Beranda / Romansa / Ibu Pengganti Bagi Aruna / Bab 1 : Salah Jatuh Hati

Share

Ibu Pengganti Bagi Aruna
Ibu Pengganti Bagi Aruna
Penulis: Meilin Liner

Bab 1 : Salah Jatuh Hati

Penulis: Meilin Liner
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-25 19:00:50

Gedung serbaguna Fakultas Pertanian terasa seperti oven raksasa bagi Jihan Ayunda Wiryawan. Sebagai mahasiswi semester empat yang baru pertama kali memegang tanggung jawab besar sebagai staf Humas Agripreneurship Expo, Jihan merasa nyawanya sedang dipertaruhkan. Di hadapannya, tiga alumni senior duduk bersedekap dengan wajah yang siap menerkam.

​"Jihan, kamu mengerti tidak konsep win-win solution?" Suara Baskara, alumni yang dikenal paling vokal, bergema di ruangan itu. "Proposal yang kamu buat ini terlalu memihak UMKM. Mana keuntungan buat investornya? Kamu ini Humas atau relawan sosial?"

​Jihan meremas pulpennya. Keringat dingin mengucur di balik kemeja almamaternya. "Maaf, Kak... maksud saya, dengan penguatan profil UMKM ini, investor akan mendapatkan brand image yang lebih..."

​"Basi!" potong senior lainnya sambil menggebrak meja. "Kita butuh angka, bukan narasi puitis. Kamu semester berapa sih? Kok begini saja tidak paham?"

​Mata Jihan memanas. Ia merasa kecil, tidak berguna, dan ingin sekali bumi terbelah saat itu juga. Namun, tepat sebelum air matanya jatuh, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan langkah tenang dan kemeja putih yang rapi masuk. Airin Saraswati Adiningrat, mahasiswi tingkat akhir yang prestasinya sudah menjadi buah bibir di seantero kampus.

​"Maaf saya terlambat, Kakak-kakak," suara Airin begitu lembut namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Ia menarik kursi di sebelah Jihan, lalu meletakkan sebuah map kulit di meja.

​"Airin? Kamu kan sedang sibuk skripsi," ucap Baskara, nadanya melunak seketika.

​Airin tersenyum manis, senyum yang seolah mencairkan suasana tegang di ruangan itu. "Skripsi saya bisa menunggu satu jam, Kak. Tapi perkembangan Jihan tidak bisa menunggu. Ini draf yang saya bantu rapihkan bersama Jihan. Di halaman ketiga, ada proyeksi keuntungan 20% bagi investor melalui skema equity crowdfunding. Silakan dibaca."

​Jihan terperangah. Airin baru mengenalnya seminggu yang lalu saat mereka tidak sengaja duduk di meja perpustakaan yang sama. Saat itu, Airin hanya bertanya singkat tentang kesulitan Jihan, dan tanpa disangka, Airin bekerja di balik layar untuk melindunginya hari ini.

​Selama sisa pertemuan, Jihan hanya bisa menatap Airin dengan kagum. Bagaimana cara Airin berbicara, bagaimana cara ia mematahkan argumen senior dengan logika yang tajam namun tetap sopan. Di mata Jihan, Airin bukan sekadar senior; dia adalah pelindung, seorang kakak yang ia impikan.

​"Terima kasih, Kak Airin," bisik Jihan setelah rapat usai. Ia memeluk Airin dengan erat. "Aku hampir saja menangis tadi."

​Airin mengusap punggung Jihan dengan sayang. "Ssst, jangan menangis. Kamu punya potensi, Han. Kamu hanya perlu seseorang untuk berdiri di sampingmu sampai kamu cukup kuat untuk berdiri sendiri."

​****

Dua minggu setelah kejadian itu, sebuah peristiwa terjadi—peristiwa yang akan mengubah hidup Jihan selamanya.

​Sore itu, langit Jakarta seperti tumpah. Hujan badai turun tanpa ampun saat Jihan sedang menempuh perjalanan pulang dari kampus. Di sebuah jalanan sepi yang diapit pohon-pohon besar, motor bebek tua Jihan mendadak terbatuk dan mati total.

​Jihan panik. Ia menepi di bawah pohon, berusaha menghidupkan mesinnya berkali-kali namun nihil. Ponselnya mati karena kehabisan daya. Ia berdiri di sana, menggigil kedinginan, dengan air hujan yang meresap hingga ke tulangnya.

​Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah berhenti di sampingnya. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria keluar dengan payung besar berwarna hitam.

​Pria itu mengenakan kemeja formal dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kokoh dan mata yang menyorotkan ketenangan. Jihan merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Pria itu tampak seperti keluar dari film-film romantis.

​"Motor kamu kemasukan air. Jangan dipaksa, nanti mesinnya jebol," ucap pria itu. Suaranya berat dan maskulin, terdengar merdu di antara gemuruh hujan.

​"Tapi... tapi saya harus pulang, Mas," jawab Jihan gemetar.

​Pria itu menatap motor Jihan, lalu menatap Jihan yang sudah pucat karena kedinginan. Tanpa bicara banyak, ia membantu mendorong motor Jihan ke sebuah bengkel kecil yang kebetulan sedang tutup namun memiliki teras yang dalam. Setelah mengunci motor itu dengan aman, ia kembali ke arah Jihan.

​"Masuk ke mobil. Saya antar kamu pulang," perintahnya singkat.

​Jihan ragu, namun sorot mata pria itu memberikan rasa aman yang aneh. Di dalam mobil yang harum kayu cendana dan kulit, Jihan merasa seperti masuk ke dalam pelukan yang hangat. Pria itu memberikan sebuah jaket cadangan dari kursi belakang.

​"Pakai. Kamu bisa hipotermia kalau terus basah begitu," ucapnya.

​Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Pria itu fokus menyetir, sesekali melirik Jihan untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Jihan pun terlalu malu untuk bertanya nama. Yang ia tahu, pria ini adalah pria paling karismatik yang pernah ia temui. Saat sampai di depan kosnya, Jihan hanya bisa mengucap terima kasih.

​"Sama-sama. Jaga kesehatanmu," ucap pria itu sebelum berlalu.

​Jihan jatuh cinta malam itu. Ia jatuh cinta pada aroma parfumnya, pada caranya memegang kemudi, dan pada perlindungan singkat yang ia rasakan. Ia menamai pria itu 'Pahlawan Hujan' dalam buku hariannya.

​****

Satu bulan berlalu. Persahabatan Jihan dan Airin semakin erat. Airin sering membelikan Jihan kopi atau membantunya mengerjakan tugas-tugas Agribisnis yang sulit. Sampai suatu hari, Airin memberikan sebuah undangan cantik berwarna putih mutiara dengan tinta emas.

​"Datang ya, Jihan. Ini hari paling bahagia dalam hidupku. Aku ingin sahabat terbaikku ada di sana," ucap Airin dengan mata berbinar-binar.

​Jihan sangat bahagia untuk Airin. Ia tidak sabar melihat siapa pria beruntung yang berhasil memenangkan hati wanita sesempurna Airin.

​Hari pernikahan pun tiba. Jihan mengenakan kebaya terbaiknya, berdandan dengan cantik, dan membawa kado yang ia siapkan dengan sepenuh hati. Gedung pernikahan itu didekorasi dengan sangat mewah namun elegan, penuh dengan bunga lili putih kesukaan Airin.

​Saat Jihan memasuki aula utama, musik klasik mengalun lembut. Ia melihat Airin berdiri di atas pelaminan, tampak seperti malaikat dengan kebaya pengantin yang sangat indah. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan setelan tuksedo hitam yang gagah. Pria itu membelakangi Jihan.

​Jihan melangkah maju, hatinya berdebar ikut bahagia. Namun, saat pria itu berbalik untuk menyalami tamu, dunia Jihan seolah berhenti berputar.

​Langkahnya membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan.

​Pria yang berdiri di pelaminan itu, pria yang sedang menggenggam tangan Airin dengan penuh cinta, adalah dia. Pria dengan payung hitam itu. Pahlawan hujannya. Julian Pratama Adiwangsa.

​"Jihan! Kamu datang!" Airin berseru girang saat Jihan sampai di depan mereka. Airin memeluk Jihan dengan hangat. "Mas Julian, ini Jihan yang sering aku ceritakan. Mahasiswi pintar itu sekaligus sahabat baru aku."

​Julian menatap Jihan. Ada kilatan pengenalan di matanya, namun ia tetap bersikap formal dan tenang. Ia mengulurkan tangannya pada Jihan.

​"Julian. Senang bertemu lagi, Jihan," ucapnya datar, memberikan isyarat bahwa pertemuan mereka di bawah hujan hanyalah masa lalu yang tak berarti baginya.

​Tangan Jihan gemetar saat menyambut uluran tangan Julian. Rasanya perih, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya saat ia melihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manis pria itu—cincin yang sama dengan milik Airin.

​"Selamat... selamat ya, Kak Airin, Mas Julian," suara Jihan bergetar, hampir hilang.

​"Terima kasih, Han! Doakan kami cepat punya baby ya!" Airin tertawa renyah, sama sekali tidak menyadari bahwa hati sahabat di depannya baru saja hancur berkeping-keping.

​Jihan turun dari pelaminan dengan langkah gontai. Di tengah keramaian pesta yang megah, ia merasa sangat kesepian. Ia menoleh sekali lagi ke arah pelaminan, melihat Julian yang sedang berbisik sesuatu ke telinga Airin hingga wanita itu tertawa.

​Hari itu, Jihan belajar satu hal yang sangat menyakitkan: Cinta pertamanya baru saja resmi menjadi milik sahabat terbaiknya. Dan demi menghargai kebaikan Airin, Jihan bersumpah akan mengubur perasaan itu sedalam mungkin, membiarkannya membusuk di dasar hati, dan tak akan pernah membiarkannya muncul ke permukaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 14 : Pertengkaran

    Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 13 : Malam Pertama

    Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 12 : Hari Pernikahan

    Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 11 : Persiapan Pernikahan

    Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 10 : Meminta Izin dan Restu

    Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.​Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."​Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja

  • Ibu Pengganti Bagi Aruna   Bab 9 : Misi Rahasia Aruna

    Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. ​Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. ​"Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. ​Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" ​"Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status