Beranda / Romansa / Ibu Pengganti Bagi Aruna / Bab 2 : Saat Airin Pergi

Share

Bab 2 : Saat Airin Pergi

Penulis: Meilin Liner
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 19:22:21

Tiga tahun pertama pernikahan Airin dan Julian adalah gambaran sebuah dongeng yang menjadi nyata. Di mata Jihan, yang saat itu masih menjadi mahasiswi yang sering bertamu, pasangan itu adalah harmoni yang sempurna. Julian yang ambisius dan kaku perlahan melunak di bawah sentuhan kasih sayang Airin yang hangat. Puncaknya adalah ketika seorang malaikat kecil lahir ke dunia, membawa cahaya baru di rumah megah keluarga Adiwangsa.

​Mereka menamainya Aruna Juvina Adiwangsa.

​Airin pernah menjelaskan arti nama itu pada Jihan saat mereka duduk di beranda sambil menimang bayi mungil tersebut.

Aruna diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti "Fajar" atau "Kemerahan di langit pagi", simbol harapan baru. Juvina berarti "Cahaya atau Kehidupan", dan tentu saja Adiwangsa adalah nama besar keluarga Julian. Airin ingin putrinya menjadi cahaya yang selalu muncul tepat pada waktunya untuk menghalau kegelapan.

​Namun, fajar itu seolah meredup terlalu cepat.

​Setahun setelah kelahiran Aruna, kesehatan Airin menurun drastis. Awalnya ia hanya mengeluh kelelahan yang luar biasa, yang dianggap Julian sebagai efek dari mengurus bayi. Namun, saat wajah Airin mulai memucat dan ia kerap meringis memegang perut bagian atasnya, kenyataan pahit itu terungkap. Kanker hati. Penyakit itu telah mencapai stadium lanjut karena sel-selnya berkembang dalam diam tanpa gejala yang berarti di awal.

​Di hari-hari terakhirnya di rumah sakit, saat Julian sedang mengurus administrasi dengan wajah yang hancur, Airin memanggil Jihan mendekat. Dengan tangan yang kurus dan pucat, Airin menggenggam jemari Jihan.

​"Jihan..." bisiknya lirih, napasnya dibantu oleh tabung oksigen. "Mas Julian itu pria yang kuat, tapi dia tidak tahu cara mengobati hatinya sendiri. Dan Aruna... dia fajar bagiku. Tolong, jangan biarkan fajarku hilang arah. Janji padaku, kamu akan menjaga mereka? Terutama Aruna."

​Jihan menangis sesenggukan, ia tidak sanggup mengangguk namun hatinya bersumpah. Tak lama setelah pesan itu, Airin mengembuskan napas terakhirnya, meninggalkan luka yang menganga lebar di hati Julian dan sebuah amanah berat di pundak Jihan.

****

Waktu terus berjalan, namun di rumah Adiwangsa, duka seolah menjadi penghuni tetap. Dua tahun sejak kepergian Airin, Jihan masih setia datang. Kini ia sudah menjadi mahasiswi tingkat akhir yang sedang berdarah-darah menyelesaikan skripsinya tentang rantai pasok agribisnis. Namun, tumpukan jurnal dan data penelitian itu selalu ia bawa ke rumah Julian.

​"Kak Jihan! Lihat, Aluna sudah pakai baju pultli!"

​Suara mungil itu memecah keheningan ruang tengah. Aruna, yang kini sudah berusia lima tahun, berlari menghampiri Jihan yang sedang memangku laptop di sofa. Aruna mengenakan gaun merah muda mekar, sisa kado terakhir dari almarhumah ibunya.

​Satu hal yang unik dari Aruna adalah cara bicaranya. Meskipun sudah berusia lima tahun, Aruna masih belum bisa menyebut huruf "R" dengan sempurna.

​"Aluna mau main di taman, Kak. Aluna mau cali bulung walna-walni," ucap Aruna riang, lidahnya masih melipat huruf R menjadi L atau Y yang menggemaskan.

​Jihan tersenyum, menutup laptopnya sejenak. "Cari burung warna-warni? Memangnya Aruna sudah izin sama Papa?"

​"Papa lagi di kantol... eh, Papa pulang!" Aruna bersorak saat mendengar suara deru mobil di depan.

​Julian masuk ke dalam rumah. Penampilannya masih sama: kaku, rapi, dan intimidatif. Namun, begitu matanya menangkap sosok Aruna, gurat kelelahan di wajahnya seolah menguap. Julian mungkin dingin kepada dunia, dingin kepada Jihan, tapi dimata Jihan, Julian adalah ayah yang sangat bucin kepa putri semata wayangnya, Aruna.

​"Anak Papa..." Julian berjongkok, merentangkan tangan. Aruna langsung menghambur ke pelukan ayahnya.

​"Papa! Aluna kangen banget! Papa bawa apa buat Aluna?" tanya Aruna sambil memeluk leher Julian erat.

​"Papa bawa es krim stroberi kesukaan Aruna, dan boneka kelinci baru yang bisa bicara," ucap Julian lembut. Suaranya yang rendah berubah menjadi sangat hangat—nada suara yang tidak pernah lagi ia gunakan saat bicara dengan Jihan.

​Apapun yang Aruna minta, Julian akan memberikannya. Ia ingin mengompensasi kehilangan sosok ibu dengan kemewahan dan kasih sayang yang tumpah ruah. Julian bisa membatalkan rapat penting hanya karena Aruna mengeluh sakit perut ringan. Dia adalah tipe ayah yang akan melakukan apa saja agar senyum putrinya tidak hilang.

​Namun, kehangatan itu seketika sirna saat Julian berdiri dan menatap Jihan yang masih duduk di sofa.

​"Kamu masih di sini, Jihan?" tanya Julian datar. Tatapannya kembali membeku, sedingin es kutub.

​"Iya, Mas. Aruna tadi belum mau makan kalau tidak ditemani, jadi aku tunggu sampai dia selesai," jawab Jihan, mencoba menjaga suaranya agar tidak bergetar.

​Julian hanya mengangguk tipis, seolah kehadiran Jihan hanyalah pelengkap properti di rumahnya. "Terima kasih. Sekarang saya sudah pulang, kamu bisa lanjut mengerjakan skripsimu di rumahmu sendiri. Saya tidak mau kehadiran Aruna mengganggu tugas kuliahmu."

​Kalimat itu terdengar seperti pengusiran halus. Julian seolah ingin menegaskan bahwa ada batas yang tidak boleh dilampaui Jihan. Dia boleh menjaga Aruna, tapi dia tidak akan pernah menjadi bagian dari inti keluarga ini.

​"Papa, Aluna tadi mau main di taman balu-balu baleng Kak Jihan..." sela Aruna sambil menarik ujung kemeja Julian. "Papa jangan galak-galak sama Kak Jihan, nanti Kak Jihan malah telus nggak mau datang lagi."

​Julian terdiam. Ia mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Kak Jihan sibuk, Aruna. Dia harus belajar biar jadi sarjana. Biar Papa saja yang temani Aruna di taman, oke?"

​Aruna cemberut. "Tapi Papa nggak tahu calanya tanam bunga melah kayak Kak Jihan!"

​Julian melirik Jihan sekilas, ada kilat ketidaksukaan karena merasa "digantikan" posisinya dalam hal pengetahuan tanaman oleh Jihan, namun ia tetap menahan diri demi anaknya.

​"Jihan, siapkan makan malam untuk Aruna sebelum kamu pulang. Saya ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani di atas," perintah Julian, kembali ke mode bosnya.

​Jihan hanya bisa menghela napas. "Baik, Mas."

​Saat Julian melangkah menaiki tangga, Jihan menatap punggung tegap itu dengan pedih. Dua tahun. Sudah dua tahun ia memberikan seluruh waktu luangnya untuk rumah ini. Ia mengabaikan ajakan main teman-teman kampusnya, ia begadang mengerjakan skripsi setelah menidurkan Aruna, semua demi janji pada Airin.

​Namun bagi Julian, Jihan tetaplah orang asing. Jihan tetaplah mahasiswi yang kebetulan ada di sana karena rasa kasihan. Julian tidak tahu, atau mungkin pura-pura tidak tahu, bahwa setiap kali ia bersikap dingin, Jihan harus mengobati luka hatinya sendiri berkali-kali.

​"Kak Jihan... jangan sedih," bisik Aruna sambil memegang tangan Jihan. "Nanti Aluna bilang Papa bial jangan dingin-dingin kayak kulkas."

​Jihan terkekeh pelan di tengah rasa sesaknya. Ia menggendong Aruna menuju dapur. "Enggak, Papa nggak kayak kulkas. Papa cuma... Papa cuma lagi rindu sama Mama, Aruna."

​"Aluna juga lindu Mama... tapi Aluna punya Kak Jihan," ucap Aruna tulus.

​Kalimat sederhana dari mulut cadel Aruna itu sudah cukup bagi Jihan untuk bertahan satu hari lagi. Meski ia harus menghadapi tatapan dingin Julian, meski ia harus memendam cintanya yang sudah berkarat oleh waktu, Jihan akan tetap di sini. Menjaga fajar milik Airin, sampai sang fajar benar-benar bisa bersinar sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status