MasukMalam itu, langit Yogyakarta sedang tidak bersahabat. Hujan turun begitu deras seolah langit sedang memuntahkan seluruh dukanya ke bumi. Di sebuah kamar kos yang sempit, Jihan Ayunda sedang duduk bersila di depan laptopnya yang mulai panas. Layarnya menampilkan draf bab empat skripsi Agribisnis yang penuh dengan coretan revisi. Matanya sudah sangat lelah, memerah akibat terlalu lama menatap layar, namun ia memaksa diri untuk bertahan demi mengejar target lulus tahun ini.
Tiba-tiba, ponselnya yang tergeletak di atas tumpukan jurnal bergetar hebat. Nama "Mas Julian" muncul di layar. Jihan mengernyitkan dahi. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Julian tidak pernah meneleponnya selarut ini kecuali jika ada keadaan darurat. "Halo, Mas?" "Jihan, kamu bisa ke sini sekarang?" Suara Julian terdengar berat, ada nada panik yang sangat asing bagi Jihan. Julian yang ia kenal adalah pria baja yang selalu terkendali. "Aruna demam tinggi. Dia... dia tidak mau disentuh sama sekali. Dia terus-menerus memanggil namamu." Jihan tidak butuh penjelasan kedua. Ia segera menutup laptopnya, menyambar jaket denim, dan berlari turun ke gerbang kos. Di sana, sopir pribadi Julian sudah menunggu dengan mesin mobil yang masih menyala. **** Setibanya di rumah mewah keluarga Adiwangsa, suasana terasa mencekam. Lampu-lampu kristal yang biasanya bersinar megah kini terasa redup dan sunyi. Jihan langsung berlari menuju kamar Aruna di lantai dua. Sebelum sampai di depan pintu, ia sudah mendengar suara tangisan histeris yang memilukan hati. "Nggak mau! Pelgi! Aluna nggak mau sama Papa! Aluna mau Kak Jihan!" Suara parau Aruna terdengar menyakitkan. Jihan membuka pintu kamar dan menemukan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Julian, CEO muda yang disegani banyak orang, kini tampak sangat kacau. Kemeja putihnya sudah berantakan, keringat membasahi dahinya, dan tangannya gemetar memegang handuk kecil serta baskom berisi air hangat. Aruna sedang meringkuk di sudut tempat tidurnya, memeluk bantal dengan wajah yang merah padam karena suhu tubuh yang mencapai 39 derajat. "Aruna, sayang... Papa cuma mau kompres supaya pusingnya hilang. Jangan begini, Nak," bujuk Julian dengan suara yang nyaris putus asa. "Nggak mau! Papa galak! Tangan Papa dingin, Aluna nggak suka!" teriak Aruna lagi. Lidah cadelnya membuat setiap kata penolakan itu terasa semakin pedih di telinga Julian. Begitu mata Aruna menangkap sosok Jihan di ambang pintu, tangisnya seketika berubah menjadi rintihan yang dalam. "Kak Jihan... Kakak... sakit..." Jihan segera mendekat. Tanpa menunggu instruksi dari Julian, ia naik ke atas tempat tidur dan menarik tubuh mungil Aruna ke dalam pelukannya. Aruna langsung menghambur, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jihan. "Iya, sayang... Kak Jihan di sini. Sstt, tenang ya," bisik Jihan lembut sambil mengayunkan tubuhnya pelan untuk menenangkan bocah itu. Jihan menggendong Aruna, membawanya berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu. Aruna menangis sesenggukan, tangannya yang mungil mencengkeram erat kerah jaket Jihan seolah takut gadis itu akan menghilang lagi. Jihan terus membisikkan kata-kata penenang, mengabaikan pegal di lengannya demi meredam tangis sang putri kecil. **** Julian berdiri terpaku di sudut ruangan. Ia meletakkan baskom air itu ke atas meja dengan sedikit kasar. Ada rasa lega melihat Aruna mulai tenang, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ada rasa cemburu yang menusuk. Ia adalah ayahnya. Ia yang mencukupi segala kebutuhan di rumah ini. Namun, kenapa di saat Aruna paling rapuh, yang dicarinya justru Jihan? Julian mendengus pelan, lalu menyilangkan tangan di dadanya. Ia memperhatikan bagaimana Jihan dengan telaten mengusap punggung Aruna. "Biar saya saja yang menggendongnya, Jihan. Kamu pasti capek baru pulang dari kampus," ucap Julian. Nada suaranya kembali datar, sebuah mekanisme pertahanan diri untuk menutupi rasa tersinggungnya. Jihan menoleh pelan, suaranya pelan agar tidak mengejutkan Aruna. "Sebentar lagi, Mas. Dia baru saja tenang. Kalau dipindahkan sekarang, nanti dia menangis lagi." Julian melangkah mendekat, mencoba menyentuh kening Aruna untuk mengecek suhu tubuhnya. Namun, begitu merasakan gerakan ayahnya, Aruna justru semakin mengeratkan pelukannya pada Jihan dan menggumam tidak jelas dalam tidurnya yang gelisah. "Tuh kan, dia bahkan tidak mau saya sentuh," gumam Julian sinis. Ia berjalan menuju sofa di pojok kamar dan menghempaskan tubuhnya di sana. "Terserah. Sepertinya kamu memang lebih hebat menjadi 'pahlawan' di rumah ini daripada ayahnya sendiri." Jihan menghentikan langkahnya. Ia menatap Julian yang sedang membuang muka ke arah jendela. Jihan tahu, ini adalah sisi lain dari Julian Adiwangsa—pria yang bisa bersikap kekanak-kanakan jika egonya terluka. Julian benar-benar merasa kesal karena merasa "dikalahkan" oleh kehadiran Jihan di hati putrinya. "Mas Julian, jangan seperti itu," ucap Jihan lembut. "Aruna sedang sakit. Dia mencari kenyamanan yang paling familiar baginya saat ini. Dia tidak bermaksud menolak Mas." "Tapi saya ayahnya, Jihan! Saya yang ada di sini setiap hari!" Julian menyahut dengan suara yang sedikit meninggi, lalu segera merendahkannya kembali saat melihat Aruna bergerak gelisah. "Saya yang memastikan dia punya segalanya. Tapi kenapa seolah-olah saya ini orang asing bagi dia?" Jihan menghela napas. Ia berjalan perlahan menuju sofa dan duduk di samping Julian dengan Aruna yang masih tertidur di dekapannya. "Mas memberikan dia segalanya secara materi, tapi Mas lupa memberikan diri Mas sendiri. Mas selalu ada secara fisik, tapi pikiran Mas selalu di kantor atau terkunci pada kenangan masa lalu. Anak kecil bisa merasakan itu, Mas," ujar Jihan jujur. Julian terdiam. Kalimat Jihan menghujam tepat di ulu hatinya. Ia ingin membantah, ingin marah, tapi ia tahu Jihan benar. Selama dua tahun ini, ia memperlakukan Aruna seperti sebuah permata berharga yang harus dijaga, namun ia lupa memberikan kehangatan emosional yang nyata karena hatinya sendiri masih membeku. Suasana menjadi sunyi. Hanya terdengar suara rintik hujan di luar dan napas Aruna yang sedikit berat karena hidung tersumbat. Julian melirik ke arah Aruna, lalu beralih ke Jihan. Ia memperhatikan betapa tulusnya Jihan menjaga putrinya, bahkan di tengah kesibukan skripsinya yang melelahkan. "Jihan," panggil Julian pelan. "Iya, Mas?" Julian ragu sejenak. Ia merasa konyol dengan rasa kesalnya tadi. "Maaf. Saya hanya... saya merasa gagal menjadi ayah malam ini." Jihan menggeleng. "Mas tidak gagal. Mas hanya perlu belajar bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan perintah. Terkadang, Aruna cuma butuh Mas yang benar-benar ada di sini, tanpa memikirkan hal lain." Julian mengembuskan napas panjang. Ia meraih handuk kecil di dalam baskom, lalu dengan gerakan sangat perlahan, ia membantu menyeka sisa air mata di pipi putrinya yang tertidur. "Pulanglah setelah ini jika kamu lelah. Saya akan meminta sopir mengantarmu," ucap Julian, mencoba kembali ke sikap formalnya. "Aku akan menginap di kamar tamu, Mas. Aruna pasti akan mencariku lagi kalau dia terbangun tengah malam saat pengaruh obatnya habis," sahut Jihan tegas. "Mas Julian juga harus istirahat. Mas ada pertemuan penting besok pagi, kan?" Julian menatap Jihan. Ada sesuatu yang bergetar di hatinya—bukan hanya rasa terima kasih, tapi sesuatu yang lebih dalam yang selama ini ia tekan. Ia melihat dedikasi Jihan yang begitu murni. "Terima kasih, Jihan. Untuk semuanya," ucap Julian. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, tatapan matanya melembut, tidak lagi sedingin es yang membeku. Jihan hanya tersenyum tipis, merasa sedikit lega. "Sama-sama, Mas. Sekarang, istirahatlah. Biar aku yang menjaga Aruna malam ini." Julian tidak langsung pergi. Ia tetap duduk di sofa itu beberapa saat, memperhatikan Jihan yang terus mendekap Aruna dengan penuh kasih sayang. Dalam keheningan malam itu, Julian menyadari bahwa meski ia tetap ingin menjaga jarak, kehadiran Jihan secara perlahan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rumah ini.Satu bulan pertama pernikahan seharusnya menjadi masa bulan madu yang penuh bunga. Namun, bagi Jihan, realitas mulai menunjukkan wajah aslinya. Menikah dengan seorang Julian Pratama Adiwangsa bukan hanya tentang mendapatkan cinta, tetapi juga harus siap berhadapan dengan tembok besar bernama ego dan kebiasaan. Julian adalah pria yang sudah terlalu lama memegang kendali penuh atas hidupnya, perusahaannya, dan rumah tangganya tanpa intervensi siapa pun.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar, menambah dingin suasana rumah. Jihan sudah menyiapkan makan malam spesial—ayam bakar bumbu rujak kesukaan Julian—dan menunggunya dengan sabar di ruang makan. Namun, ketika pintu depan terbuka sekitar pukul sembilan malam, yang masuk bukanlah Julian yang hangat, melainkan sosok pria dengan kemeja kusut, dasi yang sudah ditarik lepas, dan rahang yang mengeras."Mas, sudah pulang? Mas mau makan dulu atau mandi air hangat?" Jihan menghampiri dengan senyum tulus, berniat mengambil alih tas kerja s
Malam itu, lampu-lampu di kediaman Adiwangsa sudah mulai diredupkan. Aroma pengharum ruangan sandalwood dan vanilla menyeruak di kamar utama yang kini telah berubah suasananya. Tidak ada lagi kesan dingin; kamar itu kini terasa lebih hangat dengan sentuhan barang-barang Jihan yang mulai tertata rapi. Julian, yang baru saja selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dengan handuk tersampir di bahu. Ia menatap ranjang besar mereka dengan senyum kecil yang tertahan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan sekaligus melelahkan baginya. Namun, senyum itu seketika memudar saat ia melihat sesosok kecil sudah meringkuk di tengah ranjang, memeluk guling dengan erat. "Aruna?" gumam Julian. Aruna mendongak, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca. "Papa... Aluna mau tidul di sini. Aluna mau tidul baleng Bunda dan Papa." Julian menghela napas panjang, ia mendekati ranjang dan duduk di tepiannya. "Sayang, Aruna kan punya kamar sendiri yang bagus. Malam ini Papa mau berdua dulu sama Bu
Seminggu sebelum hari besar itu tiba, suasana di kediaman Adiwangsa mendadak terasa sepi bagi Julian. Sesuai dengan adat dan kesepakatan keluarga, kedua calon mempelai harus menjalani masa pingitan, yaitu tidak boleh bertemu selama tujuh hari sebelum akad nikah dilangsungkan. Jihan memutuskan untuk menghabiskan masa-masa terakhirnya sebagai gadis lajang di rumah peninggalan orang tuanya, sebuah rumah sederhana namun penuh kenangan yang telah ia rapikan kembali.Namun, Julian tidak menyangka bahwa ia tidak hanya kehilangan calon istrinya untuk sementara, tetapi juga putri kecilnya. Saat hari pertama pingitan dimulai, Aruna bersikeras ingin ikut bersama Jihan. Julian sudah mencoba membujuk, merayu dengan mainan, hingga menjanjikan es krim, namun Aruna tetap kekeh."Aruna, sini pulang sama Papa dong. Papa kesepian loh di sini sendirian. Aruna nggak kasihan sama Papa?" ucap Julian sore itu melalui sambungan video call. Wajah Julian tampak sedikit kuyu, duduk di ruang tengah yang biasanya
Persiapan pernikahan yang hanya berjarak satu bulan lagi membuat kediaman Adiwangsa berubah menjadi pusat kesibukan yang manis. Kotak-kotak undangan beludru berwarna biru dongker mulai menumpuk di ruang kerja Julian, bahkan aroma bunga melati serta mawar putih sudah mulai tercium meski hari besar itu belum tiba. Namun, di tengah kesibukan memesan katering dan menyusun daftar tamu, ada satu sosok yang paling sibuk: Aruna.Bocah itu seolah menjelma menjadi bayangan Jihan. Ke mana pun Jihan melangkah—ke dapur, ke taman, bahkan saat Jihan ingin ke kamar mandi—Aruna selalu mengekor di belakang sambil memegang ujung baju Jihan."Bunda, nanti pas Bunda pakai baju pengantin, Aluna boleh pegang ekol bajunya nggak?" tanya Aruna sambil duduk di pangkuan Jihan saat mereka sedang memilih desain suvenir.Jihan mengusap rambut Aruna dengan sayang. "Tentu boleh, sayang. Aruna kan putri kecil Bunda.""Bunda nggak boleh pelgi-pelgi lagi ya? Bobonya sama Aluna telus ya?"Julian yang baru saja pulang ker
Pagi itu, langit Yogyakarta tampak cerah dengan semburat jingga yang lembut. Jihan, Julian, dan Aruna berdiri di depan sebuah pusara yang sangat terawat. Gundukan tanah itu milik Airin Saraswati. Bunga-bunga segar baru saja ditaburkan oleh tangan mungil Aruna, memberikan aroma wangi yang menenangkan di tengah sunyinya area pemakaman.Jihan berlutut, menyentuh nisan batu marmer yang dingin itu dengan jemari bergetar. "Kak Airin... Jihan datang," bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Jihan datang untuk cerita. Mas Julian sudah membuka hatinya. Dan Jihan... Jihan minta izin untuk menempati ruang itu, Kak. Jihan janji akan menjaga Mas Julian dan Aruna seumur hidup Jihan."Ingatan Jihan melayang pada malam terakhir di rumah sakit, beberapa hari sebelum Airin mengembuskan napas terakhirnya. Saat itu, Airin menggenggam tangan Jihan dengan sisa kekuatannya dan berbisik pelan, "Jihan, kalau suatu saat Julian akhirnya jatuh cinta padamu, berjanjilah untuk bersamanya. Ja
Pasca kejadian di restoran seafood, suasana di rumah keluarga Adiwangsa berubah secara halus namun signifikan. Julian tidak lagi sedingin es, meski ia masih tetap menjadi pria yang irit bicara. Namun, penggerak utama di rumah itu bukanlah Julian ataupun Jihan, melainkan Aruna. Bocah berusia lima tahun itu seolah memiliki radar tajam; ia tahu bahwa Papanya sudah mulai "kalah" oleh pesona Kak Jihannya, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Hari Minggu pagi yang cerah biasanya diisi dengan kegiatan santai. Jihan sedang membantu Bibi di dapur menyiapkan sarapan, sementara Julian duduk di teras belakang sambil membaca laporan kerja di tabletnya. Aruna, dengan daster kecil motif stroberinya, berlari menghampiri Jihan. "Kak Jihan, Papa bilang Papa mau makan roti panggang buatan Kak Jihan, bukan buatan Bibi," dusta Aruna dengan wajah polosnya. Jihan mengernyitkan dahi. "Oh ya? Mas Julian bilang begitu?" "Iya! Katanya buatan Bibi nggak enak, cuma buatan Kak J







