attack. "I thought I came to comfort this family, as I am called. Why am I turning out to be the sacrifice? There are other ways to get that done, but why do you all choose my denial of everything..." "Mummy," she said calmly while breathing gently. "Leave my room. Closing my eyes this time, I just have two counts, and you are gone." Her mother never wanted any further scene; she left the room and headed upstairs to wait for her son-in-law at midnight. Remi fell on her bed, looking up at the ceiling; she felt nothing around her but betrayal and imagined how she got into this big mess. She thought of how her brother treated her in school. Her brothers would beat her for telling her dad the truth about what they did, which always got them punished. She recalled how her brothers were so jealous of how smart she was that they would even reduce her snack portion and sometimes threaten to lock her up if she reported. She recalled how her dad had always been her saviour, teaching her brothers a lesson every single time. "Why the twist in my life," she said faintly. "What will I be doing in marriage? I just got out of high school; what am I going to do there? Do my parents have something they are not telling me?" She wondered, still very confused. She moved her body on the bed; she felt something that didn't feel like her bedding. She woke up to check; it was a paper. She pulled it out from her bedding; it was a little envelope. "What is inside?" she said aloud. .Dua hari terasa cepat di depan mata. Hari pertunangan Theo dan Arabelle pun telah datang hari ini. Acara pertunangan itu dilaksanakan di sebuah gedung hotel bintang lima milik Keluarga Benedict. Semua tamu-tamu penting dari kedua keluarga itu pun datang. Arabelle tampak sangat cantik malam ini dengan balutan dress panjang berwarna biru muda. Arabelle berdiri di samping Theo dan kedua orang tua Theo setelah acara inti dimulai beberapa menit yang lalu. Theo meraih tangan Arabelle dan menatap cincin berlian bermata putih bening itu tersemat cantik di jari manis Arabelle. "Cantik sekali cincin ini ada di jari manismu," ucap Theo berbisik. Arabelle langsung menoleh dan gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. "Karena kau yang memilihkannya untukku." Kekeham pelan terdengar dari bibir Theo, ia merangkul Arabelle sambil menyapa beberapa tamu yang kini memberikan ucapan selamat pada mereka. "Ini baru pertunangan, sudah sebanyak ini tamu Papa," ucap Theo. "Bagaimana kalau
Beberapa bulan berlalu, hari-hari yang dilalui oleh Theo semakin berubah. Dari yang semula hidupnya serba tenang-tenang saja, kini menjadi sibuk layaknya ia dulu melihat sang Papa.Apalagi Theo merasakan tentang jatuh cinta, memiliki kekasih, dan menyayanginya. Arabelle adalah alasan bagi Theo untuk selalu bersemangat setiap hari. Seperti sore ini, Theo berkumpul bersama orang tuanya dan juga keluarga Arabelle di kediaman Jordan. "Kenapa Tuan Asher dan Nyonya Aleena tidak bilang-bilang dulu kalau mau ke sini," ujar Hani pada mereka berdua."Memangnya kalau kami bilang-bilang apakah ada sambutan yang sangat meriah?" tanya Asher dengan nada bergurau. Kakek dan Nenek Arabelle itu pun tertawa. Bahkan Arabelle dan Theo yang duduk di sofa seberang ikut tertawa mendengarnya jawaban Asher. "Kami bertiga ke sini karena ada tujuan tertentu, Nyonya Hani," ujar Aleena. "Ada apa?" tanyanya. "Pasti ingin membahas tentang anak-anak, kan?" tanya Julian—Kakek Arabelle. "Benar Tuan." Asher menga
Hari sudah gelap, rumah Asher tampak sepi di saat semua anak-anaknya sudah beristirahat di dalam kamar masing-masing. Aleena dan Asher kini duduk di dalam ruangan keluarga. Berdua, dan ditemani oleh cahaya yang temaram. "Tidak terasa ya, Sayang. Sekarang anak kita sudah besar-besar. Theo sudah dewasa, si kembar juga sudah besar. Rasanya baru kemarin kita menjadi orang tua," ujar Aleena menatap ke luar dari jendela di ruang keluarga. Asher tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. "Waktu berjalan dengan cepat tanpa kita sadari," jawab Asher. Aleena menyandarkan kepalanya di pundak sang suami dan wanita itu mengangguk kecil. "Dan aku tidak percaya menghabiskan seumur hidupku bersamamu, Asher. Padahal, dulu kita dipertemukan karena hal-hal yang tidak diinginkan, dan kita—""Jangan diingat lagi!" Asher menjentikkan jari telunjuknya dengan pelan di kening Aleena hingga membuat sang istri cemberut menatapnya. Wanita cantik itu mengusap keningnya dan mengeratkan pelukannya di lengan
Kedekatan Arabelle dan Theo sudah sangat dekat, bahkan semua orang juga sudah tahu dengan hubungan mereka. Seperti teman-teman kampus Arabelle saat ini yang melihat Theo yang tengah menjemput Arabelle pulang dari kampus. "Wah, tampan sekali, siapa dia?" "Dia kekasihny Arabelle, anak kedokteran." "Kekasihnya sangat tampan, ya, sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya." Suara bisikan-bisikan itu terdengar di telinga Arabelle saat gadis cantik itu sampai di depan. Ia melihat semua kakak tingkatnya tampak memperhatikan Theo yang berdiri di samping mobilnya tampak menunggu-nunggu. Arabelle tidak banyak bicara, ia langsung berjalan mendekati Theo saat itu juga dan mengabaikan semua Kakak tingkatnya yang masih asik membicarakan Theo. "Kak Theo!" pekik Arabelle melambaikan tangannya dan berlari kecil mendekatinya. Theo tersenyum manis padanya seperti biasa, sampai begitu mendekat, Arabelle langsung memeluk pemuda itu. Kedua alis Theo terangkat. Tumben sekali Arabelle melakukan ha
Saat jam istirahat, Arabelle berada di dalam kelas sendirian. Gadis itu duduk diam dan mendengarkan materi listening yang Mr. Diana berikan padanya tadi. Berkali-kali Arabelle mendengarkannya. Sampai tiba-tiba saja gadis itu tersentak saat seseorang menempelkan susu kotak dingin di pipinya. "Aduh
Suasana malam di rumah Theo sangat ramai malam ini. Semua teman-teman Theo datang dan mereka tampak gembira dengan acara memanggang ikan dan makanan lainnya di halaman teras samping. Theo duduk di sebuah sofa teras, ia terdiam menatap teman-temannya yang heboh sendiri. Di sampingnya ada Dylan bers
Keesokan paginya, Theo benar-benar menepati janjinya dan ia sungguh datang ke kediaman Jordan pagi ini. Theo membawa satu kotak berisi sandwich dan susu kotak rasa stroberi kesukaan Arabelle. Pemuda itu membawa mobil baru milik Papanya, Theo memarkirkannya di depan rumah Jordan. "Permisi, Kek ..
Theo duduk di sebuah bangku kursi kayu di sebuah kantin di belakang sekolah. Ia berkumpul dengan semua teman-temannya di sana. Theo tampak tidak bersemangat karena ia masih dalam masa dihukum oleh Papanya. "Woii! Di depan ramai, tuh!" teriak Adam yang baru saja datang. "Ada apa memangnya?" tanya


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Classificações
avaliaçõesMais